PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA (PKMI)


Pandu Ganesa
Penggagas Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI)

Pada medio Oktober 2004-Januari 2005, harian-harian: Leipziger Volkszeitung, Dresdner Post, Chemnitzer Morgen Post, dan Hohenstein-Ernstthall Freie Presse kesemuanya terbit di negara bagian Saksen, Jerman, memuat berita “aneh”. Terkhabarkan bahwa seorang remaja/mahasiswi asal “Borneo” sedang mempersiapkan skripsinya di Leipzig di bawah asuhan langsung seorang pakar ternama tentang Karl May yang dihormati di Jerman, DR Christiaan Heerman.

Bagi penduduk Saksen berita itu jelas aneh, bagaimana mungkin seorang remaja yang tinggal nun di Timur sana bisa-bisanya menulis tentang Karl May, seorang penulis rakyat yang menulis trash literature/cerita picisan? Mereka niscaya terheran-heran bahwa ternyata Karl May dikenal pula di negeri eksotis nan jauh yang bernama Indonesia. Di lain pihak, kalau saja berita itu terbaca oleh dan dimuat dalam media Indonesia, pertanyaan yang sama juga akan muncul, siapa itu Karl May sehingga si mahasiswi (Ika Garcia Federica asal Pontianak, alumnus Universitas Negeri Malang) mau-maunya terbang sebegitu jauh “hanya” untuk menulis skripsi tentang pengarang “buku anak-anak”? Kenapa bukan tentang Goethe, Hesse, atau siapalah, nama besar lainnya dalam dunia sastra Jerman?

Demikianlah, sebuah berita kecil dan tidak ada gemanya di tanahair tadi, walau barangkali bermakna sebagai salah satu tonggak kecil perbukuan Indonesia, sedikit-banyak, langsung-tidak-langsung, berhubungan dengan sebuah klub buku yang menabalkan diri mereka sebagai: Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI).

Karl May (1842-1912) pengarang Jerman, penulis genre kisah petualangan atau cerita perjalanan. Terjemahan Indonesianya sudah ada sejak 1950, saat ini jumlah terjemahannya tak kurang dari 40 bahasa. Ia mengajak pembacanya untuk berkunjung ke negeri-negeri jauh nan eksotis (Amerika Wild West, Timur dan Balkan, serta negeri-negeri lainnya termasuk Indonesia). Dalam konflik-konflik yang disampaikan, ia merangkai benang merah tentang arti persahabatan orang-orang yang beda ras, kebangsaan, agama; pendek kata tentang: kemanusiaan. Sedang tokoh-tokohnya adalah orang-orang muda yang bersemangat berusia 20-30 tahun, cinta tanahair, cerdas, memiliki rasa humor tinggi, jagoan, tapi juga … anti pertumpahan darah. Tidak ada darah mengalir dalam petualangannya, dengan beberapa perkecualian tentunya. Kemenangan dicapai dengan akal, bukan okol (otot, kekerasan, peperangan). Teknik penceritaan yang dipakainya a la kisah 1001 malam yang sambung-menyambung, mendayu-dayu, atau tepatnya, dalam konteks Indonesia: memakai teknik pewayangan. Karl May meramu wayang dan kisah 1001 malam a la Jerman.

Yang penting untuk dicatat: nama Karl May tidak pernah terdaftar sebagai penulis sastra aliran “serius”, meskipun sejarah mencatat, bukunya hingga hari ini terjual lebih dari 125 juta eksemplar, tertinggi setelah Bible berbahasa Jerman!

Lahirnya sebuah paguyuban
Bermula dari sebuah thread panjang di milis m-claro (masyarakat classic-rock) tentang Karl May (2000) ide tentang paguyuban ini pun muncul. Tujuan semula sekedar hura-hura, dan sebagai alat pemersatunya dipakailah sarana internet. Dengan berbekal Rp 17.500 guna membeli buku cara membuat sebuah situs, muncullah http://indokarlmay.hypermart.com/ pada September 2000. Situs sudah siap, pertanyaannya, mau diisi apa? Data tertulis tentang Karl May dalam bahasa Indonesia nyaris tidak ada. Yang tersedia adalah dua artikel majalah dari 1960-an dan dua artikel harian Kompas serta majalah Intisari dari 1992. Yang di Kompas ditulis panjang-lebar oleh Seno Gumira Ajidarma, yang di Intisari saduran naskah Jerman, keduanya ditulis dalam rangka 150 tahun kelahiran Karl May. Data lain adalah dua lema Karl May di dua ensiklopedia Indonesia. Apa boleh buat, kepalang basah, dengan semangat 45 ditulislah bermacam artikel ramuan sendiri hal-hal yang berkenaan dengan Karl May, a.l daftar buku yang pernah terbit, padanannya dalam versi Belanda dan Jerman, foto-foto tentang Dunia Karl May, anekdot-anekdot yang sempat terkumpulkan. Foto-foto didapat dari Pudji Rahaju, staf Pradnya Paramita (penerbit yang telah menerbitkan 25 judul buku-buku Karl May, 1950 hingga ‘80-an) yang sebelumnya sudah berhubungan dengan Dunia Karl May di Jerman. Untuk endorsmen, Emil Salim didaulat untuk menulis sejenis Kata Pengantar. Sedang semboyan paguyuban: “the site for fellow pacifists” hasil revisi Bondan Winarno yang juga menjadi kontributor. Walau situsnya berbahasa Indonesia (dengan beberapa artikel dalam Inggris), namun “dibaca” dan dikunjungi oleh banyak orang asing — Jerman dan negara-negara lain seperti Slovakia, Amerika, Australia, Belanda. Sudah tentu semuanya para penggemar Karl May.

Situs saja rupanya belum cukup, perlu sarana untuk berkomunikasi. Pada Oktober 2000, milis pun dibentuk. Kasak-kusuk di “milis sebelah” tentu saja juga dilakukan untuk menambah anggota. Dalam tiga bulan anggotanya menembus angka 100, batas minimum milis yang “beneran”. Suka cita!

Produk nyata
Tak terduga, teman-teman dari penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) rupanya diam-diam ikut memantau. Mereka memanggil kami untuk berbicara lebih lanjut tentang kegiatan PKMI ini. Akhirnya sebuah kerjasama disepakati. Pada pertengahan 2001, enam buku tipis bergambar untuk konsumsi anak-anak diluncurkan, sebagai hidangan pembuka. Tapi sebelum itu, dua kejadian besar terjadi. Tulisan penulis berjudul Dan Damai di Bumi! Karl May dan Aceh, 100 tahun yang lalu, dimuat di halaman depan harian Kompas edisi 23 Desember 2000 untuk menyambut Lebaran dan Natal yang jatuh pada minggu yang sama. Satunya lagi, Diskusi Tentang Karl May diadakan di Teater Utan Kayu pada 12 Juni 2001. Yang pertama atas bantuan KPG, yang kedua atas inisiatif Goenawan Muhammad, bahkan dia juga yang menjadi moderatornya. Kedua hal tersebut tentu saja berdampak besar, nama PKMI kini dikenal secara nasional.

Meskipun penulis masih juga ngoyo untuk mempromosikan paguyuban dengan cara menulis artikel di Intisari, Tempo, Suara Pembaruan, Pantau, dll tapi gong-nya adalah diterbitkannya buku Dan Damai di Bumi! oleh KPG (Oktober 2002). Dan Karl May secara resmi “kembali” ke Indonesia setelah absen nyaris 20 tahun lamanya.

PKMI berbenah, situs yang primitif mulai diperbaiki tampilannya, dan kini namanya menjadi lebih keren karena tidak mendompleng siapa-siapa lagi: http://indokarlmay.com/. Menurut statistik, sebagian besar pengunjungnya anak-anak muda, jumlah artikel lebih dari 100 tulisan, itupun banyak artikel yang belum termuat. Hits number situs ini pada Agustus 2006 telah mencapai lebih dari 76.000, artinya: halaman pertama situs itu telah “dilalui” pembacanya sebanyak 76.000 kali, dan sebentar lalu tentunya akan mencapai 100.000 kali.

Namun demikian ada juga kegelisahan di antara para anggota. Ketika nama Karl May telah dikenal (kembali), buku-bukunya justru sulit didapat. Ketika merengek ke KPG, mereka menyatakan tidak mempunyai editor khusus yang menguasai bahasa Jerman, bahasa naskah Karl May asli. Dengan modal dengkul dan sikut yang harafiah, dengan patungan sedikit dana dari beberapa anggotanya, diterbitkanlah Winnetou I: Kepala Suku Apache, salah satu buku utama Karl May secara indie; para penerjemah, penyunting, bahkan juga sistem distribusinya pun juga amatiran belaka.

April 2003, kemunculan buku itu dirayakan selama 2 hari di Goethe Institut Jakarta, berikut pameran buku oleh dan tentang Karl May dalam berbagai bahasa, pembacaan puisi dan penayangan musik karya Karl May, foto-foto, artikel dan klipping zaman taoen kuda, contoh berpuluh sampul buku dari berbagai negara; juga pemutaran film baik yang dokumenter, cerita, bahkan parodi. Tak lupa diskusi dengan pembicara Goenawan Muhammad dan Seno Gumira Ajidarma. Pihak Goethe Institut menjadi sponsor acara ini, pengunjungnya bukan hanya orang Indonesia saja.

Artikel-artikel di media cetak tentang Karl May kini sudah puluhan jumlahnya, bertebaran di media (harian dan majalah) nasional dan beberapa media lokal. Talk show dilakukan di beberapa radio Jakarta, Yogya, Malang, termasuk yang bekerjasama dengan majalah perbukuan Matabaca di Jakarta NewsFM. Radio luar negeri, BBC dan Deutsche Welle, juga pernah membahasnya.

Dari diskusi-diskusi yang dilakukan di kampus-kampus serta tempat-tempat lainnya, nama-nama beken menjadi pembicaranya, termasuk: Budi Darma, Ashadi Siregar, Darmanto Yatman, Saini KM, Sarlito Sarwono, Suparto Broto, berikut yang lebih muda seperti Gola Gong atau Ayu Utami. Diharapkan, penulis-penulis generasi yang lebih muda lagi bisa menjadi pembicara tentang Karl May di masa mendatang.

Peluang dan tantangan
Tanpa terasa, lima tahun berlalu. Kegiatan yang semula hura-hura itu kini berbuahkan hasil nyata. Hingga Desember 2005, tak kurang dari 7 buku karangan Karl May (tidak termasuk yang diterbitkan KPG) telah terbit, juga sebuah buku pengantar tentang Karl May yang penerbitannya dibeayai Yayasan Adikarya (Menjelajah Negeri Karl May, 2004).

Proyek-proyek penerjemahan terus dilakukan dan diharapkan tiap tahunnya bisa terbit 3 atau 4 buku (dari target 40 buku). Buku Winnetou I yang dahulunya diterbitkan dengan dana dan cara seadanya, kini telah dicetak kelima kalinya, alias terjual lebih dari 12.000 buku. Paguyuban kini telah mampu mempunyai karyawan profesional yang kehidupannya bergantung kepada buku-buku Karl May yang diterbitkan.

Pada akhir 2006, diharapkan sudah mulai beredar komik-komik yang ceritanya berdasarkan naskah Karl May dengan menggunakan pelukis komik lokal. Komik diterbitkan oleh beberapa penerbit dengan cara kerja sama. Komik yang isinya syarat dengan pelajaran budi-pekerti yang tidak menggurui ini, diharapkan menjadi bacaan alternatif bagi para pecinta komik (Jepang). Karena kisah petualangan yang disampaikan mengandalkan keberanian, kejujuran, dan nilai positif lainnya, diharapkan imajinasi anak-anak ini juga akan mendapatkan masukan yang membangun.

Walaupun naskah Karl May bisa dengan mudah didapatkan, namun mendapatkan penerjemah bahasa Jerman rupanya amat sangat sulit dibandingkan dengan penerjemah Inggris. Masalah waktu dan keahlian menjadi 2 tantangan besar yang harus dihadapi. Bukan hanya penerjemah, untuk mendapatkan penyunting pun juga tak kalah sulitnya. Padahal, kalau saja penerjemah dan penyunting ini tersedia dengan mudah di masyarakat, maka akan lebih banyak lagi novel-novel yang bisa diterbitkan dan peran paguyuban di masyarakat juga akan lebih diperhitungkan.

Peran sosial
Anggota milis kini sudah mencapai 650 orang, dan sudah mampu menjual buku dengan diskon khusus (20%) kepada anggotanya, bahkan memberi buku gratis sebagai “honor” kepada para pengurusnya. Pelayanan penjualan buku Karl May bagi para penggemar di pelosok Indonesia juga dilakukan melalui sarana on-line.

Beberapa buku terbitan PKMI yang notabene berbahasa Indonesia pernah diresensi oleh sebuah majalah Jerman, tak tanggung-tanggung, 4 buku sekaligus dalam dua setengah halaman. Yang juga membanggakan, nama situs indokarlmay masuk di Lexikon Karl May (2002) di bawah lema “Indonesia”, dan juga di ensiklopedia-on-line, wikipedia, edisi Inggris di bawah lema “Karl May”. Kedua pemuatan itu di luar sepengetahuan PKMI. Karena artikel wikipedia itu dikutip juga oleh banyak situs internasional lainnya (lebih dari 5), nama indokarlmay terimbas pula karenanya.

Pemuatan nama-nama itu dalam kancah internasional jelas langsung-tidak-langsung mengangkat nama bangsa yang sepertinya kini sedang terpuruk.

Pada Maret 2006, sebuah majalah berbahasa Jawa menerjemahkan cerita pendek yang nota bene cerita pendek pertama karya Karl May, dan ini kiranya sedikit menyumbang dan memperkuat khasanah budaya Jawa, setelah sebelumnya karya-karya asing lainnya telah pernah diterbitkan ke dalam bahasa Sunda.

Sebagai dampak dari diterbitkannya buku Karl May berbahasa Indonesia, muncul pulalah buku Karl May dalam versi aksara Braille, diperuntukkan bagi kaum tunanetra. Itu menunjukkan, kehadiran Paguyuban semakin diperhatikan oleh pihak lain yang semula sama sekali tidak tahu-menahu dengan produk Karl May.

Penutup
Kebanggaan dan kegembiraan yang disebut di atas tidak ada artinya dibanding dengan adanya lebih dari lima skripsi dan tesis (dan mungkin masih akan terus bertambah) yang ditulis para mahasiswa Indonesia jenjang S1 dan S2 berbagai jurusan dengan memakai buku Karl May berbahasa Indonesia dan Jerman sebagai sumbernya; ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Jerman. Skripsi yang berbahasa Jerman tentunya akan bergabung dengan tulisan-tulisan ilmiah lainnya tentang Karl May berskala internasional. Ini tentunya bisa mengangkat nama bangsa di percaturan literatur dunia.

Harapan yang diungkap, semoga buku-buku Karl May bisa menjadi salah satu bacaan alternatif bagi remaja/siswa/mahasiswa Indonesia untuk memperkenalkan mereka dengan perbedaan budaya dan pandangan nilai kemanusiaan yang ada di dunia luar sana, sekaligus mengakrabi serta pandai-pandai menyikapinya.

Sungguh, walau hanya sekedar klub buku, tapi kalau dikelola dengan sungguh-sungguh, hasilnya akan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Bukan hanya sekedar dunia perbukuan itu sendiri, tapi bisa merambah kemana-mana, termasuk mengangkat harkat dan nama bangsa.

Saya telah berbicara. Howgh!

Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam rangka ultah yang kelima PKMI pada Desember 2005 dan diperluas sehubungan dengan acara Studium Generale, Program Studi Ekstensi, Fakultas Sastra Unpad, lalu di indonesiabuku.com, 8 Agustus 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s