PARADOKS KEGAIRAHAN KOMUNITAS SASTRA DI INDONESIA


Kegiarahan perkembangan komunitas sastra di Indonesia menyimpan sejumlah paradoks. Mulai dari kelonggaran loyalitas anggota, ketakimbangan relasi antaranggota, keterbatasan dana, hingga pengelolaan organisasi secara sambil lalu.

Foto: FASBuK

Iwan Gunadi
Penjaga Gawang Indonesia Literary Community dan Bale Buku Bekas

Banyak karya sastra dihasilkan para anggota komunitas sastra. Banyak buku diterbitkan komunitas sastra. Tapi, dokumentasi menjadi persoalan serius yang dihadapi pelbagai komunitas sastra di Indonesia. Kegairahan menghasilkan karya sastra tak diimbangi kesadaran kolektif yang tinggi untuk mendokumentasikannya, apalagi secara sistematis.

Kondisi tersebut merupakan produk turunan dari persoalan serius yang dihadapi bangsa Indonesia dalam pendokumentasian karya cipta, apa pun bentuk atau wujudnya. Dokumentasi tak dianggap penting oleh sebagian besar bangsa ini dan itu bukan rahasia lagi.

Wajar jika sebagian besar komunitas sastra tak menyimpan secara lengkap karya sastra yang diterbitkan mereka atau data-data hasil kegiatan mereka. Tak heran jika Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan perpustakaan di daerah masing-masing komunitas tak memiliki karya-karya sastra itu secara lengkap. Padahal, Pasal 4 dan 5 Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam mewajibkan setiap penerbit karya cetak menyerahkan dua eksemplar karya cetak ke PNRI dan satu eksemplar ke perpustakaan provinsi tempat domisili penerbit serta setiap produsen karya rekam menyerahkan satu salinan karya rekam ke PNRI dan satu salinan ke perpustakaan provinsi tempat domisili produsen. Apalagi, sanksi pelanggar ketentuan tersebut tak seberat UU sebelumnya,  UU Nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, yang menjerat pelanggar dengan sanksi pidana.

Sebagian besar komunitas sastra memang tak menempatkan kegiatan pendokumentasian sebagai agenda utama mereka. Padahal, ketika mereka menerbitkan buku atau terbitan berkala; membuat website, webblog, atau media sosial; merekam pembacaan atau pementasan karya sastra; merekam kegiatan sastra lisan; dan sejenisnya; semua itu sesungguhnya bagian dari upaya pendokumentasian. Tapi, ketika jejak pendokumentasian itu tak mudah dilacak atau bahkan pendokumentasian itu benar-benar kehilangan jejak, komunitas sastra telah menjadi suatu paradoks.

Loyalitas Longgar
Mudahnya setiap orang membentuk atau keluar-masuk suatu komunitas sastra memang menjadi persoalan lain yang dihadapi hampir semua komunitas sastra di Indonesia. Kenyataan tersebut mengesankan bahwa loyalitas para anggota tak kokoh, meski sebagian besar komunitas sastra di negeri ini hanya didukung sedikit anggota. Sistem keanggotaan yang longgar mempermudah mereka menjadi anggota pada lebih dari satu komunitas atau bahkan mendirikan komunitas baru tanpa menghilangkan keanggotaan mereka pada komunitas sebelumnya. Kelonggaran tersebut tak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa sebagian besar komunitas sastra di negeri ini merupakan organisasi tak formal.

Loyalitas memang karakter yang langka pada kebanyakan komunitas sastra di Indonesia. Selain sistem keanggotaan yang longgar, sebagaimana cabang kesenian yang lain, kesusastraan lengkap dengan masyarakat pendukungnya memang telanjur diidentikkan sebagai dunia ketersendirian. Karakter petualang yang melekat dalam dunia ketersendirian tersebut merangsang mereka untuk terus mencari, termasuk pencarian yang menuntut mereka melakukan mobilitas yang tinggi. Kalaupun kemudian masyarakat pendukung kesusastraan itu membangun atau memasuki suatu organisasi, entah formal, lebih-lebih tak formal, sifat bawaan dunia ketersendirian itu seperti sukar dilepaskan. Jadilah pendirian organisasi komunitas sastra menyimpan paradoks lain pada dirinya sendiri.

Relasi Tak Imbang
Paradoks juga terjadi ketika tak sedikit komunitas sastra dibentuk dengan relasi yang tidak imbang antaranggotanya. Relasi yang tidak imbang tersebut mungkin lahir lantaran komunitas itu sejak awal memang berfungsi sebagai sanggar atau wadah pembibitan atau pelatihan. Dalam kondisi demikian, potensi konflik antarkepentingan mungkin lebih kecil untuk terjadi atau bahkan tak ada celah. Sebab, komunitas semacam itu dibangun dengan kesadaran bahwa relasi antaranggotanya memang timpang. Tak heran bila pihak yang terdominasi atau terhegemoni kekuasaan itu tak merasa dirugikan.

Dalam relasi tak imbang itu, biasanya, ada pemuka yang berperan sebagai pusat kekuasaan. Seluruh instrumen komunitas berputar dalam hegemoninya. Seluruh anggota komunitas biasanya berusaha mengidentifikasi diri sesuai dengan keinginan, pemikiran, dan sikap sang pemuka.

Walaupun mungkin sang pemuka tak menghendaki hal-hal semacam itu terjadi, sikap feodalistik para anggota tak jarang membuat mereka sungkan atau “takut” mengidentifikasi diri menjadi sesuatu yang bertentangan dengan keinginan, pemikiran, dan sikap sang pemuka. “Takut” dinilai tak sopan, tak tahu diri, dan semacamnya seolah-olah telah menjadi senjata yang dibikin mereka sendiri untuk membunuh keakuannya. Padahal, di sisi lain, di antara mereka banyak yang menyadari bahwa keakuan merupakan salah satu senjata kesenimanan, termasuk kesastrawanan.

Di satu sisi, kehadiran pelbagai komunitas sastra itu seperti ingin menegasikan apa yang selama ini disebut pusat. Tapi, di sisi lain, pada saat yang sama, keberadaan pemuka menciptakan pusat baru di tubuh komunitas. Bedanya, pusat pertama bersifat institusional yang beragam. Karena itu, sifat acuannya pun samar. Lantaran acuannya samar, setiap proses kreatif yang mengacu kepadanya masih memiliki potensi keanekaan yang lebih luas. Sedangkan, pusat kedua bersifat personal individual. Karena itu, referennya tegas dan tunggal.

Karenanya, setiap proses kreatif yang bertolak darinya berpeluang lebih sempit untuk menjadi penuh warna. Boleh jadi, hasil setiap proses kreatif itu hanyalah manifestasi dari isi kepala sang pusat atau varian-varian yang hanya sedikit berbeda dari karya-karya kreatif sang pusat. Kalau hal tersebut yang terjadi, pusat-pusat baru yang personal individual ini tentu “lebih berbahaya” untuk suatu kreativitas.

Sementara, bila relasi yang tidak imbang itu lahir bukan karena konsekuensi bentuk komunitas, ketimpangan itu muncul biasanya lantaran pihak pendominasi atau penghegemoni mampu menjalin hubungan antarpersonal dan jaringan yang  lebih luas. Ada juga sejumlah komunitas dengan hubungan antaranggota yang timpang karena pihak penghegemoni memang punya pengetahuan sastra dan kemampuan menghasilkan karya sastra yang lebih baik. Tapi, yang terakhir ini tampaknya jauh lebih sedikit dari yang pertama. Komunitas sastra model pertama itu sendiri biasanya dibentuk lebih karena inisiatif pihak penghegemoni. Dalam kondisi seperti itu, konflik antarkepentingan lebih berpeluang terjadi. Kalau hal ini mencuat, komunitas tersebut terancam bubar.

Ancaman yang sama juga dapat membayangi komunitas sastra yang bersandar pada satu figur tertentu sebagai pusat segalanya. Tapi, ancaman tersebut tak dilatarbelakangi konflik yang tajam antaranggota. Sebab, dalam komunitas dengan pusat satu tokoh tertentu, keberlangsungan hidup komunitas cenderung tak dipengaruhi ada tidaknya konflik antaranggota.

Apalagi bila konflik itu tak melibatkan sang pemuka atau sang pusat. Kalau hal itu terjadi dan kemudian diketahui sang pemuka—ia akan selalu tahu karena selalu saja ada orang yang loyal—sang pemuka akan berusaha mendamaikan konflik tersebut. Konfliks akan reda lebih karena wibawa dan kharismanya. Bukan lantaran konflik telah terselesaikan secara tuntas. Kalau kemudian diketahui konflik belum selesai tuntas dan suatu saat muncul lagi, akhirnya, sang pemuka akan mengeluarkan orang yang dianggapnya salah atau merekayasa suasana yang memaksa orang tersebut keluar dengan sendirinya.

Perlakuan yang sama juga akan diterima oleh anggota yang mencoba membuka konflik dengan sang pemuka, baik secara terbuka atau tertutup. Wibawa dan kharisma sang pemuka biasanya tak memungkinkan lahirnya konflik terbuka antara anggota dan sang pemuka. Yang lebih sering terjadi adalah konflik tertutup. Meski tertutup, sekali lagi, karena orang yang loyal selalu ada di sekeliling sang pemuka, konflik tertutup akan selalu terdeteksi oleh sang pemuka. Kalau hal itu terjadi, biasanya, si anggota akan mengundurkan diri dengan berpamitan langsung kepada sang pemuka atau pergi secara diam-diam. Anggota seperti itu akan kerapkali berpikir, untuk apa saya tetap di sini kalau satu gagasan pun dari saya tak pernah dihiraukan.

Komunitas sastra yang berbasis pada pusat yang kelebihan dana lebih rentan lagi untuk bubar. Kalau kepentingannya dalam penggelontoran dana tak lagi diakomodasi para penyokongnya, dia bisa mutung, lalu menghentikan pengucuran dana. Begitu juga kalau alokasi dana untuk “foya-foya” pada kegiatan sastra disetop lantaran sumber dana utamanya tak lagi memungkinkannya menyisihkan “dana foya-foya”. Komunitas jenis ini juga terancam bubar jika para penyokongnya tersadarkan bahwa keterlibatan mereka selama ini lebih dipicu oleh keharuman honorarium, ketakmampuan pembiayaan penerbitan buku, dan keterdesakan ekonomis yang lain.

Akhirnya, ancaman bubar bagi pelbagai komunitas sastra yang bertumpu pada pusat yang tunggal itu biasanya hanya muncul dari sang pemuka sendiri. Keberadaan komunitas sastra tetap akan terjaga dan bergairah selama sang pemuka tetap bergairah pula. Kalau sang pemuka tak lagi bergairah atau bahkan meninggal dunia ataupun kehabisan fulus, komunitas itu dapat dipastikan terancam bubar.

Foto: Iwan Gunadi

Dana Minim
Ada satu paradoks lain yang cukup penting dibahas di sini, walau hanya terjadi pada sebagian kecil komunitas sastra. Sebagian besar komunitas sastra di Tanah Air merupakan kelompok kecil dan bukan organisasi formal. Wajar jika mereka hanya memiliki sedikit uang untuk menyokong berbagai kegiatan. Kegiatan itu umumnya memang tak membutuhkan banyak uang, seperti diskusi terbatas. Apalagi jika basis kegiatannya hanya di dunia maya, seperti yang dilakoni komunitas-komunitas yang hanya berkibar di media sosial.

Komunitas sastra yang berukuran lebih besar, termasuk yang sudah berbentuk organisasi formal, umumnya juga memiliki dana terbatas, meski kegiatan mereka beragam, termasuk kegiatan yang sesungguhnya membutuhkan dana besar. Yang membedakan mereka dengan komunitas sastra berukuran kecil adalah adanya pengelolaan keuangan, walaupun umumnya sederhana. Mereka memiliki uang kas, walau jumlahnya terbatas. Pada beberapa komunitas, uang kas tersebut digali dari iuran para anggota dengan kedisiplinan membayar yang cenderung rendah hingga akhirnya iuran tersebut tak berjalan sama sekali, meski nominal iuran itu kecil saja.

Sebagian besar pendanaan pelbagai kegiatan justru ditaja dari penghimpunan dana dari para donatur tak tetap, baik donatur anggota maupun bukan anggota. Untuk kegiatan yang membutuhkan dana sangat besar, seperti pertemuan sastrawan dengan jumlah peserta yang besar dari berbagai daerah di Indonesia serta diselenggarakan selama beberapa hari di gedung yang besar dan para pesertanya menginap di hotel, komunitas-komunitas ini menggandeng lembaga pemerintah, lembaga asing nonprofit, dan atau institusi bisnis membiayai atau mensponsorinya.

Di titik itulah terjadi paradoks: uang kas komunitas-komunitas itu minim atau bahkan sangat minim, tapi, ketika menyelenggarakan suatu kegiatan besar, mereka mampu mengumpulkan dana hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, belasan tahun lalu, ada komunitas sastra yang mampu mengumpulkan dana hingga melebihi Rp1 miliar dari para donatur di luar anggotanya untuk menyantuni para korban gempa.

Punya atau tidaknya jaringan yang luas menjadi kunci bagi suatu komunitas sastra mampu atau tidak menghimpun dana besar. Meski uang kas tetap minim atau bahkan nihil, suatu komunitas akan tetap mampu menyelenggarakan beragam kegiatan, termasuk kegiatan berbiaya besar, selama memiliki jaringan yang luas, baik di dalam maupun di luar negeri, dan mampu memberdayakan jaringan tersebut secara optimal.  Ada yang memanfaatkan kepemilikan jaringan yang luas tersebut untuk serangkaian program kegiatan selama satu semester atau satu tahun secara sekaligus. Ada yang memanfaatkannya per kegiatan secara insidental. Yang terakhir itulah yang ditempuh banyak komunitas sastra di Indonesia.

Pengelolaan Sambil Lalu
Dari sana, kita dapat menengarai adanya kelemahan perencanaan program kegiatan pada sebagian besar komunitas sastra. Selain persoalan keterbatasan dana dan jaringan, penyebab lain adalah paradoks bahwa komunitas cenderung tak ditempatkan sebagai suatu organisasi yang butuh dikelola secara serius bukan hanya oleh satu orang (baca: pemilik, pemimpin, atau ketuanya). Para anggota, pemimpin, dan pendukung komunitas tentu menganggap penting eksistensi komunitas, tapi banyak komunitas tetap diurus hanya sambil lalu di sela-sela kesibukan lain.

Kuatnya pencitraan komunitas sastra sebatas paguyuban yang sangat cair memang mengesankan tak pentingnya pengelolaan komunitas secara profesional. Profesionalitas dikhawatirkan mereduksi atau bahkan mengebiri kerja kreatif para anggotanya. Organisasi masih sering dipahami sebagai entitas yang bertubrukan dengan kreativitas. Bukan entitas yang berpotensi memfasilitasi pengembangan kreativitas.

Kita tentu tak mengharapkan semua komunitas sastra menepis karakteristik keguyuban karena di situlah salah satu kekuatan komunitas. Tapi, kontribusi komunitas dapat lebih terdongkrak jika lebih banyak lagi komunitas yang dikelola secara profesional sebagaimana lazimnya suatu organisasi.

Walau tak merata, komunitas sastra tumbuh di mana-mana di negeri ini bak cendawan di musim hujan. Tumbuh untuk menghilangkan pusat atau malah menciptakan pusat baru; tumbuh untuk menunjukkan kegairahan kesusastraan, kehadiran kelompok, atau sekadar membaptis kelahiran sastrawan; tapi, ketika kemudian mereka tak sungguh-sungguh mengurusnya dengan basis kesolidan, keloyalal, kesadaran berorganisasi, dan kesadaran dokumentatif, mereka sesungguhnya telah memasang jerat di leher mereka sendiri sejak pertama kali mereka lahir dan hadir. Ketika akhirnya begitu banyak komunitas sastra hanya menyisakan nama yang pelan-pelan segera dilupakan waktu, mereka benar-benar sirna laksana asap. Itulah sesungguhnya substansi paradoks kesemarakan pertumbuhan komunitas sastra di Indonesia.

***

Tulisan ini pernah dipublikasikan di geotimes.co.id pada 8 Juli 2019.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s