KOMUNITAS SASTRA DI UIN JAKARTA


Mas Zakky

“Sastra seharusnya tidak bergantung pada background keilmuan. Mahasiswa apa saja boleh menulis sastra. Di tiap fakultas tentu ada yang berminat dengan sastra, cuma tidak tahu sejauh mana terkoordinir. Di UIN Jakarta, saya rasakan sastra cenderung dianggap pinggiran dari keseluruhan kajian pemikiran belakangan ini. Seingat saya UIN Jakarta tidak pernah memberikan gelar honouris causa pada bidang sastra. Sastra dianggap tidak penting begitulah.”

Kutipan di atas keluar dari Jamal D. Rahman, alumni UIN Jakarta yang kini menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison, disampaikan dalam wawancara dengan penulis tahun 2009 lalu. Apa yang disampaikan Jamal D. Rahman bukan isapan jempol belaka. Ia yang juga menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah tentu mengamati perkembangan sastra di UIN Jakarta. Pengalamannya bergiat dan lantas memimpin LPM Institut ketika masih menjadi mahasiswa dulu barangkali menjadi pembanding. Menurutnya, dulu dunia kepenulisan di UIN Jakarta begitu riuhnya. Diskusi dan penerbitan karya sastra amat semarak. Namun, entah karena faktor apa, dunia kepenulisan terutama sastra ibarat kerupuk disiram air.

Sebenarnya, ada semacam harapan di tahun 2011 ini ada sedikit perubahan. Tapi ternyata masih jauh panggang dari api. Alih-alih komunitas sastra bermunculan dan sastra tumbuh bak cendawan di musim hujan, yang ada komunitas justru kian lesu dan hanya itu-itu saja. Semoga ini bukan karena isu pelarangan masuknya organisasi ekstra ke dalam kampus oleh rektorat.

Peta Sastra

Apabila hendak dipetakan sastra di UIN Jakarta sebenarnya banyak berpusat di Fakultas Tarbiyah, barangkali lantaran adanya fakultas PBSI. Boleh jadi kita justru berharap banyak pada Fakultas Adab, mengingat dalam bahasa Indonesia adab bermakna sastra. Namun, kembali kita teringat kata-kata Jamal D. Rahman bahwa sastra tidak harus berdasarkan background keilmuan. Meski begitu rasa-rasanya gaung sastra di Fakultas Sastra (Adab-red) memang tidak begitu terdengar. Justru teman-teman dari Fakultas Dakwah yang menggagas berdirinya komunitas sastra. Lantas yang kemudian aktif di komunitas tersebut adalah mahasiswa Fakultas Psikologi dan Fakultas Ekonomi. Sebenarnya ini bukan kabar buruk, bahkan sebenarnya ini merupakan baik. Bahwa hari ini peminat sastra menyebar hampir di seluruh Fakultas.

Adapun penulis saat ini berkecimpung dengan Tongkrongan Sastra Senjakala. Komunitas yang memulai diskusi perdananya pada 3 Desember 2008 digagas antara lain oleh Kenyot Adisattva, Nadd Chafsin dan Hasyim Zain dan penulis sendiri (keempatnya mahasiswa jurusan KPI Fakultas Dakwah). Selain diskusi setiap rabu sore di basement ushuludin, Tongkrongan Sastra Senjakala juga menerbitkan buletin sastra Teh Hangat. Kumpulan cerpen pertama mahasiswa UIN Jakarta berjudul Sunyi juga telah berhasil mereka terbitkan. Dalam waktu dekat mereka juga bersiap menerbitkan kumpulan cerpen keduanya.

Selain Tongkrongan Sastra Senjakala, adalah Kampung Seni komunitas sastra yang pada masanya memiliki kontribusi besar bagi perkembangan sastra di UIN Jakarta. Kampung Seni berdiri 25 Desember 2007. Penggerak awalnya Mutaqin bersama teman-teman PBSI, dibantu dua dosen, Bu Rosida dan Pak Edi Effendi. Kegiatannya diskusi mingguan, bedah naskah dan pelatihan menulis, diskusi bulanan dengan mendatangkan sastrawan ke kampus, bulan bahasa dan lain-lain. Akan tetapi, menurut pengakuan Mutaqin, hari ini Kampung Seni vakum. Dikarenakan pengurusnya sibuk praktek kuliah atau kerja dan sebagainya.

Keberadaan Forum Lingkar Pena Ciputat juga tidak bisa dikesampingkan. Komunitas penulis yang banyak didominasi mahasiswa UIN Jakarta ini sudah memberikan sumbangsih bagi hidupnya sastra kampus selama lebih dari enam tahun tahun (berdiri 25 September 2004). Kegiatan dan karya mereka juga sangat beragam. Lantaran induk organisasi mereka sudah sangat besar dan menggurita di Indonesia. Walaupun, harus diakui, daya gedor mereka kini tidak sekuat lima tahun lalu, saat fiksi Islam masih menjadi jawara di toko-toko buku.

Komunitas lain yang patut dicatat adalah Kolekan (Komunitas Lesehan Kebudayaan). Meski mereka tidak sepenuhnya berkutat pada sastra, tapi fokus kajian mereka terhadap Pramoedya Ananta Toer sangat baik. Bahkan ketika peringatan empta tahun wafatnya Pram, Kolekan bekerjasama dengan Tongkrongan Sastra Senjakala mengadakan road show diskusi mengenang Pram, sosok dan pemikarannya, di empat tempat di Jakarta. Sastra panggung yang kerap ditampilkan Kolekan juga laya diapresiasi yakni dalam pembacaan puisi dan pentas teater.

Dalam memetakan sastra di UIN Jakarta yang kadang terlupa adalah Teater Syahid. Mungkin lantaran mereka lebih kuat di pementasan teater atau sastra panggung sehingga kiprah mereka tidak begitu terekam. Atau bahkan tidak dimasukkan dalam komunitas sastra. Di Ciputat, khususnya di seputaran kampus, perlu dicatat pula beberapa nama kelompok teater seperti: Altar, el Na’ma dan Tonggak. Walau kabar ketiganya kini begitu samar adanya.

Penulis juga sempat mendapati pamflet lomba puisi yang diadakan Lembaga Sastra Tinta di beberapa mading di sejumlah fakultas. Setelah ditelusuri ternyata lembaga ini milik IMM Ciputat. Saat penulis bertanya tentang kegiatan dan karya Lembaga Sastra Tinta pihak pengurus hanya memberi alamat blog, yang ketika penulis klik di internet blog itu tidak ada wujudnya.

Peran Komunitas
Baru-baru ini Dewan Kesenian Jakarta menerbitkan Bunga Rampai Cerpen Panggung Sastra Komunitas berjudul Si Murai dan Orang Gila. Dalam waktu bersamaan juga terbit bunga rampai puisi berjudul Empat Amanat Hujan. Pada catatan kurator bunga rampai cerpen, Eka Kurniawan menyampaikan pandangannya tentang komunitas sebagai berikut:

…Tentu saja media bukan satu-satunya faktor yang memberi bahan bakar untuk kesusasteraan. Media massa merupakan suatu wilayah yang terbatas, yang seringkali tak cukup untuk menampung ledakan kreativitas ini. Harus ada ruang-ruang lain yang sanggup mewadahi keberlimpahan kreativitas. Para penulis menyadari ini sejak awal: komunitas.
Komunitas memberikan sesuatu yang barangkali tak diberikan oleh media massa kepada penulis: keintiman. Penulis-penulis berinteraksi secara langsung, berbagi karya, berbagi kritik, dan menjadi sparing partner. Penulis-penulis baru belajar dari penulis-penulis yang lebih berpengalaman, tak hanya dalam perkara teknis menulis, tapi nyaris dalam berbagai aspek. Melalui komunitas, penulis juga membuat jaringan, baik di antara penulis maupun di antara komunitas.

Kita mugkin mengamini apa yang diutarakan Eka Kurniawan. Memang benar para penulis, dalam hal ini para calon sastrawan, perlu diwadahi dalam sebuah komunitas. Jarang sastrawan lahir tanpa melalui rahim komunitas.
Di sisi lain, tak kalah menarik, dalam buku Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 Sutardji Calzoum Bachri menulis seperti apa wajah-wajah komunitas sastra yang sering dijumpai:

…Begitu pula karakter individual para pengelolanya mewarnai ‘karakter’ komunitasnya. Ada komunitas terasa sangat serius, terasa ingin elitis dan mencoba melakoni citra intelektual. Sebaliknya ada komunitas yang orang-orangnya, lebih berupaya menikmati dan mensyukuri hidup dengan cara mencari dan menciptakan sisi gembira dan perih kehidupan, serta selalu bersikap kritis terhadap sesuatu yang berbau intelektual dan karena itu kelihatan sebagai komunitas yang anti-intelektual. Dari bentuknya ada yang terorganisasi rapi dan terasa formal, dengan para pengelola yang berdisiplin dan berdedikasi, serta dana atau sponsor yang memadai. Di samping itu ada pula yang tidak formal, lebih merupakan kumpulan sastrawan atau budayawan yang sering kongko-kongko di warung atau café, sambil nyanyi-nyanyi membicarakan sastra, agama, filsafat, dan macam-macam lainnya.

Seperti apapun betuk komunitas itu, satu hal yang pasti keberadaan komunitas perlu dan penting adanya. Tentu dengan diikuti intensitas diskusi dan berkarya yang tinggi. Kegelisahan akan lesunya dunia sastra di UIN Jakarta (ditandai dengan kurang maraknya kegiatan dan karya yang dihasilkan komunitas) barangkali sama dengan kegelisahan dari teman-teman pegiat kajian filsafat, agama, sosial dan sebagainya. Sebagian besar dari mereka mengaku pasca tahun 2000, kantong-kantong kajian atau diskusi beranjak sepi, ditinggalkan anggotanya. Satu-satu lantas berguguran. Padahal, mereka mengakui lebih banyak ilmu yang diserap lewat forum-forum kajian atau diskusi di luar kampus ketimbang dari bangku kelas (yang kadang terasa monoton).

Menurut hemat penulis, langkah-langkah kecil harus dimulai dan lantas dipelihara oleh komunitas. Hal paling penting adalah menjaga konsistensi anggota. Seiring berjalannya waktu, jika konsisten, fokus dan telaten, hasilnya tentu akan kelihatan. Bukankah sebongkah batu bisa berlubang jika ditempa tetes-tetes air terus menerus?

Tulisan ini pernah dipublikasikan di abrahamzakky.blogspot.com, 18 Januari 2011.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s