WAPRES BULUNGAN TEMPAT SENIMAN BERKREASI


SIAPA yang tak kenal dengan komunitas seniman Bulungan? Banyak musisi dengan nama besar pernah manggung di sini, sebelum mereka terkenal hingga menjadi besar.

Komunitas Seni Bulungan di Warung Apresiasi (Wapres), menjadi tempat semua orang ingin berapresiasi dengan kreasinya masing-masing. Bentuknya berupa kafe sederhana, di sebelah Gelanggang Olahraga Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan.

Begitu kita memasuki markas Wapres, terdapat counter tempat menjual buku-buku sastra. Kumpulan CD dan kaset band Indie juga bisa didapatkan disini.

Begitu melalui pintu masuk, tampak panggung yang memuat peralatan musik lengkap, seperti drum, gitar, bas, dan keyboard. Tak berarti hanya musik yang ditampilkan, di sini juga kerap ditampilkan karya sastra, lukis, film, tari, hingga teater.

Meski terlihat sederhana dan minimalis, di tempat ini seniman besar seperti WS Rendra, Rieke Dyah Pitaloka, hingga Iwan Fals pernah unjuk gigi membawakan bait ddmibait puisi serta lagu.

Kolam kecil sederhana beratapkan langit yang berada di depan panggung, membuat suasana kafe yang buka mulai pukul 19.00 – 24.00 ini seperti rumah sendiri. Mungkin ketenangan serta perasaan hommy inilah yang membuat siapa saja betah berlama-lama duduk sambil berbincang.

Sebelah kanan panggung diisi sejumlah kursi dan meja dari kayu sederhana. Sementara di sebelah kiri terdapat beberapa meja untuk duduk lesehan.

“Disini para senimanbebas berapresiasi dan tidak ada batasan usia, asalkan tidak rusuh dan benar-benar hasil karya sendiri, bukan membawakan hasil karya orang lain” ujar Anto Baret, dedengkot Wapres Bulungan, kepada Pos Kota.

Karya Seni

Suasana yang hangat dan cair juga menjadi salah satu daya tarik Wapres Bulungan. Di sana, semua orang seperti sudah saling mengenal lama, walaupun terkadang ada yang baru berkenalan.

Menurut Anto Baret,sang penggagas dan pemilik Wapres Bulungan, sesuai dengan namanya, warung apresiasi dapat diartikan sebagai tempat melihat, mendengarkan, dan kemudian pulang dengan penghargaan terhadap karya seni yang disajikan.

“Tempat-tempat hiburan di Jakarta cenderung hiburan saja. Padahal, perlu juga wadah bagi para pemuda untuk menyalurkan atau menunjukkan kemampuannya di bidang seni dan dinikmati langsung oleh para pengunjung,” ungkap Anto. (embun/rf/r)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pos Kota (Jakarta), 1 Jun 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s