KANTONG BUDAYA DI TITIK NADIR


Suwardi Endraswara
Doktor Mistik, Pengajar  Sanggar Sastra FBS Universitas Negeri Yogyakarta

Tiang penyangga budaya adalah kantong-kantong, sanggar, yayasan budaya, sastra dan seni. Tiga tahun terakhir ini, mereka itu rapuh, nyaris diam (mlempem), stagnan dan hampir menyentuh titik nadir, entah apa penyebabnya. Bahkan satu dua kelompok penyangga budaya, ada yang tidak jelas rimba dan persembunyiannya.

Sebut saja, maaf, Sanggar Seni Sastra Kulonprogo (Sangsisaku) yang pernah diskusi hangat dari door to door, village to village, sekarang seperti kehilangan jejak. Organisasi ini, seperti diakhiri dengan workshop sastra di puncak pegunungan Menoreh.

Jika PS Bayu, penyangga ketoprak Sleman Yogya, sedikit goyah karena sang maestronya telah tiada, dan juga mas Basuki Supriyatman (KR, 3 April 2011) harus meninggalkan kita selamanya, tentu masih wajar. Toh, di dalamnya masih ada pemegang estafet seni, seperti Bung Rabies, Mas Wond, dan Mas Tono, seharusnya tidak akan tenggelam. Apalagi Mas Tono bersama saya dan UNY, di bulan Mei ini akan menggelar Festival Dalang Cilik dan Dolanan Anak, tentu akan lebih hebat kalau diikuti Festival Ketoprak Cilik, tentu penyangga seni dan budaya Yogya tidak akan lenyap.

Tampaknya, memang harus disadari, ketika penyangga budaya itu kehilangan ‘saka guru’, entah meninggal dunia, sakit kronis, pergi tanpa kesan, dan atau mbalela, kantong-kantong budaya itu seperti kehilangan kompas. Begitu pula ketoprak Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro, sepeninggal Rama Ndung (Handung Kus Sudyarsono), kini tidak lagi ada gaungnya. Padahal, di dalamnya masih ada mas (Ki Widayat), Bondan Nusantara, dan belakangan muncul mas Nano Asmorodono, mengapa mereka itu harus gulung tikar, bubrah-bubrah panggung, dan gulung geber?

Saya paham mas Widayat masih terdengar riak-riaknya di RRI Nusantara II, yang khas dengan sentuhan ketoprak tradisi (lawas). Mas Bondan Nusantara sesekali merekrut pejabat dan melansir ketoprak sayembara di TVRI Yogyakarta, semi modern, dan Mas Nano Asmorodono mengajak wartawan dan artis bermain ketoprak di Taman Budaya Yogyakarta. Namun demikian, mereka itu, mengapa habis pentas selesai (tamat)? Maksudnya, tanpa ada bangunan ruang apresiasi di media massa, tanpa oto-kritik dan atau membuka ruang-ruang dialog demi masa depan.

Tampaknya, masalah geliat seni budaya memang rumit (ting kruwil, meminjam istilah mbah Gito PS Bayu), ketika saya ke sana sudah disambut dengan ungkapan khas: Seka ngendi Suuuu. Ungkapan ini, memang manis, terasa enak, lezat di jagad seniman Yogya.

Lebih dari itu, saya semakin tidak habis pikir, ketika penyangga budaya di Yogyakarta ini jelas-jelas dana disuntik oleh pemerintah, mengapa tetap mandul? Sebut saja Masyarakat Tradisi Bantul (MTB), jelas sekali zaman saya (masih) di tubuh organisasi itu, Pemkab mem-back up dana jutaan rupiah, tetapi sekarang tidak ada dongengnya lagi. Tertidur?

Padahal, di dalamnya jelas ada Mas Ong Hary Wahyu, Umi Kulsum, Kasidi HP, Dick Suhadi, Agus Radial, Sigit Sugito dan lain-lain, yang notabene jelas orang berbobot, mengapa organisasi itu hilang tanpa kata. Sejak Mas Janis Lingga Barana, Indra Tranggono, Agus Leylor meminggirkan (dipinggirkan) diri, organisasi yang membayang-bayangi Dewan Kebudayaan Bantul (DKB), yang dipelopori mas Sumaryono ñ keduanya juga semakin tidak jelas, mungkin mendekati chaos of culture.

Penyangga Roboh
Sungguh merana. Menurut hemat saya, ada tiga hal yang menyebabkan penyangga kantong budaya itu roboh. Pertama, kita itu gemar eforia membuat organisasi budaya, sebagai kendaraan mencari keuntungan sesaat, hingga tanpa plafon yang jelas. Maka, organisasi yang terbentuk pun sekadar hangat-hangat tai ayam (sepasar bubar), tidak dijaga, kalau sudah memuluskan jalan orang tertentu menduduki jabatan. Kedua, organisasi itu ditinggalkan para dinamisator, hingga sulit bangkit, mati tidak hidup tanpa kehendak. Ketiga, organisasi yang sengaja dirongrong dari dalam, ada intrik-intrik intern (rebutan upa), hingga ada mosi saling tidak percaya, dan ngenes.

Kalau sudah demikian, lonceng kematian dan sirene gempa budaya semakin dekat, apakah akan dibiarkan? Sementara, Yogya terkenal gudang seniman dan budayawan, apakah tidak malu? Para pionir budaya telah banyak yang dipanggil Sang Kodrat, Mas Daryadi, Ki Wasistodiningrat, Linus Suryadi AG, Suwariyun, Ki Hadi Sugito, SH Mintardja dan lain-lain sekadar menyebut, sayangnya pemikiran ke arah regenerasi sepertinya kosong.

Kalau begitu, bagaimana menyelamatkan kegersangan seni dan budaya Yogya yang semakin paceklik (di titik nadir) ini? Tampaknya, Dinas Kebudayaan, Fakultas Ilmu Budaya UGM, FBS UNY, ISI, Taman Budaya, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Sono Budoyo, Balai Bahasa, memiliki tanggung jawab ke arah itu. Kalau saya renungkan, para penyelamat kantong budaya, di Yogya ini cenderung ke arah pribadi-pribadi (yang bertahan).

Yayasan Bebana yang dikemudikan E Suharjendra, bergerak di bidang pembawa acara, masih eksis. Rumah seni yang diorganisir Mbak Yani Sapto Hudoyo, ketika saya diundang bicara di sana jelas masih survive. Yayasan Gula Klapa yang diprakarsai Ki Purwadi, dalam hal penerbitan buku dan diskusi budaya masih ada gemanya. Yayasan Gambir Sawit, yang dimotori Ki Rejomulyo, dalam bidang karawitan masih jalan, biarpun nguler kambang (lamban). Mereka, umumnya menyelamatkan diri dengan modal dedikasi.

Maaf, tanpa perjuangan dan gerilyawan, kantong budaya itu akan tercekik. Bayangkan, Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) Komda DIY yang dipimpin mas Jabrohim, Badan Koordinasi Kesenian Indonesia (BKKI) oleh Mas Totok Sudarwoto, Masyarakat Poetika Indonesia, Komunitas Sega Gurih oleh Wage Daksinaga, Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta pimpinan Mas Yohanes Satyoko, sebenarnya cukup bergengsi, namun tetap kembang kempis. Titik nadir sudah di pelupuk mata. Apalagi, saya dengar akan segera muncul Yayasan Sastra Yogya, jangan-jangan kita sekadar seperti ayam, bias bertelur, tidak mampu menetaskan. Sungguh memalukan dan memilukan. Keterlaluan!

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta),  27 April 2011.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s