SASTRA DI YOGYAKARTA, SASTRA MULTIKULTURAL


1. Pengantar
Sejak beberapa tahun terakhir ini, salah satu wacana yang cukup hangat diperbincangkan dalam berbagai seminar dan kajian adalah berkaitan dengan konsep multikultural. Hal ini tidak mengherankan karena Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri atas berbagai kultur (budaya), negara multikultur yang sangat plural. Wacana tersebut menjadi kian penting untuk didiskusikan ketika terjadi berbagai benturan budaya pada sebagian masyarakat dan budaya di Indonesia pada masa pascareformasi, yang apabila tidak ditangani secara bijak dengan manajemen konflik yang baik akan dapat merusak dan menghancurkan persatuan bangsa.

Konsep multikultural tersebut pada awalnya muncul di Amerika Serikat. Menurut Mahayana (2005:297), multikulturalisme sesungguhnya merupakan sebuah filosofi liberal dan pluralisme budaya demokratis. Ia (multikulturalisme) didasarkan pada keyakinan bahwa semua kelompok budaya secara sosial dapat diwujudkan, direpresentasikan, dan dapat hidup berdampingan. Konsep tersebut muncul sebagai akibat dari kondisi negara adidaya tersebut yang memang sangat pluralistis.

Menurut Budi Darma selaku pembicara di dalam seminar Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII di Surabaya (Kompas, 29 September 2004), kedatangan migran dari berbagai negara selalu menimbulkan masalah budaya, yakni krisis identitas karena adanya dominasi dari para pendatang yang membawa ciri khas daerah mereka masing-masing. Konsep multikultural kemudian diterapkan di Amerika Serikat melalui pendidikan, yaitu pendidikan dilakukan dengan melihat latar belakang peserta didik yang terdiri atas beragam kultur. Namun, dalam perkembangannya, konsep tersebut merambah pula di dunia sastra. Budi Darma kemudian memberi contoh seorang pengarang Amerika keturunan Cina bernama Amy Tan. Dari sejumlah karyanya selalu berujung pada pernyataan dan pertanyaan, “Aku adalah orang Cina, tetapi benarkah aku orang Cina? Tidak benar, karena aku adalah orang Amerika. Namun, benarkah aku orang Amerika? Ah tidak, aku orang Cina”.

Dwicipta (2007) memberikan contoh lain. Pada masa kecil, Karl Shapiro, penyair Amerika yang lahir pada tahun 1913, meragukan jika ambisi literernya bisa tercapai karena sebelumnya ia tidak pernah mendengar penyair Amerika yang bernama seperti Shapiro. Menurut pemahamannya waktu itu, sastrawan Amerika identik dengan tiga ciri: orang kulit putih, biasanya laki-laki, dan namanya terdiri atas tiga kata, misalnya Harriet Beecher Stowe, John Hoyer Updike, dan Henry Wadsworth Longfellow. Namun, seiring dengan makin banyaknya imigran, tiga kesan itu perlahan-lahan mengalami erosi. Kemudian lahirlah generasi penulis seperti dirinya (Karl Shapiro) yang keturunan Hispanik, Amy Tan dan Maxine Hong Kingstone yang keturunan Cina, Toni Morrison yang keturunan Afrika, dan Bharati Mukherjee serta Jumpa Lahiri yang berdarah India. Amerika Serikat pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 merayakan apa yang kemudian disebut sebagai sastra multikultural.

Selanjutnya dinyatakan oleh Dwicipta (2007) bahwa perkembangan sastra multikultural tidak bisa dilepaskan dari perkembangan global dengan kecepatan yang sangat menakjubkan. Melunturnya batas-batas geografis dua dasawarsa setelah berakhirnya Perang Dunia II menyebabkan arus perpindahan manusia dari satu negara menuju negara lain menjadi lebih mudah. Bangsa dan kebangsaan sebagai produk zaman pencerahan beserta batasan-batasan formalnya makin menuntut pendefinisian ulang. Pada awal tahun 1970-an muncul gerakan multikultural di berbagai negara Barat yang kemudia disebarkan ke negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Gerakan-gerakan multikultural ini dalam beberapa hal dipicu oleh semakin kuatnya ketertarikan para akademisi Barat terhadap studi-studi kultural di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

2. Sastra Multikultural di Yogyakarta
Bagaimana dengan sastra Indonesia? Karena Indonesia sesungguhnya merupakan persatuan dari beragam etnis dan kultur, sastranya pun identik dengan multikultural itu sendiri. Para sastrawan yang berasal dari beragam etnis dan kultur mengungkapkan berbagai persoalan etnis dan kultur tersebut. Pada awal perkembangan sastra Indonesia, para sastrawan Minangkabau mengungkapkan persoalan yang berkembang dalam kultur tersebut, misalnya Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Para sastrawan dari etnis Cina, misalnya Tan Boen Kim, Tio Ie Soei, dan Kwee Tek Hoaij, juga mengungkapkan persoalan yang berkembang pada masyarakat etnis tersebut, termasuk Lan Fang yang menulis novel Pai Yin. Atau, sastrawan dari etnis tertentu mengungkapkan permasalahan etnis lain, misalnya Remy Silado menulis novel Chan Bau Khan (dan telah diangkat ke dalam layar lebar dengan judul yang sama), Zarra Zettira menulis novellet Bibi Giok, dan Naning Pranoto menulis novel Miss Lu. Pada tahun 1970-an hingga 1980-an berkembang pula wacana “warna lokal” dalam sastra Indonesia. Pada muaranya, sastra Indonesia yang mengangkat kultur dari berbagai etnik tersebut merupakan sebuah bentuk sastra multikultural.

Jika fokus pembicaraan dipersempit pada sastra di Yogyakarta, maka sesungguhnya sastra di Yogyakarta itu pun merupakan sastra multikultural. Dengan kata lain, sebagaimana daerah lain di Indonesia, Yogyakarta memiliki kemultikulturannya sendiri. Pada akhirnya, kemultikulturan sastra di Yogyakarta akan dapat mendukung kemultikulturan sastra (di) Indonesia.

Sebelum munculnya apa yang disebut sebagai sastra Indonesia, di Yogyakarta (dan Surakarta) telah berkembang tradisi penulisan sastra Jawa klasik, sastra keraton (yang menggunakan tembang macapat untuk mengungkapkan berbagai hal: tasawuf, filsafat, sejarah, hukum, etika, politik, dll.). Hingga sekarang pun tradisi penulisan sastra Jawa itu masih berlangsung, khususnya sastra Jawa modern (dengan berbagai genre: naskah drama, novel, crita cekak atau cerpen, dan geguritan atau puisi bebas). Beberapa sastrawan Jawa (atau yang pernah menulis sastra Jawa modern) dari Yogyakarta yang dapat dicatat namanya, antara lain, adalah Suryanto Sastroatmodjo, Krishna Mihardja, Triman Laksana, Sarworo Soeprapto, Sri Wintala Achmad, Ragil Suwarna Pragolapati, Kuswahyo S.S. Rahardjo, Iman Budhi Santoso, Koh Hwat, dan Sapardi Djoko Damono. Karena para sastrawan Jawa itu juga penutur bahasa Indonesia, maka mereka pun menulis atau dikenal pula dalam khazanah sastra Indonesia. Karena mereka menulis sastra dalam dua bahasa (Indonesia dan Jawa), maka Sapardi Djoko Damono menyebut para sastrawan tersebut sebagai sastrawan ulang-alik, yang melakukan perjalanan bolak-balik Indonesia-Jawa. Di samping pada suatu waktu menulis sastra Indonesia dan pada saat lain menulis sastra Jawa, banyak pula sastrawan Yogyakarta yang memadukan kedua bahasa itu (dan berbagai persoalan lokalitas Yogyakarta dan sekitarnya) ke dalam sebuah karya sastra Indonesia, misalnya Umar Kayam, Linus Suryadi A.G., Emha Ainun Nadjib, Kuntowijoyo, Y.B. Mangunwijaya, Nasjah Djamin, Ashadi Siregar, Darmanto Jatman, dll. Meskipun ada sastrawan yang piawai menulis dalam dua bahasa tersebut (atau memadukan kedua bahasa itu), tetapi tidak semua sastrawan yang menulis dalam bahasa Indonesia (sastra Indonesia) juga menulis dalam bahasa Jawa (sastra Jawa), terutama para sastrawan pendatang (bukan berasal dari Jawa).
Dari paparan sederhana itu muncul dua pertanyaan mendasar, yakni tentang mengapa sastra di Yogyakarta menampakkan ciri kemultikulturan dan dimensi apa saja tentang sastra yang menampakkan kemultikulturan.

Untuk menjawab pertanyaan pertama (mengapa sastra di Yogyakarta merupakan atau berkembang menjadi sastra multikultural), minimal ada dua alasan yang dapat dikemukakan.

Pertama¸ sebagai sebuah pusat kebudayaan (Jawa) dan dikenal sebagai Kota Budaya, sesungguhnya tidak hanya satu kultur yang hidup dan berkembang di Yogyakarta. Pada masa dahulu sejak masih bernama Mataram, kultur yang berkembang di Yogyakarta sebagai akibat dari pelaksanaan agama Hindu, Islam, Nasrani, dan Kejawen telah ada dan berdampingan secara damai. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Masjid Diponegoro di Tegalrejo, misalnya, bercorak joglo, bangunan khas Jawa. Dalam dunia kesastraan, situasi itu memunculkan karya-karya sastra yang bercorak tasawuf/kebatinan, baik yang Islami maupun Nasrani, atau yang merupakan perpaduan antara Islam atau Nasrani dengan kebudayaan Jawa (Kejawen).

Kedua, dalam perkembangan selanjutnya, terutama setelah Kemerdekaan Indonesia, banyak pendatang dari berbagai daerah di penjuru tanah air ke Yogyakarta untuk berbagai keperluan, khususnya belajar. Banyaknya perguruan tinggi di Yogyakarta yang didukung oleh kultur yang sangat kondusif dan akomodatif tersebut sangat menarik minat para pelajar di seluruh Indonesia untuk datang dan belajar berbagai ilmu di Yogyakarta, termasuk Hasan Tiro yang pernah belajar ilmu hukum di UII pada tahun 1950-an. Masuknya para pendatang yang membawa berbagai kultur yang berbeda dengan kultur di Yogyakarta itu menciptakan pula situasi akulturasi budaya yang adaptif. Perkawinan—untuk kemudian menjadi warga Yogyakarta—menjadi salah satu wahana terjadinya silang budaya. Para pelajar dan mahasiswa yang datang ke Yogyakarta tidak sedikit pula yang telah memiliki bakat literer. Karena Yogyakarta menyediakan iklim yang sangat kondusif bagi sistem kepengarangan (banyaknya penerbitan dan kantung-kantung sastra), bakat tersebut menjadi sangat subur. Beberapa sastrawan papan atas dari berbagai daerah luar Jawa yang terkait (atau pernah berhubungan) dengan Yogyakarta (atau budaya Jawa pada umumnya), antara lain, adalah Putu Wijaya (Bali), Umbu Landu Paranggi (NTB), Abdul Hadi W.M. (Madura), Korrie Layun Rampan, Faruk (Kalimantan), Ashadi Siregar, Motinggo Busye, Usmar Ismail, Anas Ma’ruf, Nasjah Djamin, Saut Situmorang, Raudal Tanjung Banua (Sumatera), dan Andi Manaduyoka Yobe (Papua).

Sementara itu, terdapat dua dimensi untuk melihat kemultikulturalan sastra di Yogyakarta, yakni dimensi sastrawan (salah satu aspek eksternal karya sastra) dan dimensi karya sastra (aspek internal karya sastra). Hal ini didasarkan pada apa yang dikemukakan oleh Tanaka (1976) tentang adanya sistem makro sastra (yang antara lain terdiri atas pengarang, penerbit, pembaca, dan pengayom) dan sistem mikro sastra.

Seperti telah dikemukakan di depan, sastrawan Yogyakarta terdiri atas berbagai etnis, termasuk etnis Cina (misalnya Koh Hwat). Hal itu karena yang disebut sebagai sastrawan Yogyakarta adalah mereka yang “asli” atau lahir di Yogyakarta ataupun yang “pendatang”, termasuk pula mereka yang masih tinggal di Yogyakarta maupun yang sudah meninggalkannya. Yang pasti, sastrawan Yogyakarta merupakan sastrawan yang pernah bersinggungan atau pernah bergumul secara intens dengan Yogyakarta dan segala permasalahan yang ada di Yogyakarta. Misalnya, meskipun pendatang dari Perbaungan, Sumatera Utara, Nasjah Djamin yang kemudian bertempat tinggal dan meninggal di Yogyakarta sangat fasih dalam mengungkapkan latar Yogyakarta, lengkap dengan segala problematikanya.

Para sastrawan, baik yang asli maupun pendatang, saling melakukan pergumulan dan pergaulan bersama di dalam sanggar, kelompok diskusi, atau perkumpulan sastra lainnya sehingga terciptalah situasi saling asah-asih-asuh dan saling menghargai latar belakang budaya masing-masing. Hal itu terbukti tidak adanya sekat antara sastrawan asli dan sastrawan pendatang. Dan di antara sastrawan pendatang itu pun tidak dibedakan antara sastrawan dari Sumatera, Kalimantan, atau dari daerah lainnya. Pada tahun 1950-an, misalnya, di Yogyakarta pernah ada kantung sastra yang legendaris, yakni Teater Indonesia. Para seniman dari berbagai daerah yang tergabung dalam kelompok tersebut antara lain adalah Nasjah Djamin, Motinggo Busje, Kirdjomuljo, Bastari Asnin, Iman Soetrisno, Mien Brodjo, Idris Sardi, Rondang Tobing, Arby Sama, Mat Dahlan, Adjib Hamzah, Idrus Ismail, dan Muhammad Nizar (Pragolapati, 1989; Farida-Soemargono, 2004:70). Meskipun namanya beratribut “teater”, menurut Farida-Soemargono (2004:71—72), teater bukanlah satu-satunya bidang kegiatan mereka karena para seniman yang tergabung di dalamnya terdiri atas berbagai bidang seni, misalnya seni musik, seni lukis, seni tari, seni teater, seni patung, dan seni sastra. Karena sering berdiskusi tentang seni di warung-warung angkringan di Jalan Malioboro, mereka dikenal pula sebagai “seniman Malioboro”. Dengan demikian, Teater Indonesia merupakan contoh konkret adanya sastra/seni multikultural yang ada di Yogyakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, adanya kantung-kantung sastra itu pun dikukung oleh pemerintah di Yogyakarta yang mengurusi atau berkaitan dengan sastra, misalnya Taman Budaya Yogyakarta, Dewan Kesenian Yogyakarta, dan Balai Bahasa Yogyakarta. Pada titik inilah sesungguhnya konsep multikulturalisme tersebut menemukan hakikatnya.

Pada dimensi kedua, karya sastra di Yogyakarta (aspek internal karya sastra dengan berbagai genrenya) memang tidak selalu menampakkan wajah multikultural. Namun, kalau kita mencermati beberapa prosa yang dihasilkan oleh sastrawan Yogyakarta, tampak beberapa karya sastra yang menunjukkan aspek kemultikulturan tersebut.

Novel Gairah untuk Hidup dan Gairah untuk Mati (1968) karya Nasjah Djamin, misalnya, tampak kuat sekali aspek multikulturalnya. Nasjah Djamin yang pernah belajar di Jepang selama sekitar 4 tahun dapat mengungkapkan dengan sangat baik persoalan yang digarapnya. Menurut Rampan (1999:8), novel yang menampilkan tokoh dari kultur yang berbeda, yaitu Indonesia (Talib atau ”aku” pencerita), Jepang (Fuyuko, Masako, Fukuda, dan Shimada), dan Singapura (Husen) mengangkat tiga persoalan utama yang saling berkaitan. Pertama, persepsi tentang hidup dan mati. Bagi Fuyuko, kematian merupakan jalan keluar terbaik jika hidup yang disandang merupakan nista terhadap diri sendiri.

Kedua, berkaitan dengan persoalan pertama, persepsi tentang bunuh diri (harakiri) yang dianggap sebagai jalan satu-satunya untuk menunjukkan harga diri dan kemuliaan kehidupan. Ketiga, persepsi tentang cinta sejati. Sebagai wanita yang diajarkan untuk setia kepada lelaki teman hidupnya, Fuyuko berusaha menerima kepahitan hidup yang disebabkan oleh cinta (karena Husen telah beranak-istri). Namun, cinta sejati Fuyuko tetap utuh dengan melihat kebahagiaan Shimada, adiknya, yang berpacaran dengan Masako (gairah untuk hidup) meskipun berakhir tragis dengan kematian Fuyuko (gairah untuk mati).

Kemultikulturan novel itu juga terlihat dari bahasa yang digunakan, yakni bahasa Jepang dan bahasa Jawa (selain tentu saja bahasa Indonesia karena merupakan karya sastra Indonesia). Penggunaan kata-kata Jawa antara lain konco, mbakyu, tresna, dan nelongso, seperti tampak pada salah satu kutipan dialog Fuyuko terhadap Shimada berikut.

”…. Kelihatannya haruslah aku memilih satu antara dua: Husan-sang atau kau yang ku-tresnani! ….”

Selain novel karya Nasjah Djamin tersebut, kumpulan cerita pendek Impian Amerika karya Kuntowijoyo juga dapat dikategorikan sebagai sebuah karya sastra multikultural. Tokoh dari beragam etnis di Indonesia (Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Cina, Batak, Makasar, dll.) yang ditampilkan dalam 30 cerita tersebut pada muaranya berkaitan dengan gegar budaya yang dialami oleh para migran dari Indonesia yang mencoba peruntungan hidup di Amerika (New York City).

Latar belakang etnis yang berbeda tersebut menambah “keruwetan” permasalahan yang dialami oleh para migran Indonesia. Agaknya, kumpulan cerpen Kuntowijoyo inilah yang paling tepat dikatakan sebagai karya sastra multikultural karena berkaitan dengan latar belakang budaya yang beragam pada satu kultur yang berbeda pula.

Sementara itu, untuk karya sastra yang berwarna lokal Jawa (Yogyakarta dan sekitarnya) baru dapat dikatakan sebagai sastra multikultural jika diletakkan pada tempat bersamaan dengan warna lokal daerah lain dalam kerangka keindonesiaan. Beberapa karya sastra dengan warna lokal tersebut, misalnya, prosa lirisnya Linus Suryadi yang berjudul Pengakuan Pariyem, sajak-sajaknya Darmanto Jatman atau Iman Budhi Santosa yang memotret kehidupan rakyat kecil di Bantul dan sekitarnya, novel-novelnya Umar Kayam (misalnya Para Priyayi dan Jalan Menikung), Kuntowijoyo, Y.B. Mangunwijaya, dll. Warna lokal tersebut selain tampak dari tokoh dan latar cerita yang ditampilkan juga terlihat dari penggunaan ungkapan yang khas Jawa.

3. Penutup
Sebagai penutup esai singkat ini ingin saya sitir pernyataan Budi Darma yang menyatakan bahwa karena multikulturalisme tidak dapat dielakkan, maka keberadaan sastra multikultural juga akan tetap muncul. Kalau dikaitkan dengan sastra di Yogyakarta, multikulturalisme sastra di Yogyakarta juga akan senantiasa muncul karena memang para sastrawan Yogyakarta terdiri atas berbagai kultur yang ada di Indonesia. Dari latar belakang sastrawan yang berbeda kultur tersebut akan ditampilkan pula beragam kultur dalam karya sastra. Beragam kultur yang ditampilkan itu dalam karya sastra itu secara bersama-sama akan menampilkan wajah yang multikultural (kultur yang beragam, tidak hanya terdiri atas satu kultur). Pada akhirnya, dalam konteks keindonesiaan, pertumbuhan sastra multikultural itu antara lain dapat berguna sebagai alat pemersatu bangsa.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. “Sastra Multikultural Pemersatu Bangsa”. Dalam Kompas, 29 September
Dewanto, Nirwan. 1995. ”Dalam Bayangan Kanon Sastra”. Dalam Kompas, 29 Januari.
Dwicipta. 2007. ”Sastra Multikultural”. Dalam Kompas, 28 Januari.
Farida-Soemargono. 2004. Sastrawan Malioboro 1945—1960: Dunia Jawa dalam Kesusastraan Indonesia. Nusa Tenggara Barat: Lengge.
Mahayana, Maman S. 2005. Jawaban Sastra Indonesia: Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening Publishing.
Pragolapati, Ragil Suwarna. 1989. “Kantung-Kantung Puitika Yogyakarta”. Dalam Kedaulatan Rakyat, 19 November.
Rampan, Korrie Layun. 1999. ”Perbedaan Persepsi Memandang Kehidupan dan Kematian.” Dalam Kakilangit, Horison, Nomor 32/September.
Tanaka, Ronald. 1976. Systems Models for Literary Macro-Theory. Lisse: The Peter de Ridder Press.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di imambuditama.blogspot.com, 23 Oktober 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s