PERGELARAN SENI PROGRAM TBSU; D’LICK DAN KSI WARNAI UJUNG TAHUN


Dua pergelaran seni dari dua grup kesenian di Medan mengisi program Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut di penghujung tahun 2010.

Senin (13/12) sore D’lick Theater Team mementaskan drama “Fajar Sadik” karya Emil Sanosa disutradarai Yondik Tanto dan Rabu (15/12) Komunitas Seni Indonesia (KSI) Medan menggelar visualisasi puisi.

Di kesempatan ini, amatan sengaja dibalik, didahulukan ke penampilan di hari terakhir. Dalam hal ini KSI Medan mempergelarkan visualisasi puisi diberi judul “Indonesiaku, Bencanaku; …Jadi Babu Ibuku.” Visualisasi puisi hasil penyutradaraan Juhenri Chaniago dibantu oleh Sakinah Annisa Mariz dan Embar T Nugroho, sekaligus jadi penutup tiga rangkaian program TBSU; Pergelaran Seni Teater, Workshop Penulisan Naskah Drama dipandu D Rifai Harahap, dan Pergelaran Seni Sastra.

Dalam visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku; …Jadi Babu Ibuku” ini, KSI Medan mengusung sejumlah puisi di antaranya “Perjanjian dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar, “Indonesiaku” karya Idris Pasaribu, “Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu” karya Ahmadun Yosi Herfanda, “Wasior Kesohor Waswas” karya Juhendri Chaniago, “Mentawai” karya Sakinah Annisa Mariz, “Asa Dalam Lahar Mentari” karya Sidrata Emha, serta karya Antilan Purba, Embar T Nugroho, dan Richa Ayu.

Pergelaran visualisasi puisi KSI Medan, didukung tataan musik Hendrik Peranginangin bersama Winarto, diawali masuknya 15 orang sambil mengibar-ngibarkan bendera macam-macam warna. Satunya Bendera Merah Putih yang dibawa Embar T Nugroho, berjalan mengitari area pentas, hingga membentuk sebuah komposisi. Selanjutnya salah satu pemain, Iswan Ismail Pasaribu, mengambil posisi di area pentas terdepan, maju sambil membaca puisi “Perjanjian dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar.

Berikutnya diselingi olah gerak sejumlah pendukung dan beberapa tarian, bergantian dibaca puisi di antaranya karya Idris Pasaribu, Ahmadun Yosi Herfanda, Juhendri Chaniago, Sakinah Annisa Mariz, Sidrata Emha, Antilan Purba, dan lain-lain. Visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku; … Jadi Babu Ibuku” berkisah mengenai sejumlah kemelut di Indonesia sejak perjuangan kemerdekaan, zaman kemerdekaan, peristiwa 1966, Orde Baru, dan reformasi. Juga musibah alam yang melanda, hingga yang terkini di Wasior, meletusnya Gunung Merapi, serta gempa dan tsunami di Mentawai.

Bentuk pertunjukan yang dihadirkan Idris Pasaribu sebagai supervisor pementasan dan menyerahkan kepada Juhendri Chaniago sebagai sutradara dan Sakinah Annisa Maris dan Embar T Nugroho sebagai asisten sutradara, melalui sejumlah olah gerak pendukung dan tarian, sebenarnya memberikan daya pikat tersendiri.

Pada beberapa bagian di antara pendukung terkesan terlalu menyadari sedang tampil untuk ditonton, sehingga permainannya lepas dari kontinuitas cerita, namun bentuk pertunjukan itu sedikit berhasil menggiring penonton masuk ke suasana yang bakal hadir pada bagian pertunjukan berikutnya.
Satu hal -ini dasar dalam membacakan puisi- agaknya perlu diberi perhatian khusus. Kemampuan olah vokal para pembaca di visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku; … Jadi Babu Ibuku” itu masih minim dan seakan terjebak pada pola pengucapan dialog dalam lakon teater, juga terkadang tak bisa dicermati karena cacat di artikulasi. Apakah mereka belum pernah mendapat latihan keras, atau mungkin clip on milik Taman Budaya yang dipakai kurang bagus, atau mereka kurang mampu memanfaatkan clip on itu. Ketuika ditanyakan klepda Idris Pasaribu, dikatakannya, kedua-duanya.

Fajar Sadik
Sama-sama di Gedung Utama TBSU, Jalan Perintis Kemerdekaan No 33 Medan, pemenatsan “Fajar Sadik” mengetengahkan pemain di antaranya C Rizky (Maryoso), Jali Kendi (Ahmad), Andy Mulky (Kiai), Ilham Wahyudi (Sersan) dan Yusra Lubis (Julaiha/adik perempuan Ahmad).

Sedangkan KSI Medan menampilkan visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku,… Jadi Babu Ibuku” dengan sutradarta Juhenri Chaniago. D’lick Theater Team tampil dalam program Pergelaran Seni Teater dan KSI Medan dalam program Pergelaran Seni Sastra, yang dua-duanya kepanitiaan diketuai Drs. Bangun Nasution.

Cerita Fajar Sadik diawali pertentangan Ahmad –putra Kiai– dengan Maryoso yang merupakan teman sekaligus murid kesayangan ayahnya. Atas petunjuk Ahmad kepada kaum kolonial, pesantren tempat ayahnya menempa para santri, sekaligus dipakai sebagai markas para laskar pejuang di bawah kepemimpinan Maryoso, dibakar habis oleh penjajah, sehingga banyak jatuh korban. Mengesampingkan persoalan teman sekaligus putra Sang Kiai, Maryoso menjadikan Ahmad sebagai tawanan dan segera akan menjatuhkan hukuman mati dengan cara ditembak.

Maryoso berpendirian, perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidak memandang seseorang sebagai teman dan putra Sang Kiai yang juga merupakan gurunya. Bagi Maryoso, Ahmad harus dihukum setimpal atas pengkhianatannya yang telah menelan banyak korban. Ahmad berpendirian, tindakannya memberitahukan pesantren ayahnya sebagai markas para pejuang sebagai balas dendam atas kematian ibunya yang menurut dia Maryosolah penyebabnya.

Itu terjadi karena dalam situasi gawat, di mana setiap orang tidak dibenarkan bertindak gegabah, istri kiai yang adalah ibu Ahmad berlari keluar dari persembunyiannya di dalam pesantren. Tak ada tindakan lain yang bisa dilakukan kecuali menembaknya demi menghindari pihak kolonial mengetahui markas para laskar pejuang di pesantren itu.

Jika Ahmad bersikukuh apa yang dia lakukan sebagai balas dendam atas kematian ibunya, Maryoso pun mempertanyakan kepada Ahmad; seandainya mementingkan diri sendiri, bukankah dia juga sebenarnya pantas menuntut balas atas tewasnya para laskar pejuang dan para santri, tak terkecuali kedua orang tuanya akibat tindakan Ahmad?

Di tengah situasi demikian, muncul Kiai mengajukan tuntutannya kepada Maryoso agar menghukum gantung Ahmad, karena menurutnya hukuman tembak terlalu ringan untuk seorang pengkhianat seperti dia. Kiai tidak mau Maryoso menjatuhkan hukuman tembak kepada Ahmad dan bukan hukuman gantung karena mempertimbangkan dia anak kandung beliau yang juga guru Maryoso sendiri.

Maryoso kukuh pendirian, Ahmad dihukum mati dengan cara ditembak. Bagi Maryoso, cara itu dia lakukan dilandasi pertimbangan kemanusiaan, bukan lantaran Ahmad bekas temannya dan anak Kiai yang juga gurunya. Ketegangan masih dipengaruhi lagi oleh kehadiran adik perempuan Ahmad, Julaiha, yang meminta ayahnya menggunakan pengaruhnya kepada Maryoso untuk membatalkan hukuman mati terhadap Ahmad.

Bagi penulis, menyaksikan pementasan “Fajar Sadik” kali ini merupakan yang kedua setelah 18 tahun lalu menontonya di tempat yang sama, tetap oleh D’lick Theater Team dan juga disutradarai Yondik Tanto.

Adakah beda di pergelaran Fajar Sadik kali ini dengan 18 tahun lalu? Kecuali sutradara, 18 tahun lalu didukung para pemain antara lain Eddy Siswanto (Maryoso), Monos Ra (alm/Ahmad), Sampir (Kiai) dan Susi Suhaimi (Julaiha). Juga, ketika itu di ajang Festival Drama Epos Perjuangan 1945 Tingkat Sumut dan D’lick Theater Team meraih enam kategori pemenang sekaligus ditetapkan sebagai juara umum.

Selebihnya, ada kesamaan dan perbedaan. Kerja penyutradaraan Yondik kali ini masih sama dengan 18 tahun lalu, mampu menjadikan Fajar Sadik tetap mempunyai daya tarik ditonton sepanjang satu jam lebih, hingga akhir pementasan. Bedanya, pemain yang dipercayakan memerankan tokoh masih kurang berhasil menjiwai “ruh” sebenarnya dari Fajar Sadik dibandingkan mereka yang memainkan lakon ini 18 tahun lalu.

Yondik Tanto sebagai sutradara tentu sudah memberi arahan penjiwaan peran kepada para pemain Fajar Sadik. Hal ini sudah terlihat membuahkan hasil. Hanya saja, di beberapa adegan para pemain kerap lepas dari kontinuitas penjiwaan perannya masing-masing, sehingga berpengaruh pula terhadap kestabilan komposisi dan penguasaan area pentas. Kemudian, kehadiran perangkat pendukung seperti tata rias, busana, pentas dan lampu masih belum memenuhi totalitas yang semestinya. (YS Rat)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Analisa (Medan), 19 Desember 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s