Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Sekitar 20 orang duduk lesehan beralas karpet. Belasan lainnya duduk di bangku dan berdiri. Perhatian mereka tertuju ke dua orang perempuan yang duduk berdampingan di panggung kecil.

Anggie Sri Wilujeng asal Tasikmalaya dan Evi Widawati dari Yogyakarta yang hadir sebagai penyair tamu pengajian sastra hari itu berbagi pengalaman dan proses kreatif membuat puisi. Diskusi mengalir hangat bersama makanan ringan dan kue hasil sumbangan anggota komunitas Majelis Sastra Bandung.

Tiap Ahad, sebulan sekali, anggota komunitas itu rutin berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, mulai pukul 14.00 WIB hingga sore. Sebelum diskusi dan paparan penyair tamu, biasanya setiap orang diberi kesempatan membacakan puisi buatannya.
Di lain waktu pengajian itu khusus membedah karya-karya puisi anggota komunitas hingga malam hari. Kumpulan karya terbaik mereka kini telah diterbitkan menjadi dua buku berjudul Ziarah Kata 44 Penyair (2010) dan Bersama Gerimis (2011).

Majelis Sastra Bandung yang sepakat dibentuk lewat jalinan pesan pendek oleh sejumlah seniman Bandung seperti Matdon, Dedy Koral, Aendra H. Medita, Hermana, Hanief, Ayi Kurnia, dan Yusef Muldiana, aktif sejak 25 Januari 2009.

Alasan pembentukannya karena mereka menilai banyak penyair muda yang masih kurang membaca karya orang lain, berdiskusi, dan terlalu puas dengan hanya satu kali berkarya.

Kegiatan utama majelis yang berarti tempat duduk mencari ilmu itu berupa pengajian sastra, tempat para penyair mengkaji ilmu dan pengetahuan tentang sastra. “Di dalamnya termasuk puisi, novel, cerita pendek, teater, film, dan musik,” kata Matdon, penyair yang menjadi Rois Am atau ketua umum majelis. Dana kegiatan awal terutama untuk konsumsi berasal dari penjualan telepon selulernya.
Diskusi perdana pengajian sastra mengangkat topik tradisi sastra di Jawa Barat bersama budayawan Hawe Setiawan dan wartawan yang juga penyair, Soni Farid Maulana.

Giliran bulan-bulan selanjutnya hadir berbagai penyair dari berbagai kota termasuk yang top, seperti Acep Zamzam Noor, Binhard Nurohmat, Rukmi Wisnu Wardani, Ramses Simatupang, dan Ahda Imran. Di Bandung mereka datang dengan ongkos sendiri dan sebagian menumpang tidur di rumah teman.

Pengajian yang terbuka untuk umum dari kalangan awam hingga penyair itu tak punya niat mengorbitkan banyak penyair baru. Para pengurus majelis sastra sudah cukup senang ketika karya anggota komunitas atau peserta pengajian ada yang dimuat di koran-koran atau majalah. “Komunitas ini hanya sebagai penguat agar kualitas penulisan mereka lebih maju,” ujar Matdon.

Untuk menjadi anggota komunitas sastra ini tak ada syarat khusus. Bagi anggota yang sanggup membuat 10 puisi dalam beberapa kali pertemuan, misalnya, berhak dinilai tim majelis untuk diberi penghargaan berupa pemuatan karya dalam buku antologi puisi. “Saya masih belajar cara membuat puisi yang bagus seperti apa karena hadir juga kalau sempat,” kata Iman, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung.

Dari sekitar 30-40 jemaah tadarus puisi, misalnya, kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa berbagai kampus di Bandung. Lainnya ada yang bekerja sebagai pramugari, guru sekolah dasar, dan dosen.

Bagi penyair, seperti Anggie Sri Wilujeng, pengajian sastra itu menjadi ajang silaturahim antarseniman dan belajar sastra bersama. “Untuk mengisi baterai proses kreatif menulis juga,” ujarnya. Musisi lokal seperti Mukti-mukti dan kelompoknya juga beberapa kali menggarap musikalisasi puisi dari karya para tamu pengajian sastra.

Karena memakai istilah yang tak umum di kalangan sastrawan seperti mejelis, dewan taqnin, syuro, juga tanfidz, komunitas itu sempat dituding sebagai utusan pemerintah dan dibiayai partai politik tertentu.

Padahal kegiatan bulanan itu hanya mengandalkan hasil kotak sumbangan, penjualan buku puisi, kaus, dan barang kerajinan titipan. Sekarang mereka sudah tiga bulan menunggak pembayaran uang sewa tempat sekretariat di Kebun Seni, Jalan Tamansari. “Pengajian akan terus berjalan, tak peduli akan lahir penulis baru atau tidak,” kata Matdon. (Anwar Siswadi)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.tempointeraktif.com/, 30 Oktober 2011.

SIAPA yang tak kenal dengan komunitas seniman Bulungan? Banyak musisi dengan nama besar pernah manggung di sini, sebelum mereka terkenal hingga menjadi besar.

Komunitas Seni Bulungan di Warung Apresiasi (Wapres), menjadi tempat semua orang ingin berapresiasi dengan kreasinya masing-masing. Bentuknya berupa kafe sederhana, di sebelah Gelanggang Olahraga Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan.

Begitu kita memasuki markas Wapres, terdapat counter tempat menjual buku-buku sastra. Kumpulan CD dan kaset band Indie juga bisa didapatkan disini.

Begitu melalui pintu masuk, tampak panggung yang memuat peralatan musik lengkap, seperti drum, gitar, bas, dan keyboard. Tak berarti hanya musik yang ditampilkan, di sini juga kerap ditampilkan karya sastra, lukis, film, tari, hingga teater.

Meski terlihat sederhana dan minimalis, di tempat ini seniman besar seperti WS Rendra, Rieke Dyah Pitaloka, hingga Iwan Fals pernah unjuk gigi membawakan bait ddmibait puisi serta lagu.

Kolam kecil sederhana beratapkan langit yang berada di depan panggung, membuat suasana kafe yang buka mulai pukul 19.00 – 24.00 ini seperti rumah sendiri. Mungkin ketenangan serta perasaan hommy inilah yang membuat siapa saja betah berlama-lama duduk sambil berbincang.

Sebelah kanan panggung diisi sejumlah kursi dan meja dari kayu sederhana. Sementara di sebelah kiri terdapat beberapa meja untuk duduk lesehan.

“Disini para senimanbebas berapresiasi dan tidak ada batasan usia, asalkan tidak rusuh dan benar-benar hasil karya sendiri, bukan membawakan hasil karya orang lain” ujar Anto Baret, dedengkot Wapres Bulungan, kepada Pos Kota.

Karya Seni

Suasana yang hangat dan cair juga menjadi salah satu daya tarik Wapres Bulungan. Di sana, semua orang seperti sudah saling mengenal lama, walaupun terkadang ada yang baru berkenalan.

Menurut Anto Baret,sang penggagas dan pemilik Wapres Bulungan, sesuai dengan namanya, warung apresiasi dapat diartikan sebagai tempat melihat, mendengarkan, dan kemudian pulang dengan penghargaan terhadap karya seni yang disajikan.

“Tempat-tempat hiburan di Jakarta cenderung hiburan saja. Padahal, perlu juga wadah bagi para pemuda untuk menyalurkan atau menunjukkan kemampuannya di bidang seni dan dinikmati langsung oleh para pengunjung,” ungkap Anto. (embun/rf/r)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pos Kota (Jakarta), 1 Jun 2011.

Restu Ashari Putra

Penulis

Pada mulanya saya hampir ingin mengambil jeda sejenak dengan persoalan-persoalan menyangkut sastra dan kesusastraan kita (terutama pada wilayah wacana dan perkembangan dinamikanya), kecuali sambil terus menulis puisi, saya juga melatih kepekaan diri saya dalam mengarang prosa atau cerpen. Namun saat beberapa kawan saya, yang juga bergelut dan bergiat dalam komunitas sastra itu “memanggil” saya untuk kembali membincangkan beberapa kegelisahan mereka akan sastra dan kesusastraan, terutama di Bandung (karena kami memang sebagian besar adalah mahasiswa yang menempuh studi di Bandung), mau tidak mau saya kembali mengerutkan kepala dan mencoba merapikan kembali seperti apa sebenarnya kegelisahan teman-teman saya ini  akan kesusastraan.

Saya ingat malam itu, beberapa hari ke belakang saat diskusi, saya masih belum memberikan banyak pandangan dan justice apa-apa perihal arah kegelisahan mereka. Namun sampai akhirnya saya banyak memikirkan kembali persoalan tersebut, dan teman-teman pun rasanya benar-benar serius, maka ada beberapa permasalahan yang rasanya umum namun masih tetap hangat rupanya untuk diperbincangkan.

Pertama-pertama tentang dominasi sastra dan media massa “tertentu” yang dianggap sebagai representasi mutlak pencapaian estetis sebuah karya sastra. Kawan-kawan saya berpandangan bahwa telah terjadi suasana yang tak sehat perihal kesusastraan Indonesia, khususnya di Bandung. Mereka beranggapan ada dominasi “komunitas” tertentu dan penguasaan estetis secara mutlak perihal karya sastra yang lahir dan berkembang di Bandung. Terutama pada media massa mainstream, yang “seakan-akan” menjadi rujukan sastra Bandung.

Untuk hal ini saya terus terang saja masih praduga tak bersalah. Sebab saya sejauh ini belum pernah berdiskusi langsung bahkan melakukan analisis intensif tentang seperti apa dasar-dasar penilaian redaktur dalam memilih karya sastra yang sedia dimuat dalam halaman budayanya itu. Walaupun “angin-angin” dominasi itu telah saya rasakan semilirnya.

Hal ini bukan perkara aneh dan asing lagi dalam kesusastraan Indonesia yang sebelum-sebelumnya polemik Sastra Koran versus Sastra Cyber berlangsung di berbagai media. Juga gugatan politik sastra Saut Situmorang terhadap dominiasi estetis sastra TUK (Teater Utan Kayu) yang digawangi Goenawan Mohammad. Diskursus seperti ini memang sejatinya adalah mencoba membuka ruang-ruang pilihan sastra yang lebih demokratis. Sastra bukanlah milik kalangan tertentu, melainkan milik siapa saja dengan proses pencapaian estetisnya. Penguasaan representasi sastra oleh satu pihak akan memberangus kebebasan pegiat sastra yang memiliki dan memilih jalan pencapaian estetis yang lain. Karena mau tidak mau masyarakat sastra berikut karyanya juga membutuhkan ruang bagi terbukanya apresiasi.

Terlepas dari itu semua, saat saya mencoba memikirkan kembali jika memang benar adanya permasalahan dominasi dalam kesusastraan kita terutama yang dimainkan media massa, dan akhirnya akan merembet pada dunia kesusastraan kita, maka saya perlu mendudukan hal ini pada persoalannya yang sederhana. Yaitu karya sastra dan media massa.

Media massa selalu terkait dengan industri berikut persaingan-persaingannya. Sama halnya dengan industri-industri penerbitan lainnya, yang muara akhirnya adalah pertimbangan ekonomi. Ada selera pasar di sana. Dan ada pihak atau orang yang mengatur arus lalu lintas bisnis di sana. Hal ini seperti diungkapkan penyair Octavio Paz, bahwa perdagangan seni sastra dewasa ini didorong dan dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan murni ekonomi.

Terkait hal di atas, ada dua gagasan sikap yang ingin saya tawarkan di sini. Namun sebelum dua gagasan tersebut saya utarakan, ada paradigma besar yang sangat-sangat perlu ditekankan menurut saya sebagai landasan prinsip. Bahwa setiap media, (apa pun itu baik cetak maupun online) memiliki kemungkinan melahirkan karya yang baik ataupun buruk.

Tentunya kita sering lah membaca karya-karya sastra yang terbit di koran-koran minggu, yang terkadang tidak kita mengerti alur logika bahasanya, namun karena belenggu paradigma bahwa karya tersebut telah tembus media massa, sikap kritis kita terbunuh dan terkubur dalam-dalam. Padahal setiap karya terbuka peluang kritik di mana pun itu. Begitu pula dengan media cyber, terkadang kita menemukan karya yang benar-benar menakjubkan di sela-sela ribuan lintas kata dunia maya yang berseliweran dan menghiasai dinding sastra cyber.

Oleh karenanya, media massa (mainstream khususnya) bukanlah tolak ukur dari sebuah karya sastra yang “baik” secara mutlak. Hal ini terkadang yang menjadi belenggu masyarakat sastra kita, terutama mereka yang pemula sehingga mematikan kebebasan proses mereka dalam berkarya.

Saat tulisan mereka tak dimuat di media massa, akhirnya mereka membanting keras-keras kesusastraan dari tubuh mereka, karena sastra sudah mereka anggap tak lagi menerimanya kecuali mereka mereka menghamba pada media massa yang dianggap representatif itu.

 

Lalu bagaimana sikap kesusastraan kita sebenarnya?

Inilah dua gagasan sikap yang akan saya tawarkan itu. Pertama, sikap idealis. Artinya seorang sastrawan, seorang pengarang sastra menulis karya sastra dengan sebenar-benar sebagai bagian dari proses pencapaian estetis.  Mereka tidak menghamba pada industri media. Mereka membaca, menulis dan berapresiasi dengan ketulusan hati. Kalaupun mereka menulis di media massa, mereka tetap berpegang pada  idealismenya dalam berkesusastraan, atau bisa dibilang konsekuensi kebergiatannya. Mereka tidak ngoyo.

Dalam proses kreatifnya ini, tentu ada banyak cara toh bagi setiap pengarang sastra dalam menempuh pencapaian estetis. Terutama dalam menemukan ruang-ruang apresiasi. Mereka bisa mengapresiasi dengan cara “silaturahmi” kepada pada para sastrawan, akademisi sastra atau kritikus sastra dalam membahas karya-karya mereka, baik secara personal atau pun komunal. Atau jika di zaman sekarang, banyak media cyber yang apabila benar-benar digunakan sebagai ruang apresisasi yang efektif, maka akan menghasilkan proses kreatif yang mumpuni juga.

Di lain pihak kini juga tumbuh dan merebaknya media-media alternatif seperti buletin dan jurnal yang diterbitkan oleh komunitas sastra yang memang ingin menghadirkan bentuk-bentuk baru dari corak kesusastraan mainstream. Lebih jauh lagi, gagasan buku-buku antologi kesusastraan yang diterbitkan secara indie juga tidak menutup kemungkinan akan mewarnai pluralitas estetika (jika menghadirkan kebaruan) kesusastraan kita. Tentunya hal tersebut dalam kerangka proses kreatif dan apresiasi yang ketat. Dengan demikian pluralitas estetika sastra semakin berkembang, dan tidak hanya di monopoli oleh satu pilihan saja, atau satu selera redaktur media massa tertentu saja.

Kita menghidupi sastra, dan bukan hidup dari sastra. Oleh karenanya hasil pencapaian karya sastra tak melulu harus dimuat media. Karena menurut Paz, logika kesusastraan bukanlah logika pasar.

Nah yang kedua, sikap professional. Ini adalah jalur bagi siapa pun yang ingin menjadikan menulis sabagai bagian dari pilihan hidupnya, maka sikap inilah pilihannya. Mereka harus merebut selera pasar.  Mereka harus memikat redaktur. Maka orang-orang yang memang ingin menulis dan menjadi penulis sebagai bagian profesinya, ia haruslah bersikap professional. Karena ia menulis untuk pasar.

Dan bisa jadi ia harus terlatih menghasilkan ratusan cerita pendek tiap minggunya sesuai dengan selera media massa yang diinginkan agar asap dapur terus mengebul karena mengharapkan royalti. Hal ini sah-sah saja bagi mereka yang ingin mengambil jalur di wilayah professional.

Bagi yang memiliki motif-motif kepentingan ekonomi, ambisi popularitas, dan tekanan eksistensi maka di sinilah posisinya. Mereka harus bersikap professional sebagaimana seorang pekerja (ekonomi). Silakan tempuh resiko-resikonya. Silakan mereka jatuh bangun menembus masuk persaingan jagad industri media. Asalkan tetap ingat, bahwa kesusastraan tidak berada di wilayah paradigma sikap ini. Mereka harus rela menempuh kekalahan saat tak kuasa menembus media. Rela bersusah payah. Bahkan melakukan lobi-lobi terhadap redaktur bisa jadi merupakan bagian dari upaya berada dalam jalur ini. Karena mereka bekerja sebagaimana layaknya pekerja professional bekerja.

Nah, berdasarkan dua gagasan di atas, maka polemik dominasi yang kerap mengkerutkan kening sastra minoritas ini tentunya (paling tidak) bisa kita atasi. Sebab hal-hal tersebut adalah perkara-perkara yang harus kita rebut secara professional pula. Mungkin komunitas yang kita anggap dominan tersebut telah terlebih dahulu merebut hati redaktur secara lebih cantik sehingga ia terlibat memasarkan karya-karyanya. Atau kebetulan karya-karya mereka yang sejalan dengan selera redaktur.

Kita tak perlu pusing dan rumit dengan perkara demikian, kalau kita berada pada sikap yang pertama, sikap idealis (yang saya tawarkan).

Namun yang menjadi pekerjaan rumah dan agenda besar kita adalah, bagaimana menyelematkan paradigma kesusastraan masyarakat sastra kita yang masih menganggap bahwa media massa (mainstream tertentu) sebagai tolak ukur satu-satunya pencapaian estetis terakhir sebuah karya sastra.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://bahasa.kompasiana.com/, 27 Maret 2011.

Uly Giznawati

Pembantu Rumah Tangga di Hong Kong

Tenaga kerja wanita atau buruh migran adalah jutaan manusia yang mencoba mengadu nasib dengan bekerja di luar negeri, meninggalkan keluarga, saudara dan kampung halaman. Demi tercapainya kesejahteraan bagi individu, keluarga, komunitas dan negara. Seperti di Hong Kong (HK), jumlah buruh migran tiap tahunnya selalu bertambah. Dan saat ini tercatat 124.000 buruh migran yang bekerja di HK. Sebagian besar dari mereka (99 persen) bekerja disektor rumah tangga.

Salah satu faktor yang paling utama adalah para BMI di HK memiliki hak dan kewajiban yang sama dan standar kontrak kerja yang telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah HK, salah satunya hak untuk libur.

Jatah libur satu hari dalam seminggu, memberikan ruang pada teman teman BMI untuk melakukan banyak aktifitas. Sehingga tidak heran jika lapangan Viktoria Park mendadak berubah menjadi ”Kampung Jawa”, pada hari minggu.

Pada hari minggu, bermacam macam aktifitas dipusatkan di ”Kampung Jawa” tersebut. Ada yang hanya duduk duduk sekedar melepas lelah, makan bareng dan bersantai dengan teman teman yang biasanya satu daerah. Tapi banyak pula yang melakukan aktifitas yang sangat produktif dan kreatif, seperti melakukan aktifitas seni dan budaya, keagamaan, olahraga, kursus dan sekolah lagi, bahkan berorganisasi. Aktifitas seni dan budaya sendiri sangat beragam, ada yang menekuni tarian, seni suara juga karya sastra.

Sastra Seni di Kalangan BMI

Aktifitas sastra BMI, juga perlu mendapat apresiasi khusus. Kerena minat teman teman BMI menulis sangat tinggi. Lahirnya organisasi-organisasi buruh migran berbagai yang melakukan kerjasama dengan sesama buruh migran dan dengan organisasi buruh setempat. Demikian juga munculnya komunitas-komunitas sastra-seni di kalangan buruh migran Indonesia seperti Forum Lingkar Pena (FLP), Kopernus (Komunitas Perantau Nusantara), dan Café de Costa. Di tambah kehadiran koran lokal HK yang berbahas Indonesia seperti Suara, Berita Indonesia, Tabloid Dwi Mingguan Apa Kabar, Peduli, Ekspresi, Intermezo, Rosemawar, Indonews, Indoswara. Yang mana ikut menyuburkan minat sekaligus memberikan ruang bagi para BMI ini untuk menulis.

Tercatat beberapa nama BMI yang sudah melintang di dunia tulis menulis, yang mana nama mereka sudah tidak asing lagi di kalangan BMI. Mereka menulis artikel ke media lokal (HK) dan Nasional (Indonesia). Seperti :

Mega Vristian
(pernah meraih Esso Wenni Award, untuk sebuah karya puisinya di tahun 2005).Karya tulisannya, baik berupa puisi, cerpen, artikel lepas sering dimuat diberbagai media di Indonesia, juga di Koran SUARA dan Tabloid APAKABAR di Hong Kong. Beberapa cerpennya juga telah diterbitkan dan dibukukan, antara lain:
-Antologi Puisi-Cerpen Esai Sastra Pembebasan [2004]
-Puisi Trilogy Dian Sastro For President-On/Off Book [2005]
-Antology Puisi untuk Munir berjudul Nubuat Labirin Luka-Sayap
-Kumpulan Cerpen ‘’Nyanyian Migran’’, Dragon Family Publisher [2006]
-Kumpulan Cerita Mini, Selasar Kenangan, AKOER [2006]
-Antology puisi 5 Kelopak Mata Bauhina [2008], bersama Kristina Dian Safitri, Tarini Sorita, Tanti, Adepunk.

Etik Juwita
(penerima anugrah Pena Kencana 2008 dengan cerpennya yang berjudul ”Bukan Yem”).
Etik Juwita, lahir di Blitar, 14 April 1982. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong sejak tahun 2003. Tulisannya berupa opini dan cerpen pernah diterbitkan oleh SUARA, Intermezo, Apakabar, Srikandi (tabloid dan majalah yang terbit di Hong Kong), Jawa Pos, Sinar Harapan dan Harian Surya. Satu cerpennya termasuk dalam buku kumcer (kumpulan cerpen) Nyanyian Imigran terbitan DF Publishing (2006). Tergabung di komunitas menulis BMI (Buruh Migran Indonesia) di Hong Kong, Kopernus (Komunitas Perantau Nusantara) dan Kafe de Costa.

Tarini Sorita
BMI asal Cirebon, selain bekerja ikut orang. Ia pun dikenal sebagai penulis puisi, juga cerpenis. Beberapa cerpennya telah dibukukan dalam ”Penari Naga Kecil” [2006]. Tarini juga beberapa kali menjuarai lomba penulisan essai , puisi dan cerpen yang digelar di HK. Beberapa karyanya pun sering muncul di media cetak.

Kristina DS
Tulisannya baik berupa cerpen, artikel sering dimuat di media baik di Indonesia mau pun di HK. Dan tentunya masih banyak lagi.

Sastrawan Ahmad Tohari, akhirnya mengubah persepsinya tentang perempuan, khususnya para BMI, yang mungkin selama ini di pandang sebelah mata, ketika sudah membaca karya sastra BMI yang dinilainya sangat bagus baik dari segi kalimat ataupun gramatikalnya. [Nabonenar,2007].

Kisah Sukses Mantan BMI

Menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri, bagi sebagian orang barangkalii sebagai langkah keterpaksaan. Namun bagi sebagian yang lain adalah sebuah pilihan, karena tergiur tawaran gaji yang lumayan tinggi, dan para tenaga kerja wanita ini bisa menabung dan merencanakan masa depan sesuai obsesi yang sempat terpendam.

Diantara sejumlah cerita sedih para BMI (Buruh Migran Indonesia), ada juga cerita sukses, sebagian dari mereka berhasil menjadikan hasil jerih payahnya selama bekerja di HK untuk kegiatan investasi, sehingga menghasikan nilai tambah yang berkelanjutan. Ini memang tak lepas dari terbukanya wawasan dan cara berpikir BMI. Mereka di HK tidak hanya sekedar bekerja, namun juga belajar tentang banyak hal. Itulah sebabnya, para BMI di HK terlihat lebih menonjol/berbeda, jika dibandingkan BMI yang ada di negara lain (Malaysia, Singapura, Timur Tengah).

Dan ada beberapa mantan BMI yang telah membuktikannya sepulang dari Hong Kong, seperti :

Maria Bo Niok
Dan sebuah nama yang tidak asing lagi bagi kalangan buruh migrant indonesia di HK, yaitu Maria Bo Niok, asal desa Lipursari Leksono, Wonosobo. Maria Bo Niok mantan seorang BMI yang pernah bekerja di Taiwan dan di HK ini , namanya cukup dikenal , karena ia aktif dalam dunia tulis menuis, ia juga aktif mempopulerkan karya sastra Pembantu Rumah Tangga (PRT) , kesejumlah kota seperti di Jogjakarta, Surabaya dan Wonosobo bersama Komunitas Sastra Terminal Tiga. Maria Bo Niok juga telah menghasilkan 5 buku berupa novel. cerpen, kumpulan puisi dan buku pedoman menjadi BMI yg aman, dan semuanya telah diterbitkan. Karya karya Maria Bo Niok yg cukup populer diantaranya ada : Geliat Sang Kungyan, Ranting Sakura, Putri Kelana, Jejak Cinta Perempuan Gila dan Serpihan Cinta diatas Sejadah. Bahkan Maria Bo Niok dengan sesama mantan BMI asal Wonosobo juga membentuk organisasi koperasi ”Koperasi Srikandi” yg memberdayakan anggota dan lingkungan dan masyarakat sekitar. Merka punya kegiatan produktif seperti pemancingan, warung serba ada, ternak bebek dan kini tengah merintis kursus bahasa inggris.

Dina Nuriyati
Mantan BMI HK asal Malang, Jawa Timur, dan juga mantan seorang aktivis IMWU yg kini sedang menempuh studi S2 di Iniversitas Kassel Jerman mengaambil jurusan International Labour Organisation (ILO).

Romlah
Mantan seorang BMI HK asal Wonosobo, yang sepulang dari HK berhasil menjadi Kepala Desa di Garung- Wonosobo, Jateng.

Eko Indriatin
Mantan BMI HK asal Cianjur, Jawa Barat dan juga mantan aktivitas IMWU sepulang dari HK ia menggunakan hasil jerih payahnya untuk kuliah di fakultas hukum dan kini ia bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta.

Juga masih ada Mei dan Narsidah, mantan BMI HK asal Purwokerto, Jawa Tengah. Yang sepulang dari HK kini aktif mengajar di sebuah SD di Karang Salam, dan juga bersama teman teman mantan BMI yang lainnya mereka membuat sebuah paguyuban untuk BMI di daerah setempat.

Tentu, masih banyak lagi BMI yang sukses yang belum terjangkau dan terekam. Namun, yang penting pengalaman para mantan BMI diatas bisa membuka cakrawala pandang BMI yang kini masih bekerja di HK untuk menyiapkan bekal sebanyak banyaknya. Karena ini serba mungkin karena di HK kemungkinan dan fasilitas itu tersedia dan kemudahan dalam meningkatkan kualitas diri.

Tunjukan bahwa kita bukan perempuan biasa.Sehingga tidak pantas diposisikan hanya sebagai”mantan babu” semata. Hidup BMI !

Terpublikasi di Tabloid Memorandum- Surabaya

Tulisan ini pernah dipublikasikan http://regional.kompasiana.com/, 13 Juni 2010.

Menjelang pementasan “Mega-Mega” karya dramawan Arifin C. Noer oleh Teater Magnit, Sabtu (2/4) pukul 13.00 – 21.00 WIB di Aula Kementerian Agama Ngawi, Jalan Kartini 15 Ngawi, latihan dan persiapan terus digenjot. “Perlu konsentrasi dan penjiwaan penuh karena ini potret kemiskinan yang dengan sangat bagus diangkat Arifin C. Noer menjadi naskah lakon,” kata Kusprihyanto Namma, sang sutradara, Selasa (22/3).

Pementasan ini merupakan produksi Teater Magnit ke 75. Berkisah tentang enam gelandangan di alun-alun Yogyakarta (Mae, Retno, Koyal, Hamung, Tukijan, dan Panut) menambatkan mimpinya pada bulan. Angan-angannya melambung setinggi mega. Ingin menjadi orang kaya baru atau punggawa kerajaan. Tingkah-polah mereka perwujudan kegetiran dari kemiskinan. Pikiran rasional memang sesekali muncul, namun segera lenyap kembali.

Para pemain terus berlatih melakonkan karakter semaksimal mungkin. Vivi Pipi Merah memerankan Retno, Isti Pacing sebagai Mae, Jefri Brintrik sebagai Hamung, Wahid Mbutil menjadi Koyal, Tyok Sutiok sebagai Panut, dan Hendri Blongkot sebagai Tukijan. Penata musik dipercayakan pada Uzy Fauzy, Mansur, Wahyu Gembel, Atif Tawun, dan Dicko Lestari. Sedangkan penata lampu, Daris ris Mudaris dan Sasmito Samsito. Tata panggung ditangani Amru Pondokan dan Yaimin bin Yaimun.

Teater Magnit Ngawi berdiri pada 22 Agustus 1993 di Ngawi, Jawa Timur. Anggotanya anak-anak muda yang gelisah mencari jati diri. Sayangnya, ketika lulus sekolah, mereka rata-rata mencari pekerjaan ke luar kota. Komunitas teater pun ditinggalkan, lalu digantikan kader-kader berikutnya. Teater Magnit beranggotakan 300 orang, tersebar di berbagai kota dengan berbagai ragam profesi dan pekerjaan. “Yang aktif, tiap tahun antara 20-40 orang,” kata Kusprihyanto.

Selain “Mega-Mega”, karya lain Arifin C. Noer yang pernah dipentaskan Teater Magnit adalah “Sumur Tanpa Dasar”, “Dalam Bayangan Tuhan”, dan “Kapai-Kapai”. Sedangkan naskah karya Teater Magnit sendiri yang pernah dipentaskan diantaranya, “Tuyul”, “Prewangan”, “Dhemit”, “Pundhen”, “Mayat”, “Dhemit Ki Barong”, dan “Geger Wong Ngoyak Wewe”. Karena lokasi sanggarnya berada di bawah rumpun bambu, teater ini dikenal juga sebagai Komunitas Ngisor Pring. Sering menggelar pentas terbuka ditonton orang kampung, juga ngamen dari sekolah ke sekolah. Tiap bulan, minimal bikin satu produksi panggung.

Pada 1994-1995, Teater Magnit menjadi markas gerakan sastra Revitalisasi Sastra Pedalaman dan menerbitkan jurnal sastra. Sejak 2007 mendukung jurnal sastra Boemiputra. Komunitas ini tetap bertahan meskipun tak pernah mendapat bantuan dana maupun fasilitas dari pemerintah. “Pejabat pemerintah di Ngawi sendiri tak kenal. Tapi itu tak penting karena yang paling prinsip kami tetap konsisten berkesenian untuk menjaga hati baik negeri ini,” kata Kusprihyanto. (Dwidjo U. Maksum)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.tempointeraktif.com/, 22 Maret 2011.

LINUS DAN PARIYEM

LINUS adalah Pariyem. Pariyem adalah Linus. Kedua nama itu bak dua sisi mata uang. Jika dibolak-balik tetap mencitrakan pribadi yang sama. Nama lengkap yang pertama adalah Linus Suryadi Agustinus, seorang penyair yang wafat pada Jumat 30 Juli lalu, dalam usia 48 tahun. Sedang nama lengkap yang kedua adalah Maria Magdalena Pariyem alias Iyem, tokoh rekaan sang penyair dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Bagi sastrawan Sapardi Djoko Damono, Linus tak bisa dipisahkan dari prosa liriknya yang terbit pertama kali pada 1981 itu. Menurut Sapardi, inilah satu prosa lirik paling panjang yang pernah dihasilkan sesudah zaman kemerdekaan.

Lewat tokoh Iyem pula, kita bisa melihat pribadi Linus. Keduanya mau tak mau menyandang agama Katolik di KTP, tapi Linus atau Pariyem sejatinya seorang Jawa yang hidup dalam kereligiusan kejawen. “Yesus itu sebenarnya penganut kebatinan,” kilah Linus semasa hidupnya, sebagaimana yang dikutip Ashadi Siregar dalam kata pengantar Pengakuan Pariyem. Keduanya juga pribadi yang lugu tipikal orang desa. “Cah ndeso tenan (benar-benar anak desa),” demikian komentar Umar Kayam. Tapi, di balik keluguan itu, kedua tokoh ini mampu mengekspresikan prinsip hidup yang ndakik-ndakik (rumit) bak priayi. Tak berlebihan jika Linus dan Pengakuan Pariyem pada masanya mendapat perhatian tak cuma dari kritikus sastra atau pembaca sastra, tapi juga dari antropolog dan sosiolog. Sebab, Pengakuan Pariyem adalah sebuah karya sastra yang mencoba mengungkapkan situasi kebudayaan yang ada di Jawa, yang berbenturan dengan kebudayaan lain. “Ini merupakan salah satu tonggak di dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern,” ujar Sapardi, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Inilah puncak pencapaian seorang penyair yang tetap bertahan hidup di Yogyakarta. Sebuah lingkungan kultural yang menjadikannya seorang seniman yang hingga akhir hayatnya hanya menggunakan skuter ke mana-mana, dengan jaket jeans melilit tubuhnya dan tas yang sudah tampak kusam. Meski zaman sudah berubah, gaya hidup Linus tak jauh bergerak dari gaya hidup seniman Malioboro pada 1970-an. Saat itu, ia memutuskan keluar dari kehidupan kampus untuk bergabung dengan komunitas Umbu Landu Parangi, yang kondang dengan sebutan “presiden Malioboro”, dalam Persada Studi Klub. Ia bersama calon penyair lainnya lebih suka “bergelandangan” di Malioboro daripada suntuk di kampus mendengarkan kuliah. “Sejak itu mulailah dia membuat puisi,” tutur Ashadi Siregar, salah seorang sahabat Linus. Saat itu, pemandangan yang jamak adalah wajah cemas sejumlah anak muda–termasuk Linus–yang menunggu kedatangan sang “dewa” Umbu Landu Parangi di depan kantor mingguan Pelopor, hanya untuk mengetahui puisi siapa saja yang dimuat dalam mingguan itu.

Pada mulanya, puisi Linus mirip dengan sajak Goenawan Mohamad atau Sapardi Djoko Damono: sangat liris dan imajinatif. Tapi, menurut Bakdi Sumanto, dosen Fakultas Sastra UGM, dalam perkembangannya Linus mulai menemukan gayanya sendiri, yakni ketika ia mulai mengeksplorasi latar belakang budaya Jawa. Hal inilah yang berkembang terus sehingga melekat menjadi ciri khas Linus, yang kemudian diimbuhi dengan kekuatan liriknya. Maka, lahirlah buku kumpulan puisi maupun prosa yang sangat bercorak Jawa, semisal Langit Kelabu, Perkutut Manggung, Rumah Panggung, Regol Megal-megol, dan Tirta Kamandanu. Karyanya yang dipublikasikan paling akhir–dan belum selesai–adalah Dewi Anjani, yang dimuat jurnal Kalam.

Masalah intervensi kosakata Jawa dalam karya Linus dipersoalkan pembaca, seolah Linus tidak mampu berbahasa Indonesia. Begitu banyak kosakata Jawa yang berloncatan dalam karyanya sehingga memaksa penerbit melampirkan kamus kecil Jawa-Indonesia pada sejumlah buku Linus. Tapi, bagi Sapardi, bahasa sastra ala Linus itu sah karena kultur seperti itu memang ada dalam kenyataan sehari-hari. Apalagi, katanya, Bahasa Indonesia itu kan sangat beragam. “Yang penting adalah kejujuran Linus menggunakan bahasa yang betul-betul milik dia,” ujar Sapardi.

Linus tidak cuma mampu membuat syair, tapi juga dikenal sebagai kritikus sastra lewat tulisannya di berbagai media massa yang kemudian dibukukan, yakni Di Balik Sejumlah Nama. Meski kritik sastra Linus dianggap tidak akademis, menurut Profesor A. Teeuw, pengamat sastra Indonesia yang memberi tulisan pengantar pada buku itu, kritik sastra Linus mengandung daya pengamatan yang orisinal, pemahaman yang tajam, pengalaman membaca yang luas, dan daya cipta yang sehat dan kuat.

Kini khazanah sastra Indonesia kehilangan kontributornya yang paling bersemangat menggauli sastra dari pucuk hingga akarnya. Entah apakah masih ada seorang juri lomba penulisan puisi yang mau menyempatkan diri menyurati peserta yang dianggap potensial hanya sekadar memberi dorongan untuk mengembangkan diri. Dan mungkin hanya Linus yang bersedia melakukan itu. (R. Fadjri, L.N. Idayanie, Dwi Arjanto, Agus S. Riyanto)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah Tempo (Jakarta), 9 Agustus 1999.

Aming Aminoedhin

Perkembangan sastra Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan, dengan ditandai banyaknya pengarang-pengarang muda yang bermunculan, baik laki-laki maupun pengarang perempuan. Begitu pula karya-karya yang diterbitkan, baik prosa, puisi, maupun naskah drama; sangatlah beragam corak, tema, dan gaya penulisannnya. Begitu pula perkembangan sastra di provinsi Jawa Timur ini, juga mengalami kepesatan dalam hal jumlah pengarang, maupun mutu karya yang diterbitkan.

Perkembangan sastra di wilayah ini, meski tidak sefenomenal daerah lain, jika ditilik dari sisi perkembangan kuantitas dan kualitas penggiat pelaku sastra, di provinsi ini patut mendapat perhatian tersendiri. Banyak karya sastra ditulis oleh pengarang sastra Indonesia yang lahir atau berdomisili di Jawa Timur ini. Di sisi lain, ada suatu ironi, yakni ketidaktahuan masyarakat tentang keberadaan pengarang sastra Indonesia di Jawa Timur beserta karya-karya sastranya.

Salah satu indikator perkembangan sastra Indonesia di Jawa Timur dapat dilihat dari pemunculan karya-karya pangarang dan penyair di media massa. Dari beberapa nama yang ada, sejumlah nama pengarang sering muncul di surat kabar atau majalah, yaitu: Budi Darma, Suripan Sadi Hutomo, Akhudiat, Aming Aminoedhin, M. Shoim Anwar, D. Zawawi Imron, Rusdi-Zaki, Beni Setia, Sirikit Syah, Luthfi Rachman, Muhammad Ali, Tengsoe Tjahjono, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widiyanto, Herry Lamongan, Mashuri, Indra Tjahyadi, W. Haryanto, S. Yoga, S. Jai dan sederet nama terkenal lainnya. Berbagai genre sastra yang mereka tampilkan meliputi prosa (cerpen/cerita sambung/novel), puisi, bahkan naskah drama.

Sebagai salah satu cabang kesenian, berupa sastra di Jawa Timur cukup banyak digemari. Banyaknya komunitas sastra yang hidup dan berkembang di provinsi Jawa Timur merupakan salah satu bukti, di samping seringnya dilakukan pementasan-pementasan sastra. Beberapa komunitas sastra Indonesia yang dapat dicatat adalah FASS (Forum Apresiasi Sastra Surabaya), Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto), Komunitas Sastra Teater Persada (Ngawi), Komunitas BMS (Bengkel Muda Surabaya), Kostela (Komunitas Sastra dan Teater Lamongan), Komunitas Sastra Pesantren Al-Amien (Sumenep), Komunitas Sastra dan Teater Gapus (Fakultas Sastra Unair Surabaya), Komunitas Kalimas (Unesa/IKIP Surabaya) Forum Seni Sastra Luar Pagar (Unair Surabaya), dan FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya)

Ironisnya, banyaknya pergelaran kesastraan ternyata tidak diikuti oleh kepopuleran para sastrawan yang melakoninya. Para pengarang sastra Indonesia di Jawa Timur memang kurang dikenal oleh masyarakat Jawa Timur sendiri. Padahal di antara pengarang dan penyair tersebut, ternyata telah menghasilkan beberapa karya yang monumental dan cukup fenomenal. Puisi berjudul “Ibu” karya D. Zawawi Imron, puisi berjudul “Berjamaah di Plaza” karya Aming Aminoedhin, novel “Olenka” karya Budi Darma, novel “Saksi Mata” dan “Kremil” karya Suparto Brata, merupakan beberapa contoh karya tersebut.

Berangkat dari persoalan inilah, penulis ingin mencoba menyajikan keseimbangan antara ciptaan dan pencipta, haruslah juga dikenalkan kepada masyarakat pembacanya, yaitu keberadaan komunitas ‘Teater Persada’ yang secara kebetulan saya pernah jadi anggotanya.

Teater Persada Ngawi
Membicarakan sejarah komunitas sastra ‘Teater Persada’ Ngawi, cukuplah panjang perjalanannya. Menurut keterangan, Mh. Iskan, ketua Teater Persada, bahwa kelompoknya berawal dari komunitas para pelajar yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi, tahun 1960-an.

Dari komunitas ini, kemudian terbentuklah apa yang dinamakan komunitas bernama “Himpunan Pecinta Sastra Etsa’ kemudian lebih dikenal kelompk ‘Etsa Divina Artis Magistra’ yang merupakan gabungan para pelajar PII tersebut, dengan membuat sebuah kelompok seni pertunjukan, menampilkan berbagai cabang seni. Di antaranya: pentas keroncong, drama, dan baca puisi. Beberapa nama yang aktif di komunitas ini adalah: Anwaroeddin, Suwandi Black, Mh. Iskan, Ummi Haniek, Rodiyah, Sutomo Ete, Gisran, Rosyid Hamidi, Wahab Asyhari, Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, M. Har Harijadi, Heru, Aming Aminoedhin, Djoko Mulyono, Ratih Ratri, Alina Evawanti, Susilowati, Agnes Maria Soejono, dan banyak lagi.

Pada mulanya komunitas ini hanya tampil di komunitasnya sendiri, Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi, tapi pada perkembangannya bisa mementaskan seni pertunjukannya di luar komunitasnya. Misalnya diundang di Bupati Ngawi, pentas drama di pendapa Kabupaten Ngawi.

Berawal dari intensnya komunitas ini berkumpul dan latihan seni pertunjukan inilah yang kemudian memunculkan ide memberi nama komunitas, yaitu ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ pada tahun 1978. Pada waktu itu, kata Mh. Iskan, komunitas ini akan mengikuti Lomba Drama se Jawa Timur di Surabaya.

Susunan kepengurusan, Mh. Iskan, terpilih sebagai ketuanya; dan M. Har Harijadi menjadi sekretaris. Beberapa nama yang ikut jadi pengurus antara lain: Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, Wahab Asyhari, dan Suwandi Black.

Markas atau pangkalan dari Komunitas Sastra Teater Persada adalah Jalan Trunojoyo 90, Ngawi; yang merupakan rumah pribadi Mh. Iskan. Sedangkan latihan-latihan drama, dan baca puisi, biasanya dilaksanakan di pendapa Paseban WR. Soepratman Widyodiningrat, yang berada di depan Kantor Bupati Ngawi. Alternatif lain dalam penyelenggaraan latihan drama dan puisi, berada di halaman masjid besar Ngawi atau di rumah AM. Subekti di dekat masjid.

Aktivitas Teater Persada
Selama perjalanan panjangnya ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi adalah mengadakan latihan-latihan baca puisi dan drama. Dari latihan-latihan tersebut, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ berkali-kali pentas drama/teater dan selalu diawali dengan pembacaan puisi, bahkan tak jarang di dalam pentas drama/teaternya selalu memasukkan unsur di dalamnya.

Dalam aktivitas pentas drama, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ tidak hanya pentas drama panggung, tapi juga drama radio di RKPD (Radio Khusus Pemerintah Daerah) Kabupaten Ngawi, dan Radio Al-Azhar (Radio Swasta milik Pelajar Islam Indonesia) Cabang Ngawi.
Selain pentas drama radio, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, juga pernah membuat video-film bekerja sama dengan BKKBN Jawa Timur, dengan KPU Kabupaten Ngawi, dan instansi pemerintah di Kabupaten Ngawi.

Pentas drama panggung ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi tidak hanya di kotanya sendiri Ngawi, dan berulang kali; akan tetapi juga tercatat pernah pentas di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo, Surakarta, Taman Budaya Jawa Timur, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA), Dharmahusada Barat, Surabaya, Taman Budaya Jawa Tengah di Surabaya; dan Taman Budaya Yogyakarta.

Mh. Iskan sebagai ketua komunitas, ketika teman-teman Persada tidak lagi bisa diajak bermain, maka dia memainkan sendiri sebuah naskah monolog karya Putu Wijaya berjudul ‘Mulut’. Pentas monolog berdurasi sekitar satu jam ini, telah digelarpentaskan 5 kali pertunjukan. Pentas pertama di depan siswa-siswa SMAN 1 Ngawi, MAN Ngawi, Dewan Kesenian Surabaya, dan SMAN 2 Ngawi; pada tahun 2006. Sedangkan tahun 2007 dipentaskan di depan mahasiswa Universitas Widya Mandala Madiun (tidak ingat tanggal dan hari pentasnya).

Naskah-naskah drama yang dipentaskan oleh‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, kebanyakan memang naskah yang ditulis dan disutradarai sendiri oleh ketuanya, Mh. Iskan; kecuali naskah pementasan dalam rangka lomba drama se-Jawa Timur.
Dalam rangka lomba pementasan drama se-Jawa Timur, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, pernah mendapatkan predikat terbaik (sutradara dan kelompok) di tahun 1978; serta sutradara, kelompok, dan aktor terbaik pada tahun 1983. Secara catatan prestasi ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi sudah memenangkan dua kali kemenangan di tingkat Jawa Timur, yaitu 1978 dan 1983. Belum lagi, telah beberapa kali para anggotanya memenangkan beberapa kali lomba baca dan menulis puisi di berbagai lomba.
Aktivitas dari ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi memang tak pernah berhenti, bahkan ketuanya sendiri, Mh. Iskan, tetap bermonolog sendiri serta pentas di berbagai tempat dan komunitas lain. Di samping itu, Mh. Iskan, juga masih melukis dengan corak lukisan gaya ‘Sanggar Bambu” Yogyakarta, di mana dulu ia termasuk anggota komunitas itu.

Terbitan BukuTeater Persada
Membicarakan sejarah perjalanan ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, maka tidak lengkap apabila tidak membicarakan penerbitan yang telah dihasilkan komunitas ini. Secara hitungan, ada tiga kumpulan puisi (meski sederhana bentuknya), tapi merupakan bukti keberadaannya selama ini.

Ketiga buku penerbitan ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi tersebut adalah merupakan trilogi kumpulan puisi, yaitu Tanah Persada (1983), Tanah Kapur (1986), dan Tanah Rengkah (1998). Para penulisnya adalah tiga penyair, yaitu: Mh. Iskan, M. Har Harijadi, dan Aming Aminoedhin yang selalu ada dalam kumpulan puisi tersebut. Hanya pada kumpulan Tanah Persada terbitan tahun 1983, ada salah satu anggotanya ikut menulis puisi dalam kumpulan tersebut, bernama LH. Irmawati

Tanah Persada, kumpulan puisi
Kumpulan puisi yang berjudul ‘ Tanah Persada’ ini diterbitkan oleh kelompok Teater Persada Ngawi, tahun 1983. Dalam kumpulan puisi yang sederhana (stensilan) ini, diberi kata pengantar oleh M. Har Harijadi, salah satu dari penyair yang puisi-puisinya termuat dalam kumpulan ini.

Dalam kata pengantarnya, antara lain dikatakan, “ Beberapa puisi yang termuat, dihimpun dengan acak, dalam artian tak ketat selektif, mengingat waktu mempersiapkan hanya sehari semalam – setelah ide mencuat dari seseorang yang obsesinya telah lama terpendam – namun dilanda kesibukan. Di antaranya pernah termuat di surat kabar atau majalah yang entah kapan tahun penerbitannya, serta yang lain bertahun lebih dari satu dekade dari yang sekarang. Apa boleh buat, suatu ‘kehadiran’ terkadang memang hanya satu kebetulan. Yang penting, mari diisi dengan perbuatan. Keliru tidak malu, yang benar kita kejar. Setuju?

Pengantar M. Har Harijadi menunjukkan betapa ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, telah menunjukkan kehadirannnya lewat kumpulan puisi ‘ Tanah Persada’ ini, betapapun sederhananya. Serta berbuat untuk mengkoleksi puisi-puisi para anggota komunitasnya.

Kumpulan puisi ‘Tanah Persada’ bersisi 28 judul puisi, terdiri 5 judul puisi karya Mh. Iskan, 7 judul karya M. Har Harijadi, 8 judul karya Aming Aminoedhin, dan 8 judul puisi karya LH. Irmawanti S.

Beberapa karya yang termuat dalam kumpulan tersebut penulis sertakan guna melengkapi penelitian ini:

mh. iskan
SEBUAH JENDELA TERBUKA
PAGI INI

salamku saja untukmu, gadis kecil
yang berdiri tegak di jendela
pagi ini

benang-benang mentarimenciummu kasih
bagai selaksa bidadari turun
beruntun

salamku saja untukmu, gadis kecil
yang mengerti bunga mekar pagi hari
tubuhmu ranum-ranum buah pisang
di jendela segar
alangkah terdampar

sebuah jendela terbuka
pagi ini
di jantung kota
menara yang tegak adalah ibunya
di bawah taman lebat berbunga

dan gadis kecil itu
masih saja sayu menatapnya
-adakah bonekaku ketemu di sana

segala tanpa kata
sebab jendela itu tinggi
dan gadis itu sendiri

1967

mh. iskan
DI JALAN-JALAN TENGAH KOTA

di jalan-jalan tengah kota
orang bicara tentang kematian, peperangan dan kedengkian
setiap kata adalah keyakinan
meski cuma dengar dari berita

di jalan-jalan tengah kota
orang lebih tertarik untuk duduk
dan bicara seenaknya tentang perburuan
nyawa anak-anak yang di pertaruhkan
dan serpihan-serpihan logam jadi akrab
di antara padang-padang rumput
hutanpun lata penuh asap mesiu
kota-kota jadi mati
kabut semakin rendah, semakin rendah

langitpun mulai mengeluh
kapan bayi-bayi itu damai dalam gendongan
tak terganggu desingan peluru
tapi ini adalah permainan
dari tangan-tangan yang haus
dan jiwa-jiwa yang sunyi
dari tuntutan kemerdekaan
atau kerinduan yang dicanangkan
lewat sumur-sumur bermata bangkai

di jalan-jalan tengah kota
dimana-mana barat timur utara
kabutpun semakin rendah, semakin rendah
sementara burung-burung nyanyi lagu duka
dan dimatanya terkenang nanah
yang setiap kali meleleh
genderang-genderang sayup mengetup satu-satu
diantara kibaran-kibaran bendera setengah tiang

langitpun tetap mengeluh
kabut semakin rendah, semakin rendah
bumi seperti biasa mendukung beban
meski tangis ini tertahan

di jalan-jalan tengah kota
orang bicara tentang kematian, peperangan dan kedengkian

jakarta, 1972

mh. har harijadi
SIANG HARI

ruang persegi empat ini pengap
tubuhku lungkrah dan dadaku sesak
haruskah tinggal berlama-lama menatap
tanpa sedikitpun berusaha
melapangkan nurani yang mendesak
doapun telah berlaksa dilafazkan
hatipun yang gundah telah dicobasegarkan
tapi hanya padaMu-lah Tuhan
yang kuasa menyejukkan
apalah arti seorang hamba
apalah arti segala usaha
apalah artinya seorang manusia

ngawi, 1973

mh. har harijadi
SEBELUM SENJA

tercenung setelah tidur siang hari
resahku yang abadi
mengeram dalam hati

hari belum senja
mestinya hari-haripun masih panjang pula

ngawi, 1972

aming aminoedhin
SELAMAT TINGGAL KOTA

aku seperti tak kuasa berucap ‘selamat tinggal’
kota tanahku tercinta

selayang kulihat beburung berarak terbang menjauh kian jauh
seperti telah jenuh melihat kotaku selalu melenguhkan keluh

tapi akankah aku tetap bertahan
pada sebuah kota, di mana
yang abadi hanya sepi

kota yang berbatas kali dan berbatas kali
dan bila air meluap musim hujan, di jalan raya
pasti sebatas lutut kaki. mobil terhenti
anak-anak mendorong bernyanyi

dan bila saatnya nanti, aku memang harus enyah
melangkah pergi. mungkinkah resahku akan istirah
dan sepiku akan menepi
atau lebih terpatri?

memang ludah yang telah kuludahkan
tiadalah mungkin akan kujilat kembali

hanya pesan padamu, mitraku
kata ‘kenangan’ hanya memunculkan keindahan beragam
tapi cinta dengan beribu jalan bisa tetap bertahan
meski sejuta luas samudra jarak terbentang

ngawi, 1982

aming aminoedhin
PATUNG

Telah kupatungkan wajahmu
pada hatiku. Yang berarti ini tak
memungkinkan bayang-bayang wajah
akan lagi bergerak mendesak
pada hati yang gelisah

Wajahmu telah jadi petapa yang semedi
tenang. Seperti cendawan, pada
hatiku tersimpan

Tapi kulihat dirimu masih rawan
di hadapanku enggan. Di matamu
memuat ragu-ragu

ngawi, 1983

lh. irmawanti s.
TELAGA SARANGAN

milikMukah ini Tuhan
telaga menghijau, bening, tenang
berbingkai Lawu?
teriak bocah-bocah kecil
tawarkan sekeranjang sayuran
juga mainan anak-anak
berjalan sepetak
perempuan tua
tawarkan barang serupa
milikMukah Tuhan
lalu laki-laki
dengan kuda
tujuh ratus lima puluh keliling telaga
milikMukah Tuhan
juga orang-orang papa
yang gemetar memohon kasih?
milikMukah Tuhan
telaga menghijau, bening, tenang
berbingkai Lawu?

lh. irmawanti s.
PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
yang tercinta Ibu Bapak

jalan berdebu
setia kalian lalui
dengan beban
makin sarat di pundak
engkau kian senja
sedang aku
baru sampai pada titian pertama
Tuhan
nyalakan lilinMu
singkirkan kerikil
di jalan berdebu itu!

Tanah Kapur, kumpulan puisi

Kumpulan puisi yang berjudul ‘ Tanah Kapur’ ini diterbitkan oleh kelompok Teater Persada Ngawi, tahun 1986. Dalam kumpulan puisi yang sederhana (fotokopian) ini, diberi kata pengantar oleh M. Har Harijadi, salah satu dari penyair yang puisi-puisinya termuat dalam kumpulan ini.

Dalam kata pengantarnya, antara lain dikatakan,” Perjalanan panjang Teater Persada memang tak bisa tercatat secara keseluruhan, namun demikian kegiatan yang pasti adalah teater/drama, dan beberapa kegiatan lain seperti baca puisi, serta membuat semacam latihan-latihan kesenian lainnya.

Dalam perjalanan selama ini, Teater Persada pernah mencatat sebagai pemenang festival Drama se-Jawa Timur pada tahun 12978 dan 1983 di Surabaya.

Lebih dari itu, sementara waktu ini Teater Persada Ngawi hanya berlatih teater secara tidak rutin di kampungnya sendiri, misalnya untuk persaiapan pementasan sewaktu-waktu. Lantara beberapa waktu berselang – sementara sedang gencar-gencarnya mempersiapkan ikut Festival teater di Surabaya – kabar yang terdengaer justru festival dibatalkan. Barangkali ada menyelinap kecewa, namun ada pula terasa yang diambil maknanya.

Sebab itu kemudian memunculkan ide untu menerbitkan kumpulan sajak ‘Tanah kapur ini, agar komunikasi masih ada terjalin.”
Dari kata pengantar ini, bisa diketahui bahwa Teater Persada Ngawi, memang tidak lelah-lelahnya berproses latihan teater. Sedang melalui latihan latihan-latihan itu, yang kemudian memunculkan ide lain berupa penerbitan kumpulan puisi ‘Tanah Kapur.”
Kumpulan puisi ini memuat karya-karya puisi dari tiga penyair, yaitu: Mh. Iskan, M. Har Harijadi, dan Aming Aminoedhin; memuat sejumlah 45 judul puisi, terbagi atas 12 judul karya Mh. Iskan, 19 judul karya M. Har Harijadi, dan 14 judul karya Aming Aminoedhin.

Beberapa karya yang termuat dalam kumpulan tersebut penulis sertakan guna melengkapi penelitian ini:

mh. iskan
RUMPUT-RUMPUT BERGOYANG
DI TANAH LAPANG

rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik
rindu rumput rindu jemput menggamit jiwaku
adalah kehadiran yang memanjang dan menyesak
jika rumput-rumput bergoyangan
di tanah lapang

sepotong dukana nyangkut di daun pintu
dan aku menatap goyangan perdu
di bendul jendela
nyanyi sunyi di padang itu
jengkerik pun menyusut sayapnya
rindu rumput rindu lumut adalah menyatu
dalam tatapan warna senja

rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik
rumput rindu menyaput dukana
yang membasuh warna malam
melantunkan suara merdeka
damai di bumi damai adalah kerinduan
seperti nyala rinduku padamu

Ngawi, 1976

mh. iskan
AKRABNYA BIRU LANGI T
DI ATAS BUKIT

akrabnya biru langit di atas bukit
simphoni menyusup lewat senja itu
secangkir teh mengulum hasratku
yang sekian kali kutahan
dan alam adalah selimutku
di sini

angin jatuh satu-satu
sementara gembala itu meniti senja
namun suara gaung doaku
menepis punggung-punggung bukit
mengalir di gerisik air mengelus batu-batu
secangkir teh melewatkan sepiku
dan doaku telah kuendap
jadilah jiwa yang menuntunku ke lembah sana

dan perjalananku tak usah kau tangisi
karena inilah hasrat untuk menembus waktu
sampai kapan jam menghentikan detaknya
akrabnya biru langit di atas bukit
nyala sepiku menggugah
aroma dan sendrian mengurut punggung bukit
di sini kutatah namaku
menjelang usia yang ketiga puluh enam
Ngawi, 1978
mh. har harijadi
SEBELUM PATAH HATI

segera setelah mencintai
kutetapkan syarat-syarat administrasi
demi efisiensi
abad teknologi
Ngawi, 1978

mh. har harijadi
DI NGAWI

apalagi yang bisa saya pelajari
pengulangan itu sudah membosankan
sulit ditarik sepercik kemanfaatan
sedang jadwal masih begini hari-hari
tumpah darah katanya harus dijunjung tinggi
saya malah tak bisa krasan-krasan

1979

aming aminoedhin
STASIUN BALAPAN

Di antara gerbong-gerbong barang
Matahari panas menyerang. Stasiun
seperti terbakar. Membakar

Di antara gerbong-gerbong renta
Aku berlindung dari matahari yang tua. Terjepit
tersudut antara gerbong-gerbong bisu
Terkantuk-kantuk mata. Menunggu
Menunggu lama. Saat loko tiba

Di antara gerbong-gerbong yang ada
Laparku menghunjam perut, seperti
keris yang punya tuah. Bersiap
menancap untuk membedah

Kereta belum berangkat, meski
muatan barang dan penumpang telah
sarat. Sarat muatan

Gerah tengah hari membakar
Aku lelah duduk bersandar
Menekan pikirrasaku berlayar
Menekan perutku yang lapar

Solo, 1983

aming aminoedhin
TANAH KAPUR
* sketsa kota ngawi pagi hari

tanah pegunungan kendheng memanjang tampak kabur
oleh kabut pagi, dan matahari muncul memerah
di timur menyenandung. berbaur suara
kicau burung dan indahnya embun di rumput daun
mengucap kata selamat pagi kota ngawi

rerumput di alun-alun berembun
alun-alun nan luas, dan tetukang kayu
memikul beban kayunya melintas
dari arah utara kota baris berjalan memanjang
menuju selatan ke pasar Beran, punya tujuan

adakah yang lebih berat
memikul kayu yang sarat demi nasi sesuap
atau menjual lebatnya hutan jati
demi mengejar tingkat teknologi abad ini?

adakah kita kan kehilangan hutan jati
kicau burung, indahnya embun di rumput daun
saat matahari menjemput pagi
di esok hari nanti?
1986

Tanah Rengkah, kumpulan puisi
Kumpulan puisi yang berjudul ‘ Tanah Rengkah’ ini diterbitkan oleh kelompok Teater Persada Ngawi, tahun 1998. Dalam kumpulan puisi yang sederhana (masih berbentuk fotokopian) ini, diberi kata pengantar oleh Aming Aminoedhin, salah satu dari penyair yang puisi-puisinya termuat dalam kumpulan ini.

Dalam kata pengantarnya Aming Aminoedhin antara lain, mengatakan,”Ada semacam benang-merah yang melatarbelakangi terbitnya kumpulan puisi ini. Bermula dari omong kosong (Saya, Mas Iskan, dan Mas Harijadi) di beranda rumahnya Mh. Iskan yang kebak lukisan itu, tentang betapa banyaknya sekarang ini, generasi muda yang kepingin jadi penyair tanpa melalui tempaan pengalaman yang tearasa tiada mudah untuk menyandang ‘sang penyair’. Tak kurang pula bicara soal pentas ‘Wayangan Sabtu Legi’ di pendapa Bupati yang kini jadi tradisi di Ngawi. Kemudian dilanjutkan perbincangan soal perlu kiranya menyambung dua kumpulan puisi terdahulu terbitan Teater Persada Ngawi, yaitu Tanah Persada dan tanah Kapur. Lantas ketemulah ide untuk menerbitkan ‘Tanah Rengkah’ sebagai trilogi kumpulan puisi dari Teater Persada Ngawi.

Sebenarnya tidak itu saja, kumpulan puisi yang terbit dari kota Ngawi. Bilau mau mencatat (dan itu pun tidak lengkap) adalah kumpulan puisi ‘Surat dari Ngawi’ (Mei, 1994) diterbitkan Kelompok Lingkar Sastra ‘ Tanah Kapur’ Ngawi, yang ternyata sebagian besar penulisnya juga anak-anak Teater Persada Ngawi sendiri. Begitu pula kumpulan puisi berjudul ‘Suluk Hitam Perjalanan Hitam di Kota Hitam’ (November, 1994), terbitan Teater Sampar Ngawi, yang para awaknya juga embrio dari Teater Persada Ngawi.

Dari catatan pengantarnya kumpulan tersebut di atas, bisa diketahui bahwa di kota Ngawi juga banyak kelompok teater lain yang cukup berkembang keberadaannya. Belum lagi ada nama Teater Magnit yang diketuai oleh Kuspriyanto Namma, seorang penggagas Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP).

Kumpulan puisi ‘Tanah Rengkah’ ini, masih memuat karya-karya puisi dari tiga penyair, yaitu: Mh. Iskan, M. Har Harijadi, dan Aming Aminoedhin; memuat sejumlah 41 judul puisi, terbagi atas 14 judul karya Mh. Iskan, 13 judul karya M. Har Harijadi, dan 14 judul karya Aming Aminoedhin.

Beberapa karya yang termuat dalam kumpulan tersebut penulis sertakan guna melengkapi penelitian ini:

mh. iskan
LEMBAYUNG BAKUNG

lembayung bakung
nagasari santapan pagi
tak mungkin sirna oleh teknologi
tak mungin mati oleh gerigi-gerigi
lembayung kangkung, serai madu, jenang ragi
adalah tumbal raga, adalah ruh lembah cadasku
yang tumbuh menurut getar jari-jari mencakari bumi
yang tumbuh melumasi otot-otot bayi

napas lembayung daun kunci laos jahe
adalah bau kesturi menggugah alam pagi
menapaki ranjam batu dan desah tanah
yang tergugah
karena jiwa-jiwa yang pasrah
kemurnian yang abadi

lembayung-lembayung bakung
nagasari santapan pagi
selalu kutemui setiap jengkal tanah
dan tubuhku menyatu di pusar raganya

ngawi, 1993

mh. iskan
SAJAK TEMBANG KAPUR

angin letih menepisi ranting
dan bau tanah purba bangkit
merebak di kulit bumi
adalah nafas sukma yang bening

harumnya tanah kapur, coklatnya lembah
tak mengubah niat yang tabah
kali sunyi adalah rengkuh
tembang megatruh
menyusup jiwa-jiwa yang pasrah
tak pernah istirah
adalah tonggak adalah akar adalah
getar yang memuput bongkah tebing cadas
dicium langit tak wingit

Ngawi, 1994
mh. har harijadi
SEPANJANG JALAN RAYA

Kadang terasa hina, tak berani mempercepat kendaraan
Waktu sudah kencang jalannya, hanya mati ketakutan satu-satunya
Aku yakin tak tahu nasib apa selama di jalan raya
Tapi segalanya begitu gampang terlaksana
Seperti yang sudah kerap terlihat, namun tak pernah teralami
Padahal kini semuanya kian memaksa, tak bisa menghindari
Ah, biarlah ditertawakan, lantaran terlalu berjaga-jaga
Padahal kini, harus banyak pergi menuruti arah teknologi
Barangkali belum terlambat, masih selalu mengucap doa
Walau orang semakin tak saling mengenalnya
Tak pernah lagi perlu basa-basi, menyapa sekedarnya
Kini aku malah merasa dekat Tuhan berada di jalan
Aku berjumpa Tuhan di mana-mana
Sampai kapan berlaku hari-hari demikian
Siapakah yang patut disalahkan?
Jika memang begini keadaan
Kesimpulannya? Anak jaman akan kembali padaMu sendirian!

Ngawi, 1979

mh. har harijadi
GEDONGTATAAN

saya ingin menyalahkan petani kalau begini
sudah bertransmigrasi lalu pulang kembali
tidakkah sesuai dengan profesi
hidup bertahun di dusun ternyata tak dihayati
masihkah hasrat mengekalkan urbanisasi

hutan yang bergayutan bukan untuk ditakutkan
betapa luasnya tak terhitungkan masa depan
salamkan hatimu, kita adalah satu
mari kita benah, sama-sama punya rumah
bukankah ini khalifah yang telah jadi anugrah

sebenarnya tak lagi perlu tawaran
kalau kita sudah darahkan pikiran
tinggallah keteguhan, barangkali juga segumpal pengorbanan
di sana juga kerasan, kenapa di tanah sini tak kerasan
ahoi hidup bukan lagi hanya menerima sesuap makanan

Lampung, 1980

aming aminoedhin
MATAKU MATA IKAN
malam telah begitu larut
tapi mataku adalah mata ikan
terjaga. tanpa ada kantuk
datang menyerang sepanjang malam

jika harus dirunut awalnya
barangkali hanya hati yang hanyut
pada kenangan teramat indah
mendepakku ke ujung dunia yang resah

mataku mata ikan malam ini
terjaga sepanjang malam begitu sunyi
hatiku hati yang lebam kini
begitu hitam seperti kelam berdiri

mataku mata ikan
hingga berlabuhnya parak pagi
hatiku hati rawan
begitu rapuh didepak sunyi

Surabaya, 1991

aming aminoedhin
TANAH RENGKAH I
* mashar + mh. iskan

selalu saja kita bincangkan seni
di kota tanah rengkah ini
selebihnya seperti telah bertahun
kutulis dalam baris puisi
yang abadi di kota ini
hanya sepi hanya seni
meski kota dilanda hujan
dilanda banjir
dilanda kemarau panjang
kehabisan air
hanya seni terus bernafas segar
mengalir

masihkah kita akan menipu diri
mengacuhkan nafas seni
yang mengental dalam dada ini
yang mengakar dari generasi
ke generasi, mengalir
tanpa mau henti

kota tanah rengkah yang tua
telah mencatat peristiwa budaya
ke peristiwa budaya
yang mengkristal dalam dada
adakah kita akan lupa?

malam telah begitu larut
suasana terasa nglangut
dari pendapa bupati
masih terdengar pergelaran
wayang kulit sabtu legi
lamat-lamat menyibak sepi

adakah kita akan menipu
dan lupa diri?
Ngawi, 2 Maret 1996

Kota Tercinta, kumpulan puisi
Komunitas Sastra Teater Persada Ngawi, telah menerbitkan buku 3 (tiga) kumpulan puisi tersebut, juga memprakarsai penerbitan buku kumpulan puisi dan cerpen bertajuk ‘Kota Tercinta’ (November, 2003) berisi tulisan sastra para alumni SMAN Ngawi, pada acara semarak Lima Windu atau 40 Tahun SMAN Ngawi yang kemudian berubah jadi SMAN 2 Ngawi. Dalam buku ini termuat tulisan puisi-puisi karya: Aming Aminoedhin, M. Har Harijadi, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widiyanto, serta cerita pendek karya Etik Minarti. Dalam kata pengantar yang ditulis M. har Harijadi, antara lain dikatakan, “Memang banyak sastrawan kelahiran Ngawi yang sudah terkenal, bahkan sudah almarhum, tapi mereka bukan alumni SMA Ngawi. Selain mereka menulis dalam bahasa Indonesia, juga di antaranya menulis dengan bahasa daerah, Jawa. Ada nama Poerwadi Atmodihardjo, Umar Kayam, satim Kadarjono, M. alwan Tafsiri, Mh. Iskan, Basuki Rahmad, Djajus Pete, Hardho sayoko SPB, Hamdy Salad, Junaidi Haes, Kuspriyanto Namma, dan banyak lagi.
Sementara itu komunitas sastra teater lainnya ada juga yang menerbitkan kumpulan puisi, yaitu: Kelompok Lingkar Sastra ‘Tanah Kapur’, dan ‘Teater Sampar’.

Kelompok Lingkar Sastra ‘Tanah Kapur’
Kelompok lain bernama Lingkar sastra Tanah Kapur, diprakarsai oleh Tjahjono Widarmanto, telah menerbitkan buku antologi 9 penyair Ngawi bertajuk ‘Surat Dari Ngawi’. Mereka para penyair tersebut adalah: Mh. Iskan, Junaidi Haes, Aming Aminoedhin, Tjahjono Widiyanto, Anas Yusuf, Tjahjono Widarmanto, M. Har Harijadi, Agus Honk, dan Setiyono.

Antologi ini memuat sebanyak 59 judul puisi, terbagi masing-masing 7 judul puisi karyaMh. Iskan, Junaidi Haes, Aming Aminoedhin, Tjahjono Widiyanto, Tjahjono Widarmanto, dan M. Har Harijadi. Sedangkan Anas Yusuf karyanya termuat 8 judul, Agus Honk 5 judul, dan Setiyono 4 judul puisi.

Selain itu, komunitas ini juga pada bulan Maret 2001, dalam rangka ulang tahun jurnal kebudayaan ‘Rontal’ menerbitkan buku kumpulan puisi ‘Secangkir Kopi Buat Kota Ngawi’ sekaligus acara malam baca puisinya, bertempat di Pendapa Kabupaten Ngawi. Kumpulan ini adalah antologi puisi 12 penyair asal Jakarta, Surakarta, Surabaya, Mojokerto, Madiun dan Ngawi. Mereka itu adalah: Dari kota Ngawi ada nama: Kuspriyanto Namma, Meidyna Arrisandi, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widiyanto.Dari kota Madiun: Anas Yusuf dan Beni setia, dari kota Surabaya: Syaiful Hadjar, dan Tengsoe Tjahjono; sedang dari Mojokerto adan nama: Hardjono WS dan Aming Aminoedhin. Sedangkan masing-masing satu penyair adalah Hardho Sayoko SPB (Jakarta), dan Sosiawan Leak (Surakarta).

Kelompok Teater Sampar
Ada lagi kelompok bernama kelompok “Teater Sampar Ngawi,” dengan tokohnya Anas Yusuf dan Tjahjono Widarmanto, menerbitkan kumpulan puisi bertajuk ‘Suluk Hitam Perjalanan Hitam di Kota Hitam’ (November, 1994), berisi tulisan puisi karya penyair empat kota: Ngawi, Surabaya, Solo dan Malang. Mereka itu antara lain: Mh. Iskan, M. Har Harijadi, Aming Aminoedhin, Anas Yusuf, dan Tjahono Widarmanto (Ngawi), Arief B. Prasetyo, Leres Budi Santosa, dan Saiful Hadjar (Surabaya), Sosiawan Leak (Solo), Tjahjono Widiyanto (saat itu masih di Malang, mewakili kota Malang).

Ini hanya sekedar catatan sepenggal sejarah susastra kota Ngawi dan para penyairnya.Jika saja ada yang terlewatkan, barangkali hanyalah keterbatasan saya mencari data yang tidak komplit. Maaf!

Setidaknya saya telah mencoba mencatatnya, betapa pun sederhananya. Salam!

Desaku Canggu, 22 Januari 2011

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://amingaminoedhin.blogspot.com/, 10 Februari 2011.

Keberadayaan budaya dalam bentuk bahasa atau sastra etnik di Indonesia sangat memperihatinkan. Betapa tidak, dari sekitar 746 sastra etnik diperkirakan hanya sekitar 30 persen yang masih eksis keberadaannya. Penyebabnya, sastra etnik tersebut terlindas oleh sastra global.

“Nasib sastra etnik di kita memang terancam punah karena kian tersisih, terjepit, terabaikan, dan kian tidak dimintai masyarakat luas, khususnya generasi muda,” kata Pendiri Komunitas Sastra Etnik (KSE), Arieyoko kepada Pos Kota, Minggu (26/6).

Di samping itu, ancaman kepunahan sastra etnik, kata Arieyoko, kian terasa lantaran minimnya perhatian pemerintah terhadap sastra etnik. Padahal, keberadaan sastra etnik merupakan sebuah bahasa ibu jadi tradisi tersebut jangan sampai tercabut dari akar budaya.

“Kalau pemerintah tidak serius, bagaimanan nantinya nasib keberadaan sastra etnik. Jadi perlu adanya kesadaran untuk memelihara sastra etnik ini,” pintanya.

Untuk melesatarikan sastra etnik, kata Arieyoko, KSE terus melakukan pegelaran sastra etnik di berbagai daerah. Rencananya, di Sukabumi Jawa Barat juga akan diselenggarakan Pagelaran Sastra Etnik Sukabumi 2011.

“Sastra etnik adalah sastra dwi bahasa yang menggunakan Bahasa Indonesia dan disisipi bahasa etnik setempak. Sastra model anyal ini merupakan upaya terobosan KSE untuk menjaga dan melestarikan sasrta etnik,” terangnya.

Dalam kegiatan bertema “membangkitkan sastra etnik Sukabumi” itu akan diisi oleh penyair dari berbagai daerah. Di antaranya, Anisa Afzal, Ratu Ayu Neni Saputra, Susy Ayu, Ade Laksana, Alfianan Latief, Martha Sinaga, Hamzah Mohammad Al-Ghozi, Kurniawan Juanedhie, Kyai Matdon, Eko Tunas, dan Arieyoko. (sule/dms)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pos Kota (Jakarta), 26 Juni 2011.

MEREKA menyebut dirinya sebagai komunitas Bulungan atau komunitas seni Bulungan (KSB). Ini adalah komunitas yang berisi orang-orang yang semi-nat dan aktivitas yang serupa! Ada para penggiat seni sastra, ada penggiat seni lukis, ada penggiat seni musik, tari dan sebagainya.

Aktivitas mereka memang lebih kepada seni. Seperti halnya lokasi yang mereka pilih untuk bertemu yakni gelanggang remaja Bulungan. Uki Bayu Sedjati, Koordinator (ketua) komunitas seni Bulungan menyebutkan bahwa ide pendirian komunitas ini memang benar-benar berdasarkan minat yang sama terhadap aktivitas seni.

“Disini, berbagai kegiatan seni ada, teman-teman yang memiliki bakat dan kemampuan seni bisa berbagi dikomunitas ini,” katanya.

Mereka yang menjadi anggota komunitas seni Bulungan, sering nongkrong bareng,membuat aneka kegiatan bareng-bareng. Prinsipnya eksistensi para seniman Bulungan dibangun secara bersama.

Kekompakan dan kebersamaan benar-benar menjadi ciri khas anggota komunitas ini. Saking kompaknya, mereka acapkali minum dan makan dari wadah yang sama. Nongkrong di kedai minuman, sambil bertukar pikiran, mengupas ie-ide seni maupun kegiatan social kemasyarakatan.

Hal yang lumrah mereka lakukan sehari-hari. Sebab di komunitas inilah para penggiat seni punya teman yang seminat. Punya kawan yang sejalan. “Bakat seni yang dimiliki para seniman pun tumbuh subur jcarena memang ketemu lahannya,” kata Uki.

Anggota komunitas tak sebatas mereka seniman yang sudah punya nama besar. Para penggiat seni yang mulai merangkak pun bisa bergabung. (inung/nk)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Pos Kota (Jakarta), 6 Oktober 2010.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi perjalanan karir seseorang. Secara sederhana dapat ditunjang dari minat dan bakat. Minat saja tidak cukup jika tidak diiringi oleh kerja keras. Begitu pula bakat, tiada artinya jika didiamkan saja. Tingginya minat seseorang pada suatu hal biasanya mendatangkan manfaat yang tak terduga, termasuk di bidang seni. Lahir dan besar di jantung pariwisata Indonesia, sejak kecil Ni Ketut Sudiani mendalami dunia seni. Harus diakui, seni budaya Bali yang kental turut mendukung pengembangan dirinya. Sudiani menghabiskan hari-harinya dengan segudang kegiatan: kerja paruh waktu, organisasi dan mengikuti berbagai kejuaraan berbasis seni seperti sastra dan tari. Mahasiswa Pendidikan Sastra Inggris, Universitas Udayana Denpasar Bali. Berikut adalah wawancara penulis dengan Sudiani.
Dimana dan kapan Anda dilahirkan?
Denpasar, 7 September 1989
Pengalaman terbaik di tingkat SD?
Di masa ini, saya menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar. Pengalaman terbaik adalah menjadi juara I di kelas 5 SD di SDPN Tulang Ampiang
Pengalaman terbaik di masa SMP?
Terlibat dalam ekstrakurikuler jurnalistik, Teater Lingkar, silat, klub biologi dan matematika di SMPN 2 Denpasar. Pada umumnya masih dalam keterlibatan mengikuti perlombaan saja, belum mampu tampil sebagai pemimpin. Beberapa prestasi yang cukup menonjol antara lain:

• Juara III Lomba Cerita Pendek tingkat regional, Angin Theatre, 2002
• Juara I Lomba Deklamasi Puisi tingkat regional, Angin Theatre, 2003
• Juara II Lomba Menulis Puisi tingkat regional, Angin Theatre, 2003
• Juara III Lomba Deklamasi Puisi, Angin Theatre, 2003
• Juara II Penampilan Drama Modern, 19th Youth Art Day, 2003
• Juara Direktur Drama Modern Terbaik, 20th Youth Arth Day, 2004
• Juara Penampilan Drama Modern Terbaik, 20th Youth Art Day, 2004

Terlibat dalam Teater Angin, salah satu ektrakurikuler besar di SMAN 1 Denpasar. Ada sekian banyak kegiatan yang kami lalui. Selama mengikuti Teater Angin, semakin terlatih dengan kepedulian dan kepekaan diri untuk saling memahami satu sama lain. Bagaimana menghadapi anggota dengan beragam karakter, bagaimana berkomunikasi dengan tim agar tidak ada yang tersinggung, serta bagaimana cara memimpin kawan-kawan yang sebagaian besar berada dalam fase labil (remaja) dan yang paling penting adalah bagaimana kami mensyukuri dan memaknai kebersamaan. Beberapa prestasi mengesankan yang pernah terukir adalah:
Pengalaman terbaik di jenjang SMA?

• Juara Lomba Cerita Pendek, Cengkilung House of Books, 2004
• Juara II Penampilan Drama Modern, 21st Youth Art Day, 2005
• Juara lomba karya tulis tentang Hari Kebangkitan Nasional, 2005
• Juara II Penampilan Drama Modern Terbaik, 22th Youth Art Day, 2006
• Juara Direktur Drama Modern Terbaik, 22nd Youth Art Day, 2006
• Juara lomba karya tulis tentang Hari Kebangkitan Nasional, 2006
• Juara III Lomba Fragmentasi Puisi tingkat nasional, Jembrana Theatre and Art Appreciation Week, 2006
• Juara Lomba Puisi Musikal tingkat nasional, Jembrana Theatre and Art Appreciation, 2006
• Juara Lomba Karnaval tingkat regional, Hari Bumi PPLH Bali, 2006
• Juara II Lomba Musikal Drama tingkat regional, Komunitas Panji, Tabanan, 2006
• Lima Besar/Nominator lomba menulis essay tingkat nasional “Toward everlasting environment”, 2006
• Juara II dan Nominator Singa Ambara Raja Award, lomba menulis puisi tingkat regional, 2007
• Juara Lomba Menulis Puisi “Chairil Anwar” tingkat regional, Universitas Ganesha, 2007
• Juara II Lomba Menulis Puisi tingkat nasional, 2007

Organisasi yang paling berkesan?
Saya akui bahwa Komunitas Sahaja, sebuah komunitas sastra dan seni yang digeluti anak-anak muda, sangat mempengaruhi kepribadian dan membentuk karakter diri lebih baik. Komunitas Sahaja, dengan dasar sastra dan keseniannya, mendorong anggotanya untuk tidak hanya kreatif, namun juga menumbuhkan rasa empati dan peduli terhadap sesamanya, meningkatkan kepekaan dan memperhalus budi. Di samping itu, melalui diskusi yang intens, saya belajar banyak hal, yang mampu menambah wawasan..
Prestasi yang paling berpengaruh terhadap karir?
Pada dasarnya semua prestasi yang pernah saya raih saling melengkapi satu sama lain. Prestasi yang satu mendukung prestasi yang lain.
Cara mengatur waktu kuliah, kerja dan organisasi?
Saya akui, memang tidak mudah menyeimbangkan semua kegiatan tersebut. Tapi ada satu sahabat yang sangat membantu untuk mengatur waktu, yaitu buku catatan kecil yang tidak pernah jemu mengingatkan apa yang harus dilakukan sehingga tiada yang terbengkalai. Resikonya adalah berkurangnya waktu tidur dan waktu “hang out”.
Moto hidup?
Sieze the day, live our life in love
Sepenting apa pengalaman organisasi?
Sangat penting, karena kita belajar menghadapi manusia yang sesungguhnya dengan ragam kepribadian dan karakternya. Secara tidak langsung diuji secara lahir dan bathin. Tentu sangat berbeda dengan apa yang kita alami dengan komunikasi berbasis internet.
Tokoh idola?
Oprah Winfrey. Dengan segala keterbatasan dan semangat juang ia miliki, mampu mengubah “limbah” menjadi berkah. Ia tidak hanya mensejahterakan dirinya, namun ia mensejahterakan semua orang. Ia telah mampu menjadi Oprah yang mewakili semua orang.
Pengalaman kerja?
Sebagai Event Organizer dan penulis lepas.
Pernahkan Anda mendapatkan beasiswa?
Ya, pernah. Beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional pada semester 3 dan 5.
Apa arti kesuksesan menurut Anda?
Saya sukses apabila telah mampu memfasilitasi pendidikan untuk anak-anak miskin, tidak hanya di daerah terpencil di Bali, tapi juga di seluruh indonesia dan mampu menginspirasi orang untuk melakukan hal yang sama. Saya tidak mesti kaya untuk menjadi sukses . . .
Apa arti kepemimpinan menurut Anda?
Kepemimpinan adalah seni menjalani hidup
Apa motivasi Anda mengambil jurusan bahasa Inggris?
Sebagaimana yang diakui Anis Baswedan, saya menyadari bahwa secerdas-cerdasnya anak bangsa, ia tidak akan mampu berkompetisi dengan dunia global apabila tidak menguasai bahasa Inggris. Namun saya tidak mau hanya berhenti di tataran bahasa, saya ingin masuk lebih jauh hingga ke ranah sastranya.
Apakah pesatnya pariwisata Bali yang mendorong Anda untuk maju?
Sesungguhnya bukanlah itu motivasinya,….pariwisata Bali maju dengan caranya sendiri, dan saya pun maju dengan cara saya sendiri.
Apa motivasi Anda dalam menulis?
Seorang filsuf pernah berujar, “menulislah maka kamu ada” atau Pramudya Ananta Toer pernah berkata, “apabila kamu tidak mau dilupakan sejarah, maka menulislah”. Hanya itu pegangan saya…
Apakah Anda pernah membuat lapangan pekerjaan?
Tentu. Saya dibantu oleh beberapa teman pernah mendirikan Bali Ambassador Tour and Travel Organizer. Karena usaha ini dimulai dari nol, maka banyak sekali suka dan dukanya. Kami dilanda banyak keraguan di awal karena tidak hanya terbentur kendala teknik, akan tetapi juga psikologis. Dengan kepercayaan diri dan semangat juang yang tak kenal lelah, kami tetap berdiri di atas kaki sendiri dengan keyakinan kuat. Syukurlah, hingga sekarang usaha ini berjalan dengan baik dan bahkan merekrut staf baru.

Apakah dampak kemajuan pariwisata Bali terhadap pendidikan?
Dampak paling nyata adalah semakin banyaknya anak muda Bali yang memilih pendidikan berbasis pariwisata. Secara umum, semakin banyak juga anak-anak yang ingin belaja bahasa Ingggris.
Apa pesan Anda untuk saudara-saudara kurang mampu yang ingin kuliah?
Tidak ada kata tidak mungkin. Mari buktikan pada dunia bahwa kita tidak perlu kaya untuk mampu kuliah. Yang kita perlukan hanya satu, semangat dan daya juang yang tak pernah mati. (Agung Setiyo Wibowo)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://kampusgw.com/, 26 September 2011.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.