BANGKITLAH PEREMPUAN PENULIS INDONESIA!


Komunitas Penulis Perempuan Indonesia (KPPI) dibentuk bertolak dari kegelisahan makin tenggelamnya keberadaan para perempuan penulis. Padahal, karya sastra tidak memiliki jenis kelamin. Perempuan pun telah dan akan memiliki peran yang besar dalam kesusastraan Indonesia.

Foto pada penayangan ulang ini dipinjam dari steemit.com

Salah satu kegiatan Komunitas Penulis Perempuan Indonesia (KPPI)

Sartika Sari
Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Unimed

“Kita tidak harus merangkak pada saat kita merasakan harus terbang.”
-Helen Keller-

Sebuah pandangan hidup wanita tuna rungu itu mengajarkan kita banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Men­jalani hidup sebagai perempuan yang memiliki keterbatasan dalam ber­inte­raksi dengan lingkungan, Helen Keller tak lantas mundur. Dengan semangat yang sangat tinggi, ia berhasil me­naklukkan keterbatasannya menjadi sebuah kekuatan. Selain bergerak di bidang sosial, aktivis politik, ia juga seorang penulis hebat. Banyak tulisannya yang kemudian diabadikan sebagai arsip perjuangan perempuan dunia.

Nyaris di seluruh penjuru, keberadaan perempuan senantiasa ramai dengan berbagai problematika sosial yang seragam. Tentang perjuangan, peng­abdian dan pencapaian tujuan hidup di bawah kodratnya sebagai pendamping kaum Adam. Tanggung jawab yang merangkap menjadi pekerjaan mutlak seorang wanita ini kerap menjadi kendala ketika dihadapkan dengan aktivitas karir yang lain. Tetapi bukan berarti tak ada yang bisa menyeimbangkan kedua pekerjaan itu. Menjadi wanita yang aktif adalah pilihan yang dikelilingi banyak tantangan. Maka, sangat diperlukan kekuatan komitmen dan kerja keras. Dalam bidang apa pun itu, termasuk dalam kepenulisan.

Meski menulis bisa dilakukan di rumah, tetapi kenyataannya juga meng­alami banyak kendala. Jika diulas balik, sampai saat ini keberadaan perempuan penulis dalam peta kepenulisan dan kesastraan Indonesia belum menun­jukkan perubahan yang signifikan jika dibandingkan dengan keberadaan para pria penulis. Pada angkatan Pujangga Baru, kita mengenal Fatimah Hasan Delais, kemudian pada Angkatan 1950 – 1960-an muncul Nh Dini, Titis Basino di Angkatan 1966, Dorothea Rosa Herliany pada Angkatan 1980- 1990an, lalu Ayu Utami, Dewi Lestari, Her­linatiens, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Pipit Senja. Sebenarnya beberapa tahun belakangan telah lahir banyak perempuan penulis. Namun sayangnya, lambat laun tenggelam.

Dalam perjalanan menulisnya, mereka kerap gagal dalam mempertahankan eksistensi diri. Umumnya kondisi ini semakin terlihat ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan dan mulai bertanggung jawab melaksanakan kewa­jibannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Kesibukan-kesibukan tersebut nyaris menyita waktu dan tenaga, belum lagi jika ternyata suami tak menghendaki hobi sang istri dalam menulis. Tentu saja ini adalah fase kematian yang me­ngerikan.

Berangkat dari keadaan yang menye­dihkan itulah, pada 2013, di Bandung, beberapa perempuan penulis meng­ikrarkan keberadaan Komunitas Penulis Perempuan Indonesia, (KPPI). Lebih lanjut, komunitas ini dibentuk atas dasar kegelisahan atas keberadaan para perem­puan penulis yang semakin tenggelam. Sebab seperti didengungkan oleh banyak orang (penyair ataupun bukan), puisi tidak memiliki jenis kelamin. Bahwa perempuan pun telah dan akan memiliki peranan yang besar terhadap kesusas­traan Indonesia.

Para perempuan yang sebetulnya memiliki potensi untuk melakukan aktualisasi diri terkadang dibebat oleh rantai bernama kesibukan. Rumah tangga, anak-anak, mengejar karier, dan sebagainya. Berbeda dengan laki-laki, para perempuan jarang bisa berdamai dengan berbagai kesibukan karena di Indonesia, perempuan kerap berperan ganda: ibu rumah tangga dan perempuan bekerja.

Adapun tujuan dari komunitas ini adalah: Mewadahi aspirasi para perem­puan penulis di Indonesia; memberikan motivasi kepada para perempuan penulis yang potensial agar terus menghasilkan karya berkualitas, menjadi brainstorming, inspiration, dan information center di bidang penulisan; menyediakan fasilitas konsultasi naskah; kritik sastra; pengiriman ke media dan atau ke pener­bitan; pusat training, edukasi penulisan, dan pengembangan SDM khususnya perempuan; menjaring dan mengedukasi para calon penulis; pembangunan dan pengembangan mental dan spiritual perempuan Indonesia, di bidang pe­nulisan maupun non-penulisan; ikut aktif berperan serta dalam penanganan isu-isu sosial masyarakat, terutama yang ber­hubungan dengan perempuan.

Demi mencapai tujuan tersebut, berbagai kegiatan penunjang seperti Book Publishing, Event Organizer, Literary  Consultation, Education Center, Women Crisis Center, Management and Self Improvement Training Center akan dilaksanakan sebaik-baiknya. Diketuai oleh Meitha KH dan di bawah binaan Yenti Nurhidayat, Dra Heni Hendrayani, Nenden Lilis Aisyah MPd, Dr Hj Tetet Cahyati MM, komunitas ini juga mem­bentuk pengurus implementasi tiap daerah yang diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan demi keber­lang­sungan kegiatan dan target yang hendak dicapai. Untuk sementara, interaksi dalam komunitas ini dapat melalui jejaring sosial Facebook (Komunitas Penulis Perempuan Indonesia) dan blog KPPI.

Tak ada kata menyerah lagi untuk para perempuan penulis Indonesia. Kehadiran Komunitas Penulis Perempuan Indonesia adalah salah satu bukti bahwa antarpenulis perempuan terdapat jem­batan kasih sayang untuk saling meng­uatkan. Di sekujur tubuh Indonesia, meski masih melalui dunia maya, komunitas ini adalah wadah untuk mengasah kemampuan menulis dan memperkuat fondasi kepercayaan diri untuk tetap eksis di dunia kepenulisan. Keanekaragaman pekerjaan yang mesti dituntaskan adalah anugerah dan pem­buktian bahwa perempuan memang bukan kaum yang lemah. Selamat bergabung!
Medan, 2013

Esai ini pernah dipublikasikan di harian.analisadaily.com pada Sabtu, 19 Juli 2014.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s