SASTRA REBOAN, PUISI, DAN CERITA PENDEK


Yang Tumbuh Dalam Komunitas

 Catatan Kecil Soni Fardi Maulana

 

Tumbuh dan berkembangnya dunia sastra dewasa ini tidak hanya di media massa cetak, tetapi juga di dunia maya. Adanya jejaring sosial seperti facebook dan twitter tidak hanya memberikan semangat baru dalam menulis karya sastra yang diproduksi secara personal, tetapi juga menimbulkan kegairahan baru dalam pertumbuhan komunitas sastra itu sendiri.  Paling tidak, para aktivis sastra yang tergabung dalam Komunitas Sastra Reboan (KSR) Jakarta ini pada dasarnya adalah para sastrawan yang aktif menulis karya di dunia maya, selain di media massa cetak, termasuk buku di dalamnya.

Membaca buku Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan, adalah membaca suara lain dalam dunia sastra. Suara yang boleh jadi selama ini tidak pernah kita temukan di ruang-ruang komunitas yang lain, yang begitu mengedepankan eksperimentasi dalam daya ungkap, sebagaimana selama ini selalu digaungkan dan diagungkan oleh Komunitas Salihara, misalnya. Berkaitan dengan itu, membaca sejumlah karya sastra yang ada di dalam buku ini harus awas mata.

Apa sebab? Sebagaimana dikatakan almarhum Rendra, setiap karya sastra, apapun bentuk gaya ungkapnya punya ruang dan jendela tersendiri untuk diapresiasi. Berkait dengan itu, bermakna dan tidak bermakna sebuah karya sastra bukan hanya ditentukan oleh bentuk dan gaya ungkap karya sastra itu sendiri, tetapi juga sangat ditentukan oleh seberapa jauh sang pembaca mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai sendi kehidupan. Termasuk di dalamnya dalam penguasaan gaya ucap itu tadi.

Dalam konteks yang lain, tentang suara lain itu, dengan indah penyair Octavio Paz mengatakan dalam sebuah esainya, bahwa ketika karya sastra ditulis, maka yang didengar dan diekpresikan oleh para sastrawannya bukan suara yang datang dari dunia sana, akan tetapi suara yang didengarnya dari dalam dirinya sendiri.

Ini artinya, ia sangat personal, yang dalam pemahaman Rendra disebut punya ruang dan jendela sendiri. Sekalipun begitu tentu saja, kita bisa melihat jejak, karya sastra itu ditulis dalam gaya ungkap semacam apa? Apa dalam gaya ungkap imajis, simbolik, atau naratif, yang tentunya untuk masing-masing pengucapan punya hukum tersendiri dalam penulisannya.

Nah, keragaman inilah yang saya lihat dalam buku ini. Masing-masing sastrawannya menampilkan kebolehannya dalam berekspresi dalam gaya ungkap yang beragam. Dan saya yakin, bahwa di kemudian hari, masing-masing sastrawannya akan menemukan gaya ungkap yang lebih pas lagi dengan selera hatinya dalam mengolah bahasa.

Sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair AGS Arya Dipayana almathum, Budhi Setyawan, Dedy Tri Riyadi, Eva Budiastuti, Gita Pratama, Irfan Firnanda, Ilenk Rembulan, Kirana Kejora, Nurdin Ahmad Zaky, Nugroho Suksmanto, Nina Yuliana, Setiyo Bardono, Weni Suryandari, Slamet Widodo, Yoyik Lembayung, Yo Sugianto, dan Zabidi  Zay Lawanglangit, adalah keragaman dunia batin para penyairnya yang diekspresikan dengan gaya ungkap yang berbeda.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah, bahwa masing-masing penyair cukup mahir berskpresi, lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya. Baik yang diungkap dengan kalimat yang sederhana, maupun kalimat yang sarat dengan majas atau metafor.

Demikian juga dengan sejumlah cerita pendek yang ditulis oleh Dedy Tri Riyadi, Hujan Tarigan, Irfan Firnanda, Ilenk Rembulan, Kirana Kejora, Nugroho Suksmanto, Setiyo Bardono, Sahlul Fuad, Weni Suryandari, dan Zabidi Zay Lawanglangit, telah menunjukkan kepiawannya dalam berkisah, baik dalam mengolah bahasa maupun dalam mengolah karakter para tokohnya.

Para sastrawan yang menulis cerita pendek dan puisi ini, telah menunjukkan bakatnya yang kuat. Tinggal persoalannya sekarang, bagaimana mengasah bakat itu menjadi sesuatu yang cemerlang, luput dan segala kelemahan, dalam pengertian para sastrawannya mampu menyempurnakan sekaligus menguasai bentuk pengucapan lebih professional lagi, baik dalam menulis puisi maupun cerita pendek.

Dalam konteks ini, sekalipun karya sastra merupakan dunia rekaan, sebagaimana dikatakan Prof. Dr. A. Teeuw, tetap harus ditulis dengan sungguh-sungguh. Sebab menulis karya sastra bukan urusan hati semata-mata, tetapi juga urusan otak. Dalam posisi semacam ini daya intelektual bekerja dengan keras, mulai dari menyeleksi diksi, hingga logika pengucapan. Pada sisi yang lain bisa juga dikatakan bahwa teks dan konteks, harus seiring dan searah hingga pembaca karya sastra dapat menangkap makna dengan utuh dari puisi yang ditulisnya.

Lepas dari semua itu, buku ini sangat berharga bagi sejarah sastra Indonesia modern di kemudian hari. Sejumlah karya yang terdapat di dalamnya bisa menjadi rujukan dokumen bagi para peneliti sastra, yang ingin mencari kelengkapkan data. Sebagian dari para penyair yang ada dalam buku ini, sepengetahuan saya sudah ada yang memiliki buku yang terbit secara tunggal, baik cerita pendek maupun puisi. Untuk itu  tak aneh bila karya yang ditulisnya dalam kumpulan ini cukup matang, sederhana, logis, dan kaya makna.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Catatan Facebook Soni Farid Maulana pada 16 Mei 2011.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s