LAZUARDI LAZUARDI


Kurniawan Junaedhie

Kata orang kamu dulu sastrawan muda. Sempat jadi pelukis dan belajar ke Akademi Seni Rupa di Yogya. Lalu sempat juga jadi wartawan dan redaktur majalah ngepop di Jakarta. Kecil aku suka memperhatikanmu bergulat dengan mesin tik di loteng atas tempat angin malam masih gemar menyelinap celah di antara dinding papan. Pagi hari ketika kamu tertidur aku baca sebagian cerpen atau puisimu yang tidak kumengerti apa maksudnya. Ah bahasa sastrawan,tingkahmu pun jarang berada di alur kenormalan.

Wajahmu manis, rambutmu dulu sebahu. Pacar pacarmu bertampang aneh mungkin lantaran selera seniman. Nilai estetikamu berbeda dengan kebanyakan orang. Kesayangan Jamilah Mahyudin, itu tampak dari roman wajahmu yang aku perhartikan ketika berziarah ke makam ibumu itu.

Keras kepala dan gampang behutang. Sok keras tapi bertangisan tiap kali adik adikmu pulang. Ah Lazuardi…Lazuardi betapa dalam kebengalanmu begitu gampang menebakmu kecengengan hatimu yg cepat kasihan pada orang.

Kekerasan hidupmu menempa dagu petakmu. Beranak 4 dari 2 kali menikah. Kata orang kamu playboy, tapi aku kira kamu cuma mencari pelariandari ke-broken heart an keluargamu dulu. Dibesari oleh seorang janda cerai yang dibiarkan miskin membuatmu dendam pada kemiskinan. Lalu kamu mulai melakukan segara cara untuk melarikan diri dari kemiskinan.

Salah satu cara yang aku tidak mengerti adalah penulisan bukumu soal Sudwikatmono dan terakhir tentang kenapa semua orang mencintai Suharto.

Lazuardi I miss you so damn much. Sering bebeda pandangan mungkin kita. Tapi tetap aku kagum dengan keberanianmu bereksperiman dalam hidup. Ketika dulu di sma aku tidak punya uang untuk study tour ke Bali, kamu rogoh dompet dan memberikan 80 ribu rupiah dan bilang, jangan kalah dengan anak anak orang berduit. Kamu adalah malaikatmu yang manis. Darahmu dan darahku sering menari bersama.

Lazuardi aku sayang kamu. Hati ini remuk kamu tinggali aku tanpa pesan. Langit menjadi begitu murung. Air terjun dari mataku. Air yang terjun terus menerus seharian.Adi Sage, kapan aku bisa menemuimu lagi. Melihat mukamu yg kadang sengaja berlagak berjuis membuatku terpingkal. Borjuis yg makan ketoprak 2000 an. Ramadhan jarang puasa tapi punya anak asuh yatim piatu di mana mana. Barangkali kamu kesayangan aku dan tuhan.

Aku sayang kamu Lazuardi. Aku ingin ikut beramai ramai datang menjengukmu seperti ratusan temanmu ditempatmu berbaring tak berdaya. Adek Alwi ada disana, Sys Ns juga, Kurniawan Junaedhi dan Muklis juga, tapi aku dengar kamu sudah tak sadar. Ah jika kamu siuman pastilah kamu akan kamu ledeki mereka sebagai manusia manusia cengeng, tidak sadar kamupun sama.

Aku akan selalu meyanyangimu Lazuardi. Kamu adalah figur yang unik. Kamu adalah kiblat, Darahmu ada di dalam darahku. Berhulu sama, mengalir dengan irama yang sama.

Selamat jalan setengah jiwa. Kamu akhirnya berjalan lurus menuju sang kekekalan. Biarkan aku membanjir jauh di sini. Di seberang benua. Separuh batinku kosong tanpa kamu. Separuh rohku, separuh …

Tubuhmu akan sejajar dengan tubuh ibumu dibawah sekeping nisan. Namamu akan digoreskan diatas tanggal kelahiran dan kematian. Lazuardi, Lazuardi..rasanya aku ingin ikut mati.

Dan katakan jika sempat bertemu roh ibumu. Bilang pada sang pemintas badai. Bahwa di sini jauh di lain negeri ini, suatu saat rohku akan berterbangan menuju kalian. Jasad kita berdampingan lubang ke lubang. Aku akan bahagia di tengah sang ibu dan abang. O Lazuardi my dear brother..

Katakan karena kita keturunan keluarga yang mati muda, menungguku tidak akan memakan waktu terlalu lama..
Lalu suatu saat sang habepun sirna

Obituari: Lazuardi, Sahabat Saya 1958-2007
Berita Lazuardi meninggal, saya terima melalui SMS dari Adri Darmadji sekitar pukul 17.00. Hari itu, Jumat 19 Oktober 2007. Di tengah2 kesibukan menerima tamu di kebon saya di BSD, berita itu tentu saja membuat saya kaget setengah mati, dan syok berat.

Meski ragu akan kebenarannya, berita itu langsung saya forward ke teman2 yang namanya tercatat di HP saya sembari saya mencari tahu apa penyebabnya, disemayamkan di mana, dan kapan akan dimakamkan. Dari Adri pula diperoleh nomor telepon. “Coba Anda telpon ke nomor ini,” kata Adri lewat SMS. Saya duga itu rumahnya. Saya telepon, tapi tidak ada yang mengangkat. Saya makin lemas, karena kalau rumah kosong, berarti penghuninya sedang sibuk berada di rumah sakit.

Karena bingung tidak tahu harus berbuat apa, saya telepon istri di rumah, mengabarkan berita itu. “Nggak masuk akal. Bagaimana mungkin Las bisa meninggal? Dia orang ulet, pekerja keras yang tangguh, ambisius…. ,” kata saya. Bagi istri saya, –keluarga saya malahan,– nama Lazuardi Adi Sage memang sudah sangat friendly, sebagai teman dekat atau sahabat saya.

Begitulah. Malamnya saya tak bisa tidur memikirkan Las. Saya tak habis pikir, kenapa dia pergi secepat itu? Mungkin karena terlalu terobsesi, malam itu saya malah bermimpi ketemu Las yang terbahak-bahak, mengatakan bahwa semua orang telah berhasil dikibulinya dengan berita kematiannya.

Paginya, saya tambah gelisah. Sudah pasti saya tidak melayat atau mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Apa daya? Nyatanya sampai detik itu saya tidak tahu dari mana saya bisa memperoleh info.

Baru sehari setelah Las dimakamkan, tak diduga sama sekali, saya terima telepon dari Satu, anak Las. Alhamdulillah. Dia menelepon saya dari HP ayahnya (Berarti Las menyimpan nomor telepon saya?). Dari dia saya tahu duduk soalnya. Las terserang penyakit jantung. “Papah sebetulnya sempat sehat pada hari itu, tapi tahu2 sorenya dia meninggal,” kata Atu, begitu ayahnya selalu memanggilnya.

Atu, seperti teman2 lain, mungkin merasa aneh, kenapa saya sebagai sobatnya tidak muncul batang hidungnya di saat Las di rumah sakit maupun saat pemakamannya?

Kepada Uma, istri Las, dengan perasaan bersalah saya hanya bisa bilang, saya sangat menyesal tidak bisa hadir, karena saya lama kehilangan jejak dan tidak pernah kontak lagi dengan Las.

Sudah hampir 14 tahun kami tak bersua. Banyak peristiwa yang berkembang baik di diri saya maupun Las. (Khusus untuk Las, Uma mengakui hal itu, dan cerita banyak.)

Perjumpaan terakhir seingat saya, terjadi di kantor saya, TIARA, waktu itu di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, Jakarta pada sekitar tahun 1993-an. Las datang dengan mobil sedannya, malam-malam, dan ngobrol dengan saya. Entah ngobrol apa, yang jelas2 saya ingat, saat itu dia mengatakan, kita sebaiknya tidak usah bertemu dulu, sampai dia merasa sukses.

Sejak itu, saya tidak lagi berkomunikasi dengan Las. Terakhir saya tahu dari pemberitaan di koran2, dia menerbitkan buku “Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto”. Isi buku itu menggambarkan prestasi-prestasi Soeharto sebagai mantan Presiden RI. Seperti integrasi Timtim, pembebasan Irian Barat, peluncuran Satelit Palapa, dan swasembada pangan. Buku itu juga memuat foto-foto Pak Harto dalam berbagai kegiatan, baik dengan almarhumah Ibu Tien maupun saat menerima kunjungan tamu kenegaraan.

Saya sebetulnya tidak kaget kalau Las menulis tokoh Soeharto. Dia sudah lama terobsesi menulis biografi atau otobiografi tokoh besar, sejak teman2nya, seperti Edy Sutriyono dan Muklis Gumilang sukses menerbitkan buku laris, Otobiografi: Liem Soei Liong, pada tahun 1989.

Yang menarik, dari pemberitaan di media massa pula saya tahu, tempat launching buku Beribu Alasan dilakukan di Graha Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dan yang hebat untuk ukuran saya, sejumlah pejabat Orba seperti mantan Jaksa Agung Ismail Saleh, mantan Pangab Jenderal TNI Purn Wiranto dan mantan Menkeu Fuad Bawazier terlihat meramaikan suasana. Tidak hanya para mantan pejabat, peluncuran buku setebal 364 halaman yang diterbitkan PT Jakarta Citra karangan Dewi Ambar Sari dan Lazuardi itu juga diramaikan artis sekaligus politisi Sys NS, Mieke Wijaya, dan 300 anak yatim piatu.

Bagi saya hal semacam itu tidak mengejutkan. Itulah memang gaya Las: selalu ingin membuat berita yang sensasional teatrikal sedikitnya untuk konsumsi kawan2 dekatnya. Pembicaraan mengenai buku itu terbukti sangat luas. Lazuardi menurut sebuah tulisan yang saya baca, mengaku sadar, judul bukunya yang provokatif itu berpotensi mendatangkan berjuta hujatan dari para kaum yang mengaku reformis. Akan tetapi, Lazuardi meminta publik bersikap objektif dalam memandang nasib para mantan pemimpinnya. ”Setiap pemimpin punya kelemahan dan kelebihan, kita harus menghargai,” katanya.

Penulis Antyo Retjoko, terpancing, menulis di blognya:
Buku Beribu Alasan… ini seperti melawan arus. Saat tulisan demi tulisan tentang keburukan, kejahatan, kekejian, kelicikan, keculasan, ketamakan, kebengisan, dan kebusukan orang itu terus muncul, buku ini tampil beda.
Buku karya Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage ini menyuarakan kekaguman dan kerinduan sejumlah orang terhadap orang itu. Sebuah buku yang menjadi kado ulang tahun ke-85 orang itu.

Sebagai teman dekatnya saya tahu, Las sangat menikmati publikasi itu, alih2 menjadi stres karena banyaknya kritikan terhadap penerbitan bukunya.

Dari berita2 di internet, saya baru tahu, selama hayat almarhum sudah menulis buku2 yang memang tidak pernah saya pikirkan, seperti: Biografi Populer Kisah Sukses Sudwikatmono dari Wuryantoro ke Sineplek (?), Membangun semangat kerukunan : potret sosial transmigrasi di Kalimantan Barat, dll. Buku tulisan

Betapa pun saya mendapat kesan, pergaulannya semakin luas. Tak hanya kalangan seniman, juga politisi, dan pengusaha.
Beberapa hari sebelum meninggal, temannya Remmy Sutansyah menuturkan, Las baru saja bertemu dengan Sutrisno Bachir, Ketua PAN,

Beberapa waktu lalu (sebelum Las meninggal, KJ) kami sempat bercengkrama bersama Mas Sutrisno Bahir ( ketua PAN), Saya, Muchlis Gumilang, dan teman saya yang sedang terbaring sakit itu.Lazuardi Adi Sage. Dia, setahun silam menulis tentang figur Soeharto (mantan presiden Indonesia). Dan kami ngobrol di rumah Mas Sutrisno Bahir itu, kayaknya mengarah juga untu membukukan profil sang ketua PAN itu. Karena maksud dan kedatangan saya tidak sama dengan Laz (begitu kami memanggilnya), saya bersama Ali Akbar ( penulis lirik lagu rok, antara lain GONG 2000) pindah ke ruang dalam.

Yang agak spektakuler bagi saya, dari hasil menelusuri Google, saya baru tahu Lazuardi ternyata salah seorang dari 18 nama calon anggota Komisi Kepolisian Nasional dari unsure wartawan, tak soal apakah ia jadi terpilih atau tidak. Saya juga baru tahu, Lazuardi Adi Sage ikut membesarkan News Demokrat, ‘majalah online’ milik partai demokrat.

Dari Adek Alwi, saya dapat cerita, bahwa menjelang akhir hayatnya Las sedang menyusun buku tentang Jenderal Purnawirawan Wiranto. Adek salah satu kontributornya. “Buku itu 50 persen sudah jadi,” kata Adek.

Iseng2 saya tanya pada Adek, apakah Las memang benar2 sudah melupakan saya? Kata Adek, tidak begitu. Karena seminggu sebelum meninggal, dalam pertemuan di TIM, Las juga menyinggung2 nama saya. “Dek, sekarang rasanya Kurniawan sudah kalah,” kata Adek menirukan. “Ya biasalah, ngomong begitu sambil ketawa2, masak Anda tidak tahu?”
Saya tercenung. Hidup pasti bukan untuk kalah dan menang. Kalau sekarang Las yang pulang duluan, maka siapa yang kalah dan siapa yang menang? Bukankah, hidup tidak dipatok dari garis start melainkan di garis finish? Kalau itu ukurannya, kau menang, Las.

Selamat jalan, Las, selamat jalan sobat. Kapan2, saya juga akan menyusul kau. Kalau jujur, saya kehilangan sangat.

Lazuardi Adi Sage Yang Kukenal
Tahun 1977. Kampus Sekolah Tinggi Publisistik, Jalan Kramat Raya, Jakarta, sore hari.

Seorang pemuda gondrong, kucel tapi berwajah tampan (terus terang saya susah mencari pilihan kata yang tepat selain kata ini karena menurut saya dia tidak jelek2 amat) mencari saya dan ingin berkenalan. Sebagai anak udik yang sedang kuliah di ibukota, tentu saja saya senang menyambut perkenalannya. Dia menjabat tangan saya. Disebutkan namanya.

Terus terang sebagai sesama penulis puisi, nama pemuda itu bukan nama asing bagi saya. Lazuardi Adi Sage adalah penulis puisi dan penulis kronik (berita-berita kesenian) yang rajin. Cuma, sebagai penyair –hehehe—- kelas Las, –begitu pikiran saya kala itu– masih berada di bawah level penyair muda sekaliber Adri Darmadji, Yudhistira, B Priyono dkk. Cuma kelebihannya, Las punya Kolase Klik. (Waktu itu, hampir semua penyair rasa2nya punya semacam ‘sanggar’. Kalau Las punya Kolase Klik, seingat saya almarhum Syarifuddin Ach punya Sanggar Roda Pedati, almarhum Sutjahjono R punya SanggarPrakarya dlsb.). Saya, seperti teman2nya, memanggilnya, ‘Las’ dengan lafal bukan “z”. (Las, kependekan dari Lazuardi, tapi juga akronim dari namanya, Lazuardi Adi Sage.)

Karena orangnya enak, kami cepat berteman, dan tak hanya itu kami dengan segera menjadi sahabat. Misalnya, kami suka bolos rame2, pergi ke TIM, nonton teater atau pameran lukisan. Saya suka juga diajak ke rumahnya di daerah Karet, tepatnya Gang Haji Jalil.

Di Karet, ia tinggal bersama ibu, kakak perempuan satu2nya dan keempat adik lelakinya. Di situ saya tahu, ia dibesarkan dan dididik ibunya, karena ayahnya bercerai. (Tentang ayahnya, Las tak banyak bercerita, dan tampaknya tak terlalu antusias jika pembicaraan kami nyerempet2 ke sana.)

Ibunya senang kaktus. Pada suatu hari, karena saya menyukainya, beliau memberinya satu pot untuk saya. “Ini untuk Kurniawan,” katanya. Sering saya diajak ngobrol ibunya. Dengan kakak perempuannya saya juga akrab. Adik2nya apalagi. Mereka memanggil saya, “Bang Kur”.

Tidak jarang saya disuruh tidur di kamar Las. Makan. Mandi. Pokoknya, saya dekat dengan Las dan keluarganya. Sebaliknya, Las juga dekat dengan keluarga saya. Ibu saya kenal dengan Las, suka ngobrol2. Ayah saya kenal baik. Seperti saya suka menyambangi rumahnya, Las juga suka mampir ke rumah kontrakan saya di Ciledug yang berdinding rumbia dan berlantai tanah. Di situ, dia betah berlama-lama.

Waktu saya pindah kontrak ke Jalan Kemandoran, Grogol Utara, dia suka naik sepeda motor datang ke rumah saya. Waktu saya bisa naik motor, saya juga suka ke rumahnya. Makan di warung2 sederhana di dekat rumahnya. Atau yang paling saya ingat, ketika dia mengajak saya makan di sebuah warung di pojok daerah Bendungan Hilir. Rupanya, saya diajak makan sop tulang. Entang tulang apa. Yang jelas, kami disuguhi semangkok kuah dan tulang belulang. Dia makan lahap, seperti sudah berpengalaman makan di situ, sedang saya kikuk karena tidak terbiasa. Sampai sekarang, makan sop tulang itu saya kenang sebagai sebuah kenangan manis bersama Las.

Saat itu saya bekerja sebagai wartawan majalah keluarga Dewi, dan kebetulan saya dikirim ke Palembang karena ada Festival Film di sana. Ternyata Las ikut. Karena ssaya tidak termasuk wartawan terdaftar, saya dan Las naik kapal laut. Dari Lampung kami naik sepur ke Palembang. Itu juga pengalaman mengesankan bersama Las.

Waktu saya bekerja di Majalah Intan dengan penulis Harry Tjahjono, pada awal tahun 1980-an Las juga saya ajak ikut bergabung. Kami sempat menugaskan diri pergi ke Banjarnegara, untuk meliput Ebiet G Ade (meskipun gagal) dan bersama2 kami jadi juri lomba baca puisi di Purwokerto.

Tak bisa dipungkiri hubungan saya dengan Las sangat akrab. Terbukti, tak seperti teman-teman lain di STP yang memanggil saya dengan, ‘Kur’, maka Las memanggil saya, ‘Jun’, seperti keluarga dan teman2 dekat saya.

Tentang namanya pun saya tahu ikhwalnya. Nama Lazuardi Adi Sage adalah nama samaran, bukan nama asli. Nama aslinya, Adi Mahyudin. Nama Mahyudin diambil dari nama ayahnya. Di rumah, ibu, kakak perempuannya dan adik-adiknya selalu memanggil Adi, atau Bang Adi.

Kalau nama Adi Mahyudin jadi nama Lazuardi Adi Sage, tentu ada ceritanya. Spekulasi saya: Las seperti teman2 seniman lain, kala itu paling senang dengan kata2 semacam, horizon, kakilangit, lazuardi dan hal2 semacamnya yang dikatakan sangat asosiatif. Jadi, boleh jadi, Las kemudian memilihnya sebagai nama depannya. Tentang Sage, alasannya agak konyol, atau istilah anak2 zaman sekarang, garing. Kata Las, itu kependekan dari gabungan dua zodiac, Sagitarius dan Gemini. Sagitarius adalah zodiaknya, sedang Gemini adalah zodiac pacar pertamanya.

Sebagai sastrawan muda, Las menonjol bakat kepemimpinannya, dan banyak ide2nya. Pada tahun 1978, misalnya, bersama saya dan penyair Wahyu Wibowo, Las mendirikan Bengkel Sastra Ibukota. Markasnya, di Gelanggang Remaja Kuningan, Jakarta. Karena waktu itu Jakarta tidak macet seperti sekarang, kami pun sering reriungan di situ secara periodik, ngobrol masalah kesusastraan. Seingat saya, yang datang ke situ, antara lain, Pipiet Senja, Yulius Yusijaya, Adek Alwi, Salimi Achmad, Hendry CH Bangun dan istrinya, dll.

Sebagai sesama penyair, kami berdua juga sering membuat dan menerbitkan antologi, atau buku kumpulan puisi bersama. Tapi kalau boleh jujur, menurut saya, puisi2nya tidak terlalu luar biasa. Karena meski hatinya puitis, kenapa pilihan kata2 dan idiom2nya kasar? Ada yang berpendapat, ini mencerminkan jiwanya yang bergolak. Mungkin saja.

Toh saya tak bisa menyembunyikan perasaan untuk sering mengkritik puisi2nya. Seperti biasa, Las berkelit dan membalas mengejek puisi saya. Saya tak bisa menyembunyikan kesan, dia memang seperti anak kecil kalau berdebat dengan saya. Umpama, soal nama asli tadi, dia selalu, ‘mengancam’ saya untuk menyelidiki siapa nama asli saya, karena kata dia, nama saya adalah nama samaran juga. Tentu saja, itu dikatakannya sambil terbahak-bahak.

Beberapa kali dia merasa ‘terkalah’kan oleh saya, dan berkali-kali pula dia mengatakan, dia akan ‘mengalah’kan saya. Padahal saya tidak pernah merasa bersaing dengan dia. Saya kira, ini memang sisi jeleknya dalam hubungan karib saya dengan dia.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di kurniawan-junaedhie.blogspot.com pada 15, 19, dan 20 Desember 2007. Tulisan ini merupakan gabungan dari tiga posting pada tanggal-tanggal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s