KEMBALINYA GAIRAH PARA CERPENIS


Maria Jeanindya

Kumpulan penulis cerita pendek yang cemerlang di era 1980-an. Berusaha menghapus mitos penulis kamar.

Masih ingat dengan majalah Anita Cemerlang? Majalah dua mingguan ini populer di tahun 1980-an. Di dalamnya, khusus memuat cerita pendek (cerpen) karya penulis yang tersebar di berb?gai pelosok Nusantara.Pada 2002, sinar Anita Cemerlang padam. Lantaran tidak terbit lagi, penulisnya berkumpul membentuk Asosiasi Penulis Cerita, disingkat Anita.

Umur asosiasi ini masih amat hijau. Tercetusnya waktu kita reuni tanggal 15 Februari tahun lalu,” Kurnia Effendi, ketua asosiasi ini mengenang.Saat ini anggota yang terdaftar di milis Anita berjumlah sekitar 70 orang. Padahal, menurut Effendi, jumlah cerpenis Anita Cemerlang mencapai 150 orang. “Pada dasarnya, semua yang pernah menulis cerpen di Anita otomatis menjadi anggota asosiasi ini. Cuma untuk keperluan administrasi mereka dianjurkan mendaftar ke milis,” tuturnya.”Mereka tersebar di Solo, Jakarta, Bengkulu, hingga Balikpapan,” timpal Ryana Mustamin, bendahara Anita.Pertengahan Februari lalu, anggota Anita sempat merilis novel Tukang Bunga dan Burung Gagak.

Dunia yang hilang
“Setelah penerbitan Anita Cemerlang dihentikan pada 2002, para cerpenisnya pun merambah berbagai profesi lain. Ada yang jadi bankir, wartawan, tukang bunga, di perusahaan otomotif, macam-macam,” kata Effendi.Kesibukan di profesi baru tersebut, imbuhnya, membuat banyak cerpenis Anita menghentikan aktivitas menulis. Kegiatan menulis pun lalu dianggap sebagai aktivitas di masa remaja semata.Asosiasi itu diharapkan Effendi dapat menumbuhkan kembali minat menulis yang sempat hilang. “Saya belum lama aktif lagi menulis. Waktu pertama mulai lagi, terasa kalau ide agak tumpul. Tapi makin sering nulis, kesensitifan itu akan muncul dengan sendirinya,” kata Ana, panggilan akrab Ryana Mustamin.

Ibu satu anak ini mengaku tetap membutuhkan kehadiran cerpen di tengah rutinitasnya sebagai kepala departemen komunikasi salah satu perusahaan asuransi. “Menulis cerpen bisa jadi katarsis. Vitamin untuk jiwa di tengah kejenuhan rutinitas,” tuturnya.Di tahun pertama asosiasi ini berdiri, pengurus menggelar sebuah program bertajuk Menuju 100 Buku Anita. Sesuai judulnya, Anita ingin menerbitkan 100 buku yang ditulis oleh anggotanya.”Kemarin yang terpamerkan sekitar 80 buku. Karena ada yang memasukkan naskahnya terlambat, dan sebagainya. Tapi intinya, motivasi untuk kembali menulis sudah mulai tumbuh,” jelas Effendi.

Untuk lebih mempermudah anggota yang ingin menerbitkan buku, Anita juga berkolaborasi dengan beberapa penerbit. Ke depannya, komunitas ingin membuat sebuah kartu diskon yang bisa digunakan anggotanya bila ingin mendapatkan diskon dari penerbit.Visi kedua yang diboyong Anita adalah menumbuhkan pengarang-penga-rang baru di Indonesia. Untuk mencapai visi ini, anggota komunitas, baik secara sporadis maupun terpusat, aktif .melakukan pembinaan dan pelatihan.”Salah satunya waktu ada lomba penulisan cerpen di Bumiputera, juri yang dihadirkan dari komunitas ini,” ungkap Ana.

Go public
Komunitas ini kerap mendatangi berbagai acara tentang buku dan cerpen. Ia juga masih mengisi program Sinto (Sentuhan Cinta) di radio Pro 2 yang mengudara setiap Kamis pukul 22.00-23.00.Baik Effendi ataupun Ana tak mengelak, eksistensi, salah satu yang ingin dicapai komunitas ini. Mereka ingin menghapus mitos penulis kamar. “Cerpennya terkenal, tapi orang tidak tahu yang mana penulisnya,” imbuhnya.

Anita juga memasang target mendapatkan rekor Muri untuk novel dengan jumlah penulis terbanyak. Tema besar pun telah ditentukan; cinta.Sistem pengerjaan novel ini akan dilakukan via milis Anita yang eksklusif untuk anggota saja. Setiap anggota diberi jatah 5-10 halaman dan waktu pengerjaan selama satu minggu.”Kalau jumlah anggota ada 150 orang, bisa dihitung sendiri kan akan jadi berapa lembar novel ini,” ujar Effendi yang rencananya akan menjadi penulis pertama proyek tersebut.(M-6, maria@mediaindonesia.com)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Media Indonesia (Jakarta), 5 Maret 2010.

One response to “KEMBALINYA GAIRAH PARA CERPENIS

  1. usul nih,, gmn kalo cerpen2 yg pernah terbit di majalah anita cemerlang dulu, diterbtkan kembali dlm bentuk buku,, misalnya 1 buku brisi cerpen terbitan setahun jd bs jadi beberapa buku,,, dan buku tsb bs menjadi pelepas kangen n jd pengingat kenangan remaja dl,, semg bs dipertimbangkan yaa🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s