KOMUNITAS IBU-IBU DOYAN “NULIS”


Awalnya, Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dibentuk melalui Facebook pada Mei 2010. Saat ini, IIDN tersebar di banyak kota. Mulai dari resep masakan sampai dengan novel mereka tulis. Kalau kopi darat, tak jarang mereka membawa anak-anak.

Foto pada penayangan ulang ini dipinjam dari IIDN Semarang.

IIDN Semarang

 
Menatapmu…
Lelah ini terurai dan merajut binar bahagia
Berulang kuketuk langit mulut
Dengan sapaan hangat penuh cinta
Anakku
Subhanallaah walhamdulillaah
Inikah surga yang Allah janjikan pada setiap ibu?
Puisi berjudul Bahagiaku itu ditulis oleh Siti Nuraida di blog grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN). Selain puisi, blog juga memuat ratusan tulisan, termasuk novel dan tulisan bertema kesehatan hingga psikologi.

Tulisan para perempuan yang sebagian besar memang berstatus ibu rumah tangga ini tak hanya dipublikasikan di blog dan Facebook dengan nama grup Ibu-ibu Doyan Nulis, tetapi juga di surat kabar dan majalah. Bahkan, sudah ada yang mempunyai buku sendiri yang diterbitkan penerbit lokal hingga nasional.

Seperti dikutip di atas, para ibu itu memang ingin berkarya lewat tulisan. Indari Mastuti (32), pendiri IIDN yang berdomisili di Bandung, memang hobi menulis. Sejak SMA, tulisan-tulisannya berupa artikel atau cerita pendek dimuat di majalah remaja.

Ibu dua anak ini pada pertengahan Januari lalu menjadi juara kedua lomba Wirausaha Muda Mandiri kategori perdagangan dan jasa, karena aktivitasnya sebagai agen naskah bernama Indscript Creative. Agen naskah yang didirikan tahun 2007 inilah yang menjadi penghubung antara penerbit dan penulis serta menjadi cikal bakal berdirinya IIDN.

”Permintaan tulisan dari penerbit jauh lebih banyak melebihi tulisan. Saya berpikir, mengapa tidak memberdayakan ibu-ibu saja. Apalagi, aktivitas menulis bisa dilakukan di rumah, dan pada akhirnya bisa menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga,” tutur Indari.

Cita-cita Indari kemudian diwujudkan dengan membuat kelompok IIDN melalui Facebook, Mei 2010. Dalam waktu sebulan, grup ini sudah beranggotakan 1.000 ibu. Saat ini sudah lebih dari 5.000 orang tercatat sebagai anggota.

Karena tersebar di banyak kota, dibentuklah koordinator wilayah yang bertugas mengatur arus informasi dari pusat ke wilayah atau sebaliknya. ”Anggotanya beragam. Ada ibu-ibu yang sudah terbiasa menulis dan belum. Namun, sebagian besar adalah mereka yang sudah biasa menulis, tetapi tidak tahu bagaimana caranya agar tulisan mereka bisa dipublikasikan,” kata Indari.
Novel sampai resep
Kepada pemula, Indari memberi tips bahwa menulis tak berarti harus menulis buku. ”Bisa saja dimulai dengan menulis buku harian, puisi, atau artikel sesuai dengan bidang yang dikuasai. Jangan berpikir harus menulis topik yang berat. Hal-hal sederhana yang berada di sekitar kita pun bisa ditulis,” kata Indari.

Ibu-ibu yang hobi memasak, misalnya, bisa menuangkan bumbu dan bahan yang biasa dimasak dalam tulisan resep. Saat resep-resep ini sudah terkumpul, jadilah buku resep. ”Atau bisa juga menulis seperti ini,” kata Indari, sambil memperlihatkan sebuah buku tentang cara memelihara kelinci yang ditulis oleh seorang ibu yang gemar memelihara kelinci.

Lygia Nostalina, anggota IIDN, bercerita, dia bahkan pernah memberi tips kepada ibu lain bahwa bertengkar dengan suami bisa dilakukan melalui tulisan. ”Kadang saya bilang kepada ibu-ibu, kalau sedang ribut dengan suami, enggak usah saling teriak, lebih baik curhat lewat surat saja sekalian latihan menulis, he-he-he,” kata Lygia, ibu tiga anak.

Di samping berbagi pengetahuan dan informasi secara personal, IIDN di Facebook juga menjadi media belajar bagi para ibu. Sejak 2011, diselenggarakan kelas online interaktif yang memberi informasi, di antaranya tentang cara menulis, tips agar tulisan dimuat di media cetak, dan bagaimana membuat outline yang baik. Sumbernya adalah para praktisi yang memiliki pengalaman di setiap bidang.
Bawa anak
Sebagai ibu, Lygia, Indari, dan para ibu lain harus mencari waktu untuk menulis di tengah kesibukan mengurus keluarga. Rata-rata, mereka bergelut dengan laptop setelah anak-anak tidur pada malam hari. Dita Ariebowo, yang menulis buku tentang budidaya jahe, misalnya, menulis ketika anak-anaknya terlelap.

Tak jarang, ketika acara kumpul-kumpul dilakukan sebulan sekali, para ibu ini membawa serta anak-anak mereka. Irma Irawati, misalnya, tak pernah absen menghadiri acara kopi darat sebulan sekali meski harus menyetir mobil dari Garut sambil membawa kedua putrinya, seperti yang dia lakukan saat anggota IIDN berkumpul di Bandung, Selasa (31/1/2012) lalu.

Dalam acara itu, selain makan siang, sekitar 20 ibu berkunjung ke kantor harian Pikiran Rakyat, Bandung. Kunjungan lain juga pernah mereka lakukan ke beberapa perusahaan, termasuk produsen kue yang banyak terdapat di Bandung.

”Acara kunjungan seperti ini diselenggarakan untuk menambah wawasan ibu-ibu karena sebagian besar waktu mereka habis untuk mengurus rumah tangga,” kata Indari.

Dari acara kumpul-kumpul ini pula, para ibu bisa berdiskusi dan berbagi proyek menulis. Tak hanya menulis untuk sebuah buku, tetapi juga dalam bentuk lain, seperti jurnal atau pamflet yang menjadi media promosi sebuah perusahaan.

”Lumayan, bisa dapat tambahan untuk jajan, beli baju, buku, dan mainan anak-anak,” kata Dita. (Yulia Sapthiani)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com pada 14 Februari 2012, 18:11 WIB.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s