GELIAT SASTRA DI TANAH MARAPU: DARI PARADE PUISI MAX MINI STAGE


Parade puisi mini stage yang diselenggarakan Radio Max FM menggeliatkan kembali kegiatan sastra, khususnya puisi, di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Keprihatinan terhadap kurangnya perhatian pemerintah terhadap budaya lisan Sumba Timur (Kambera) diapungkan.

Frans Wora Hebi

Sumba Timur (Sumtim) selalu disebut dengan bangga oleh orang Sumtim sendiri sebagai Tana Marapu.

Marapu mengacu pada kepercayaan asli orang Sumba yang sudah mengakar sejak zaman nenek moyang mereka. Budaya orang Sumba yang terpengaruh oleh kepercayaan Marapu itu melahirkan berbagai macam sastra lisan dalam tatanan adat dan keseharian masyarakatnya.

Dengan keyakinan bahwa masyarakat Sumba memiliki akar sastra yang begitu indah, maka panitia Parade Puisi Max Mini Stage berkeyakinan bahwa masyarakat Sumba sebenarnya adalah masyarakat penyuka sastra atau sastrais. Dasar pemikiran itu pula yang melahirkan ide untuk menyelenggarakan acara Parade Puisi Mini Stage, Jumat (18/9/2009) malam.

Tidak heran, karena Sumba memiliki sejumlah sastrawan besar, salah satunya bernama Umbu Landu Paranggi, yang saat ini bermukim di Bali. Umbu Landu adalah penyair yang diagungkan oleh para penyair Indonesia.

Namun kini, sastra di Sumba seperti tenggelam karena ungkapan indah yang menggambarkan kekayaan budaya dari daerah itu tidak lagi dibingkai dalam sebuah karya seni yang bisa dinikmati banyak orang. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pagelaran panggung sastra di daerah itu. Hajatan sastra terjadi ketika kunjungan keliling Tim Taufiq Ismail dalam Siswa Bertanya Sastrawan Bicara, enam tahun lalu.

Karena itu, ketika parade puisi mini stage diselenggarakan Radio Max FM, geliat sastra khususnya puisi di Sumba sebagai Tanah Marapu, mulai terusik kembali. Nilai seni langsung terlihat dari penataan panggung, yang dibuat setinggi 70 cm dari atas tanah, dengan lebar 2 x 4 m didominasi oleh alang.

Kesederhanan bercampur unsur magis segera terasa tatkala panggung hanya diterangi satu mata lampu. Sementara di tempat duduk penonton hanya diterangi 10 mata lampu redup dengan daya 5 watt.

Kegiatan itu melibatkan sejumlah sastrawan lokal, maupun internasional baik pemula maupun yang sudah senior, baik berumur muda maupun yang sudah tua. Dari berbagai macam profesi.
Mikhail Heren, sastrawan senior, mengawali puisinya tentang surat untuk sahabatnya yang dirundung putus cinta dengan judul Surat Balasan.

Sementara itu, Frans Wora Hebi, membawakan orasi budaya berjudul: Sastra Kambera, Mengapa Tidak?, yang mengisahkan tentang akar sejarah dari masyarakat Suku Kambera di Sumtim. Mertin Woda juga hadir dengan puisi Savanaku di Keningmu, karya Yongky HS.

Acara tersebut juga dimeriahkan para penyair dari luar Sumba yang membacakan puisi secara live melalui telepon. Afliana Kondameha, S.Sos, perempuan Sumba yang sudah 30 tahun menetap di tanah Papua, membacakan puisi Ibu. Clasianus Maowlaka yang sudah puluhan tahun tinggal di Muntilan Yogyakarta juga turut serta.

Pembacaan puisi via telpon juga dilakukan mantan penyiar Max FM Ferly Tanggu Hana, anak Sumba yang saat ini sedang menempuh pendidikan master di Den Hag Belanda. Melalui telepon, Ferly membaca puisi karya milik Umbu Landu Paranggi dengan berjudul Solitut. Kehadiran Pura Tanya, pelantun tembang-tembang Sumba sekaligus seniman renta yang piawai memainkan jungga, tampil memukau.

Sementara itu, Frans Wora Hebi dalam orasinya, mengemukan kekayaan budaya lisan Sumba Timur (Kambera) yang pada dasarnya adalah kekayaan sastra yang sering diabaikan. Ia menyesalkan minimnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan budaya lokal itu terutama pengembangan sastra yang berakar pada budaya lokal seperti kekayaan Sastra Sumba yang tidak disadari sebagai sebuah karya sastra yang tinggi nilainya.

Di sela-sela orasinya, Frans juga menembangkan beberapa lagu Sumba. Frans Wora Hebi mengaku bisa menulis puisi tapi tak mampu membacakannya. Dengan merendah ia mengakhiri penampilannya dengan sebuah puisi. Puisi berjudul “Sumba Dalam Hempasan Jaman” itu syarat dengan kritikan. (adiana ahmad)

Berita ini pernah tayang pada www.pos-kupang.com, Kamis, 8 Oktober 2009, 10: 22 WITA, lalu tayang ulang pada kupang.tribunnews.com, Kamis, 8 Oktober 2009 10: 24. Foto pada tayangan ini dipinjam dari maxfmwaingapu.com.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s