UMBU DAN PUISI INDONESIA


F. Rahardi

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu..

Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
(Taufiq Ismail, Beri Daku Sumba, 1970)

Siapakah Umbu? Hingga penyair Taufiq Ismail, menyebut nama itu dalam salah satu puisinya? Umbu, nama lengkapnya Umbu Landu Paranggi, adalah sosok misterius. Ia selalu menghindar dari publisitas. Tetapi dialah sumber energi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan puisi Indonesia modern, sejak tahun 1960an sampai sekarang. “Saya bisa menjadi seperti sekarang ini, karena didikan Umbu”, Komentar demikian sangat sering saya dengar langsung dari penyair yang sedang naik daun.

Tahun 1970an, Yogyakarta adalah kota yang paling banyak melahirkan penyair. Redaktur Majalah Horison, yang ketika itu berkantor di Balai Budaya, selalu kebanjiran kiriman puisi dari Yogya. Pada akhir 1960 dan awal 1970an, di kota gudeg memang bermukim Penyair Kirjomulyo, Rendra, Darmanto Yatman dan Sapardi Djoko Damono.

Tetapi lahirnya nama-nama seperti Korie Layun Rampan, Linus Suryadi dan Emha Ainun Najib, lebih disebabkan oleh kehadiran Umbu. Meskipun ia, tidak pernah sekali pun mengklaim hal seperti ini.

Tahun 1975, banyak penyair seangkatan tiga nama itu muncul ke permukaan sastra Indonesia dari Yogya. Pada tahun 1975 itu, tiba-tiba Umbu menghilang. Beberapa teman mengatakan bahwa ia pulang kempung ke Waikabubak, di Sumba Barat. Tetapi kemudian ketahuan ia bermukim di Denpasar, Bali. Sekarang, Bali dari Pulau Dewata ini banyak bermunculan penyair berbakat.

Banyak di antara nama itu yang kemudian hadir sebagai penyair papan atas Indonesia. Nama yang menonjol antara lain Oka Rusmini dan Warih Wisatsana.

Dalam perkembangan puisi modern Indonesia sekarang ini; Jakarta, Bandung dan Yogyakarta kalah dengan Denpasar. Bahkan dengan Tanjungkarang pun, Jakarta tertinggal jauh. Perkembangan kepenyairan yang mengejutkan di Bali, salah satunya adalah karena kehadiran Umbu. Meski kali ini pun, ia tetap misterius. Bahkan jauh lebih misterius dibanding ketika ia masih bermukim di Yogya dulu.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di baltyra.com, 3 November 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s