SEMACAM CATATAN, SEMACAM GAGASAN TENTANG SIKAP KESUSASTRAAN


Restu Ashari Putra

Penulis

Pada mulanya saya hampir ingin mengambil jeda sejenak dengan persoalan-persoalan menyangkut sastra dan kesusastraan kita (terutama pada wilayah wacana dan perkembangan dinamikanya), kecuali sambil terus menulis puisi, saya juga melatih kepekaan diri saya dalam mengarang prosa atau cerpen. Namun saat beberapa kawan saya, yang juga bergelut dan bergiat dalam komunitas sastra itu “memanggil” saya untuk kembali membincangkan beberapa kegelisahan mereka akan sastra dan kesusastraan, terutama di Bandung (karena kami memang sebagian besar adalah mahasiswa yang menempuh studi di Bandung), mau tidak mau saya kembali mengerutkan kepala dan mencoba merapikan kembali seperti apa sebenarnya kegelisahan teman-teman saya ini  akan kesusastraan.

Saya ingat malam itu, beberapa hari ke belakang saat diskusi, saya masih belum memberikan banyak pandangan dan justice apa-apa perihal arah kegelisahan mereka. Namun sampai akhirnya saya banyak memikirkan kembali persoalan tersebut, dan teman-teman pun rasanya benar-benar serius, maka ada beberapa permasalahan yang rasanya umum namun masih tetap hangat rupanya untuk diperbincangkan.

Pertama-pertama tentang dominasi sastra dan media massa “tertentu” yang dianggap sebagai representasi mutlak pencapaian estetis sebuah karya sastra. Kawan-kawan saya berpandangan bahwa telah terjadi suasana yang tak sehat perihal kesusastraan Indonesia, khususnya di Bandung. Mereka beranggapan ada dominasi “komunitas” tertentu dan penguasaan estetis secara mutlak perihal karya sastra yang lahir dan berkembang di Bandung. Terutama pada media massa mainstream, yang “seakan-akan” menjadi rujukan sastra Bandung.

Untuk hal ini saya terus terang saja masih praduga tak bersalah. Sebab saya sejauh ini belum pernah berdiskusi langsung bahkan melakukan analisis intensif tentang seperti apa dasar-dasar penilaian redaktur dalam memilih karya sastra yang sedia dimuat dalam halaman budayanya itu. Walaupun “angin-angin” dominasi itu telah saya rasakan semilirnya.

Hal ini bukan perkara aneh dan asing lagi dalam kesusastraan Indonesia yang sebelum-sebelumnya polemik Sastra Koran versus Sastra Cyber berlangsung di berbagai media. Juga gugatan politik sastra Saut Situmorang terhadap dominiasi estetis sastra TUK (Teater Utan Kayu) yang digawangi Goenawan Mohammad. Diskursus seperti ini memang sejatinya adalah mencoba membuka ruang-ruang pilihan sastra yang lebih demokratis. Sastra bukanlah milik kalangan tertentu, melainkan milik siapa saja dengan proses pencapaian estetisnya. Penguasaan representasi sastra oleh satu pihak akan memberangus kebebasan pegiat sastra yang memiliki dan memilih jalan pencapaian estetis yang lain. Karena mau tidak mau masyarakat sastra berikut karyanya juga membutuhkan ruang bagi terbukanya apresiasi.

Terlepas dari itu semua, saat saya mencoba memikirkan kembali jika memang benar adanya permasalahan dominasi dalam kesusastraan kita terutama yang dimainkan media massa, dan akhirnya akan merembet pada dunia kesusastraan kita, maka saya perlu mendudukan hal ini pada persoalannya yang sederhana. Yaitu karya sastra dan media massa.

Media massa selalu terkait dengan industri berikut persaingan-persaingannya. Sama halnya dengan industri-industri penerbitan lainnya, yang muara akhirnya adalah pertimbangan ekonomi. Ada selera pasar di sana. Dan ada pihak atau orang yang mengatur arus lalu lintas bisnis di sana. Hal ini seperti diungkapkan penyair Octavio Paz, bahwa perdagangan seni sastra dewasa ini didorong dan dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan murni ekonomi.

Terkait hal di atas, ada dua gagasan sikap yang ingin saya tawarkan di sini. Namun sebelum dua gagasan tersebut saya utarakan, ada paradigma besar yang sangat-sangat perlu ditekankan menurut saya sebagai landasan prinsip. Bahwa setiap media, (apa pun itu baik cetak maupun online) memiliki kemungkinan melahirkan karya yang baik ataupun buruk.

Tentunya kita sering lah membaca karya-karya sastra yang terbit di koran-koran minggu, yang terkadang tidak kita mengerti alur logika bahasanya, namun karena belenggu paradigma bahwa karya tersebut telah tembus media massa, sikap kritis kita terbunuh dan terkubur dalam-dalam. Padahal setiap karya terbuka peluang kritik di mana pun itu. Begitu pula dengan media cyber, terkadang kita menemukan karya yang benar-benar menakjubkan di sela-sela ribuan lintas kata dunia maya yang berseliweran dan menghiasai dinding sastra cyber.

Oleh karenanya, media massa (mainstream khususnya) bukanlah tolak ukur dari sebuah karya sastra yang “baik” secara mutlak. Hal ini terkadang yang menjadi belenggu masyarakat sastra kita, terutama mereka yang pemula sehingga mematikan kebebasan proses mereka dalam berkarya.

Saat tulisan mereka tak dimuat di media massa, akhirnya mereka membanting keras-keras kesusastraan dari tubuh mereka, karena sastra sudah mereka anggap tak lagi menerimanya kecuali mereka mereka menghamba pada media massa yang dianggap representatif itu.

 

Lalu bagaimana sikap kesusastraan kita sebenarnya?

Inilah dua gagasan sikap yang akan saya tawarkan itu. Pertama, sikap idealis. Artinya seorang sastrawan, seorang pengarang sastra menulis karya sastra dengan sebenar-benar sebagai bagian dari proses pencapaian estetis.  Mereka tidak menghamba pada industri media. Mereka membaca, menulis dan berapresiasi dengan ketulusan hati. Kalaupun mereka menulis di media massa, mereka tetap berpegang pada  idealismenya dalam berkesusastraan, atau bisa dibilang konsekuensi kebergiatannya. Mereka tidak ngoyo.

Dalam proses kreatifnya ini, tentu ada banyak cara toh bagi setiap pengarang sastra dalam menempuh pencapaian estetis. Terutama dalam menemukan ruang-ruang apresiasi. Mereka bisa mengapresiasi dengan cara “silaturahmi” kepada pada para sastrawan, akademisi sastra atau kritikus sastra dalam membahas karya-karya mereka, baik secara personal atau pun komunal. Atau jika di zaman sekarang, banyak media cyber yang apabila benar-benar digunakan sebagai ruang apresisasi yang efektif, maka akan menghasilkan proses kreatif yang mumpuni juga.

Di lain pihak kini juga tumbuh dan merebaknya media-media alternatif seperti buletin dan jurnal yang diterbitkan oleh komunitas sastra yang memang ingin menghadirkan bentuk-bentuk baru dari corak kesusastraan mainstream. Lebih jauh lagi, gagasan buku-buku antologi kesusastraan yang diterbitkan secara indie juga tidak menutup kemungkinan akan mewarnai pluralitas estetika (jika menghadirkan kebaruan) kesusastraan kita. Tentunya hal tersebut dalam kerangka proses kreatif dan apresiasi yang ketat. Dengan demikian pluralitas estetika sastra semakin berkembang, dan tidak hanya di monopoli oleh satu pilihan saja, atau satu selera redaktur media massa tertentu saja.

Kita menghidupi sastra, dan bukan hidup dari sastra. Oleh karenanya hasil pencapaian karya sastra tak melulu harus dimuat media. Karena menurut Paz, logika kesusastraan bukanlah logika pasar.

Nah yang kedua, sikap professional. Ini adalah jalur bagi siapa pun yang ingin menjadikan menulis sabagai bagian dari pilihan hidupnya, maka sikap inilah pilihannya. Mereka harus merebut selera pasar.  Mereka harus memikat redaktur. Maka orang-orang yang memang ingin menulis dan menjadi penulis sebagai bagian profesinya, ia haruslah bersikap professional. Karena ia menulis untuk pasar.

Dan bisa jadi ia harus terlatih menghasilkan ratusan cerita pendek tiap minggunya sesuai dengan selera media massa yang diinginkan agar asap dapur terus mengebul karena mengharapkan royalti. Hal ini sah-sah saja bagi mereka yang ingin mengambil jalur di wilayah professional.

Bagi yang memiliki motif-motif kepentingan ekonomi, ambisi popularitas, dan tekanan eksistensi maka di sinilah posisinya. Mereka harus bersikap professional sebagaimana seorang pekerja (ekonomi). Silakan tempuh resiko-resikonya. Silakan mereka jatuh bangun menembus masuk persaingan jagad industri media. Asalkan tetap ingat, bahwa kesusastraan tidak berada di wilayah paradigma sikap ini. Mereka harus rela menempuh kekalahan saat tak kuasa menembus media. Rela bersusah payah. Bahkan melakukan lobi-lobi terhadap redaktur bisa jadi merupakan bagian dari upaya berada dalam jalur ini. Karena mereka bekerja sebagaimana layaknya pekerja professional bekerja.

Nah, berdasarkan dua gagasan di atas, maka polemik dominasi yang kerap mengkerutkan kening sastra minoritas ini tentunya (paling tidak) bisa kita atasi. Sebab hal-hal tersebut adalah perkara-perkara yang harus kita rebut secara professional pula. Mungkin komunitas yang kita anggap dominan tersebut telah terlebih dahulu merebut hati redaktur secara lebih cantik sehingga ia terlibat memasarkan karya-karyanya. Atau kebetulan karya-karya mereka yang sejalan dengan selera redaktur.

Kita tak perlu pusing dan rumit dengan perkara demikian, kalau kita berada pada sikap yang pertama, sikap idealis (yang saya tawarkan).

Namun yang menjadi pekerjaan rumah dan agenda besar kita adalah, bagaimana menyelematkan paradigma kesusastraan masyarakat sastra kita yang masih menganggap bahwa media massa (mainstream tertentu) sebagai tolak ukur satu-satunya pencapaian estetis terakhir sebuah karya sastra.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://bahasa.kompasiana.com/, 27 Maret 2011.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s