INDARI MASTUTI, SRIKANDI IBU-IBU DOYAN NULIS DAN SEKOLAH PEREMPUAN


Kewalahan menerima permintaan penerbitan buku mengantarkan Indari Mastuti mendirikan Indscript Creativeyang bergerak di bidang agensi naskah. Bersama penulis lain, di mampu menggarap 60-100 buku sebulan. Bahkan, terkadang, dia merasa masih kekurangan penulis. Maka, lahirlah komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Dia juga kemudian mendirikan Sekolah Perempuan dan bermimpi mampu meciptakan sejuta penulis.

Foto; ibu-zahraa.blogspot.co.id

Keinginan untuk meningkatkan karier terus mencuat dalam diri wanita 37 tahun ini, untuk terus menciptakan lahan kerja yang nyaman sebagai ibu rumah tangga, yakni mendirikan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Sekolah Perempuan

Hobi menulis wanita asal Bandung ini sudah terbentuk sejak kecil. Tahun 1996 saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dia aktif mengirim artikel ke sejumlah media massa. Mendapat respon baik, semakin membuatnya bersemangat untuk terus menulis.

Begitu lulus kuliah, tahun 2002 Indari pun terjun ke dunia jurnalistik. Dia menjadi kontributor di berbagai media cetak. Selama 2 tahun menimba pengalaman sebagai jurnalis, Indari mulai menjajal masuk ke dunia penerbitan dengan menghasilkan sebuah novel. Indari sama sekali tak menyangka, novel debutan pertamanya yang berjudul Izinkan Aku Mencintai yang ternyata adalah pengalaman pribadinya, terjual bak pisang goreng.

Novel debutan pertamanya, Izinkan Aku Mencintai, terjual bak pisang goreng (www.ibu-ibudoyannulis.com).

Kewalahan Menerima Orderan Buku
Sejak novel pertamanya menjadi best seller, Indari menjadi freelancer di sejumlah penerbitan. Dalam sebulan ia sudah bisa menyelesaikan 3 buku sekaligus. Semakin hari permintaaan penerbitan ternyata semakin bertambah saja jumlahnya, sampai-sampai ia tak dapat memenuhinya. Tak ingin tawaran itu menguap begitu saja, Indari dan suami berdiskusi untuk mencari solusi.

“Sayang sekali kalau ada tawaran tapi nggak cepat direpon. Akhirnya saya dan suami berfikir untuk membuat sebuah wadah yang dapat menampung banyak penulis agar orderan yang masuk dapat langsung ditangkap dan direspon. Terus terang saya kewalahan menerima orderan buku, sementara saya sebagai ibu rumah tangga juga punya keterbatasan. Prioritas utama tetap mengurus anak, suami dan bagaimana tetap bisa menjaga kualitas penulisan,” tutur Indari saat ditemui di rumahnya yang juga sekaligus menjadi pusat aktifitas IIDN ini di Jl. PLN Dalam I No.1/203D, Moh Toha, Bandung

Akhirnya sambil tetap menjadi freelancer di sejumlah penerbitan, Indari mulai mendidirikan perusahaan Indscript Creative, sebuah litenary agencyataupun usaha jasa penulisan tempat berkumpulnya para penulis. Bersama penulis lain, Indari mampu menggarap 60-100 buku sekaligus dalam sebulan.

Indari mendidirikan perusahaan Indscript Creative,sebuah perusahaan yang bergerak di dunia penulisan dan bisnis (www.pictaram.org/hashtag/ibuibudoyannulis).

“Dengan konsep lintenary agency yang saya kembangkan ini ternyata permintaan buku menjadi booming sekali. Sebulan bisa 60-100 buku, bahkan terkadang saya merasa masih kekurangan penulis,” ujar Indari.

Untuk memenuhinya, Indari kemudian membuat sebuah wadah bernama Ibu-Ibu Doyan Menulis (IIDN). Melalui website IIDN, Indari menularkan semangat belajar menulis kepada para ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan kualitas dirinya.

Tepat pada Mei 2010, secara resmi Indari mendirikan IIDN. Ternyata animonya cukup besar. Dalam sebulan, tak kurang dari 1000 orang bergabung di website tersebut.

Indari saat mendirikan IIDN (catatanbund4.wordpress.com).

“Saya sungguh tak menyangka, dalam sebulan sudah begitu banyak yang ikut bergabung di website ini, mencapai seribu orang sudah, padahal saya cuma kasih tips penulis melalui sharing pengalaman saya sebagai penulis,” sebut wanita berkerudung ini yang belakangan ia juga fokus sebagai penulis biografi.

Website IIDN karya Indari Mastuti yang diserbu pengunjung (http://www.sehabooks.com)

Begitulah ibu Indari, beranjak Desember 2010 ia sudah mulai melahirkan satu persatu penulis. Dan dalam sekejap IIDN melambung tinggi. Mereka yang berhasil otomatis dengan senang hati mempromoikan IIDN. Saat ini IIDN sudah mencapai 13 ribu orang lebih yang tersebar di 20 tititk di Indonesia dan 10 titik di luar negeri.

Menurut Indari, melalui IIDN para anggota yang merupakan ibu rumah tangga dapat meningkatkan kualitas diri. Meskipun mereka berada di rumah, bukan berarrti tidak memiliki peluang untuk berkembang. Dengan bermodalkan fasilitas internet yang kian canggih, ibu rumah tangga yang bergabung dapat bergerak melihat dunia tanpa perlu keluar rumah.

Ibu-ibu Doyan Nulis, Wadah Kreativitas Kaum Hawa (www.ayogitabisa.com).

Mimpi 1 Juta Penulis dan Mendirikan Sekolah Perempuan
Setelah berhasil melahirkan dan mengangkat penuli-penulis IIDN, Indari pun mulai berfikir untuk mendirikan sekolah perempuan. Jika di IIDN Indari menularkan ilmu menulis lewat online, maka sebaliknya sekolah perempuan bersifat tatap muka.

Tepat tanggal 17 Agustus 2013 ia mendirikan Sekolah Perempuan. Pola pendidikan bukan pelatihan, tapi couching klinik.

Foto; indari.blogspot.co.id

“Di sekolah perempuan ini saya sudah menyiapkan materi-materi, mulai dari membuat ide, melakukan riset wawancara, melakukan praktik, outline, hingga bagaimana menghitung royalty. Dalam 12 kali pertemuan, alhamdulillah efektif meluluskan calon penulis berkualitas untuk beradu dipasaran,” jelas wanita berkaca mata ini.

Belum sampai berumur setahun, lanjut Indari, Sekolah Perempuan telah meluluskan sebanyak 2 angkatan. Angkatan ketiga masih berjalan. Rata-rata mereka cukup produktif menulis buku atau copy writer.

Sama halnya dengan IIDN, Sekolah Perempuan juga dibanjiri peminat. Mereka tidak saja berasal dari kota kembang Bandung, namun juga dari berbagai daerah dan Negara. Alhasil untuk mengobati rasa kecewa bagi mereka yang tidak dapat bertatap muka, Indari pun membuka kelas online.

“Kalau dari Jakarta banyak yang ke Bandung, selebihnya bisa belajar secara online. Untuk kelas online, dibuka mulai jam 2-5 sore. Dan untuk kelas offline atau tatap muka dimulai dari jam 8-11 siang. Peminatnya dari hari ke hari semakin banyak saja, mau tak mau saya harus membatasi karena mentornya hanya ada 5 orang,” ungkap Indari.

Bicara soal visi, ternyata ia punya mimpi ingin melahirkan 1 juta penulis wanita Indonesia.

“Insya Allah semakin banyak orang mengenal IIDN dan Sekolah Perempuan, maka kelahiran para penulis baru juga semakin meningkat, bisa sampai 1 juta penulis” harap wanita yang pernah terpilih sebagai Super Woman Indonesia dari Tagway Singapura awal tahun 2014 lalu.

Bicara royalty, beliau berpendapat bahwa menulis buku itu ada prosesnya, tidak bisa instan. Harus banyak belajar, membaca, berlatih dan mengasah kemampuan. Menulis 1 buku dalam waktu 6 buan hanya memperoleh Rp 1 juta. Mungkin tidak imbang, tapi kalau produktif bisa dihargai lebih dari itu. Ketika ingin membantu penghasilan suami, rata-rata seorang penulis yang ibu rumah tangga bisa punya penghasilan Rp 1,5 juta per bulan. Apalagi jika sudah sangat produktif dan bagus, kadang ada yang dihargai sampai 10 juta.

“Saya punya rumus, anda menulis 1 buku, maka bacalah 10 buku, dampaknya akan berkembang. Buat ibu rumah tangga, minimal wawasan akan berkembang dan kita akan semakin maju tidak tergilas perkembangan zaman,” pungkas Indari dengan mantap mengakhiri obrolan.

***

Ibu Indari Mastuti patut dijadikan inspirasi, beliau tidak ingin hanya mengandalkan pemasukan dari suami, malahan membantu penghasilan suami dengan mengali segala potensi dan bakat yang ia punya sedari kecil.

Indari Mastuti patut dijadikan inspirasi (Foto; indari.blogspot.co.id).

Dengan segala potensi, mental kuat dan kepercayaan diri, beliaupun tak ragu untuk mendirikan sebuah wadah ataupun komunitas. Hasilnya sangat mencengangkan. Beliau mampu mengajak para wanita seperti ibu-ibu rumah tangga untuk membangun bakat dan keterampilan menulis. Mereka pun yang tadinya tidak memiliki latar belakang atau pengalaman menulis, namun dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh IIDN dan Sekolah Perempuan serta mindsetyang selalu ditanamkan oleh ibu Indari pada anggotanya untuk menjadi penulis, kini sudah banyak penulis wanita Indonesia yang lahir dari IIDN dan Sekolah Perempuan. Hasilnya mampu meningkatkan kemapanan wanita khususnya para ibu rumah tanggga secara finansial melalui dunia tulis menulis, baik secara onlinemaupun offline.

Sebagai seorang sosok women entrepreneurship dengan segala prestasi dan pengalamannya sebagai seorang penulis yang tentu saja mendapat apresiasi dari masyarakat, saya pikir beliau sangat cocok berpartisipasi sebagai nominator perempuan inspiratif atau wanita sejuta inovasi dalam ajang penghargaan seperti Danamon Entrepreneur Awards 2017.

Artikel ini pernah tayang pada akun  Ikhwanul Farissa di pada 24 Oktober 2017, 17:09; diperbarui pada 24 Oktober 2017, 20:11 WIB.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s