EFVHAN MENGAWINKAN SASTRA DENGAN MUSIK


Lagu bertema cinta maupun kritik sosial dengan syair puitis seperti yang dinyanyikan Sawung Jabo, Leo Kristi, Iwan Fals, Ebiet G Ade, maupun Bimbo banyak disukai. Namun, di antara para pendengar mungkin tidak menyadari bahwa lagu mereka merupakan musikalisasi puisi.

Menurut Ketua Komunitas Musikalisasi Puisi (Kompi) Sumsel Efvhan Fadjrullah (39), musikalisasi puisi sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1970-an melalui Bengkel Teater Rendra. Tetapi saat itu istilah musikalisasi puisi belum dipakai. Baru pada tahun 1980 sampai 1990-an musikalisasi puisi semakin dikenal seiring melejitnya Sawung Jabo, Iwan Fals, Ebiet, dan lain-lain.

Perkenalan Efvhan pada musikalisasi puisi dimulai tahun 1989 saat masih SMA dan mulai tertarik pada teater. Ketertarikan Efvhan pada musikalisasi puisi semakin terpupuk saat menjadi mahasiswa FKIP Unsri Jurusan Bahasa dan Seni.

Setelah malang melintang di dunia teater, Efvhan memutuskan musikalisasi puisi sebagai dunia yang paling menarik minatnya.

”Musikalisasi puisi adalah menciptakan harmonisasi tanpa merusak musik dan puisinya. Sebab musik dan puisi bisa berdiri sendiri,” kata pria kelahiran Palembang, 17 Januari 1971, tersebut.

Sejak tahun 2007, Efvhan memimpin Kompi Sumsel untuk mewadahi seniman-seniman Sumsel yang tertarik dengan musikalisasi puisi. Kompi merupakan komunitas musikalisasi puisi yang keanggotaannya tersebar di seluruh Indonesia.

Saat ini Kompi Sumsel memiliki cabang di enam kabupaten/kota di Sumsel, yaitu Palembang, Lubuk Linggau, Prabumulih, Pagar Alam, Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir. Khusus di Palembang terdapat empat komunitas musikalisasi puisi.

Efvhan mengungkapkan, cara memperkenalkan musikalisasi puisi kepada remaja dan mahasiswa adalah mengadakan workshop, pentas, dan menjadi pendamping ekstrakurikuler di sekolah. Para anggota Kompi Sumsel rutin mengadakan pertemuan tiap tiga bulan untuk berdiskusi dan menciptakan karya musikalisasi puisi yang baru.

”Dua tahun lalu kami tampil di RRI Programa Empat secara rutin tiap hari Sabtu. Tetapi karena kesibukan setiap anggota, kami tidak sanggup tampil rutin,” kata Efvhan.

Menurut Efvhan, saat ini Kompi Sumsel sudah menciptakan 20-an karya musikalisasi puisi. Sebagian karya sudah didokumentasikan dalam kaset dan CD. Puisi yang digarap Kompi Sumsel adalah karya penyair dari Sumsel. Potensi Sumsel sebagai lumbung musikalisasi puisi sangat besar karena memiliki aneka budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Kini Efvhan tetap konsisten menggeluti musikalisasi puisi karena sudah jadi pilihan hidupnya, meskipun pilihan itu digoyang berbagai tuntutan hidup. (WAD)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas, 17 Mei 2010.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s