SASTRA DI BANDUNG


Kegiatan sastra di Bandung, khususnya puisi, sejak tahun 1970-an hingga kini tidak mati-mati. Masing-masing zaman punya tokohnya sendiri, mulai dari gerakan Puisi mBeling yang digagas oleh penyair Remy Sylado dan Jeihan Sukmantoro pada tahun 1972-1973 di majalah Aktuil, hingga digelarnya Pengadilan Puisi pada 8 September 1974 oleh Yayasan Arena di Aula Universitas Parahyangan Bandung, dengan tokoh Sutardji Calzoum Bachri, Darmanto Jatman, Slamet Sukirnanto, Saini KM, Abdul Hadi W.M., Sanento Yuliman, Wing Kardjo, Taufiq Ismail, dan sejumlah penyair lainnya. Dua kegiatan sastra tersebut, cukup menghebohkan pada zamannya. Selain itu, bikin marah para penyair lainnya, yang menjadi sasaran kritik, seperti H.B. Jassin, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Di antara yang kena sasaran kritik itu, hanya Rendra yang tidak bereaksi.

Pada saat itu, penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M., tinggal di Bandung, sebelum hijrah dan menetap di Jakarta hingga kini. Pada awal 1970-an hingga akhir 1970-an, rumah Jeihan Sukmantoro di Gang Masjid, Padasuka Bandung, selalu dijadikan markas para seniman, seni rupa, teater, dan penyair. Gedung Yayasan Pusat Kesenian (YPK) Bandung, jadi tempat berkumpul dan bertengkar para penyair dan seniman lainnya. “Saya sering mengintip kegiatan mereka,” ujar Suyatna Anirun, pada suatu hari di Redaksi HU Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta 147 Bandung.

Selain itu, pada 1975-1976, khazanah puisi Indonesia modern kembali diguncang oleh Gerakan Puisi Bebas yang dikreasi para penyair yang berhimpun dalam Grup Apresiasi Sastra (GAS) ITB. Gerakan Puisi Bebas yang dipelopori oleh penyair Edi Soetryono, Juniarso Ridwan, Krisna Murti, Mamannoor, Candra Johan, dan Agus Sahari ini memadukan unsur-unsur seni rupa ke dalam teks puisi. Ada kalanya puisi tersebut berupa rajah serupa isim.

Waktu berlalu. Pada 1980-an, kegiatan sastra di Bandung mulai bergeser, dari Gedung YPK pindah G.K. Rumentang Siang, di Jln. Baranang Siang No. 1 Bandung. Pada saat itu, penyair Yessi Anwar yang kemudian lebih dikenal dengan Yesmil Anwar dan Diro Aritonang mendirikan Komunitas Kerabat Pengarang Bandung (KPB), yang kegiatannya antara lain, menyelenggarakan diskusi sastra dan pembacaan puisi di G.K. Rumentang Siang Bandung. Kegiatan puncak yang pernah diselenggarakan KPB adalah Festival Sastra 1980 dan 1981, yang digelar setiap Desember. Tahun berikutnya KPB menyelenggarakan lomba baca puisi se-Jawa Barat dan Jakarta.

Dalam perjalanannya kemudian KPB tutup buku. Namun, kegiatan sastra di Bandung tidak pernah padam. Apa sebab? Setelah KPB vakum, berdiri Kelompok 10 Bandung, dengan pendiri M. Ridlo E`isy. Kelompok 10 Bandung dengan anggota Beni Setia, Nirwan Dewanto, Herry Dim, Diro Aritonang, Yessi Anwar, Juniarso Ridwan, Miranda Risang Ayu, Mh. Rustandi Kartakusumah, Prasetyohadi, Mamanoor, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Giyarno Emha, Evie Ariadne Sinta Dewi, Kurnia Effendi, M. Fadjroel Rachman, Wahyu Goemilar, Hikmat Goemelar, dan Aliefya M. Santrie ini, bukan hanya menyelenggarakan kegiatan baca puisi di G.K. Rumentang Siang, tetapi juga diskusi sastra, sosial, politik, ekonomi, agama, dan filsafat dengan nara sumber antara lain Abdul Hadi W.M., Ariel Heryanto, Sanento Yuliman, Saini K.M., Mh. Rustandi Kartakusumah, dan sejumlah nama lainnya.

Dalam kegiatannya, Kelompok 10 Bandung tidak hanya bekerja sama dengan H.U. Pikiran Rakyat dan G.K. Rumentang Siang, tetapi juga dengan lembaga-lembaga lain yang dilakukan secara profesional. Menjelang 1990-an, kegiatan Kelompok 10 Bandung mulai padam, karena masing-masing anggotanya sibuk.

“Forum Sastra Bandung (FSB) yang kami dirikan pada 21 Juli 1992 bertujuan antara lain untuk mengisi kekosongan kegiatan sastra di Kota Bandung, setelah Kelompok 10 Bandung dan berbagai gerakan sastra lainnya tidak aktif lagi. Kegiatannya, selain menyelenggarakan pembacaan puisi dengan menampilkan para penyair dari dalam dan luar Kota Bandung, adalah menyelenggarakan penerbitan buku, diskusi sastra, dan muhibah sastra. Ada pun sebagian anggota FSB adalah yang dulu pernah aktif di KPB dan Kelompok 10 Bandung,” ujar Ketua FSB, Juniarso Ridwan, dalam percakapannya dengan penulis, 10 Oktober 2010, di Jln. Tirtasari III No. 9 Bandung.

Pada 1995, FSB memberikan Anugerah Sastra kepada penyair Saini K.M. “Alasan FSB memberikan Anugerah Sastra kepada penyair Saini K.M., antara lain karena berhasil menumbuhkembangkan dunia kepenyairan di Jawa Barat khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Para penyair asuhan Saini K.M., banyak yang malang melintang, baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional dan bahkan internasional. “FSB akan menata kembali kegiatannya di tahun-tahun mendatang secara lebih profesional lagi,” tutur Juniarso, yang pada 2005-2006 mendapat Anugerah Sastra Lima Besar Khatulistiwa Literary Award, untuk kumpulan puisi “Semuanya Telah Berubah Tuan” (Ultimus, 2006).

Ada pun penyair dari luar Kota Bandung yang pernah diundang FSB untuk diskusi dan membacakan sejumlah puisi yang ditulisnya di G.K. Rumentang Siang adalah Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Afrizal Malna, Radhar Panca Dahana, Sitok Srengenge, Ahmadun Yosi Herfanda, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Jamal D. Rachman, dan sejumlah penyair lainnya dari Kota Bandung seperti Soni Farid Maulana, Acep Zamzam Noor, Beni R. Budiman, Cecep Syamsul Hari, Ahda Imran, Moel Mge, Herry Dim, Nenden Lilis Aisyah, dan dari berbagai komunitas sastra lainnya

Pada 10-13 April 2002, FSB menyelenggarakan acara Festival Puisi Internasional Indonesia bekerja sama dengan Bengkel Teater Rendra dan Yayasan Poet of All Nations (PAN) Belanda di Gedung Gelanggang Generasi Muda (GGM), Jln. Merdeka Bandung, yang menghadirkan 45 penyair, dari Belanda, Jerman, Austria, Afrika Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Di luar FSB, dalam dua tahun terakhir di Bandung berdiri Majelis Sastra Bandung (MSB) yang dikelola oleh penyair Matdon. Kegiatannya, nyaris sama dengan apa yang dilakukan oleh FSB.

“Masih banyak kegiatan sastra yang belum direalisasi oleh FSB, disebabkan terbatasnya dana yang dipunyai FSB. Keinginan itu antara lain membuat antologi puisi dan buah pikiran para intelektual Bandung tentang karya seni, khususnya mengenai karya sastra. Apa yang dilakukan selama ini belum memberikan arti apa-apa bagi perkembangan dan pertumbuhan sastra di Kota Bandung maupun di Indonesia,” tutur Juniarso Ridwan. (Soni Farid Maulana)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 9 Januari 2011.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s