TKW


Cerpen Noviana Herliyanti

”Gimana,Mbuk?”.Perempuan tua yang dipanggil Embuk oleh Hawa mengusap air mata.Ada rasa perih tak terperi dalam hatinya.

Di satu sisi ia tak pernah menginginkan kepergian putri bungsunya. Namun, untuk menahannya ia tak kuasa.Usianya telah lanjut. Kini ia hanya pasrah pada keputusan anaknya.Hawa, memainkan jari-jarinya. Ia tak dapat menebak apa yang kira-kira akan diucapkan ibunya. Tadi siang, Sani tetangganya, kembali mengajaknya untuk menjadi TKW.

Katanya saudaranya yang kini berada di Arab Saudi mengajaknya. Sudah ada pekerjaan menanti di sana. Pilihan itu begitu sulit, seperti buah simalakama. Di satu sisi ia tak sanggup meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil.Apalagi kini dia hanya tinggal berempat; ibunya yang telah sepuh, anak keduanya Mila berusia 12 tahun dan si bungsu Robert yang masih 5 tahun.

Suaminya telah lama meninggal saat si bungsu sedang berada dalam kandungan 3 bulan.Namun, untuk tetap bertahan di sini, warungnya tak seberapa menghasilkan. Apalagi akhir-akhir ini keuangannya menipis dan warung sotonya sangat sepi. Dia butuh persiapan untuk melanjutkan hidupnya. Walaupun ada beberapa tetangga kanan-kiri yang tiap bulan telah menyokongnya,namun ia tak ingin selamanya bergantung pada mereka.Apalagi jika anaknya telah semakin dewasa. Tentunya usianya juga sudah tak muda lagi. Tenaganya pastilah tak sekuat sekarang untuk bekerja. Ia tak tega, jika harus melihat anaknya nanti berada dalam kesusahan. Bahkan, jika sampai menunggu belas kasihan tetangganya itu sangat memalukan.

Pikirannya mumet. Kemarin saudaranya Sutiha juga tak banyak menawarkan solusi.Namun,jika ia memang jadi berangkat ia bersedia untuk mengasuh si bungsu. Ruangan itu begitu senyap. Tak ada tangisan, hanya kedua mata keduanya telah benar-benar sembab. “Ibu hanya menurut saja, apa yang memang terbaik untukmu dan anak-anak lakukanlah,” suara perempuan tua itu bergetar. Pasti sudah sedari tadi beliau menangis. Perasaan Hawa kian beku.

Hawa sudah memutuskan. Dia akan berangkat, segalanya telah ia persiapkan. Mengurus beberapa surat penting ke kantor desa hingga ke kecamatan.Namun, untuk pengurusan visa dan paspor ia serahkan kepada Man Hamid, suami famili Sani yang bekerja di Arab Saudi.

Ia terpaksa membongkar tabungannya dan kekurangannya ia meminjam pada saudaranya untuk transportasi. Untuk sementara warung dia serahkan pada sepupunya, Niama. Kini Hawa lebih banyak di rumah menemani Robert bermain dan Mila belajar. Hawa ingin menikmati saat-saat menyenangkan sebelum keberangkatannya. Banyak orang, baik tetangga maupun saudara jauh membujuknya. Namun, Dia telah bertekad untuk mengubah nasib keluarganya. Dia tak ingin selamanya bergantung pada orang lain. Dia banyak mendengar ucapan yang tak mengenakkan hati. Baik itu di ucapkan langsung atau di belakangnya. Namun,ia diam saja.

“Jangan pergi nanti bakalan kualat meninggalkan anak yatim,” Buk Iyem membujuknya. “Awas kena tipu, janganjangan hanya untuk dijual,” sambut yang lain yang saat itu ia sedang mengikuti arisan di rumah Nur. “Jangan pergi kasihan anakmu, sudahlah kami akan membantu semampu kami untuk hidup anakmu,” ujar Sumna pelan, sambil menyusui bayinya. “Di Tipi banyak TKW yang pulang telah menjadi mayat, apa kau tak takut itu terjadi padamu,” Bi’ Yumuna yang memang sering nonton TV berujar. “Bagaimana nanti hidup anakmu tanpa mu?”ujar Yus serak, seraya mengusap air matanya.

Hawa tanggapi semuanya dengan senyum. Tekadnya sudah terlalu kokoh dan sulit digoyahkan. Meski sebenarnya hatinya juga amat sangat sedih. Namun, semuanya harus butuh pengorbanan. Hari yang ditakutkan sekaligus dinantikan itu tibalah jua. Hawa tak kuasa menahan air mata saat Mila memegang ujung bajunya kuat serta rengekan Robert. Embuk lebih banyak diam seraya menghapus air matanya dengan ujung kebaya usang yang dipakainya.

Semuanya larut dalam kesedihan dan tangisan. Hampir saja Hawa membatalkan niatnya, jika Siti tak meneguhkan bahwa keberangkatannya untuk kehidupan mereka yang lebih baik.Hawa dan Siti bernasib sama.Hanya saja kondisi Siti lebih baik. Dua anak Siti telah remaja. Kepergiannya adalah karena ia harus membayar hutang suaminya yang tiba-tiba saja meninggalkannya. Suaminya brengsek meninggalkannya demi perempuan lain. Mobil yang membawa Hawa, Siti juga lima perempuan dari desa tetangga melaju.Keangkuhannya telah mampu melawan lautan air mata.

Semuanya bungkam. Dan yang ada di pikiran mereka adalah cepat sampai tujuan, cepat bekerja, dan terima gaji, lalu pulang membawa masa depan yang lebih baik untuk keluarga mereka. Setiba di terminal Sumenep mereka akan melanjutkan perjalanan dengan bus kota. “Ayo yang sayang anak buku tiga gambar hanya 5 ribu” Seorang lelaki muda mengangsurkan buku ke tangan penumpang bus saat berhenti di terminal. Hawa melihat cover boneka Upin- Ipin.

Hatinya nelangsa. Wajah Robert terlintas tadi pagi saat dia berontak dari gendongan saudara perempuannya Sutiha.

Tanpa terasa mata Hawa kembali berderai. Sungguh,jauh di lubuk hatinya tak ada keinginan pergi. Hawa mendekap buku itu.

“Akan kusimpan sebagai hadiah buat Robert saat pulang nanti,”bisiknya Suasana terminal pengap. Panas, bising, benar-benar hari yang menyengat bila siang. Seluruh tubuh penumpang yang ada di bus bermandi keringat. Kipas yang diayunkan tak banyak berpengaruh. Beraneka aroma mulai dari makanan,sepatu,parfum,keringat berbaur. Suara indah dua pengamen muda tak banyak menyita perhatian. Semuanya lebih disibukkan suasana yang menyengat. Tangan kiri Hawa memegang hidung. Sedang tangan kanannya ia pergunakan untuk memijiti kepalanya yang tiba-tiba pening serasa ingin mual.Siti di sebelahnya lebih baik. Ia mengusap leher pelipis hingga perutnya dengan balsam yang sengaja ia bawa dari rumah.

Ia juga tak lupa menawarkan pada Hawa dan kawan lainnya. Entah karena suasana yang benar-benar pengap atau memang sudah waktunya akhirnya bus berangkat lagi.Angin mendesir dari kaca yang sengaja dibuka. Sedikit mengurangi panas. Semua mencoba terlelap di antara desingan mesin yang melaju kencang. “Sebentar lagi nyampek,” ujar Bang Hamid yang membawa mereka dari kampung. Berdesakan para penumpang ingin masuk dan turun. Suara bising dari para penjual asongan berbaur. Mereka bertujuh berteduh di bawah pepohonan yang cukup rindang sekitar terminal.

Sementara Bang Hamid menunggu mobil yang akan menjemput. Dua orang anak beda jenis tibatiba menghampiri.Yang perempuan sekitar 9 tahun dan kira-kira adiknya berusai 5 tahunan.Hawa tertegun. Tiba-tiba terlintas bayangan Mila dan Robert.Tanpa ia sadari, ia merogoh tas usangnya dan mengangsurkan 50 ribu pada lelaki kecil yang langsung menerimanya malu-malu. Perempuan kecil, Siti dan teman-temannya kaget.Siti langsung menegurnya. “Tak salah kamu ngambil uang?”. Hawa menggeleng, air matanya sudah penuh. Siti menepuk bahunya. Ia merasakan apa yang Hawa rasakan. “Lelaki kecil itu pasti mengingatkannya pada Robert,” ujarnya pelan pada teman-temannya saat mencolek bahunya.

Dua anak kecil itu terkagetkaget melihat perempuan itu menangis. Si perempuan kecil menyuruh adiknya agar mengembalikan uang yang tadi diterimanya. Hawa memeluk keduanya itu. “Bukan lantaran uang yang membuatku menangis.Namun aku takut, jika apa yang menimpa kedua anak ini akan terjadi pada anakku saat ini, esok atau kapan saat aku tak di rumah.” Hawa mengusap air matanya. Hatinya pilu. “Aku mengejar sesuatu yang belum pasti.

Memperturutkan egoku.Hanya demi harta, mengejar kemandirian yang sebenarnya tak jelas. Meninggalkan ibuku yang telah sepuh dan kedua anakku yang tak hanya butuh biaya besar, namun juga perhatian dan kasih sayangku,” lirihnya di sela-sela isak tangis. Hawa melambai.Ada perasaan haru yang menyesak.

Dia telah memutuskan. Berpamitan pada teman-temannya dan Bang Hamid yang tak lama kemudian datang dengan mobil yang sedianya akan menjemput kami. Berat, itu pasti. Awalnya teman-temannya kaget, terutama Bang Hamid.

Dengan terbata dia menjelaskan posisinya sebagai seorang ibu dengan dua anak yang masih kecil dan yatim. Dengan berat akhirnya mereka melepaskan kepulangan Hawa ke kampung halaman. Bahkan mereka urunan memberinya ongkos pulang,saat tahu uang Hawa hanya tinggal 100 ribu.Meski mereka tak lama saling mengenal, namun kesamaan nasib mampu mengikat rasa persaudaraan yang kuat.

Hawa mengambil tiga buku tipis mewarnai bergambar dua Unyil kembar dari negeri Jiran, Ipin dan Upin.Ia memeluknya eraterat. Membayangkan kedua anaknya serasa ada kerinduan yang menyesak. Dia melihat almarhum suaminya tersenyum. Panas sudah mencapai puncak, matahari telah menunjukkan kekuatannya. Tertatih Hawa turun dari angkot yang membawanya dari terminal.Kerindangan pohon yang tumbuh di sisi jalan setapak yang ia lewati mampu mengurangi penyinaran langsung. Hawa melewati warung yang tutup. Menyusuri jalan kecil menuju ke rumahnya. Setibanya di rumah, sepi.Tak tampak seorang pun di luar rumah.

Ia mengulum salam.Hawa mengusap peluh yang merembesi mukanya dengan sapu tangan yang telah lembab. Mila, tergopoh keluar, diam membeku di depan pintu. Lalu ia berteriak dan mendekap perempuan di depannya.

“Emaaaaaaaaaak”. Tak lama dengan langkah tertatih Embuk keluar. Suasana yang mengharukan,kembali hadir. “Robert sedang tidur,”ujar Embuk, seraya menyelipkan adonan sirih dan pinang ke bibirnya yang merah. Tetangga kiri kanan berdatangan. Ada yang kaget, haru namun juga mencibir sinis. “Mending dari awal nggak usah berangkat kalau pada akhirnya nggak jadi,” Mbok Nah mencibir sinis.

“Ia buang-buang duit aja,”bisik Rosna. “Ah, paling juga cari sensasi aja”. Hawa menggeram marah, namun ia tahan. Ia biarkan saja mereka bicara seenaknya. Toh, mereka juga diam saja pada akhirnya. Seperti hari-hari sebelumnya. Hawa kembali membuka warung dengan semangat lagi. Jam tiga ia sudah sibuk menyiapkan bahanbahan untuk nasi pecel yang akan ia jual untuk anak-anak yang akan berangkat sekolah lengkap dengan ote-otenya. Juga soto dan rujak.

Robert berangkat sekolah diantar Embuk-nya, yang kebetulan sekolahnya hanya beberapa meter dari rumahnya.

Pulangnya dia langsung ke warung.

Belajar bersama ibunya benar-benar menyenangkan buat Obet, begitu putra bungsu Hawa biasa dipanggil. Robert sibuk mewarnai buku yang ibunya belikan di bus. Ia menatapnya dan sesekali menghapus warna yang salah.Hawa tersenyum haru. “Bagiku rezeki Allah yang ngatur, selama aku masih mau berusaha Allah pasti ngasih jalan, apalagi anak-anakku yatim.Allah pasti akan mencukupi mereka dengan kuasanya.

Aku hanya ingin menemaninya belajar, memberikan seluruh kasih sayangku pada mereka agar mereka tak merasa yatim piatu,”ujarnya. Ia menghapus air matanya tergesa saat Obet menatapnya.Kedua orang itu berpelukan haru.

“Jangan pergi lagi ya, Maaak,” pinta Obet lirih.

Noviana Herliyanti, aktif di Forum Komunikasi Penulis & Penerbit Pesantren (FKP3) Jawa Timur dan aktif di Pondok Budaya Ikon Surabaya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia (Jakarta), 4 September 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s