KEINDAHAN DAN KEKUATAN PATREM


Chyé Rétty Isnéndés urung mendaftar menjadi anggota Paguyuban Pangarang Wanoja Sunda Patrem lantaran syaratnya dianggap berat: sekitar 20 cerita pendek atau carita pondok (carpon) sudah dipublikasikan media massa. Tapi, setelah carpon-nya sering dipublikasikan Majalah Mangle, dia malah diundang untuk bergabung.

Chyé Rétty Isnéndés

(Menyambut Ulang Tahun PATREM yang ke-28 Tahun)


Citraresmi neuteup seukeut pakarang
laju sasauran ka para mojang
: Najan pangawak cawéné
dia kabéh montong lawa-lewé
Pageuhkeun tangtung
geura cabut patrem tina gelung
Hayu milu jurit tandang
palias ngandarjangjang!
Ahung! Ahung! Ahung!…

(“Sang Mokténg Bubat”-puisi karya Chyé Rétty Isnéndés
dalam bukunya Nu Nyusuk dina Sukma (2010))
Tahun 1993 saya mulai kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda. Dari tahun itu pula saya mengenal kata ‘patrem’ dari perbincangan kakak-kakak tingkat, terutama mahasiswi yang juga penulis dan pengarang, di antaranya Teh Risnawati, Teh Imas Rohilah, dan Teh Dian Ratnaningsih.

Saya mulai bertanya-tanya apa sih patrem itu dan saya menemukan jawaban sementara, bahwa patrem itu semacam cucuk gelung. Di Sukabumi saya hanya kenal kata cucuk gelung saja atau aspel, patrem tidak saya kenali. Tapi selain itu, saya menemukan jawaban ‘aneh’ bahwa patrem adalah senjatanya putri Sunda yang labuh pati di Palagan Bubat.

Ketika saya membaca karya sastra Sunda puisi dan prosa, saya menemukan juga kata itu, terlebih dalam prosa. Dalam puisinya Sayudi Lalaki di Tegal Pati, (1963) secara eksplisit tidak menyebut ‘patrem’. Sayudi hanya menyebutnya ‘wangkingan’. Walaupun begitu, saya yakin bahwa putri Sunda itu menggunakan patrem untuk membela kehormatannya. Demikian saya kutip:

Dilagar wangkinganana
Dibebener kana angen
Dilelebah kana manah
Rep sarerep sirep
Wangkingan malang na raga
Tjitraresmi labuh pati

Lalu pada roman sejarahnya Yoseph Iskandar Perang Bubat (1988) teka-teki patrem itu semakin menguak dan jelas. Diceritakan bahwa Pamanda Dewi

Citraresmi, Mangkubumi Bunisora Suradipati membekali keponakannya dengan sebuah patrem sebelum keponakannya tersebut pergi menjemput janji.

“Geus dibahanan?” ceuk prabu Maharaja Linggabuana.

“Ari jampe mah geus ti mangkukna, ngan ieu hayang mikeun ieu…” ceuk Mangkubumi Bunisora Suradipati, bari ngusiwel ka jeroeun jubah bodasna, ngaluarkeun patrem.

“Ambuing, alus temen Paman? Tina perak ieu teh?” ceuk Putri Citraresmi bari ngarebut patrem tina leungeun pamanna.

“Gagangna mah enya tina perak, ngan seuseukeutna tina waja putih,” tembal Mangkubumi Bunisora Suradipati…

Dari kutipan di atas dijelaskan bahwa patrem dalam kasus Putri Citraresmi adalah senjata (kecil) yang juga bisa dipakai sebagai cucuk gelung. Hal ini berbeda dengan kasus Putri Purnamasari dalam cerpen Saleh Danasasmita Ruhak Pajajaran (1966), patrem yang dipakai putri tersebut tetap merupakan cucuk gelung yang seuseukeut-nya bisa dipakai senjata yang bisa menusuk jantung bajo atau bajak laut yang akan menghinanya.

Pengertian patrem ditegaskan lagi pada kamus basa Sunda. Bahwa ternyata kata ‘patrem’ berasal dari bahasa Tamil yang artinya sejenis sekin (sikkin, b. Arab) atau sejenis pisau kecil yang ujungnya agak melengkung seperti congkrang dan dibawa oleh para perempuan Sunda jaman dahulu yang berguna untuk membela diri.

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa pengertian patrem bermacam-macam sesuai makna yang dimuatkannya. Tetapi bisa disimpulkan bahwa patrem adalah: 1) bisa berupa cucuk gelung biasa dengan fungsi ganda, sarana estetis dan sarana pertahanan diri dan 2) bisa berupa pisau kecil yang dibuat sedemikian rupa yang berfungsi ganda pula, sarana pertahanan diri dan sarana estetis. Fungsi mana yang dipakai menjadi titik tekan kata ‘patrem’ yang dimaksud. Tetapi kedua-duanya menjadi identitas patrem dan perempuan itu sendiri.

Saking takjubnya pada patrem dan Citraresmi, setelah membaca roman sejarahnya Yoseph Iskandar, saya membuat puisi ‘Sang Mokteng Bubat’ (1995), roman sejarahnya Yoseph Iskandar menjadi hipogram bagi karya saya. Puisinya ada pada buku terbaru saya Nu Nyusuk dina Sukma yang digelar hari ini di YPK dan akan dilounching tanggal 2 Desember mendatang.

Nah, setelah itu, saya kemudian memperhatikan lagi paramahasiswi senior yang menjadi kakak-kakak tingkat saya tersebut. Mengapa mereka suka sekali membicarakan patrem sebagai tempat berkumpul dan menjadi ekspresi identitas mereka? Apakah arti patrem yang itu?

Teh Risnawati menjelaskan bahwa patrem ini adalah PATREM, sebuah organisasi penulis perempuan, yang pada waktu itu masih diketuai oleh Ibu Tini Kartini. Dalam benak saya apakah saya akan menjadi anggota PATREM? Tapi katanya untuk menjadi anggota PATREM syaratnya cukup berat, yaitu harus sudah dimuat carponnya sekira 20 carpon, maka akan diakui sebagai anggota PATREM. Wah! Saya baru mempublikasikan tulisan di Mangle tahun 1994. Akhirnya saya menjadi tidak berminat dan melupakan menjadi anggota PATREM. Di tengah perkuliahan, ternyata saya terus menulis carpon dan dipublikasikan oleh Mangle.

Tahun 1996 saya diundang oleh PPSS (Paguyuban Pangarang Sastra Sunda) untuk bergabung. Eh, tahun 1997 saya diundang juga oleh Bu Tini untuk ikut serta mengaktifkan PATREM. Alhamdulillah. Pada tahun itu juga saya mencermati bahwa aktivitas PATREM lebih lambat bila dibandingkan dengan paguyuban pangarang lainnya. Hal ini dikarenakan para pengurusnya adalah ibu-ibu yang aktivitasnya dan sepak terjangnya terhalang oleh kegiatan rumah tangga. Teteh-teteh mahasiswi juga sudah pada lulus dari IKIP dan sibuk dengan kegiatannya mencari pengalaman baru (bekerja). Walaupun demikian, para ibu atau para pengarang perempuan yang bergabung dalam PATREM tersebut tetap membina diri, membuat kesibukan-kesibukan, dan menggelar kegiatan-kegiatan kesastraan.

Tahun 1998 saya dipercaya menjadi Sekretaris Umum mendampingi Bu Naneng Daningsih (istrinya Pa Saini KM) yang pada waktu itu menjabat Ketua Umum. Saya mendampingi beliau hingga dua periode (1998-2000, 2000-2002). Ketika saya kuliah lagi di Yogyakarta, saya tidak mengetahui pasti perkembangan PATREM. Tahun 2006, sepulang dari Yogyakarta, saya dipercaya lagi menjadi Sekretaris Umum mendampingi Bu Aam Amilia yang menjadi Ketua Umum, hingga sekarang 2010, dua periode juga (2006-2008, 2008-2010).

Hasil bergaul dengan karya sastra dan sastrawati Sunda (yang banyak berkumpul dalam PATREM), saya angkat menjadi bahan tesis. Dalam tesis saya, disusun angkatan kepengarangan sastrawati Sunda. Penulis perempuan atau sastrawati yang tidak berjumlah 50 orang itu terangkum dalam tiga angkatan. Yaitu sebagai berikut.

Angkatan 1950-1960, pengarang angkatan ini diwakili oleh Suwarsih Djojopuspito dan Suratmi Sudir. Angkatan 1960-1980, pengarang-pengarang angkatan ini adalah: Tini Kartini, Tien Wirahadikusumah, Atie W.R., Aam Amilia, Hana RS, Yati M. Wihardja, Damarjanti, Ningrum Djulaeha, Etty S, Sukaesih Sastrini, Ami Raksanagara, Naneng Daningsih, En Henri Sinaga, Yooke Tjuparmah, Tetty Suharti, Etti RS, Dyah Padmini, Holisoh ME, dll. Angkatan 1980-2000, pengarang-pengarang angkatan ini adalah: Tetti Hodijah, Nita Widiati Efsa, Risnawati, Imas Rohilah, Dian Ratnaningsih, Elis Ernawati, Chye Retty Isnendes, Pipiet Senja, Rin Candraresmi, dll. (Mungkin nanti bisa ditambah dengan angkatan seterusnya yang kelihatannya telah muncul nama-nama penulis perempuan yang baru, semisal: Ruhaliah, Senny ‘Suzana’, Tevi Sonika, Tika Yuanita, Lismanah, Nunung Saadah, atau Onnok Rahmawati.)

Setelah bergaul dengan PATREM juga, saya menghubungkan pemaknaan patrem dengan PATREM. Dalama anggaran dasar, kata tersebut tidak dijelaskan secara eksplisit, tetapi menurut mantan ketua Ibu Ami Raksanagara, bahwa PATREM ini memang mengadopsi makna patrem secara estetis dan secara senjata serta mengaitkannya dengan peristiwa sejarah Palagan Bubat. Kini, dalam ART dicantumkan bahwa PATREM adalah paguyuban sastrawati Sunda dengan memiliki lambang sanggul wanita Sunda yang menggunakan tusuk konde patrem, yang berarti kekuatan, kehormatan, martabat, dan keindahan. Patrem menjadi simbol paguyuban sastrawati Sunda PATREM yang diharapkan menjadi metamorfosis kekuatan, kehormatan, martabat, dan keindahan yang ditorehkan melalui karya tulis sastra Sunda.

Hari Kamis tanggal 4 Nopember 2010 adalah ulang tahun PATREM yang ke-28 tahun. Hari ini tanggal 6 Nopember 2010 PATREM bekerja sama dengan PASI (PASUNDAN ISTRI) pusat menggelar Seminar Nasional sehari di gedung YPK. Menurut Dra. Hj. Tetti Khodijah, pengurus PATREM yang juga staf Museum Sribaduga, seminar akan menyajikan topik Wanoja, Sastra, dan Tatakrama dengan sasaran anggota PATREM, anggota PASI, dan mahasiswa. Ketua PASI Pusat yang juga pembina PATREM, Ibu Dra. Hj. Popong Otje Djundjunan mengharapkan kerja sama antara PATREM dan PASI terus berlangsung dengan menggelar kegiatan-kegiatan sastra dan keperempuanan.

Patrem sebagai produk budaya yang tercatat pada sejarah dan sastra Sunda kini bertransformasi pada organisasi perempuan, baik organisasi sastra maupun organisasi sosial dan politik. Kekuatannya bertransformasi pada kegiatan-kegiatan yang digulirkan para perempuan tangguh masa kini. Semoga keindahan dan kekuatan terus menyertai PATREM sehingga martabat perempuan dalam bidang penulisan karya sastra diabadikan zaman. Amiin.

Cigugurgirang, 02 November 2010

Esai ini pernah dipublikasikan di Tribun Jabar, Sabtu, 6 November 2010, kemudian ditayang ulang di Chye Retty Isnendes Blog .

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s