KOMUNITAS, PUISI, DAN PUBLIKASI: MENIMBANG ANTOLOGI PUISI EMPAT AMANAT HUJAN


Jamal D. Rahman

Pertumbuhan sastra Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran penting yang dimainkan oleh komunitas, baik dalam pengertian formal maupun informal. Barangkali tak ada seorang sastrawan pun yang tumbuh tanpa pernah mendapat keuntungan dari kegiatan suatu komunitas. Karena sifat komunitas biasanya longgar dan terbuka, seorang sastrawan bahkan bisa memetik keuntungan dari kegiatan beberapa komunitas sekaligus. Demikianlah seorang sastrawan lahir dan tumbuh, untuk sebagiannya, bahkan mungkin sebagian besarnya, atas sokongan beberapa komunitas tempat sang sastrawan mula-mula bersosialisasi dan menempa diri. Seorang sastrawan bergiat di suatu komunitas, bergiat pula di komunitas-komunitas lain guna bersosialisasi dan menempa diri secara lebih intensif. Persinggungan antarkomunitas secara positif dan konstruktif tentulah memainkan peran lebih penting lagi bagi kehidupan sastra.

Bagi para sastrawan atau calon sastrawan, kebutuhan akan komunitas barangkali sama besarnya dengan kebutuhan akan berekspresi. Sastrawan tidak cukup membaca buku, menggeluti hidup, dan bergulat dengan bahasa sebagai aktivitas pribadi di ruang-ruang batinnya yang sunyi. Mereka juga membutuhkan wahana tempat menemukan lawan-tanding, berbagi pengalaman dan pemikiran, berdiskusi, mengasah karya, dan memompa semangat untuk melahirkan karya-karya yang bermutu. Sampai batas tertentu hal itu merupakan konsekuensi dari kuatnya watak komunal dalam masyarakat Indonesia, sekaligus merupakan konsekuensi dari kuatnya tradisi lisan dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Sebagaimana seseorang akan relatif mudah mencapai “sukses” berkat kebersamaan dan dukungan masyarakat komunalnya, demikianlah seorang sastrawan akan relatif mudah berhasil berkat sokongan komunitasnya. Dalam konteks itulah, komunitas mengiur sumbangan penting pada perkembangan sastra Indonesia.

Komunitas sastra merupakan fenomena yang cukup tua dalam sejarah sastra Melayu-Indonesia, bahkan dalam bentuknya yang formal. Dalam penelusuran saya, komunitas sastra formal pertama dalam sejarah sastra Melayu-Indonesia adalah Rusydiyah Kelab. Berdiri di Pulau Penyengat pada tahun 1885, komunitas itu merupakan perkumpulan para intelektual dan pujangga Kerajaan Liau-Lingga, Kepulauan Riau sekarang. Inilah tempat para intelektual, yang hampir semuanya menulis syair, mendiskusikan topik-topik penting tentang sejarah, agama, politik, ekonomi, dan lain-lain. Tentu juga tentang sastra. Dari komunitas inilah lahir syair-syair yang menyebar luas di kalangan pembaca Nusantara, khususnya di kawasan Melayu. Para pujangganya yang terkenal antara lain Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Sayid Syekh Al-Hadi. Mereka adalah pengarang-pengarang penerus Raja Ali Haji, pujangga yang lahir lebih awal di Penyengat, yang terkenal dengan gurindam dan ikat-ikatannya itu.

Di samping mengadakan diskusi dan kajian, Rusydiyah Kelab juga menangani penerbitan sebagai media publikasi. Di samping menerbitkan karya para penggiatnya, mereka juga menerbitkan sebuah majalah, Al Imam, tempat mereka menulis isu-isu penting dan aktual. Hal itu disokong pula oleh adanya 3 percetakan (penerbit), yaitu Rumah Cap Kerajaan di Lingga, Mathba’at Al Riauwiyah di Penyengat, dan Al-Ahmadiyah Press di Singapura. Melalui tiga penerbit inilah, karya-karya para pujangga Kerajaan Liau-Lingga di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tersebar luas ke seluruh Nusantara. Dengan adanya penerbitan itulah kehidupan sastra di Riau-Lingga jadi semarak, yang memantapkan kedudukan para pujangga gelombang pertama kerajaan yang nanti dibekukan oleh kolonial Belanda itu. Yaitu para pujaggga dari Raja Ahmad bin Raja Haji Fi Sabilillah di awal abad ke-19 hingga pujangga Aisyah binti Sulaiman di awal abad ke-20.

Pengalaman Rusydiyah Kelab menunjukkan dengan jelas, bahwa kehidupan sastra disokong dengan baik oleh segitiga kekuatan yang saling menunjang. Yaitu para pujangga (sastrawan), komunitas, dan media publikasi. Patut dicatat pula peran komunitas informal, yang sayangnya tidak banyak dicatat. Raja Ali Haji, misalnya, pujangga yang hidup sebelum lahirnya Rusydiyah Kelab, adalah seorang pujangga yang banyak melakukann diskusi dengan Herman von de Wall, asisten residen Belanda di Tanjungpinang, terutama dalam menyusun Kitab Pengetahuan Bahasa, kamus pertama ekabahasa Melayu. Bisa diduga bahwa dalam menyiapkan karya-karyanya, Raja Ali Haji melakukan diskusi-diskusi informal dengan sesama intelektual dan pujangga seangkatannya, yang secara longgar menjadi komunitas intelektual sang pujangga. Dengan demikian, bersama media publikasi dan para pujangga sendiri, keberadaan komunitas telah memainkan peran penting dalam proses kreatif para pujangga (sastrawan) dan kehidupan sastra secara umum.

Pada dasawarsa-dasawarsa selanjutnya, perkembangan sastra Indonesia modern, paling tidak untuksebagiannya, dibentuk dan ditentukan oleh segitiga kekuatan yang saling menunjang itu: pengarang, komunitas, dan publikasi. Hanya saja, karena perhatian lebih banyak diarahkan pada pengarang dan media publikasi, maka banyak pengarang lebih dinisbahkan pada penerbit atau media tempat para pengarang itu mengumumkan karya mereka. Demikianlah misalnya kita mengenal Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Generasi Kisah, Generasi Horison, dll. Sedikit sekali para sastrawan dinisbahkan pada komunitasnya, seperti misalnya Generasi Gelanggang. Namun demikian, fakta tersebut barangkali juga menunjukkan bahwa, paling tidak sampai batas tertentu, penerbit dan media publikasi pada awal hingga pertengahan abad ke-20 berfungsi juga sebagai pembentuk komunitas. Hal tersebut demikian, karena dunia penerbitan dan para sastrawan pada saat itu relatif homogen dan komunal. Kantor majalah Kisahdan Sastra, misalnya, adalah juga tempat para sastrawan nongkrong, bertegur sapa sesama sastrawan, dan berdiskusi —sebentuk kegiatan komunitas informal.

Namun demikian, kemungkinan tersebut bagaimanapun menafikan keberadaan komunitas di luar komunitas penerbitan. Pada awal abad ke-20, komunitas sastra di luar komunitas penerbitan tentu sudah muncul, dan pada tingkatnya masing-masing turut mengiur perananterhadap perkembangan sastra Melayu-Indonesia modern. Jong Sumatranen Bond, misalnya, pastilah merupakan komunitas tempat Muhammad Yahim melakukan kegiatan sastra, di samping kegiatan politik. Semasa bergiat di perserikatan pemuda inilah dia menulis puisinya yang terkenal, Indonesia Tumpah Darahku (1908). Tapi bagaimanapun, hingga tahun-tahun sesudahnya komunitas sastra dianggap non-faktor dalam sastra Indonesia. Komunitas bahkan tetap dianggap non-faktor ketika dalam perkembangannya kemudian melahirkan sastrawan-sastrawan penting. Demikianlah, misalnya, meskipun komunitas Seniman Senendi Jakarta telah melahirkan Chairil Anwar —untuk sekadar menyebut contoh— dan Persada Studi Klub di Yogyakarta telah melahirkan Emha Ainun Nadjib —sekali lagi, untuk sekadar menyebut contoh— dua komunitas itu tidak mendapat perhatian sewajarnya sebagai salah satu faktor dalam sastra Indonesia. Dirumuskan dengan cara lain, meskipun beberapa komunitas telah melahirkan sastrawan-sastrawanpenting, hingga paro kedua abad ke-20 kedudukan komunitas tetap dianggap kurang penting dalam sastra Indonesia modern.

Akhir abad ke-20 memperlihatkan fenomena menarik pertumbuhan komunitas sastra di Indonesia. Komunitas-komunitas sastra tumbuh di berbagai daerah, termasuk di daerah-daerah yang sebelumnya tak terdengar ramai dengan kegiatan sastra, dari beberapa ibukota provinsi hingga banyak ibukota kabupaten di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan lain-lain. Kebanyakan komunitas itu lahir atas inisiatif beberapa orang secara mandiri, yang kemudian menggerakkan dan menggalakkan kegiatan-kegiatan sastra di daerah masing-masing. Di samping itu, mereka mengusahakan penerbitan-penerbitan terbatas, sebagian besar atas biaya sendiri. Begitulah maka kegiatan-kegiatan sastra tidak hanya marak di Jakarta dan beberapa ibukota provinsi seperti Bandung dan Yogyakarta; buku dan buletin sastra tidak hanya diterbitkan oleh penerbit-penerbit profesional. Kegiatan sastra marak hingga daerah-daerah ibukota kabupaten; buku dan buletin sastra diterbitkan pula oleh penerbit-penerbit amatir namun dengan semangat atau bahkan “militansi” yang tak bisa dianggap enteng.

Seiring dengan itu, menggelinding pula isu “politik sastra”yang menyuarakan perlunya budaya tanding atas pusat-pusat legitimasi sastra —baik penerbitan maupun pusat kesenian— terutama di Jakarta. Isu tersebut mendapat sambutan dari banyak sastrawan muda, yang menyadari tidak sehatnya monopoli legitimasi sastra di tangan segelintir lembaga sastra dan tidak memadainya ruang-ruang kreativiatas dan media publikasi sastra yang ada, yang sendirinya dipandang memonopoli nilai dan selera sastra. Dalam situasi itu semua, maraknya komunitas baik di Jakarta dan sekitarnya maupun di daerah-daerah lain mendapatkan momentum historisnya. Sumber daya mereka sesungguhnya relatif terbatas, namun gerakan mereka disokong oleh semangat “politik” dan intelektual yang “militan”. Sebagian komunitas itu sesungguhnya tidak berusia lama, termasuk publikasi yang mereka usahakan. Namun semangat “politik” mereka terus hidup dan menjalar ke mana-mana, yang langsung atau tidak mengilhami lahirnya komunitas-komunitas baru —dengan semangat “politik” yang lebih lunak, atau barangkali tanpa semangat “politik” sama sekali.

Gerakan “politik” komunitas ini rupanya membuahkan hasil. Sejak akhir abad ke-20, keberadaan komunitas sastra mulai menarik perhatian para peminat dan pengamat sastra. Meskipun secara diam-diam mereka tetap menjadikan pusat-pusat lama legitimasi sastra sebagai orientasi aktivitas mereka, komunitas-komunitas sastra bagaimanapun telah menunjukkan kehadiran mereka sebagai elemen penting kehidupansastra. Berbagai kegiatan sastra, buletin, jurnal, buku, antologi, jaringan antarkomunitas, dan lain-lain yang mereka usahakan selama ini, seakan membangun sebuah kekuatan baru dalam bazar persaingan antarkekuatandi tubuh sastra Indonesia. Dengan seluruh kegiatan, penerbitan, dan nama-nama yang mulai diakui kedudukannya sebagai sastrawan, kehadiran komunitas kini tak bisa diabaikan lagi. Mereka telah menegaskan keberadaan mereka sendiri. Sebagaimana pengalaman Rusydiyah Kelab di abad ke-19, komunitas sastra di akhir abad ke-20 menunjukkan, bahwa kehidupan sastra Indonesia kini telah disokong juga oleh segitiga kekuatan yang saling menunjang. Yaitu para sastrawan(-aktivis komunitas), komunitas, dan publikasi yang mereka terbitkan, baik berupa buletin maupun buku. Dengan itu semua mereka telah melunakkan dan menjinakkan —jika bukan menundukkan— otoritas pusat-pusat lama legitimasi sastra.

Sejak itu muncul kesadaranbaru bahwa komunitas sastra merupakan salah satu faktor penting kehidupan sastra, bahkan merupakan pembentuk dan produsen sastra(wan) Indonesia.Dengan segala aktivitas, isu, perdebatan, publikasi, dan karya sastra berikut tokoh-tokohnya,komunitas adalah satu faktor yang turut menentukan dan mewarnai perkembangan sastra Indonesia. Maka itu, terutama dalam konteks bazar sastra-budaya, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas dipandang sama pentingnya dengan kegiatanyang dielenggarakan oleh pusat-pusat lama legitimasi sastra. Publikasi yang diterbitkan oleh komunitas —yang umumnya sangat sederhana dan relatif terbatas— bagi mereka sama pentingnya dengan buku atau majalah sastra yang diterbitkan oleh penerbit profesional.

Perkembangan ini mulai menarik perhatian pengamat dan peneliti sastra, seperti Melani Budianta dan Daniel Dhakidae. Pada tahun 1998, bersama Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Daniel Dhakidae dari Litbang Kompas memprakarsai pemetaan komunitas sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek), dengan Melani Budianta sebagai “konsultan”. Hasil pemetaan itu menunjukkan, dengan sekitar 50 komunitas sastra di Jabotabek, kehidupan komunitas sastra pada tahun 1990-an demikian maraknya, meliputi kegiatan-kegiatan sastra seperti diskusi, baca puisi, dan musikalisasi puisi, serta penerbitan. Komunitas-komunitas sastra yang tumbuh menjamursejak tahun 1990 merupakan respon para penggiatnya terhadap situasi dan perkembangan “budaya politik” sastra yang tidak menguntungkan guna menciptakan kantong-kantong baru kebudayaan. Meskipun kelangsungan komunitas-komunitas itu tidak pasti [dan sekarang sebagiannya sudah tidak aktif lagi], hingga tingkat tertentu keberadaan dan peranan komunitas tersebut bagi sastra Indonesia jelas tak bisa dianggap kecil.

Memang, beberapa komunitas yang dulu giat mengadakan kegiatan sastra sekarang tidak aktif lagi, atau bahkan mati sama sekali. Namun komunitas-komunitas baru terus bermunculan, tidak hanya di Jabotabek, melainkan juga di daerah-daerah lain. Tidak hanya di dunia nyata, melainkan juga di dunia maya. Tentu saja fenomena tersebut meneguhkan kesadaran baru tentang kedudukan dan peran komunitas dalam kehidupan sastra Indonesia.

Dalam arti tertentu, kesadaran baru itu mengoreksi pandangan lama, yaitu pandangan yang cenderung mengabaikan peranan komunitas, pandangan yang menganggap enteng sumbangan komunitas bagi sastra Indonesia modern atau bahkan meniadakannya sama sekali.Ia meluruskan pandangan lama bahwa sastra Indonesia ditentukan oleh sastrawan dan penerbitnya sebagaimana terlihat pada Angkatan Balai Pustaka dan Angkatan Pujangga Baru, atau oleh sastrawan dan (relevansi karyanya dengan) peristiwa sosial-politik seperti terlihat pada Angkatan ’45 dan Angkatan ‘66. Kesadaran baru itu mengingatkan kita tentang pentingnya menimbang kembali kedudukan komunitas-komunitas sastra, baik formal maupun informal, yang sudah muncul sejak abad ke-19 dalam sejarah sastra Melayu-Indonesia.

Dengan kesadaran baru itu, muncul pula pandangan bahwa sastra Indonesia tidak lagi terkonsentrasi pada pusat-pusat otoritas sastra sebagaimana diasumsikan sebelumnya. Karya sastra telah menyebar di dan ke berbagai penjuru, mulai buku-buku yang diterbitkan secara profesional sampai buku-buku yang diterbitkan secara “amatiran”; mulai majalah sastra yang terbit secara teratur dengan tiras cukup tinggi hingga buletin yang terbit sekala-sekali dalam tiras terbatas; mulai lembaran sastra di koran-koran Minggu hingga selebaran yang didistribusikan secara cuma-cuma.Sastra Indonesia kini adalah sesuatu yang “retak”, sulit dilihat dan diikuti dalam kebulatannya yang utuh. Keberadaan komunitas telah memecahkan asumsi tentang kebulatan dan keutuhan sastra Indonesia. Meskipun diam-diam mereka tetap mengakui sumber-sumber lama otoritas, bagaimanapun mereka telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi sastra Indonesia.

Kalau komunitas sastra telah berhasil meneguhkan keberadaannya, bahkan berhasil membangun kesadaran baru tentang peran dan kedudukannya, apa yang telah dihasilkan komunitas itu sendiri? Apakah ia telah melahirkan suatu kecenderungan sebagai corak khas sastra yang dilahirkan suatu komunitas, yang dapat dipandang sebagai sastra komunitas? Inilah titik penting yang perlu direnungkan oleh komunitas-komunitas sastra dewasa ini. Pada hemat saya, sudah waktunya komunitas sastra tidak hanya berkutat dengan eksistensi dirinya, betapapun hal itu saja tidak mudah di tengah sumberdaya yang serba terbatas. Sudah saatnya komunitas sastra menimbang-nimbang peran-lanjutan yang bisa dan mungkin dimainkan, yaitu memberikan corak baru dan khas komunitas. Inilah yang, pada hemat saya, masih absen dalam gerakan komunitas yang telah mencapai keberhasilan sebagaimana dijelaskan di atas. Sejauh amatan saya, jika ada sastra komunitas, dengan corak dan kecenderungan yang dapat menandai warna khas karya komunitas itu sendiri, tak lain tak bukan adalah sastra komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) —lepas dari kita setuju atau tidak, suka atau tidak, dengan corak karya sastra mereka, yang kebanyakan berupa prosa-fiksi; lepas juga dari mutu karya mereka yang relatif sifatnya.

Dengan seluruh perkembangan itu, jika kepada saya disodorkan antologi puisi Empat Amanat Hujan (Jakarta: KPG dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010) yang menghimpun karya 62 penyair dari berbagai komunitas, apa yang dapat saya katakan? Dengan memberikan apresiasi kepada seluruh penyair dalam antologi ini, pertama-tama ingin saya katakan: sebagaimana saya duga, komunitas mungkin berhasil mendorong mereka bersosialisasi dan menulis puisi, namun dari karya mereka tampak bahwa komunitas tidak memberikan orientasi yang dapat menandai komunitas tempat mereka menempa diri. Hal itu demikian, setidaknya karena dua kemungkinan. Pertama, komunitas memang tidak digerakkan oleh suatu ide atau semacam obsesi intelektual yang ingin dicapai bersama sesama anggota komunitas lewat karya sastra mereka. Yakni obsesi untuk memberikan corak dan ciri sastra komunitas dalam sastra Indonesia. Kedua, komunitas memang menjaga individualitas anggotanya dalam hal capaian estetik dan obsesi intelektual. Dalam arti itu, komunitas lebih merupakan kendaraan bagi anggota-anggotanya untuk mencapai individualitasnya masing-masing di dunia sastra.

Dengan dua kemungkinan itu, maka perbedaan corak, gaya, dan tema —betapapun tipisnya— antara satu penyair dan penyair lain merupakan usaha individual masing-masing penyair. Demikianlah perbedaan gaya, corak, dan tema misalnya antara puisi Sihar Ramses Simatupang dan Syarif Hidayatullah, atau antara Husnul Khuluqi dan Nugraha Umur Kayu, misalnya lagi antara Rukmi Wisnu Wardani dan Sofyan R.H. Zaid, atau antara Ardy Kresna dan Setiyo Bardono, bukanlah ciri yang digerakkan oleh keinginan untuk memenuhi warna sastra suatu komunitas. Ia merupakan usaha penyair untuk menemukan dirinya sendiri, individualitasnya sendiri, capaian estetiknya sendiri. Dengan demikian, di sini komunitas menjalankan fungsinya sebatas sebagai pendorong, penggairah, dan perangsang kreativitas anggota-anggotanya.

Lalu, apa arti komunitas bagi anggotanya? Atau lebih tepat, bagaimana sebaiknya kita melihat hubungan komunitas dan anggotanya? Atau secara lebih tajam, bagaimana sebaiknya anggota komunitas menyikapi komunitasnya, dan sebaliknya? Di sini saya akan menggunakan metafor yang digunakan penyair Agus R. Sarjono tentang sastrawan sebagai perenang dan pelaut. Komunitas adalah kolam renang tempat seseorang menempa diri dalam berenang. Di sini seorang (calon) perenang belajar segala jenis dan gaya berenang, melompat, menyelam, melenturkan tubuh, menjaga stamina, dan lain sebagainya, hingga dia mahir sebagai perenang. Atau bahkan jadi perenang profesional, dengan gerakan yang cepat, lincah, dan indah.

Tapi sastrawan lebih dari sekadar perenang, bahkan lebih dari perenang profesional sekalipun. Sastrawan adalah pelaut sejati: ia tidak hanya berenang di kolam renang yang bersih,dengan kedalaman hanya sekitar 10 meter, tanpa ombak dan batu karang pula. Pelaut sejati berenang di kedalaman laut hingga dasarnya yang paling keruh, mereguk asin airnya, menghadapi hempasan angin dan gelombang, mengatasi bahaya batu karang di dasar laut, melawan terik matahari dan hujan deras di tengah lautan, bahkan badai. Dan, dengan kulitnya yang kokoh legam, pelaut sejati akan kembali ke darat membawa seluruh aroma dan guncangan laut yang telah dia hadapidengan jiwanya yang matang.

Dalam komunitas sastra, seorang penyair mungkin berhasil jadi perenang. Tapi bagaimanapun dia seharusnya melangkah lebih jauh untuk menjadi pelaut sejati. Salam.

Pondok Cabe, 14 Desember 2010

Tulisan ini pernah disampaikan pada Panggung Sastra Komunitas yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 15 Desember 2010, lalu dipublikasikan di jamaldrahman.wordpress.com, 14 Februari 2011.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s