PERTAHANKAN BUDAYA “TOLAKI” LEWAT SANGGAR


Khawatir budaya Tolaki tinggal kenangan, pemuda Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Indonesia mencoba melestarikannya. Wadahnya, mereka mendirikan Sanggar Seni Barakando. Afiat Tawakal, Hidayatullah Marany, dan Bintang Lapeke adalah pendirinya. Tepatnya, 19 Maret 2007 sanggar ini didirikan. Pusatnya di rumah Afiat Tawakal di Kelurahan Konda.

Tahun 2001, Afiat Tawakal bersama putra pertamanya pergi ke pasar Mandonga (sekarang Mal Mandonga). “Selama tiga jam di sana, saya hanya mendapati 11 orang yang menggunakan bahasa Tolaki. Padahal ini Kendari. Lalu saya berpikir, 10 tahun kemudian budaya Tolaki bisa saja bakal hilang,” tutur Afiat.

Tahun 2002, Afiat yang masuk dalam organisasi Himpunan Generasi Muda Lintas Kecamatan mengungkapkan keinginanya untuk membentuk sanggar. Bintang Lapeke diajak turut serta. Sayang, karena kesibukan sanggar hanya dalam angan-angan.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tanpa disengaja, Ia dikenalkan dengan Hidayatullah Marany oleh Asri (saudaranya). Cerita asal-usul, ternyata keduanya masih ada garis keturunan. Tepatnya, akhir 2006 mereka bertemu di rumah Afiat.

Segudang pengalaman di dunia teater dimiliki Hidayatullah Marany. Ia lulusan Fakultas Sastra dan Seni Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tahun 2005. Pria kelahiran 4 Maret 1981 dari pasangan Imran Marany dan Siti Rohani. “Sewaktu SMP, saya sudah jatuh cinta dengan puisi,” tuturnya polos. “Yang namanya manggung, tinggal pulau Sumatera dan Irian yang belum pernah ia datangi,” tambahnya.

Ia dikenal, karena tulisan-tulisan pedasnya dalam mengkritik pemerintah. Setelah banyak kawan, ia membentuk Teater Gress Ahmad Dahlan tahun 2002. Setelah Teater Gress bubar, Ia kemudian membentuk Komunitas Sastra Seribu Malam. Tahun 2004, ia membentuk teater Biru SMU di Bulukumba, Sulawesi Selatan dan tahun 2005 ia membentuk perkumpulan penyair pinggiran Jogja.

Melalui Sanggar Seni Barakando, ia berencana menggali budaya Tolaki yang mulai ditinggalkan. Baik itu adat perkawinan, tarian, pesta panen, dan lainnya. Dalam sanggar, ia juga menampung anak putus sekolah berbakat seni.

”Kami ingin go internasional,” kata Hidayatullah Marany suatu ketika.

Tulisan ini pernah dipublikasikan http://www.kendariekspres.com, lalu di melayuonline.com, 28 Mei 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s