CLARA NG: MENULIS, SATU-SATUNYA CARA AGAR TETAP WARAS


Pengantar Redaksi
Clara Ng mulai mengambil tempat sebagai penulis berbakat sejak novel pertamanya, Tujuh Musim Setahun, diterbitkan tahun 2002. Ia kemudian melaju dengan menjadi pelopor novel-novel metropop, dua tahun kemudian. Clara memang tidak melulu menulis novel dewasa, tetapi juga menulis buku anak-anak. Sebagai penulis penuh (full time writer) juga menyebar cerpen-cerpennya di berbagai media nasional. Saat orang keranjingan Twitter, Clara, bersama sastrawan Agus Noor dan Eka Kurniawan, malah membuat @fiksimini. Kini akun itu sudah memiliki lebih dari 57.777 followers.
Salah satu alasan Clara menulis adalah karena ia tidak abadi, tapi ceritanya imortal.

Clara Regina Juana (alias Clara Ng), kok berani sekali Anda menulis ”karya sastra”?! Apa yang mendorong keberanian Anda untuk menulis?
(Budi Susilo, Sleman)

Budi Susilo, tahu definisi ”berani” di kamus saya?! Keberanian saya adalah kegentaran saya terhadap hidup. Saya rasa, kalau ingin selalu aman sentosa dan terbebas dari rasa takut, tidak usah menulis fiksi! Menjadi penulis fiksi membutuhkan keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri, meneruskan penceritaan, dan terakhir, bertanggung jawab kepada masyarakat.

Obsesi saya adalah menulis, dan saya punya mimpi besar akan mengarang sebuah novel terkenal suatu saat nanti. Kira-kira apa yang harus saya persiapkan untuk novel tersebut? Terkadang imajinasi saya terhenti saat menulis, apa yang harus saya lakukan untuk itu?
(Bagus Supriadi, xxxx@yahoo.co.id)

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengaku ingin menulis cerita dahsyat. Tapi ternyata saya sangat jarang menemukan yang ”benar-benar” melakukannya dibandingkan dengan yang ”ingin”. Penulis adalah orang yang menulis, jadi kalau seseorang tidak menulis, berarti dia bukan penulis. Karya tak bisa dihasilkan hanya dengan berpikir atau berangan-angan tentang menulis, tapi karya dihasilkan dengan benar-benar bekerja. Maka. nyalakan komputer dan mulailah mengetik cerita. Inspirasi akan mengalir lancar saat mulai menulis.

Salut deh buat Mbak yang jago banget menulis. Dari dulu saya pengin banget bisa menulis minimal cerpen, tapi selalu gak berhasil. Kalo boleh tau, apa sih rahasianya? Menurut Mbak, sebaiknya pada umur berapa kita mengenalkan dunia tulis-menulis ini kepada anak-anak?
(Peggy Dianita, Jakarta, xxxx@gmail.com)

Halo Peggy, terima kasih. Bagi saya, menulis bukan beban, jadi semangat saya tidak didasari target. Saya sudah cukup bahagia apabila saya memberi kesempatan kepada diri untuk membuka keran ide di kepala dan mengalirkan kata-kata. Sebab, tanpa menulis, saya merasa kepala saya terlalu penuh dan mampet. Anak-anak harus dibiasakan menulis sejak dini, sejak mereka mulai belajar membaca dan merangkai kata. Dengan menulis, anak-anak diajarkan untuk lebih pandai berbahasa dan mengungkapkan perasaan/gagasannya, juga menjadi komunikator yang baik kepada sesamanya.

Bagaimana proses kreatif yang Anda lakukan untuk menghasilkan suatu karya sastra?
(Gagat Rahina, xxxx@gmail.com)

Ciri khas penulis yang baik pasti memiliki kenikmatan menjadi pengamat di tengah keramaian dan menjadi penyendiri di saat benar-benar sendiri. Nah, sebenarnya seperti itulah awal mula proses kreatif saya. Selanjutnya, sorang penulis juga mempunyai sikap-sikap kemandirian yang sangat kuat (untuk mulai menulis) dan menjadi ”orang lain” di dalam ceritanya.

Clara sudah banyak sekali menulis berbagai macam buku, bahkan sampai buku anak-anak, namun saya belum menemukan buku yang berbau misteri/detektif dari Clara. Apakah ada rencana membuat buku jenis tersebut?
(Yudiari, Denpasar, xxxx@yahoo.com)

Saya bersyukur diberi kesehatan dan kemampuan menulis berbagai macam fiksi. Tak lupa berlega hati karena mendapat kesempatan melenturkan otot-otot imajinasi saya. Marilah kita bersama-sama bersabar sebab mungkin saja suatu hari saya dijerat Malaikat Fantasi sehingga bisa kalap menuliskan dongeng- dongeng detektif yang beraroma misterius itu?

Saya tahu Anda sekarang giat memopulerkan fiksimini. Bagaimana nih asal-usulnya sampai Anda terlibat dengan fiksimini?
(Martha Pratana, xxxx@gmail.com)

Akun @fiksimini adalah komunitas membaca/menulis sastra yang dimulai di Twitter. Saya terlibat di komunitas ini pada suatu malam di bulan Maret 2010, seratus persen dibimbing oleh takdir. Takdir saya seperti takdir seekor hiu yang selalu tergoda dengan setetes darah. ”Darah” yang saya maksud di sini adalah dunia literatur dengan segala kemasannya yang aduhai.

Bagaimana cara seorang Clara Ng mendapatkan atau menciptakan ide kreatif dalam menulis cerita? Saya rasa kalau novel The (Un)Reality Show atau Jampi-jampi Varaiya diangkat ke layar lebar akan menarik. Sukses terus, juga buat Twitter @fiksimini-nya!
(Fandy Novriandy, xxxx@gmail.com)

Atas nama komunitas @fiksimini, saya berterima kasih! Ide- ide kreatif sebenarnya hanya sekadar ide biasa apabila tidak dikembangkan menjadi cerita. Tidak ada pengarang satu pun yang mampu menghasilkan karya tanpa bekerja keras. Semakin giat menulis, maka semakin piawai pula menemukan ide-ide kreatif. Oleh karena itu, rajin-rajinlah menulis dan menajamkan mata batin. Semoga pembuat film membaca suratmu dan mengangkat The (Un)Reality Show dan Jampi-jampi Varaiya ke layar lebar. Salam, sukses juga buatmu!

Hai Clara! Novel pertama kamu terbit setelah kamu pulang kuliah dari AS. Apakah lingkungan AS dan pendidikan di sana relatif memengaruhi kreativitas dan semakin membuat kamu lebih percaya diri menjadi penulis?
(Tonnio Irnawan, Jakarta Timur)

Saya menerbitkan novel pertama kali karena saya memiliki waktu luang yang (lebih) leluasa untuk menulis prosa panjang di Indonesia. Untuk menjadi penulis, rasa percaya diri saya tidak didongkrak dari pengalaman hidup di AS. Walaupun kehidupan kampus di Amerika memperkaya batin dan wawasan, saya memasuki dunia fiksi Indonesia dari nol. Saya menjadi penulis yang semakin percaya diri dan bersyukur sebab dalam proses kepengarangan saya, saya berhasil menghasilkan cerita yang (semakin) menarik dan menata kata-kata dengan (semakin) elok. Sejujurnya, saya masih butuh asupan rasa percaya diri yang lebih banyak, apalagi jika melihat karya-karya teman-teman penulis lain yang menggelegar.

Teteh Clara, apa pendapat Teteh mengenai fanfiction? Apa sumbangan/keburukannya pada dunia tulis-menulis kita? Hatur nuhun!
(Ambu Dian, Bandung)

Percaya atau tidak, saya pernah menulis fanfiction panjang sebanyak lima ratus halaman, beberapa cerita pendek fanfiction, memenangi perlombaan fanfiction kecil-kecilan, dan bergabung dengan komunitas fanfiction. Saya belajar banyak saat itu. Tidak ada salahnya mengasah keterampilan menulis dengan mengarang fanfiction. Jangan lupa meletakkan claim yang menyertakan nama penulis asli di karya fanfictionmu! Sawangsulna, Ambu!

Apa yang membuat Anda menyukai dunia kepenulisan? Saya salah satu follower Anda di Twitter @clara_ng, apakah inspirasi menulis datangnya dari twit-twit Anda di Twitter?
(Helvry Sinaga, Jakarta)

Saya menyukai dunia kepenulisan karena sejujurnya hanya dunia itulah yang paling setia dan tak pernah berpaling dari saya. Saat hidup saya terus maju dan berproses, beberapa kegiatan dan aktivitas saya di bidang-bidang lainnya menjadi longgar dan membosankan, hanya dunia menulis yang tak pernah letih memuaskan dahaga saya. Terima kasih sudah menjadi follower saya di Twitter dan betah mendengarkan kicauan saya setiap hari.

Saya sangat menyukai karya- karya Anda. Dalam beberapa karya Anda, tergambar romantisme cinta pasangan dengan jenis kelamin yang sama. Hal ini masih tabu di masyarakat Timur seperti Indonesia. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini dan apa sikap Anda terhadap homofobia?
(Regina, Jakarta)

Terima kasih atas pujiannya, Regina. Bagi saya, menulis adalah jalan pedang dan pedang yang saya maksud di sini sebagai filosofi hidup dan simbol pemahaman. Ini adalah semacam panggilan jiwa saya untuk membenahi dan membela kaum yang dibungkam, sekecil dan sesederhana apa pun usaha saya. Homofobia adalah bagian dari masalah SARA; penting untuk diedukasikan ke tengah masyarakat.

Saya sudah mempunyai novel Anda, Indiana Chronicle. Novel yang sangat saya suka! Bagaimana Anda bisa membuat novel itu menjadi sangat segar dan bisa membuat saya terus menangis?
(Dahlia Kusumaningrum, Yogyakarta)

Penulis yang baik akan membawa pembaca untuk menangis, tertawa, dan bergembira. Saya senang Anda menyukai karya saya. (ush)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas (Jakarta), 25 Januari 2011.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s