WISATA SASTRA ALA KOMUNITAS LERENG MEDINI


Di tengah hamparan teh bak permadani hijau dan berkabut, seseorang berkaus putih dengan berdiri di atas kursi lantang membaca puisi:

di suap kopi malam
ada berbaris kalimat
yang sering hadir di atas tempat tidur
tapi tetap belum jelas dan mengepul hilang.

Puisi itu dihadirkan di tengah lalu lalang pekerja teh yang sedang memetik pucuk-pucuk teh di Kebun Medini, Ngesrep Mbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal. Lelaki yang membaca itu adalah Sigit Susanto, penggiat milis Apresiasi Sastra (Apsas) sekaligus penulis catatan perjalanan asal Boja Kendal.
Di sudut lain, beberapa orang berkerumun di bawah sebuah barak sederhana beratap seng berukuran 5 x 5 meter persegi. Mereka tak sekadar jalan-jalan menikmati heningnya suasana gunung dan dinginnya hawa. Mereka yang hadir terdiri dari sastrawan, pelajar, mahasiswa, seniman, dan anak-anak– yang sedang bersastra dan belajar pada kearifan alam.
Sigit membaca puisi berjudul Malam Sepanjang Malam karya penyair M Nur Gani Asikin dalam Antologi Puisi Indonesia Modern Equator, Yayasan Cempaka Kencana. Puisi dibacakan dalam 3 bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jerman.
Demikian gambaran sebuah acara bertajuk Wisata Sastra di Kebun Medini, Minggu (14/4) siang lalu. Acara yang sudah kali kedua ini di selenggarakan oleh Komunitas Lereng Medini bekerja sama dengan milis Apresiasi Sastra (Apsas). Acara ini juga menjadi bagian dari rangkaian acara Parade Obrolan Sastra VI yang merupakan gelaran sastra tahunan di Pondok Maos Guyub, Boja, Kendal, Jawa Tengah. Medini sendiri merupakan sebuah areal perkebunan teh yang juga terdapat perkampungan warga di lereng utara Gunung Ungaran.
Acara diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri dari siswa tingkat sekolah dasar, mahasiswa, penyair, dan penggiat komunitas sastra. Selain dari daerah sekitar, acara juga diikuti oleh beberapa peserta dari luar daerah. Antara lain, Adi Toha (novelis asal Pekalongan), Daurie Bintang (trainer soft skill dan master coach asal Bogor), Ubaidillah Muchtar (pegiat Taman Baca Multatuli Lebak Banten). Selain itu, juga hadir dua sastrawan kenamaan yakni F Rahardi (penyair dan cerpenis tinggal di Depok), dan Iman Budhi Santosa (penyair tinggal di Yogyakarta).
Sebelum Sigit membaca puisi, peserta melakukan pembacaan puisi spontan dan berantai. Mereka menyebut, puisi berantai. Dari satu orang saling bersahut membuat puisi singkat setelah seorang selesai maka seorang yang di sampingnya meneruskannya. Meski ada yang nyambung dan tidak. “Ke mana bidadari itu,” ujar F Rahardi yang memungkasi puisi berantai yang disambut tepuk tangan peserta.
Selain mengikuti puisi berantai, F Rahardi dan Iman Budhi Santosa juga turut membaca puisi. F Rahardi membaca puisi Memetik Teh di Kebun Puisi karya Bustan Basir Maras dan Iman Budhi Santosa membaca puisi Si Pengunjung Fana; Iman Budhi Santosa karya Tia Setiadi. Iman sendiri dalam kesempatan itu juga meluncurkan antologi puisi terbarunya berjudul Ziarah Tanah Jawa yang diterbitkan oleh Intan Cendekia tahun 2013.
Esther Mahanani, koordinator acara Wisata Sastra di Kebun Medini menyatakan, acara ini terselenggara berkat kerja sama jejaring literasi dari berbagai daerah. Acara diselenggarakan sebagai salah satu cara silaturahim sastra sembari berproses kreatif. Sastra, menurutnya, lebih mengasyikkan diajarkan dan dipelajari dengan kegiatan-kegiatan yang kreatif seperti berada di alam pegunungan ini.
“Peserta selain bisa merasakan heningnya suasana pegunungan juga bisa menyaksikan kearifan-kearifan lokal di dalamnya. Peserta juga bisa mencatat kesederhanaan, perjuangan hidup, dan kebersahajaan orang-orangnya,”ujar Esther yang juga pemandu reading group The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway di Komunitas Lereng Medini ini kepada Jurnal Nasional.
Sebagai bagian dari upaya kreatif belajar bersastra, panitia juga menghadirkan enam orang perempuan pemetik teh Kebun Medini. Mereka yang rata-rata berusia di atas 60 tahun ini bercerita seputar lika liku dan suka duka kehidupan selama puluhan tahun menjadi buruh di Kebun seluas sekitar 85 hektare yang dikelola PT Rumpun itu. Para peserta mencatat dalam kertas. Catatan peserta dalam acara ini direncanakan dibukukan dalam sebuah antologi Kisah Pemetik Teh Medini. Kita tunggu saja karya ini. (Heri C. Santoso, herics@jurnas.com)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 18 April 2013.

Wisata Sastra Ala Komunitas Lereng Medini-s1

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s