NI MADE FRISCHA ASWARINI: PENYAIR YANG PENYIAR


Perkenalan panjang Ni Made Frischa Aswarini dengan kesusastraan, terutama puisi, telah mengubah hidupnya. Menulis puisi seperti sebuah aktivitas yang menawarkan pengalaman transenden. Puisi menjadi semacam terapi yang mampu menjernihkan hatinya.

Pergaulan kreatif di Komunitas Sahajakian memotivasi Frischa untuk terus menulis dan membaca sastra. Pergaulannya dengan kawan-kawan komunitas sastra sangat berpengaruh bagi perkembangan dan eksistensinya di dunia sastra itu sendiri.

Busana putih bergaya Cheongsam dengan motif bunga sederhana membalut tubuh mungil Ni Made Frischa Aswarini. Tidak, tidak ada darah Tionghoa mengalir di dalam tubuhnya. Kebetulan saja ia menyukai gaun berwarna lembut itu. “Ini yang terbaik yang ku temukan di rumah,” akunya penuh tawa di hadapan tim M&I Magazine.  Perempuan kelahiran 17 Oktober 1991 ini tak berias berlebihan. Wajah teduhnya selaras dengan atmosfer sejuk halaman belakang sebuah art space di bilangan Hayam Wuruk. Parasnya beberapa kali merona ketika kamera berusaha membidik ayunya. Nuansa hangat makin menjalar di saat warna suara beratnya yang khas itu meletup-letup di sepanjang 45 menit wawancara. Tutur bicaranya halus dan runut, bahkan selalu tersisipi diksi manis. Ia mengaku gaya bicara tersebut diasahnya semenjak bergabung di sebuah komunitas sastra. “Aku berlatih membuat artikulasi yang lebih jelas, olah pernapasan, dan meresapi setiap kalimat yang hendak kuungkapkan. Ini akhirnya tidak hanya berguna saat membaca puisi, tetapi juga sangat membantu ketika harus tampil sebagai MC atau moderator,” ungkapnya.

Dara yang akrab disapa Frischa ini malah mengaku bukan pembicara ulung. Bahkan ketika masih duduk di bangku SMP, ia termasuk orang yang gagap dalam setiap percakapan. “Enggak gugup aja aku sering gagap dulu,” candanya. Namun, perkenalan panjangnya dengan dunia sastra khususnya puisi telah mengubah hidup dan kegagapan perempuan yang berdomisili di bilangan Batubulan ini.

Proses Kreatif
Bagi gadis yang pernah membacakan puisi di hadapan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ini, menulis puisi seperti sebuah aktivitas yang menawarkan pengalaman transcendence. “Dalam proses mencipta sajak, ada momen tertentu yang rasanya hampir sama seperti ketika kita sedang beryoga atau melakukan doa yang khusuk. Ada ruang untuk merenung di sana,” katanya. Penulis puisi Petang Penuh Pujaan (2009) , ini mengakui ia kerap menciptakan waktu dan suasana tersendiri untuk bisa menulis puisi. Ia tidak melulu harus menunggu inspirasi datang untuk bisa berkarya. “Kadangkadang tidak harus menyepi atau khusus di malam hari, kita bisa  menulis puisi. Bahkan kalau lagi ada kuliah pun, jika ada inspirasi yang terlintas, langsung aku catat di HP,” tambahnya. Banyak cara untuk bisa memancing mood menulis. Bagi Frischa, memutar musik atau menonton film adalah cara paling  efektif. “Sebelum kemari, aku sempat nonton Walk The Line dan itu membuat aku banyak merenung. Beberapa hari yang lalu juga, aku buka lagi koleksi film lawas seperti Trilogi The Godfather,” ungkap perempuan yang juga hobi nonton ini.

Bagi Frischa, puisi telah memberi banyak arti kepada hidupnya. “Melalui puisi, aku memperoleh apresiasi dari orang lain dan prestasi yang perlahan menumbuhkan rasa percaya diriku. Gagap pun akhirnya hilang,” terang putri dari I Made Bangli dan Desak Putu Sukarini. Tengok saja beberapa judul karyanya yang tersebar di media cetak lokal dan nasional, seperti Tempo, Kompas, Bali Post, serta Pikiran Rakyat.

Juga terselip di dalam antologi-antologi puisi bersama kawan sastrawan, semisal antologi puisi bersama Kampung Dalam Diri, Temu Penyair Muda Lima Kota (2008), antologi puisi Temu Sastrawan Indonesia II Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), antologi Temu Sastrawan Indonesia IV Sauk Seloko (2012), Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2012), antologi Coleur Femme, Forum Jakarta-Paris, Alliance Francaise (2011). Eksistensi Frischa di dunia sastra juga pernah mengantarkannya sebagai salah satu pembicara di Ubud Writers & Readers Festival 2013, serta pembicara dialog budaya di Publika, Kuala Lumpur.

Lepas dari seluruh riak prestasinya, menulis puisi rupanya juga membantu pertumbuhan pribadi Frischa. Puisi menjadi semacam terapi yang mampu menjernihkan hatinya. “Ketika pikiran dan perasaan dipenuhi dengan berbagai macam hal. Peristiwa-peristiwa yang membekas, entah itu yang indah atau tidak. Serasa sesak dalam diri. Semua itu bisa dijernihkan dengan jalan menulis puisi. Semua itu bisa kita luapkan melalui puisi,” jelasnya.

Perjumpaan
Frischa meraba-raba kembali ingatan tentang kali pertama perjumpaannya dengan puisi. “Aku sudah mengenal puisi dari SD. Namun baru benarbenar tertarik mendalaminya sejak SMP,” tutur  alumni SMPN 2 Denpasar. Puisi berjudul Penantian yang ditulisnya sewaktu SMP ternyata dimuat di majalah sekolahnya. Inilah yang membuat Frischa menjadi ketagihan untuk menulis puisi. Ketika menginjak masa SMA, menulis puisi bukan lagi sebatas keisengan belaka, melainkan mengarahkannya sebagai sebuah cita-cita untuk menjadi seorang penyair.

“Sempat ada jeda untuk menulis puisi ketika memasuki tahun pertama di bangku SMA. Namun, pada 2008 di kelas 2 SMA, aku merasa berjodoh dengan puisi. Itu lantaran aku bertemu lagi dengan teman-teman di masa SMP yang kemudian membentuk komunitas sastra, dan aku bergabung di kelompok itu,” papar perempuan yang aktif di Komunitas Sahaja ini. Berkat pergaulan kreatif di komunitas sastra bersama kawan-kawannya itulah, akhirnya Frischa kian termotivasi untuk lanjut menulis dan membaca sastra.

Bagi pengagum penyair Sitor Situmorang dan Chairil Anwar ini, pergaulannya dengan kawan-kawan komunitas sastra sangat berpengaruh bagi perkembangan dan eksistensinya di dunia sastra itu sendiri. Di sana, ia bisa bertukar pikiran tentang segala hal baik itu tentang dan di luar sastra. “Ada orang yang bisa tumbuh sendiri dan ada pula karena didukung pergaulan. Nah aku termasuk orang di kategori terakhir. Menyadari hal ini, adalah tugasku untuk membuat pergaulan ini terbuka bagi teman-teman muda lainnya, berbagi pengalaman kreatif kepada siapa saja, karena aku tahu manfaatnya yang luar biasa ” serunya.

Sebelum fokus di ranah puisi, Frischa juga pernah mencoba menulis karya jurnalistik, karya ilmiah, esai, maupun cerita pendek. Namun, Frischa memang lebih jatuh cinta untuk menulis puisi. “Aku senang menulis esai untuk mengungkapkan gagasan, aku pun bercita-cita membuat novel suatu saat nanti, tetapi sekarang ini memang hati cenderung memilih puisi untuk ditekuni lebih dalam.”

Dunia teater juga pernah dimasukinya, meskipun mahasiswi semester akhir Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana ini mengaku tak pernah mencicipi peran aktor, melainkan sebatas berkutat di belakang panggung. Namun pengalaman berharga pernah menghampirinya saat ia dibujuk oleh teman-teman di komunitas untuk mengikuti sebuah lomba monolog.

“Sempat ragu dan pesimis ikut serta dalam lomba itu. Aku ini termasuk orang yang rendah diri dan kurang percaya diri, terlebih saat tampil di depan umum. Sebab pas SMP dulu, gara-gara gugup, aku pernah sampai lupa teks, saat lomba pidato Bahasa Inggris,” kenangnya penuh tawa. Akhirnya tantangan tersebut diterjangnya. Meski tidak berhasil membawa gelar juara, namun ia berhasil menaklukan ketakutannya untuk tampil di depan banyak orang.

Menulis puisi memang bukan perkara mudah. Di mata Frischa, tantangan dalam menulis puisi adalah bagaimana ia mampu mencurahkan pengalaman batin yang terpendam dalam alam bawah sadar sekaligus meramu itu semua menjadi serangkaian kata-kata yang terpilih, penuh makna namun tidak klise. Diakuinya, pengalaman batin itulah yang sangat membantu dalam memperkaya tulisan bahkan memunculkan hal-hal yang tidak bisa direka dengan pikiran sadar. Pengalaman tersebut berasal dari episode-episode masa lalu yang pernah ia lalui. Dalam hal ini, menurut Frischa, segala musibah yang dialami penyair bisa menjadi berkah dan anugerah dalam penciptaan puisi.

Frischa percaya bahwa bakat alamiah saja tidak cukup untuk membuat seseorang bisa berkiprah lama di dunia sastra. “Harus ada kerja ekstra untuk mengasah bakat melalui latihan menulis, membaca dan ‘mengalami’ kehidupan, artinya, harus ikut bersentuhan dengan berbagai masalah sosial, budaya, dan sebagainya serta tak lupa mengikuti perkembangan sastra yang ada. Aku sendiri masih perlu banyak belajar,” tegas dara berkulit kuning langsat ini.

Kini kesibukan Frischa tidak hanya bersinggungan dengan dunia penyair dan aktivitasnya sebagai seorang mahasiswi. Melainkan, ia juga menerima kesempatan lain di luar ranah sastra. Peluang menjadi penyiar di sebuah stasiun televisi pun tidak disia-siakannya. “Tidak pernah terbesit di benakku untuk menjadi seorang penyiar. Kebetulan saat aku mengikuti acara talkshow yang menghadirkan Slamet Rahardjo, aku ikut terlibat dalam diskusi, dan di akhir acara aku pun ditawari ikut audisi sebagai presenter oleh Kepala Stasiun TVRI Bali,” terangnya.

Di stasiun televisi tersebut, Frischa kerap membawakan berita maupun talkshow seputar politik dan budaya. Baginya, bidang tersebut mentransfer banyak wawasan untuknya. “Banyak pengalaman baru yang aku dapatkan, terutama mewawancarai orang-orang yang tak biasa,” ujar Frischa yang pernah mewawancarai Staf Khusus Presiden, Ketua BPK RI, Duta Besar, Gubernur, politisi, budayawan dan lainnya. Dalam seminggu, ia tampil di layar kaca dua sampai empat kali. Kesibukan barunya tersebut sempat mengurangi produktivitasnya dalam menulis puisi, namun segera dapat ia benahi dengan kembali mengatur mood menulisnya.

Frischa sadar bahwa menjadi penyair adalah semacam “panggilan” dan penyair manapun (terutama di Indonesia) tidak bisa berekspektasi tinggi, bahwa profesi ini akan mendatangkan pendapatan. Namun, diakuinya, melalui seni ia bisa lebih menikmati hidup. “Jika kita cuma kerja cari uang dan menjalani rutinitas yang selalu sama, ya kita akan segitu-segitu saja. Berkesenian sangat menolongku untuk bisa jeda dari hal-hal yang membuat hidup terasa mekanis. Selalu ada yang baru dalam seni, itu membuatku masih mampu merasa takjub pada hidup,” tuturnya.

Selain target untuk melanjutkan jenjang pendidikan S2 di luar Bali, dalam waktu dekat Frischa dan komunitasnya juga berencana kembali mengadakan workshop menulis puisi yang terbuka untuk umum. Bukannya hendak menunjukan bahwa dirinya seorang yang ahli, Frischa hanya ingin berbagi pengetahuan yang ia miliki tentang sastra. Ia pun meyakini bahwa seorang seniman tidak cukup hanya asyik masyuk dengan dirinya sendiri, tetapi mesti bersentuhan dengan lingkungan sosial, sharing dan memperluas pergaulan sangat diperlukan.

“Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan/ tembus jelajah dunia ini dan balikkan…,” kutipan baris puisi Chairil Anwar tersebut menjadi kalimat penutup Frischa dalam wawancara bersama M&I Magazine. Menurut perempuan berakun Twitter @frischa_swarini, spirit yang harus dijaga oleh setiap orang adalah menolak untuk merasa cepat puas. Seperti sebuah gelas, hidup hendaknya terus menerus diisi dengan berbagai pengalaman. Inilah yang kuasa membuat kita terus takjub kepada hidup, senantiasa termotivasi untuk selalu menjadi lebih baik. (Teks: Putra A., foto: IB Baruna)

Berita ini pernah tayang di moneyinsight.id pada 23 Mei 2014, lalu tayang ulang di  iseebali.com pada 8 Mei 2017. Foto pada tayang ulang kali ini dipinjam dari kedua sumber tersebut.

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s