”KEGELISAHAN ITU SENANTIASA MENGGEBRAK BATIN SAYA”


Drs H Umar Usman Hamidy MA, Tokoh Budayawan Pilihan Sagang 2007

Dunia penulisan (kesusastraan) Melayu terus bersinar, bagai mata rantai panjang yang sambung-menyambung dari generasi ke generasi. Kecemerlangan tradisi kalam itu sesungguhnya ada terletak pada masing-masing generasi untuk selalu saling menjaga dan mewariskan. Mereka sadar betul, tradisi yang sudah mengurat-mengakar dan mendarahdaging di alam Melayu itu sudah dibangun dengan kokoh sejak 500 tahun yang lalu, hingga ke hari ini.

Rangkaian panjang itu telah memunculkan sederet nama besar seperti Hamzah Pansuri, Raja Ali Haji, Tuan Guru Abdurrahman Sidik, Soeman HS, BM Syamsuddin dan banyak lagi. Di ujung rangkaian itu masih terus mengalirkan nama-nama penulis Melayu yang piawai, satu di antaranya adalah Umar Usman Hamidy atau lebih sering dipanggil Pak UU. Budayawan sekaligus kritikus sastra Melayu ini telah puluhan tahun bersama Raja Hamzah Junus membongkar dan menggali kebudayaan Melayu, khususnya tentang Raja Ali Haji, yang dulu karya-karya peninggalannya sempat hampir redup.

Atas usahanya itu Yayasan Sagang, sebuah yayasan yang aktif bergerak mengangkat martabat alam Melayu memberinya anugerah kehormatan sebagai Tokoh Budayawan Pilihan Sagang 2007. Wartawan Riau Pos, Ilham Muhammad Yasir dan Firman Agus berkesempatan mewawancarai Pak UU secara panjang lebar seputar kekuatan dunia kesusastraan Melayu itu. Berikut petikan wawancaranya:

Di mana sesungguhnya kekuatan dunia penulisan Melayu itu menurut penilaian Anda?

Sudah sejak 500 tahun lalu tradisi ini sudah dibangun dengan bagus oleh orang-orang yang terpandang, cemerlang, dan bijak. Tradisi ini dimulai oleh Hamzah Pansuri di Aceh. Dia digelari sebagai pilar agung sastrawan Melayu, abad XVI. Pada abad XVII kemudian dilanjutkan oleh Tun Sri Lanang. Dia menulis Sulalatus Salatin yang berisi tentang sejarah Melayu. Setelah itu gemanya terus muncul hingga sampai di Riau. Generasi ini diwakili oleh Raja Ali Haji pada abad XIX. Dia adalah di antara sastrawan Melayu Riau yang paling tersohor namanya. Dia menulis kurang lebih 13 karya. Raja Ali Haji boleh dikatakan orang yang paling pandai pada abad itu. Tulisannya cukup banyak mulai dari sejarah, kitab hukum, tata bahasa, sastra. Di antara tulisannya yang paling terkenal adalah Gurindam Dua Belas.

Keberhasilan Raja Ali Haji membina generasi di zamannya kemudian hari memunculkan kelompok cendekiawan Riau bernama Rusydiah Club pada XX. Rusydiah Club inilah satu-satunya tempat berkumpul para cendekiawan terbesar di Asia Tenggara pada abad XIX. Mereka sangat berpengaruh, karena berhasil mendirikan sebuah majalah di Singapura yang bernama Al-Imam. Anggotanya tak hanya meliputi anak jati dari Riau, yang pada waktu itu jumlahnya paling terbanyak. Ada orang dari Patani (Thailand), Minangkabau (Sumbar) bahkan dari Mekkah al Mukarramah. Dari sana diwakili oleh Syed Syekh Al-Hadi. Generasi Syed Syekh Al-Hadi ini setelah kerajaan Riau dibubarkan oleh Belanda, mereka kemudian menyeberang ke Semenanjung Malaysia.

Tokoh-tokoh Rusydiah Club yang paling terkenal adalah Raja Ali Kelana, Abu Muhammad Adnan, Raja Khalid Hitam, Raja Aisyah Sulaiman, Badriah Muhammad Taher, Al-Fatah. Deretan ini dikemudian hari terus bersambung, misalnya memuncullah nama Raja Hasan Riau, Raja Agung Muthalib. Keistimewaan Rusydiah Club sungguh istimewa. Kelompok ini pula yang memberikan sebuah saran, kalau orang ingin diberi nama sebagai cendekiawan, maka mereka harus bisa mengarang. Kalau tak ada karya tulisnya, dia tidak bisa dicatat sebagai cendekiawan. Sejak dari dulu kita sebenarnya sudah tidak terima orang-orang yang hanya pandai membual-bual saja. Generasi berikutnya terus disambung oleh cendekiawan Riau yang juga sangat terkenal yaitu Tuan Guru Abdurrahman Sidik. Dia berasal dari Indragiri yang juga adalah Mufti Kerajaan Indragiri. Dia menulis paling kurang 7 buah kitab. Di antara bukunya adalah Asrarul Salafi (rahasia salaf). Dia menulis betul-betul mendekati tipe Al-Ghazali. Akadul Iman (prinsip-prinsip iman), dan yang sangat terkenal adalah Syair di Barat; Hari Kiamat. Dari sini tak terhitung lagi orang melakukan kajian S2 dan S3. Seprti mana yang dilakukan terhadap Raja Ali Haji. Bersamaan dengan Tuan Guru Abdurrahman Sidik adalah Soeman HS, yang lahir di Bengkalis awal abad XX. Dia membuat lima buah karya tulis. Kelebihan Soeman, karena dia adalah satu-satunya pengarang Indonesia dari tanah Melayu yang memulai tipe penulisan cerpen dengan gaya kocak. Tulisannya enak dibaca, segar dan pendek. Tetapi ada nada-nada humor di dalamnya. Soeman juga tak pernah lupa mengisi pesan-pesan kebenaran dalam setiap karyanya. Humor di dalam tulisannya tak membuat orang lupa diri atau hanya sekadar menghibur diri. Dia punya sisipan tersendiri di dalamnya. Ada pesan-pesan tentang kebenaran, tentang arti kehidupan. Itu keunggulan Soeman.

Bentuk pesan seperti apa yang dapat diambil dari mereka?

Kelima deretan pengarang besar Melayu itu telah membangun tradisi dunia kecendekiawanan Melayu yang sungguh luar biasa sekali. Kalau kita membaca mulai dari Hamzah Pansuri, Raja Ali Haji, Tuan Guru Abdurrahman Sidik, kita yang membacanya seakan-akan dibawa ke bawah medan magnet spritual. Ditariknya kita oleh kekuatan bahasanya.

Mari kita lihat, pesan-pesan dalam karya mereka. Hamzah Pansuri kita lihat dulu, “Wahai muda kenalilah dirimu. Ia lah perahu tamsil tubuhmu. Tiada berapa lama hidupmu, ke akhirat juga kekal abadi”. Lihat filsafat atau nilai hidup yang paling dalam. Dia berpesan kepada orang muda bukan orang tua. Sedangkan kita sekarang lebih banyak berpesan kepada orang tua. Orang tua sebenarnya sudah wajar dekat ke masjid atau surau. Tetapi Hamzah Pansuri cenderung berpesan kepada orang muda. Sebab dampaknya sangat luar biasa, kalau orang muda punya kesadaran seperti itu.

Seharusnya sudah harus ditiru oleh generasi muda Melayu. Untuk memberikan pesan, nilai-nilai menjadi generasi yang handal itu harus diberikan kepada generasi muda dari sekarang. Raja Ali Haji juga memberikan pesan lewat Gurindam Dua Belas. “Barang siapa mengenal akhirat, taulah dia dunia ini melarat”. Coba perhatikan pesannya, kalau melarat di dunia ini tidak apa-apa. Tetapi melarat di akhirat sangat dahsat, tak terbayangkan. Satu hari di sana sama dengan seribu tahun di dunia. Melarat di dunia hanya sebentar, tak sampai 100 tahun. Lalu pesan itu kemudian dikunci oleh Tuan Guru Abdurrahman Sidik. “ Angan-angan jangan terlalu panjang. Cintakan dunia bukan kepalang”. Coba kita simak, siang dan malam kita hanya menghitung dunia ini. Angan-angan itu hanya akan membuat orang berangan panjang.

Bayang-bayang itu senantiasa muncul. Tuan Guru masih kembali memberikan penekanan, “Apakah tidak kasih atau sayang pada diri sendiri. Karena nanti diakhirat akan berhadapan dengan titian yang halusnya bagaikan rambut di belah tujuh”. Sehingga dalam pandangan Tuan Guru, mereka yang berangan-angan itu adalah orang konyol. Sementara angan-angan itu hanya seberapa yang bisa direalisir. Lalu hidup yang sejati di depan mata, malah tidak ada dalam kamus sama sekali.

Anda memaknainya seperti apa?

Pesan-pesan itulah yang kemudian mengugah saya untuk menulis. Apabila dipikirkan, nilai saya hanya apa? Orang-orang itu sudah memulai pada abad ke-16 dan 17, 19 dan 20. Mereka tak punya mesin ketik, tak juga punya kertas. Sementara saya punya bahan yang melimpah, punya kesempatan yang banyak. Mengapa saya tidak melakukan? Jangankan bisa menyamakan mereka, ikut barisan mereka saja kenapa tidak bisa. Mengapa kita tidak bisa beramal seperti yang mereka lakukan? Nah itulah yang menyentak minat saya, dan selalu membangkitkan motivasi saya untuk menulis.

Motivasi itu bangkit setelah saya mempelajari naskah-naskah atau karya-karya pengarang Riau di Pulau Penyengat. Waktu itu bersama Raja Hamzah Yunus, abang dari Hasan Junus. Itulah yang membuka rahasia diri ini ketika datang ke Pulau Penyengat. Ketika diberikan sumber-sumber naskah ini oleh Raja Hamzah, barulah terbuka dan saya berujar kepada Raja Hamzah. “Waduh ini tak sedikit nilai naskah. Mau ke mana kalau ini kita biarkan menjadi lapuk? Menjadi terbenam oleh zaman,” ujar saya waktu itu. Saya merasakan betul, bahwa naskah-naskah pengarang Riau itu tak ternilai harganya. Pemikiran-pemikirannya, pesan-pesannya sungguh luar biasa. Kita sebenarnya dari dulu sudah punya orang yang betul-betul ingin memandu kita semua untuk lebih maju ke depan. Tetapi barang-barang itu kita lupakan. Waktu itu Raja Hamzah hanya berujar, “Saya mau perlakukan apa?,” ucap Raja Hamzah waktu itu. Sejak itulah kami berdua mulai memindahkan tulisan-tulisan itu dari Arab Melayu kepada tulisan latin. Setelah dilakukan transkipsi (salin dan alih bahasa, red) lalu sebagiannya lagi juga diberikan ulasan. Dalam ulasan buku-buku saya, umumnya berisi tentang catatan hidup, hampir tak ada yang sepi dalam menyinggung ulasan hidup sepertimana yang dituliskan oleh para pengarang Riau yang pawai dulu itu. Kita hampir tidak bisa menulis kalau tidak merujuk kepada mereka. Alhamdulillah, setelah sumber-sumber ini berkembang dan mulai dibaca oleh generasi-generasi di belakang, maka muncullah minat-minat ini. Ada yang mengangkat bagian-bagiannya ke dalam novel seperti BM Syamsuddin lewat karyanya Berkahwin di atas Gelombang. Karya BM Syamsuddin berkisah tentang orang Suku Laut. Dan merupakan salah satu kisah cerita dalam dunia Melayu.

Kapan Anda mulai melakukan penelusuran karya-karya lama itu?

Pada tahun 1973, sebelum ke Aceh. Gaung dari hasil penelitian ini terus bergema. Karena adanya proyek-proyek dari kebudayaan yang menyokong. Pada tahun itulah mulai melakukan penelitian ke Pulau Penyengat tentang masalah karya-karya pengarang Melayu Riau lewat dokumen-dokumen yang terkumpul oleh Raja Hamzah. Dari usaha itu akhirnya beberapa karya dari pengarang kita saat ini sudah dapat ditemukan di Balai Maklumat Pulau Penyengat. Sejak itu saya selalu mempropagandakan Balai Maklumat. Sudah cukup banyak orang yang melakukan kajian terutama untuk S2 dan S3 yang datang ke sana. Sejak bangkitnya semangat untuk mempelajari naskah-naskah itu, akhirnya gedung Balai Maklumat dapat dibangun. Lalu disimpanlah naskah-naskah lama tersebut, sebagian juga naskah-naskah yang baru, termasuk tulisan saya tentang masalah Melayu. Di gedung ini juga disediakan tempat tidur. Naskah juga tidak boleh di bawa keluar, karena sangat berbahaya, di samping naskah-naskah itu juga sudah sangat tua. Pembangunan gedung Balai Maklumat mulai resmi digunakan waktu zaman Gubernur Riau Soeripto.

Sebenarnya apa yang hendak Anda dapatkan dari pekerjaan itu?

Saya bekerja di bidang ini hanyalah dengan suatu niat. Yaitu keinginan meneruskan karya-karya dari ulama, dari orang-orang terpandang ini. Mudah-mudahan kalau bisa kita mengikutinya, kita akan mendapat amal jariah mereka.

Ini artinya, suatu pesan yang dalam bagi para generasi muda kita. Dulu kita mempunyai orang-orang yang tidak sembrono dalam hidupnya. Mereka punya perhatian besar dalam hidup berkenaan nilai-nilai yang mulia. Tidak hanya mengejar sekeping benda, tetapi mencari makna hidup. Sekarang ini ada orang yang hanya karena sekeping benda, mereka sanggup mengadaikan makna hidupnya. Terus terang, sebenarnya dengan kondisi saat sekarang ini, orang semestinya harus menjadi lebih gelisah lagi. Dulu ketika masih muda, saya sering tidak dapat tidur. Saya harus terus meneruskan membuat tulisan, dan kegelisahan itu senentiasa mengebrak batin.

Dengan melihat kondisi sekarang bagaimana Anda merasakannya?

Terus terang saya tetap gelisah memandang generasi sekarang. Namun dalam kegelisahan itu saya juga melihat ada titik-titik cahaya yang mengembirakan. Sekarang ada budak-budak Melayu yang mulai menunjukkan minatnya.

Orang-orang ini setiap bertemu dengan saya mereka selalu saya asah terus. Insyaallah saya selalu tekan, dan desak terus. Saya katakan kepada mereka jangan tanggung-tanggung. Sebab medan ini sekali kita masuk, kita tidak akan pernah keluar lagi. Kecuali hasilnya seperti yang dikatakan Islam, kalau tidak menang ya mati dalam keadaan syahid.

Orang-orangnya tak bisa saya sebutkan satu-persatu. Tetapi deretan orang-orangnya ada. Mereka inilah kalau nanti Anugerah Sagang masih terpelihara terus, Sagang akan punya orang-orang yang handal dibelakangnya. Itulah sebabnya dalam beberapa tahun terakhir ini saya selalu menolak setiap diminta untuk menghadiri seminar, dan dialog. Saya sengaja memberikan kesempatan kepada generasi muda. Andaikan saya terus ego, kapan saatnya mereka akan siap.

Anda optimis dengan generasi Melayu sekarang?

Saya punya optimisme seperti itu, karena ada orang yang punya minat. Kemudian didukung adanya sumber-sumber tentang Melayu. Insyaallah sumber-sumber itu sudah cukup terpelihara dengan baik. Kalaupun yang lama-lama sudah rusak, kita punya tulisan-tulisan baru yang sudah disiapkan. Setiap hari orang bisa langsung membacanya. Begitu yang dari Arab Melayu sudah disalin ke dalam tulisan latin. Yang belum pernah diulas, kita sekarang sudah punya buku-buku yang mengulas dalam terbitan yang beraneka ragam. Kepada majalah Sagang saya selalu katakan nilai-nilai inilah yang harus dipelihara terus. Nilai-nilai cendekiawan Melayu yang bagus dalam kepengarangan ini harus dipandu terus ke depan. Budaya Melayu jangan sampai terperosok ke dalam budaya Melayu yang materialistik. Inilah tugas berat ke depan. Kreatifitas budaya ini kalau tidak awas-awas, salah-salah jatuh kepada budaya materialistik yang munafik. Jika seperti itu budaya kita hancur, dan tak ada lagi. Kita sudah memeliharanya sejak 500 tahun yang lalu.

Kalau nanti sudah pindah kepada budaya selera, budaya hawa nafsu itu sudah payah. Nanti bisa muncul suatu budaya di mana orang bangga ketika bugil di depan kamera. Itu tidak terbayangkan kalau dalam budaya Melayu muncul seperti itu. Sagang harus menjaga citra itu. Harus ada kerjasama di antara sesama penulis dan pengarang. Sudah semestinya di dalamnya itu harus ada larutan civitas budayawan, penulis, penyair bahwa menulis harus dilakukan dengan niat baik, dengan maksud baik. Menulis harus dengan maksud meninggalkan pesan-pesan baik, dan menyelematkan kemanusiaan. Apakah karya kita sudah seperti itu? Masalah ruang dan waktu dengan sendirinya akan segera terlampauinya. Tetapi karya materialistik yang munafik bakal menjadi seperti petasan.

Pemberian Anugerah Sagang tahun ini barangkali punya sesuatu arti?

Sebenarnya sudah selalu saya sebutkan kalau anugerah, hadiah terhadap segala apa yang saya lakukan itu tidak ada masalah. Dan itu saya ucapakan terima kasih. Tetapi kalau anugerah ini supaya membuat saya memanaskan kembali kegelisahan batin, terus terang itu tidak mungkin. Bukan berarti saya tidak punya kegelisahan batin lagi. Tetapi tidak mungkin lagi, saya kemaren bekerja habis-habisan, 30 tahun lalu. Dari 1970 an sampailah 2000-an. Dan saya sudah punya kurang 60 buah hasil karya, 53 buah dalam bentuk buku (sudah diterbitkan) dan 10 buah karya dalam bentuk naskah yang belum diterbitkan. Ada Hutan Tanah Melayu, Orang Melayu, Rimba Kepung Sialang, Pacu Jalur dan lain sebagainya. Jika ini diharapkan lagi dari saya tidak mungkin. Jika seperti itu maksud pemberian anugerah terhadap saya, barangkali kurang strategislah. Seperti yang saya katakan tadi supaya orang-orang dibelakang harus kita asah terus. Dan orang-orang ini apabila nanti kita berikan hadiah dan anugerah akan mempercepat membangkitkan kegelisahan batinnya. Karena itulah juga pemberian hadiah jangan sampai cepat membuat kita berlebihan, kalau nanti format atau takarannya seperti itu akan susah di belakang hari. Sebab, nanti akan bisa membuat kita kecewa. Setelah diberi hadiah ternyata menjadi kereta api yang mogok ditengah jalan. Kita harapkan karyanya terus bersinar, tapi setelah diberi anugerah malah tidur-tiduran.

Untuk Sagang ke depan Anda punya suatu masukan?

Takaran pemberian anugerah juga sebaiknya harus hati-hati. Jadi jangan tergesa-gesa. Karena itu tidak ada salahnya kategori pemberian hadiah itu ada tingkatannya. Seperti di Malaysia itu ada pengarang-pengarang senior, ada istilahnya Sastrawan Negara. Sastrawan Negara berarti orang yang sudah final. Kita tak ada lagi menuntut banyak dari dia. Medan karya dia sudah berakhir. Tinggal dilestarikan lagi. Barulah setelah itu diikuti deretan pengarang-pengarang senior di bawahnya. Yang belum sampai kepada tingkat sastrawan negara atau budayawan negara. Lalu di bawahnya masih ada lapisan pengarang-pengarang muda. Sehingga semangat mengelora itu terus terpelihara di antara para seniman dan pengarang tersebut. Kita membawa mereka kepada kompetisi yang sehat. Apabila mereka bertemu mereka akan saling memanaskan idenya masing-masing. Jadi dia bukan membenci temannya untuk bertemu, justru mereka saling ingin untuk bertemu. Mereka lalu saling bersinergi. (hus)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Riau Pos, tapi dikutip dari http://sultangurun.multiply.com, 25 November 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s