KOMUNITAS DUA SAJA, BELAJAR SASTRA BELAJAR KEHIDUPAN


Di Komunitas Dua Saja, Ni Made Purnama Sari, Ni Made Frischa Aswarini, dan kawan-kawan mereka mempelajari sastra tak seperti di sekolah. Mereka juga belajar tentang kehidupan dan organisasi di komunitas yang didominasi perempuan ini. Sejumlah prestasi mereka tuai.

Karena ingin melebarkan sayap organisasi, Komunitas Dua Saja kemudian bermetamorfosisi menjadi Komunitas Sahaja. Perihal perubahan tersebut, Anda bisa baca di blog Komunitas Sahaja. Foto-foto pada penayangan ulang ini dipinjam dari  iseebali.com dan Jurnal Ruang.

Ni Made Frischa Aswarini

Tidak ada libur bagi Ni Made Frischa Aswarini, 15 tahun. Siswa SMA 7 Denpasar yang baru naik ke kelas II itu memilih sibuk belajar sastra bersama teman-temannya, ketika sebagian siswa sedang menikmati liburan panjang menjelang tahun pelajaran baru lalu.

Dua pekan lalu, meski hari beranjak malam, dia masih duduk di ruang tembus kaca milik arsitek Popo Danes di Tanjungbungkak, Denpasar. Petang itu dia membaca novel Larung karya Ayu Utami. Sesekali dia menyalin kata-kata menarik di novel bersampul cokelat tersebut.

Di kanan kiri Frischa, lima temannya sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang mengetik di laptop, ada yang membaca buku, ada pula yang menulis puisi. Ruangan itu penuh kegiatan sastra. Petang itu mereka baru usai berdiskusi tentang sastra bersama penyair Warih Wisatsana. Diskusi tentang sastra adalah salah satu dari sekian kegiatan Komunitas Dua Saja, begitu Frischa dan teman-temannya menyebut komunitas mereka.

Komunitas tersebut terbentuk pada 24 Mei 2006. Mereka dipersatukan minat yang sama yaitu di bidang sastra. Dua Saja mengacu pada nama sekolah mereka sebelumnya, SMP 2 Denpasar. Sejak di SMP mereka sudah sering berbagi pengalaman dan minat di bidang sastra. Mereka ikut ekstra kurikuler sastra yang mempelajari puisi, prosa, cerpen, bahkan teater di sekolah. Setelah lulus SMP, mereka masih sering bertemu. Biasanya nebeng di depan kafe milik Popo Danes.

Obrolan ketika merekua berkumpul tentang hidup sehari-hari dan sekolah. Sastra hanya jadi tema obrolan sesekali. Diskusi tentang sastra itu makin intens ketika mereka bertemu Warih Wisatsana, penyair di Bali yang karyanya juga sering dimuat media nasional dan sering bergiat dengan sastrawan sekolah.

Menurut Frischa belajar sastra di komunitas mereka memberikan pelajaran baru bahwa belajar tidak harus terlalu formal. “Pelajaran yang kami peroleh di sini tidak seperti di sekolah. Ketika di sekolah kami hanya diajarkan bahwa puisi itu harus berima AB AB. Padahal puisi itu membebaskan kata dari makna,” katanya.

Tak hanya mendiskusikan, mereka juga membuat puisi dan mengirim karya itu ke media massa maupun lomba di tingkat lokal dan nasional. Karya mereka pernah dimuat media Bali Post, Horison, Kawanku, hingga majalah wanita dewasa Femina.

Mereka juga rajin mengikut berbagai lomba di bidang sastra sejak mereka masih SMP. Frischa, kelahiran 17 Oktober 1991 itu, pernah juara kedua pada lomba drama modern SMP pada Pekan Seni Remaja 2005 dan juara pertama pada tahun berikutnya. Demikian pula Ni Putu Rastiti, salah satu anggota lain, pernah mendapat juara I lomba musikalisasi puisi yang diadakan Komunitas Kertas Budaya Jembrana tahun lalu.

Ni Made Purnama Sari

Ni Made Purnama Sari, Koordinator Komunitas Dua Saja, Juli lalu bahkan mendapat juara II lomba cerpen yang diadakan Universitas Diponegoro Semarang. Gadis yang lahir di Klungkung 22 Maret 1989 ini juga langganan juara lomba karya sastra, puisi maupun cerpen, di tingkat lokal dan nasional. “Ya, senanglah karya kita bisa menang. Itu kan menjadi semacam pencapaian dalam karya kita,” kata Purnama tentang prestasi itu.

Menurut Purnama, kemenangan satu di antara mereka menjadi bahan belajar bagi anggota lain. “Tidak ada saling iri di antara kami hanya karena ada yang menang lomba atau karyanya dimuat di media dan teman lain tidak. Itu malah memotivasi teman lain. Sebab kami juga belajar bermasyarakat, bukan hanya tentang sastra,” kata Purnama yang kini sedang menulis novel pertamanya.

Komunitas Dua Saja pun pelan-pelan mengubah kebiasaan mereka. Frischa, misalnya, mengaku sebelum ikut Komunitas Dua Saja lebih sering ke toko baju. “Sekarang sering ke toko buku,” katanya.

“Kami belajar tentang kematangan jiwa agar sadar keberadaan diri sehingga lebih hati-hati melangkah. Biasa di rumah bertengkar dengan saudara. Dulunya saya berpikir bahwa saudara saya kurang ajar. Saya membenci saudara saya. Namun setelah belajar sastra, saya kemudian mengoreksi diri sendiri agara tidak hanya menyalahkan saudara saya,” kata Ni Ketut Sudiani, anggota lainnya. Bagi mereka, sastra juga mengajarkan tentang kehidupan.

Selain belajar mengapresiasi maupun membuat cerpen, puisi, dan teater Komunitas Dua Saja memang belajar juga berorganisasi. Mereka sering menjadi relawan kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan secara umum, misalnya kegiatan Konsul Prancis di Bali melalui Alliance Francaise. “Kami juga sekalian belajar mengenal orang lain dengan kegiatan seperti itu,” kata Frischa.

Sayangnya, di Komunitas Dua Saja sedikit remaja laki-laki. “Bisa jadi karena modernitas memang membentuk mental bahwa sastra bukan sesuatu yang bagus buat anak laki-laki,” kata Warih Wisatsana. Menurut Warih, kita hanya siap menerima modernitas tapi tidak siap menelaahnya. “Makanya anak laki-laki lebih senang main ke tempat dugem daripada belajar tentang sastra yang bagi mereka dunia feminim,” lanjutnya.

Padahal, lanjut Warih, teknologi bisa jadi alat yang memanjakan remaja untuk belajar sastra. “Dengan teknologi mereka lebih punya banyak tempat untuk mencari dan punya pilihan untuk memuat hasil karya. Tidak melulu koran dan media cetak sehingga lebih demokratis,” ujarnya.

Karena itu ke depan Komunitas Dua Saja juga akan lebih peduli pada teknologi, terutama teknologi informasi. Kalau selama ini internet lebih banyak digunakan untuk mencari bahan tentang sastra dan mengirim karya, anggota komunitas ini juga sedang membuat media online untuk memuat karya-karya mereka.

Media online ini akan melengkapi proyek mereka dalam waktu dekat, membangun perpustakaan sastra dan seni modern di Denpasar. Perpustakaan ini nantinya akan dibuat di ruangan tempat mereka berdiskusi petang itu. Mereka bekerja sama dengan sejumlah orang yang seperti Popo Danes, Jean Couteau, Hartanto, Putu Fajar Arcana, Polenk Rediasa, dan Warih sendiri.

Sebagai awal, mereka sudah mendapat hibah buku-buku literatur, kumpulan artikel, rangkuman esai, serta buku-buku non-fiksi berbahasa asing dari keluarga almarhum Usadi Wiryatnaya. Perpustakaan dan pusat dokumentasi sastra ini akan melengkapi pencapaian mereka di usia yang masih remaja. [b] (Anton Muhajir)

Berita ini pernah dipublikasikan di Bale Bengong pada 19 Juli 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s