36 TAHUN OMONG-OMONG SASTRA SUMUT


Syafrizal Sahrun

Pada 24 Juni 2012, Omong-omong sastra kembali digelar. Kali ini dituanrumahi oleh Universitas Muslim Nusantara (UMN) Medan. Shafwan Hadi Umry yang dibantu anak-anak KOMA (Komunitas sastra yang ada di UMN) sebagai panitianya. Kegiatan ini dihadiri oleh Damiri Mahmud, Jaya Arjuna, A. Rahim Qahar, Ys Rat, Jones Gultom, Sulaiman Sambas, M. Raudah Jambak, Suyadi San, Idris Siregar, Hasan Al Banna, S. Satya Darma, Yulhasni, Mihar Harahap, Sartika Sari, Khairul Anam, Hidayat Banjar, Maulana Satya Sinaga, Saripuddin Lubis, Yunus Rangkuti, Febri Mira Rizki, Novianti dan masih banyak yang lainnya.
Dalam kegiatan ini Muhammad Anhar Mursyam dan Hasan Al Banna dipercayakan menjadi pemakalah. Permasalahan yang mereka sajikan mengenai muatan lokal dalam karya sastra – khususnya pada cerpen. Sebagai pemakalah pertama, Anhar banyak mengulas mengenai cerpen yang memuat unsur-unsur lokal sebagai upaya mempromosikan kekayaan budaya. Dia juga memotivasi para penulis untuk terus melahirkan cerpen-cerpen yang bermuatan lokal. Bukankah banyak kita jumpai lomba cipta cerpen baik itu lokal maupun nasional yang mengusung tema budaya lokal? Bukankah surat kabar juga mengutamakan hal yang sama? Mungkin itu alasannya berkata demikian.
Banyak penulis kita yang salah tafsir mengenai kelokalan karya. Bila dalam cerpen terdapat setting atau dialog lokal, belum tentu itu cerpen lokal, kata Hasan Al Banna. Hal itu dibenarkan Jones Gultom, terkadang tak jarang penulis keliru mendudukkan istilah lokal pada sebuah cerita yang ditulis. Jika hal itu terjadi, maka cerita tersebut akan menjadi rancu dan jadilah kelokalan itu hanya menjadi tempelan semata.
Hasan Al Banna termasuk cerpenis yang karya-karyanya banyak memuat kelokalan seperti yang dimaksud di atas, lantas ada yang menggolongkan Hasan sebagai cerpenis lokal. Menanggapi hal itu, Damiri Mahmud angkat bicara. Menurut Damiri, Hasan bukan cerpenis lokal, tapi lebih tepat kalau dikatakan cerpenis konflik. Maksudnya, Hasan tidak berencana menulis kelokalan semata, tapi didasari situasi dan kondisi di sebuah daerah. Dari pada kita berdebat masalah lokal atau tidak lokal sebuah karya, lebih baik kita memunculkan kelokalan diri kita dalam merajut certa.

Ulang Tahun Oos
Omong-omong sastra Sumut dicetuskan tanggal 25 Juni 1976 dan kegiatan perdananya tanggal 20 Juni 1976. Pada saat itu, para sastrawan pendiri masih suka berkumpul di Lapangan Merdeka—yang pada saat itu tak seramai sekarang. Dengan terkuting-kuting, Damiri Mahmud mencari dukungan untuk mendirikan wadah ini. Pantaslah ketika kita mohonkan pahala kepada Allah SWT untuk beliau dan para pendiri lainnya.
Kali ini ada Bale yang berisi pulut kuning dan daging ayam yang disajikan sebagai lambang rasa syukur seperti dalam budaya melayu. Ada juga kue tar yang di atasnya menyala lilin berbentuk angka 36. Ada juga sajian dramatisasi puisi dari sanggar teater BAHTERA UMSU. Serta tak kalah menarik, A. Rahim Qahhar membacakan puisinya dengan judul Kenapa (1992) dan Jalan (1993) serata ada orasi budaya dengan tema “Budaya Indonesia (diserobot) Malaysia” yang disampaikan oleh Subanindyo Hadiluwih. Sekedar menambahkan, pada kesempatan ini ada peluncuran “sampul” Antologi cerpen (TIKAR) dan puisi (SILA), mudah-muhan Antologi utuhnya cepat siap. Amin.
Akhirnya pada penutupan diskusi, forum Omong-omong sastra yang diwakili oleh M. Raudah Jambak memberikan sertifikat penghargaan secara simbolis kepada beberapa orang yang telah ditetapkan, antara lain: Umar Zein, Yudi Harsoyo, Sulaiman Sambas, Shafwan Hadi Umry, Muhammad Anhar Mursyam, Subanindyo Hadiluwih, Suyadi San, Hasan Al Banna, Damiri Mahmud, Rektor UMN, serta A. Rahim Qahhar.
Dengan demikian, untuk pertemuan Omong-omong Sastra dua bulan mendatang dilaksanakan di rumah Ahmad Zaini Nasution (mertua Jaya Arjuna) sekaligus Halal Bi Halal. Insya Allah pertemuan ini dilaksanakan sekitar tanggal 9-16 September 2012 dengan mendaulat Shafwan Hadi Umry dan Sartika Sari sebagai pemakalah serta A. Rahim Qahhar sebagai moderator. Salam sastra.

Tulisan ini pernah dipubikasikan Rubrik “Rebana” Harian Analisa (Medan), 8 Juli 2012.

36 Tahun Omongomong Sastra Sumuts

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s