Feeds:
Tulisan
Komentar

Oleh: Aries Adenata S.S

Solo The Spirit of Java. Jargon yang kini diusung oleh Kota Budaya Solo ini
menggaung santer ke seluruh pelosok negeri bahkan ke seluruh penjuru dunia.
Terbukti penyelenggaraan World Congress of the Organization of Heritages Cities
di bulan Oktober mendatang diselenggarakan di Kota Solo. Tak hanya itu, Solo
ditetapkan sebagai World Heritage Cities. Nah, melihat jargon dan historis Solo
yang semakin diakui dan dikukuhkan sebagai kota warisan budaya ini.

Ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh komunitas sastra kota. Apa
peran dan jenis kelamin komunitas sastra kota saat ini dan mendatang? Beberapa
tahun ini marak dan tercatat beberapa komunitas sastra kota yang sempat hidup
dan meramaikan khasanah sastra Kota Solo. Sebut saja, Meja Bolong, FLP, Sketsa
Kata, Pawon, HPK dan komunitas-komunitas lainnya.

Komunitas sastra kota ini tak jelas dengan peran yang akan diambilnya bagi Kota
Solo. Ada beberapa pertanyaan besar untuk dijawab oleh komunitas sastra Kota
Solo. Pertama, komunitas sastra kota akan dibawa ke arah pembentukan sastrawan
atau penulis-penulis muda yang membawa kearifan lokal, sastra hijau dan sesuai
dengan jenis kelamin komunitas mereka dalam kegiatan dan berkarya, atau diberi
ruang untuk berekspresi sesuai dengan stereotyp yang selama ini ada. Sastra
bebas berekspresi secara individual tanpa ada kekang atau mengikuti jenis
kelamin dari sebuah komunitasnya. Atau keduanya disinergikan. Yaitu membawa
identitas jenis kelaminnya atau genre komunitasnya sekaligus memberi ruang
kepada individu untuk bereksperimen.

Kedua, perlukah sebuah jenis kelamin yang jelas bagi sebuah komunitas sastra?
Atau justru sudah saatnya tidak tabu untuk saling memperlihatkan jenis kelamin
masing-masing komunitasnya? Selama ini komunitas sastra terkesan saling
bersyakwasangka antara satu dengan yang lain terkait dengan jenis kelamin.
Bahkan, mereka kadang saling mengintip di balik celana komunitas lainnya hanya
untuk mengetahui kelamin komunitas sastra lainnya. Walaupun mereka sering
meneriakkan bahwa sastra adalah otoritas yang bebas dari nilai, kepentingan, tak
berpihak, dan tak berjenis kelamin. Tetapi sesungguhnya semua komunitas sastra,
disangkal atau tidak disangkal mereka mengusung ideologi atau berjenis kelamin
tertentu. Namun, itu semua hanyalah pada tataran teori belaka. Tetapi,
sesungguhnya di ranah kenyataan mereka masih menjaga jarak secara ideologis atau
jenis kelamin, seolah bahwa komunitas mereka adalah bukan muhrimnya untuk
komunitas tertentu. Akan tetapi, secara zahir mereka saling bersentuhan untuk
mengadakan kegiatan yang menyemarakan jagad sastra di Kota Solo. Semoga
pertanyaan kedua ini akan memantik komunitas-komunitas sastra Kota Solo untuk
saling terbuka memperlihatkan jenis kelamin mereka untuk bisa menunjukkan kepada
khalayak umum bahwa sastra adalah wilayah yang toleran, egaliter dan demokratis.
Semua ideologi dan kepentingan dapat duduk bersama dan berdialog, bukannya untuk
saling mencurigai, saling menghujat, saling menjatuhkan, saling menikam,
saling-saling yang lainnya, yaitu membuat pihak lain tersudut atau tiarap untuk
sementara waktu, atau bahkan tiarap untuk selamanya. Atau justru pertanyaan
kedua ini akan membuat satu komunitas dengan komunitas lainnya saling menutup
rapat-rapat celana mereka agar jenis kelamin mereka tidak ketahuan dan diintip
komunitas lainnya? Ah…terserah mereka John Koplo!

Pertanyaan ketiga adalah apakah komunitas sastra kota dan para pegiat sastra
akan bersinergi dengan tagline Kota Solo, yaitu Solo The Spirit of Java? Nah,
ketika tagline ini ditarik ke arah karya sastra, akankah tagline ini dikunyah
dengan mentah, ataukah tagline tersebut diejawantahkan dalam bentuk tagline yang
lain sehingga bermetamorfosa menjadi tagline baru bagi pegiat sastra dan
komunitas sastra kota, misalnya Solo The Spirit of Writing. Ya, Solo adalah
sumber inspirasi untuk menulis. Solo gudang peristiwa sosial, budaya, sejarah
dan politik. Mulai dari peristiwa geger Kerajaan Surakarta, perjuangan empat
lima, kerusuhan Mei, para priyayi kampung batik, pergeseran trend belanja dari
pasar tradisional menuju pasar modern dan berbagai peristiwa lain. Jika semua
itu menjadi sumber inspirasi para pegiat komunitas sastra kota dan penulis Solo.
Maka, peristiwa tersebut akan tercatat dalam sejarah jagad karya sastra, karena
sastra adalah cermin masyarakat tersebut. Peristiwa atau sejarah yang dibungkus
karya sastra bisa jadi akan banyak digemari, disenangi bahkan dibaca banyak
kalangan, sebut saja karya sastra yang berlatar belakang sejarah, misalnya Para
Priyayi tulisan Umar Kayam yang memotret masyarakat Jawa tempo dulu atau yang
sekarang sedang meledak di pasaran yaitu karya sastra Gajah Mada tulisannya
Langit Kresna Hadi. Juga ada karya sastra lainnya yang memotret Solo lebih jelas
dari masa pergerakan hingga mencari bentuk nilai kebangsaan dari kacamata
masyarakat Solo, yaitu De Winst tulisan Afifah Afra.

Jika Solo adalah sumber inspirasi bagi karya sastra dan karya sastra tersebut
digemari, disenangi dan dibaca banyak kalangan. Maka, tulisan tersebut akan
menjadi magnet untuk masyarakat domestik untuk meneliti bahkan berkunjung ke
Solo. Dan jika karya sastra tersebut diterjemahkan ke bahasa asing kemudian
menjadi konsumsi masyarakat asing, maka tulisan tersebut akan menjadi media
promosi yang efektif bagi Kota Solo. Meskipun tujuan dari karya sastra
sesungguhnya bukanlah media promosi, tetapi salah satu tugas karya sastra adalah
memotret peristiwa yang terjadi dalam masyarakat tersebut yang akan berdampak
bagi khalayak umum menjadi tertarik dengan peristiwa yang melingkupi dan tempat
terjadinya peristiwa dari karya tersebut. Semoga!

Pertanyaan terakhir sekaligus pembuka wacana. Kini posisi komunitas sastra Kota
Solo dipertaruhkan dengan keberadaan DKS (Dewan Kesenian Surakarta) apakah
dengan keberadaan DKS akan menjadi tempat peraduan mereka untuk saling
bersinergis dan lebih giat lagi untuk menyemarakkan jagad sastra di Solo?
Ataukah DKS yang akan mengambil alih peran komunitas sastra Kota Solo? Atau
akankah mereka saling baku hantam hanya sekadar untuk mendapatkan kucuran dana
dari DKS yang notabene uang tersebut dari rakyat?!

Di atas sudah ada empat pertanyaan pemantik untuk dijawab komunitas sastra Kota
Solo. Sekarang yang kita tunggu adalah sikap dari para pegiat sastra kota untuk
menyikapinya. Apakah empat pemantik pertanyaan di atas ditanggapi dingin-dingin
saja, ditanggapi dengan telinga merah atau akan ditanggapi dengan tangan terbuka
yang kemudian akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk merumuskan peran
masalah jenis kelamin di antara komunitas sastra Kota Solo. Kini, masalah
kelamin bukanlah otoritas dokter saja, tetapi juga masalah bagi pegiat dan
komunitas sastra kota untuk diselesaikan. Ah…lagi-lagi masalah jenis kelamin!

Tulisan ini dikutip dari Harian Solo Pos (Solo), 1 Juni 2008.

MEYAKINI KEMBALI KOMUNITAS

Setoaji Purnasatmoko

Aktif di Studi Ekologi Sosial Kolektif Hijau Merdeka
Dikepung zaman SMS, online chatting, facebook, e-mail, dan aneka model percakapan “langit-elektronik” lainnya, menerima suratmu via jaringan kantor pos benar-benar terasa berbeda: terasa lebih personal- secarik kertas yang dapat diraba seakan kita saling bersentuhan kulit secara langsung. Kabar darimu datang menghampiri seakan kita bercakap-cakap langsung berhadap-hadapan muka. Ah ya, kita bahkan sudah tidak lagi sekadar berbasa-basi, “Halo, apa kabar?” Tetapi lebih dari itu, surat balasanmu berupa karyamu-aneka bentuk seni yang bisa terkirim via pos. Surat seni! Kamu menyatakan ekspresi dalammu, senimu, wilayah yang diyakini sebagai tanpa batas, mendalam sekaligus meluas dan sukarela mengirimnya kemari.

Terima kasih sahabat, suratmu menggetarkan diri. Tiupan solidaritasmu tambah menyalakan harapan yang tengah redup. Kami mendapatkan suntikan tenaga berkat kehadiran ungkapan empatimu. Dengan itu teguhlah kembali jalinan rasa kemanusiaan kita di dunia yang semakin kerontang, tetapi juga serbadingin menggigit ini. Kami menikmati ekspresimu dengan penuh suka cita. Rasa bahagia bersemi lantaran kami jadi yakin tidak bersendiri dibekuk gundah dan letih mempertahankan kehijauan hutan kota dan kehangatan komunitas kami.

Suratmu dari jauh itu, yang meliputi tiga puluh negara, melelehkan batas-batas jarak. Adapun surat-surat dari para sahabat satu kota makin mempertautkan langkah keseharian kami masing-masing. Yang jauh dan yang dekat dalam tatapan jarak geografis, luluh mengkristal bening sebagai kehadiran intim yang bikin hati bungah. Demikianlah kita bersama menghimpun surat-surat seni ini guna saling meneguhkan keyakinan “From The World With Love”, tanpa diembel-embeli harga, tanpa pasar kapitalistik! Semata kasih.

Demikianlah saya membayangkan pertautan batin yang tercipta oleh momen Pameran Surat Seni di Sanggar Olah Seni (SOS) Bandung, 7-21 Februari 2009. Menurut Deden Sambas, salah seorang penggagas yang juga pengusung projek Seni Rupa Koran, kontak-kontak surat berjalan kurang lebih sejak dua bulan terakhir. Evie Setiyadi dan Toni Antonius turun sepenuh diri meyakini dan menjalankan gagasan yang pada gilirannya membentuk jejaring sosial ini.
**
SOS di bawah pimpinan Syarif Hidayat dengan bersemangat turut mengeksekusi projek ini. Lebih dari seratus seniman dari tiga puluh negeri berhasil terhimpun karyanya, melalui pengorganisasian yang ramping, sederhana, bekerja berbasiskan kesukarelaan yang riang, dan keyakinan tengah memperjuangkan sesuatu yang bermakna konkret bagi publik.

Alhasil, sebenarnyalah dalam pandangan saya, yang tengah mengalir dan tersalurkan secara alamiah ini adalah energi spontan yang terhimpun dalam sebuah kolektivitas cair. Dan terwujudnya sebuah perayaan spontanitas tiada lain itulah festival dalam makna sesungguhnya. Ini sesuatu yang mustahil dicapai oleh birokrasi pemerintahan. Sebabnya ada dua alasan mendasar. Pertama, birokrasi pemerintahan sudah sedari karakter dasarnya memang nonalamiah. Ia serba pesanan dan penuh beban. Kedua, birokrasi yang sudah sebagai sumber mata pencaharian bagi para pengusung dan pegawainya, akan dengan sendirinya menelurkan organisasi yang reyot dan lembam. Sialnya mereka kerap tak tahu diri. Aneka perhelatan mereka gelar dan dengan keras kepala mematut-matutnya sebagai festival. Persisnya festival kemubaziran: sudah pasti festivalnya tampil artificial, pasti pula menyedot dana miliaran guna memanggung-manggungkan seni penghiburan yang sebenarnya memiskinkan publik secara lahir dan batin.

Akan tetapi, lantas untuk apakah “From The World With Love” tersebut diseru-serukan? Demi apakah?

Pada tatapan permukaan, sebagaimana kita maklumi bersama, itu adalah upaya mempertahankan tetap adanya komunitas sanggar-sanggar seni di kawasan Babakan Siliwangi yang sekaligus juga area hutan kota. Kita paham mereka terancam oleh rongrongan egoisme pembangunan yang kapitalistik. Upaya tersebut merupakan salah satu dari serentetan upaya panjang sebelumnya yang sudah bertumbuh sebagai upaya kewargaan yang meluas.

Langgam kapitalistik yang garang merangsek itu, ada di mana-mana. Ia menebar dari dunia terdekat hingga pelosok terjauh sekalipun. Namun tindak spontan berkarya, mengemasnya dan sengaja keluar rumah untuk mengeposkannya kemari, ini sungguh sebuah pertanda bahwa yang meluas ada di mana-mana, tidak otomatis berarti benar. Betapa pun mereka menyatakan sebagai pembangunan yang ramah lingkungan. Toh, tampak dalam beragam langkah keseharian, tindak-tanduk mereka beraroma tak sedap, nyaris di setiap tahapan pelaksanaan projeknya, mereka meminggirkan publik. Mereka bahkan mengembangkan habitus bermuka manis seakan bermartabat. Mereka berceloteh tentang kebaikan bersama, demi kesejahteraan ekonomi pengangguran. Namun sebenarnya menuai keuntungan sesaat sembari mencekik masa depan, degradasi lingkungan yang diakibatkannya menebarkan ancaman kematian bagi flora fauna dan kanak-kanak masa depan. Ini persis muslihat serigala berbulu domba.

Jika pada lapis kedalaman berikutnya, warga meneriakkan pentingnya ruang publik, maka sebenarnyalah ada arus dalam yang genting dan yang tak selalu ternyatakan, tak tersuarakan. Maklum, sebagian diri kita, oleh sebab terjangkiti habitus kapitalistik, sadar maupun tidak menyuarakan langgam yang sama dan sebangun dengan mereka. Yakni suara yang berdasarkan azas fungsional ruang fisikal kota-kota yang berderap seirama ekonomi pasar kapitalistik. Maka yang terbayangkan pun sebatas pelataran terbuka, taman ataupun sejumput seni budaya pariwisata agar kerumunan bisa duduk santai sejenak sembari tak henti didorong-dorong untuk terus mengonsumsi, terus berindustri sekreatif apa pun. Kemudian kerumunan terpecah-pecah kembali, dalam kesendirian masing-masing pulang ke rumah untuk lagi-lagi dihajar mimpi buruk itu. Diburu atau memburu, senantiasa yang kuatlah yang menang (survival of the fittest) seakan dunia adalah medan perang tak kenal henti. “Kau dongengkan aku surga, kendati itu semata kilatan neon,” teriak nyanyian Hannah Marcus.

Kita kerap lupa bahwa ruang publik sejati tak akan pernah bisa hadir tanpa adanya komunitas yang berdaulat menjalankan mikropolitik keseharian yang tak selalu mesti heroik. Kita ingat di tanah ini pernah ada Bapak dan Ibu Iso yang menanak dan mengepalkan nasi timbel berkat kayu bakar Babakan. Pak Iso telah melakukan pilihan dan menjalaninya, hidup berbasis kealamiahan yang hijau dan benci kepada lalu lintas ramai yang tak mengizinkan manusia seperti dirinya menyeberang dengan aman. Di luar Babakan bisa kita kenali kegairahan muda yang egaliter, saling ber-saya-kamu tanpa beban kendati usia saling berpaut jauh. Mereka mengumpulkan sayuran, memasaknya, dan membagikannya di ruang terbuka. Namun mereka tidak sedang menabung wibawa moral dan tidak sedang berderma. Mereka tengah menentang politik makanan yang melulu menghasilkan ketimpangan. Kiranya, festival spontanitas serupa Surat Seni pun mustahil terselenggara tanpa adanya komunitas.

Maka agar tak pulang dengan lagi-lagi jiwa yang hampa, tepatlah kiranya meyakini kembali komunitasmu. Sepanjang sejarah negara bangsa rontok namun tidak demikian halnya dengan komunitas. Komunitas senantiasa ada kendati dipendam dan dikangkangi oleh negara, modal dan para pelayan hukumnya. Yakinilah dan rebutlah kembali aliran arus bawah yang sayup-sayup dari komunitasmu.

Tulisan ini dikutip dari Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 7 Maret 2009.

Restoe Prawironegoro Ibrahim
Ketua Umum Komunitas Sastra Jalanan Indonesia
Judul tulisan saya di atas ini sebenarnya merupakan sebuah jawaban dari Eksistensi Sastrawan (di) Jalanan, yang ditulis oleh Mohammad AW, aktivis dari Komunitas Sastra Pinggiran Jember, Harian Surya, 27 Januari 2008, yang mengatakan bahwa sastrawan jalanan merupakan sebuah wacana dan mediator dalam dunia kesusastraan Indonesia dalam menjamurkan perpuisian di tanah air.

Hal ini, telah lahir sebuah komunitas sastra yang penyair-penyairnya nota-bene memang hidup di jalanan lewat perpaduan puisi-puisi sebagai ruang geraknya di atas roda. Apalagi Dewan Kesenian Jakarta, telah memberi kepercayaan kepada penyair-penyair jalanan untuk tampil membuktikan keberadaannya pada tanggal 14 November 2007 dengan peluncuran kumpulan puisi antologinya Kata Di Atas Roda.

Pertanyaan yang ditulis Mohammad AW dalam tulisannya, apakah para penyair jalanan mampu membacakan puisi yang bukan karyanya, dan apakah sastrawan jalanan itu hanya mendeklamasikan (monolog) sehingga audiens tak segan-segan merogoh kantungg pundi-pundinya.

Saya sendiri pelaku sastra media dan jalanan. Jangan kita beranggapan bahwa kalau anak-anak jalanan tidak bisa mengekspresikan apa yang telah diciptakannya sebagai karya sastra. Bahwa karya sastra (puisi) merupakan totalitas cara bercita rasa, pelembagaan serta pemberian makna terhadap hidup ini. Maka, sebagai konsekuensi logisnya, semua karya sastra termasuk puisi perlu dihayati oleh setiap pencipta dalam melihat realita sehari-hari. Ini dibuktikan dengan kehadiran puisi ‘Kata Di Atas Roda’, sebagian karya sebuah pemaknaan hasil karya sastra yang metamorfosa. JJ. Rizal’ pun menyebutkan bahwa kehadiran Kelompok Sastra Jalanan Indonesia (KSJI) ini sebagai “mata biru” yang mempunyai kanonisasi untuk memfosilkan sastra dan apresiasi sastra dalam masyarakat sebagai penemuan baru yang membentuk pandangan-pandangan segar.

Memang, untuk menjadi penyair itu sangat dibutuhkan beberapa alat modal seperti perenungan, pendalaman, pengkhayatan dan segalanya yang bisa tercipta sebuah puisi. Puisi diciptakan oleh penyair, tanpa penyair berarti tidak ada puisi. Begitulah, antara puisi dan penyair tak berjarak pasti. Menyatu, utuh, dan kongkret dalam membentangkan kabel angan, cipta, kreasi, daya abstraksi sebagai gambaran hidup kehidupan nyata maupun bayang-bayang.

Namun begitu, tidak berarti orang yang mencipta puisi lantas disebut penyair. Sebab, untuk memperoleh predikat penyair tidaklah semudah yang diduga dibayangkan orang. Banyak kaidah dan ukiran untuk sampai ke arah predikat itu — tentunya penyair mapan dan sungguhan. Dan mestilah dilalui dengan penuh keseriusan.

Puisi bisa diciptakan oleh siapa saja. Dari anak gembel, gelandangan, pelacur, pencopet. Apalagi orang yang sedang jatuh cinta atau nelangsa. Coba amati anak-anak jalanan yang mempunyai memori harian, sangat bertumpuk-tumpuk bentuk tulisan yang bisa dikatakan puisi. Apakah ini berarti ‘puisi’ yang ditulis bisa mensahkan bahkan memproklamirkan diri sebagai penyair? Dari sejumlah “kaca mata” jelas. Walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk mengatakan, puisi orang yang sudah dibilang penyair ‘lebih jelek’ ketimbang puisi yang jatuh cinta tadi.

Kalau begitu, puisi bagaimanakah yang bisa menjadikan penulisnya disebut penyair? Tentulah puisi yang bermutu dan berkadar baik. Mutu yang macam apa? Kadar baik yang seperti apa? Barangkali pertanyaan yang kemudian mencuat apakah mau dikatakan sebagai penyair terpendam. Artinya, selalu mencoba menilai karya puisi yang dibuat, orisinalitas atau bobotkah karya puisi yang sudah diciptakan itu? Secara subyektif, cuma sang penyair di atas yang punya konsisten dalam menilainya dan menyatakan kebagusan dari ketidaksempurnaan tersebut.

Tapi, bila ingin disebut sebagai penyair sungguhan, tentulah harus menunjukkan kemampuan di hadapan publik (sastra). Harus berani mengirimkan karyanya itu ke media massa — paling efektif dan efisien. Kemudian, bila karya-karya puisi itu sempat dan selalu jadi bahan perbincangan serta tanggapan entah negatif atau positif dari para penyair dan kritikus mapan juga kondang bisa disimpulkan akan menempati posisi tersendiri di deretan kursi “kepenyairan” di tanah air.

Begitulah, mempublikasikan karya sastra yang merupakan suatu hal yang penting dan harus kalau memang mau disebut penyair. Paling tidak, dalam mempublikasikan biarpun itu orisinal dan berbobot tak lantas predikat penyair terus disandang. Sebab, perlu kesinambungan penilaian. Maklum, banyak penyair setelah disebut “hebat” kemudian tenggelam. Ini terutama banyak melanda sekaligus menghantui para pemula.

Kalau begitu, apa lagi yang dibutuhkan agar kita tetap bertahan dengan predikat yang terlanjur dimiliki sebagai Komunitas Sastrawan Jalanan Indonesia. Memang, sekali mencipta puisi orisinalitas dan bobot, yang dipublikasikan kebetulan oleh Dewan Kesenian Jakarta, tidak akan menutup kemungkinan disebut sebagai penyair pemula. Tapi, bila sampai di situ saja, tak berkarya terus, artinya: Cuma penyair satu kali! Maka, tamatlah riwayat kepenyairan tersebut. Dan, dari ‘Kata Di Atas Roda’, acara Lampion Sastra, 14 November 2007 sebagai “kiblat” kita telah lahir di sini. Masih panjang perjalanan komunitas sastrawan jalanan yang harus ditempuh.

Tulisan ini dikutip dari http://kantongsastra.blogspot.com/, 10 Maret 2008.

Bonari Nabonenar

Rame ing Pamrih, Rame ing Gawe

Komunitas sastra, seperti halnya komunitas lain, terbangun karena ikatan persaudaraan, persahabatan, pertemanan –yang erat, antar-orang-orang yang memiliki minat pada bidang yang sama: sastra. Oleh karena itu ikatan dalam hal ini tidak memuat pengertian yang kaku seperti ikatan dalam sebuah sekte, partai politik, atau organisasi formal.

Salah Kaprah
Di Jawa Timur (Jatim) kita mengenal berbagai nama komunitas sastra, baik yang berpusat di Jatim atau pun yang merupakan cabang dari sebuah ikatan yang lebih besar yang berpusat di Jakarta atau di wilayah lain. Sekedar menyebut beberapa contoh, ada yang kita kenal sebagai HP3N (Himpunan Pengarang, Penyair, dan Penulis Nusantara) Surabaya, Batu, Lamongan. Setahu saya (mohon dikoreksi) HP3N berpusat di Mataram dengan pucuk pimpinan Putu Arya Tirtawirya. Di Jawa Timur, saya pernah mengenal dua nama besar yang sangat gigih berjuang membangkitkan/menyemarakkan kehidupan bersastra melalui HP3N, yakni Herry Lamongan dan Akaha Taufan Aminoedhin Batu. Ada juga Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto) dengan Aming dan Suyitno Ethex-nya, ada Sanggar Triwida dengan Tamsir AS (kini diketuai Sunarko ’’Sodrun’’ Budiman, ada Sanggar Parikuning di Banyuwangi yang tampaknya lenyap bersama ’’sang provokator’’-nya: Esmiet. Ada juga Forum Lingkar Tanah Kapur-nya Yon Kembar (Ngawi), ada Barisan Seniman Muda Blitar (sekedar mengingatkan: beberapa saat lagi hendaknya diubah namanya menjadi Barisan Seniman Tua Blitar) yang dikomandani Bagus Putu Parto. Ada juga Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) dengan boss JFX Hoerry yang setahu saya (mohon dikoreksi) jabatan pengurus harian lainnya dirangkap oleh Djayus Pete yang tampaknya pula bertindak sebagai anggota. Dengan kata lain, yang saya tahu PSJB itu ya hanya berisi wong loro konthal-kanthil: Hoerry dan Djayus! Lalu di Surabaya ada Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) yang kelahirannya dibidani Suripan Sadihutomo bersama Suharmono Kasiyun, kini ketuanya saya (hehehe….!).

Itu sekedar contoh. Saya khawatir dijiplak Aming yang konon malas meneliti itu jika menyebutkan semuanya (baca: sebenarnya memang saya tidak hafal untuk menyebutkan satu per satu).

Pak Suripan, mungkin dulu menyadari bahwa nyaris semua pengarang sastra Jawa yang tinggal di surabaya adalah orang-orang udik yang perlu diperketat keguyubannya sehingga memilih kata paguyuban untuk menamai komunitas pengarang sastra Jawa yang dibangunnya. Bagus Putu Parto juga pernah bercerita kepada saya bahwa ia memilih nama barisan, dengan maksud siapa pun bisa jadi komandannya. Mungkin, juga kalau lelah sewaktu-waktu bisa istirahat di tempat, siap, atau bubar jalan, untuk kemudian sewaktu-waktu diperlukan: dirapatkan lagi!

Sanggar Triwida pada awalnya –justru ketika saya belum masuk jadi anggotanya— benar-benar representatif sebagai sebuah sanggar. Peran Suripan Sadihutomo ketika itu terhadap Triwida tak bisa dipandanag sepele: mendorong dan bahkan menjadi narasumber untuk workshop penulisan, mempropagandakan Triwida melalui tulisan-tulisannya.

Tamsir AS juga tergolong sosok pilih tanding dalam membangun Sanggar Sastra Triwida. Ia benar-benar menjadi boss yang murah hati, ia pula yang menuntun anak-anak muda yang masih gagap untuk bisa membuat cerita yang bagus, membuat buku, memperkenalkannya dengan penerbit-penerbit, sampai kemudian anak-anak muda itu bisa tahu jalan ke penerbit-penerbit lain.

Sayangnya, belakangan, namanya saja masih memakai istilah sanggar, tetapi kegiatan-kegiatan yang dilakukan tak jauh berbeda dengan apa yang biasanya dilakukan oleh kelompok Ibu-ibu PKK: arisan. Menerbitkan buku pun dilakukan dengan cara ’urunan’. Maksudnya bukan urunan uang untuk membiayai penerbitan itu, tetapi urunan: karya. Saya pikir hal seperti ini agak fatal.

Sanggar berarti tempat. Jadi, Sanggar sastra seharusnya juga menjadi tempat, ajang, untuk berkreasi di bidang sastra/penulisan. Maka, walau saya belum sempat melihat langsung: saya sangat hormat kepada Sanggar Adinda (sekarang juga sudah tidak terdengar lagi gaungnya) di Sumenep, Madura, yang menurut cerita teman saya, St. Sri Purnanto, berlangganan sekian banyak koran Minggu, menyediakan sekian banyak mesin ketik (manual) sehingga setiap anggota bisa datang kapan saja untuk secara gratis membaca karya sastra yang dimuat koran Minggu, dan menulis dengan mesin ketik yang tersedia di sanggar. Dan yang tak kalah pentingnya: bisa bertemu dengan teman-teman sesama pecinta/kreator sastra untuk berdiskusi seputar persoalan kesusastraan.

Komunitas Sastra bukan Partai Politik
Saya punya seorang teman, sebut saja namanya Kasep. Ia masuk menjadi anggota sebuah sanggar sastra, belajar meningkatkan kualitas tulisan-tulisannya, belajar bergaul, berorganisasi, hingga ia segera menyusul senior-seniornya: tulisannya semakin diperhitungkan, sampai-sampai sebuah penerbitan tertarik untuk mempekerjakan, mengangkat pengarang yang pengangguran ini jadi karyawannya.

Maka, ia harus berpindah ke tempat lain, ke kota lain, yang juga ada sanggar sastranya. Kasep pun melamar untuk menjadi anggota sanggar sastra di tempat tinggalnya yang baru. Karena ketekunannya, atau hanya sedang ditimpa nasib baik, Kasep pun mengalami kemajuan yang cukup pesat di komunitasnya yang baru ini. Tetapi ia bukanlah kacang yang lupa kulitnya. Kasep tetap berusaha untuk dapat selalu hadir setiap ia menerima undangan untuk pertemuan-pertemuan sanggar sastra yang diakui telah berperanan besar dalam membentuk dirinya, bahkan: melahirkannya.

Mungkin memang Kasep agak besar plus keras kepala. Lingkungan barunya mengajarinya untuk jadi individu yang lebih terbuka, berani jujur dan berterus-terang. Maka kritik terhadap teman-teman lamanya di sangarnya yang lama pun dilancarkannya tanpa basa-basi. Kasep tampaknya terlalu sadar bahwa sebagai penulis seharusnya orang (teman-temannya) lebih suka dikritik daripada didiamkan. Tetapi, hasilnya adalah: kawan-kawan lama Kasep lalu menjuluki anak kampung yang satu ini dengan: Si Keminter.

Maka, kini tokoh kita bernama Keminter. Lha, justru karena keminter itulah, tampaknya, kini Si Keminter diangkat menjadi Ketua Sanggar Baru di Kota Baru. Dan serta-merta pula Keminter merasa bodoh dan terbengong-bengong saat mendengar reaksi Ketua Sanggar Lama-nya: ’’Lho, bagaimana sih, Si Keminter itu? Kok dia lalu jadi Ketua Sanggar Baru itu bagaimana? Masih merasa sebagai anggota sanggar kita atau tidak, sih?’’

Tanpa bermaksud membela secara berlebihan terhadap Keminter yang malang itu, tampaknya kita harus sepakat bahwa komunitas seni, komunitas sastra, sanggar sastra, bukanlah partai politik. Jadi, keanggotaan rangkap seperti yang dialami/dipilih Keminter itu tidak selayaknya dipandang sebagai sebuah pelanggaran, apalagi pelanggaran berat. Bukankah Sang Ketua Sanggar Lama itu sebenarnya pantas menepuk dada: ’’Lihat, Si Keminter itu! Di sini ia hanya anggota biasa, dan di sana jadi ketua!’’ Mungkin memang akan lebih baik jika Ketua Sanggar Lama itu berpikir bahwa Sanggar Baru tak lebih dari salah satu ’’provinsi’’-nya.

Tanggung Jawab
Pekerjaan menulis, mengarang, pada hakikatnya adalah pekerjaan individual, walau tidak tertutup kemungkinan: sebuah tulisan dikerjakan secara keroyokan. Paling tidak, seorang pengarang bisa bekerja sendiri bukan seperti seorang aktor.

Maka, menjadi anggota sanggar tentu juga tidak wajib hukumnya. Ada pengarang/penyair/penulis yang merasa tidak perlu menjadi anggota sanggar, ada yang menganggapnya sebagai penting, dan ada yang mula-mula menganggap penting tetapi lalu menganggap sudah cukup untuk berkarya sendiri pada suatu saat.

Tidak ada salahnya pula seseorang memandang sanggar atau komunitas sastra sebagai ’’sekolahan’’ terbuka, yang ketika ia merasa sudah lulus maka lalu menyatakan atau diam-diam keluar dari sanggar/komunitasnya untuk bertekad: lebih produktif dengan ’’menyendiri.’’

Jika anda seorang pengarang/penyair/penulis yang sudah jadi dan tetap merasa perlu aktif di dalam sanggar/komunitas, tentulah anda diam-diam atau terang-terangan menyadari tanggungjawab sosial, untuk membantu generasi yang lebih muda, untuk membangun kehidupan berkesenian, bersastra, dengan cara bekerja bersama-sama.

Adalah sah-sah juga, jika anda memiliki tujuan-tujuan politis yang lebih berkaitan dengan kepentingan pribadi: misalnya untuk popularitas atau membangun citra diri, selama anda tetap berada pada koridor kerja sama saling menguntungkan dan tidak semata-mata mengeksploitasi kawan.

Kesusastraan selalu berhubungan dengan hakikat manusia dengan segenap kemanusiaannya, dan oleh karenanya tentu akan sangat konyol jika di dalam komunitas sastra orang lalu bermain politik secara kasar. Maka, ketika seorang kawan kita memiliki ide dan mencoba meyakinkan bahwa idenya itu bagus untuk direalisasikan, tampaknya pertanyaan, ’’Jika proyek itu terlaksana, siapakah yang paling mengeruk keuntungan (secara moral, atau bahkan juga material)?’’ adalah terlalu naif. Maka, wahai para aktivis sanggar/komunitas sastra, marilah kita bertanya, apakah kita suka menjadi Rendra, Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Najib, Budi Darma, Beni Setia, atau Herry Lamongan.

Maka, jika orang Jawa punya pepatah, ’’Sepi ing pamrih rame ing gawe,’’ untuk urusan membangun komunitas satra, khususnya di Jawa Timur, saya punya tawaran, bagaimana jika pepatah itu kita adaptasi menjadi: ’’Rame ing pamrih rame ing gawe’’(?) Tampaknya, itu lebih terasa sebagai: bukan basa-basi!

Tulisan ini dibuat untuk pengantar diskusi Sastra Tiga Kota: Lamongan, Mojokerto, Sumenep, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Surabaya, 14 Juni 2005. Tulisan ini dikutip dari http://bonarine.blogspot.com/, 4 Januari 2008.

 

Sementara publik sastra Indonesia akhir-akhir ini riuh rendah oleh berbagai silang-sengkarut dan percekcokan atas nama “politik sastra” dan “moral” di milis, Kongres Cerpen Indonesia (KCI) V berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Banyak dugaan bahwa kongres ini akan menjadi arena selanjutnya dari percekcokan yang segera muncul di antara para sastrawan yang hadir, dan yang kemudian akan muncul di milis. Terlebih dengan hadirnya Saut Situmorang dengan makalah yang menyoal apa yang disebutnya dengan ”politik sastra”, di mana di situ ia menyebut juga sejumlah isu lama ihwal “politik sastra” yang dijalankan oleh Komunitas Utan Kayu (KUK).

Namun ternyata tidak. Kecuali dalam berbagai gurauan atau diskusi informal, isu yang diembuskan Saut dalam forum kongres kurang mendapat respons. Paling tidak, tanggapan terhadap makalahnya tidak seramai tanggapan dan pertanyaan pada Trianto Triwikromo yang juga tampil sebagai pembicara.

Mungkin saja sebagian merasa lebih penasaran pada mahluk bernama naratologi yang dibawa oleh Trianto. Terlebih bagi para cerpenis yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dan tidak mengikuti percekcokan itu di milis sehingga mereka tidak tahu makhluk yang bernama KUK.

Tapi apa pun, di tengah percekcokan dengan segala isu dan “rempah-rempah”-nya inilah KCI V melahirkan sebuah institusi bernama Komunitas Cerpen Indonesia (KCI). Keperluan membentuk perhimpunan ini, selain merupakan amanat rekomendasi KCI IV di Pekanbaru Riau tahun 2005, juga mengandaikan bahwa KCI bisa memperkuat posisi cerpen dalam perbincangan kritik sastra Indonesia yang selama ini dianggap lebih didominasi oleh puisi.

Setelah melewati sidang komisi, pleno, dan pemilihan anggota formatur yang dipimpin oleh kritikus Maman S. Mahayana, terpilihlah Ahmadun Yosi Herfanda sebagai Ketua Umum KCI periode 2007-2010 dengan Sekjen Trianto Triwikromo. Selain keduanya, KCI juga berisikan nama-nama seperti Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, Titis Basino, Nabil Makarim, dan Korrie Layun Rampan di jajaran Dewan Penasihat. Sedangkan di jajaran pengurus, ketua umum akan dibantu oleh tiga orang ketua (Zulfaisal Putera, Agus Noor, Maman S. Mahayana), tiga orang sekretaris (Mezra E. Pellondou, Saut Situmorang, Shantinet), dan dua bendahara (Raudal Tanjung Banua dan Nurwahidah Idris).

Lepas dari sejumlah pesimisme bahwa perhimpunan ini akan mampu memainkan perannya dalam perkembangan cerpen, apalagi sastra Indonesia, terpilihnya Ahmadun Yosi Herfanda sebagai Ketua Umum KCI juga menjadi sesuatu yang menarik. Bagaimanapun, di tengah hiruk-pikuk “politik sastra” Indonesia yang penuh dengan kepentingan, KCI hendaknya tidak menjadi gerbong bagi kepentingan seseorang atau komunitas. Di sinilah perkaranya. Ahmadun Yosi Herfanda dianggap sebagai sosok yang tak bisa dilepaskan dari Komunitas Sastra Indonesia (KSI), di mana penyair dan cerpenis adalah salah seorang pendirinya. Jangan-jangan, KCI akan menjadi KSI kedua, begitu kira-kira kecemasan itu muncul.

Kecemasan itu mungkin logis, tapi Ahmadun langsung menjawabnya. Menurutnya, dalam kepengurusan KCI tidak ada orang-orang KSI. Orientasi perhatian antara kedua komunitas itu juga berbeda. Jika KSI lebih berkonsentrasi pada puisi, maka KCI secara spesifik lebih terpusat pada genre cerpen.

“Saya tidak akan mencampur-baurkan KCI dan KSI, kecuali sebagai sebuah sinergi,” ujarnya.

Ia pun mengatakan, alih-alih terlibat dalam silang-sengkarut percekcokan di milis, kehadiran KCI diharap bisa membeningkan situasi keruh yang jauh dari mencerahkan dan mencerdaskan itu. “KCI tidak mau terlibat di situ, meski memang ada juga pengurus KCI yang terlibat meramaikannya. Itu cuma ngerumpi!” tegasnya seraya tetap merasa optimistis bahwa KCI akan mampu memberdayakan perkembangan cerpen Indonesia.

Di lain sisi, ia pun berharap kelak KCI tidak lantas dipahami sebagai lembaga legitimasi. Tapi jika itu memang terjadi, artinya kehadiran KCI dipandang positif, namun sebaliknya akan menjadi sesuatu yang negatif jika KCI dianggap sebagai satu-satunya lembaga legitimasi yang tentu saja tidak menyehatkan bagi perkembangan cerpen Indonesia.

Jika optimisme Ahmadun dianggap tidaklah sendirian, maka demikian pula dengan munculnya pesimisme yang dilontarkan oleh cerpenis dan penyair Isbedy Stiawan. Bahkan menurutnya pembentukan KCI bertolak belakang dari ramainya isu penolakan terhadap kanosisasi (kekuasaan) dalam perkembangan karya sastra. Ia pun mengkritisi proses pembentukan kepengurusan lembaga ini di mana seluruh anggota formatur masuk ke dalam jajaran kepengurusan.

Ia memang mengakui bahwa pembentukan KCI merupakan salah satu amanat KCI IV di Pekanbaru Riau tahun 2005. Namun, bukan lantas berarti bahwa kongres di Banjarmasin ini harus merekomendasikan lahirnya KCI.

“Seharusnya di Banjarmasin ini lebih dimatangkan lagi. Mungkin ya, kita perlu membahas AD/ART, tapi bukan langsung menunjuk kepengurusan. Seharusnya jangan dulu dideklarasikan dan belum waktunya memilih pengurus. Saya pikir akan seperti itu, tapi ternyata sebagian teman-teman sudah memperlihatkan syahwat kekuasaannya.”

Isbedy juga merasa pesimistis bahwa KCI akan memainkan perannya yang positif dalam perkembangan cerpen Indonesia. Apalagi dengan pengandaian seperti yang disebut-sebut oleh Maman S. Mahayana untuk menjadi fasilitator atau membangun jaringan, sehingga cerpen-cerpen Indonesia bisa dikenal di Malaysia, Singapura, Brunai, atau di dunia internasional. Termasuk yang menjadi alasan dalam pesimismenya ini adalah mereka yang duduk dalam jajaran kepengurusan. Namun demikian, Isbedy dan juga mungkin mereka yang lain, masih menyisakan sedikit harapan pada lembaga ini.

“Harapan saya satu-satunya hanya pada Trianto Triwikromo,” ujarnya.

Selain merekomendasikan lahirnya KCI, Kongres Cerpen Indonesia V di Banjarmasin Kalsel ini juga merekomendasikan Kota Mandar, Sulawesi Barat sebagai tuan rumah Kongres Cerpen Indonesia VI tahun 2010 mendatang. (Ahda Imran)

Tulisan ini dikutip dari Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 3 November 2007.

Iwan Gunadi

Pemerhati Komunitas Sastra, Menetap di Tangerang, Banten

Kalau istilah “komunitas” dipahami sebagai masyarakat, kelompok, atau kumpulan orang, asosiasi logis yang segera muncul di kepala kita adalah jumlah anggotanya lebih dari satu orang. Asosiasi tersebut hampir sepenuhnya tepat, terkecuali untuk Forum Sepatu Biru yang digagas penyair Afrizal Malna di Jakarta pada 1990-an. Kalau Forum Sepatu Biru dianggap secara serius sebagai komunitas sastra, asosiasi itu mesti dikoreksi karena anggota komunitas sastra tersebut hanya Afrizal seorang. Tapi, tampaknya, kehadiran Forum Sepatu Biru lebih untuk menyindir maraknya pertumbuhan komunitas sastra pada saat itu dan mudahnya seseorang atau beberapa orang membentuk komunitas sastra untuk melegitimasi kesatrawanannya.

Yang pasti, jumlah anggota setiap komunitas sastra di Indonesia memang sedikit. Rata-rata tak lebih dari sepuluh orang. Yang paling banyak memang komunitas sastra dengan jumlah anggota seperti itu. Di bawah mereka adalah komunitas sastra dengan jumlah anggota puluhan orang. Yang disebut “puluhan orang” pun biasanya tak lebih dari 30 orang atau bahkan 20 orang.

Yang jauh lebih sedikit adalah komunitas sastra dengan jumlah anggota ratusan atau bahkan ribuan orang. Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Himpunan Pengarang Indonesia (HPI) Aksara, Apresiasi Sastra (Apsas), dan Forum Lingkar Pena (FLP) merupakan sejumlah contoh yang mudah disebut. Dari era sebelumnya, 1980-an, kita dapat menyebut Himpunan Penulis, Pengarang, dan Penyair Nusantara (HP3N). Bahkan, konon, HP3N pernah memiliki koordinat di seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Irian Jaya dan Timor Timur.

Sejak 1990-an hingga 2007, kelihatannya, hanya FLP dan Apsas yang mampu melewati kemasifan HP3N yang sudah lama tak terdengar lagi kiprahnya. Apsas memiliki jumlah anggota yang besar, yakni hampir 800 orang per awal 2007. Komunitas sastra yang luar biasa dari sisi anggota tentulah FLP. FLP pernah mengklaim bahwa jumlah anggotanya lebih dari 5.000 orang pada 2007, yang tersebar di dalam negeri dan luar negeri. Yang menarik lagi dari FLP, para anggota komunitas sastra yang didirikan pada 22 Februari 1997 tersebut dikenal memiliki loyalitas tinggi.

Padahal, loyalitas merupakan karakter yang langka pada kebanyakan komunitas sastra di Indonesia. Selain sistem keanggotaan yang longgar pada kebanyakan komunitas sastra, sebagaimana cabang kesenian yang lain, kesusastraan lengkap dengan masyarakat pendukungnya memang sudah telanjur diidentikkan sebagai dunia ketersendirian. Karakter petualang yang melekat dalam dunia ketersendirian tersebut merangsang mereka untuk terus mencari, termasuk pencarian yang menuntut mereka melakukan mobilitas yang tinggi. Kalaupun kemudian masyarakat pendukung kesusastraan itu membangun atau memasuki suatu organisasi, entah formal, lebih-lebih informal, sifat bawaan dunia ketersendirian itu seperti sukar dilepaskan. Jadilah pendirian organisasi komunitas sastra menyimpan paradoks pada dirinya sendiri.

Satu Sastrawan di Lebih dari Satu Komunitas
Ketakloyalan juga ditunjukkan dengan fakta banyaknya pekerja sastra, terutama pekerja sastra generasi 1980-an ke depan, menjadi anggota lebih dari satu komunitas sastra, walau komunitas-komunitas sastra itu tak selalu hidup dalam rentang waktu yang sama. Ada banyak sebab yang membuat mereka tampak terlibat di lebih dari satu komunitas. Satu, mereka ingin meluaskan wilayah sosialisasinya. Efek domino peluasan sosialisasi tersebut dapat berupa peluasan gagasan untuk menciptakan hegemoni atau peluasan klaim kesastrawanan. Pada komunitas-komunitas sebelumnya atau yang lain, peluasan gagasan atau klaim kesastrawanan itu sudah diperoleh mereka, tapi tak memuaskan mereka. Peluasan wilayah sosialisasi juga bisa untuk mengakomodasi luasnya bidang perhatian individu itu sendiri. Selain menyenangi kesusastraan, dia menyukai cabang kesenian yang lain atau bahkan kebudayaan secara umum.

Dua, mereka merasa tak puas dengan komunitas sebelumnya. Ketakpuasan tersebut lahir lantaran mereka beranggapan bahwa komunitas-komunitas sebelumnya itu tak mampu mengakomodasi setiap keinginann dan gagasannya. Perluasan gagasan, perluasan klaim kesastrawanan, pengujian gagasan dalam forum diskusi yang seimbang, pengayaan pengetahuan sastra, sekadar sosialisasi personal, atau hal-hal lain tak diperolehnya.

Tiga, komunitas-komunitas sebelumnya atau yang lain memang sudah bubar, tak aktif alias vakum, atau kegiatannya sangat insidental dan jarang. Mereka tampak menjadi anggota lebih dari satu komunitas karena kondisi memaksanya demikian. Kalau hal itu yang terjadi, mereka akan kembali mencari komunitas yang kurang lebih sejenis dengan komunitas yang sebelumnya mewadahinya. Jadi, sebetulnya, mereka hanya aktif di satu komunitas. Tapi, karena komunitas sebelumnya atau yang lain bubar, vakum sama sekali tapi tak pernah dinyatakan bubar, atau aktivitasnya sangat insidental dan jarang, mereka tampak seperti aktif di lebih dari satu komunitas.

Empat, membentuk atau aktif di suatu komunitas bukanlah pekerjaan yang sulit. Maklum, sekali lagi, lebih dari separuh komunitas yang ada memiliki bentuk organisasi yang nonformal atau informal dan menerapkan sistem keanggotaan yang longgar. Siapa saja dapat masuk dalam komunitas semacam itu tanpa perlu mendaftar atau mengisi formulir, apalagi membayar iuran. Selama masih betah, nyaman, dan sempat, seseorang tetap dapat aktif di sana. Kalaupun sering tak sempat datang, ia tak akan dipecat. Kalau sudah merasa tak betah dan nyaman, dia dapat hengkang ke komunitas lain. Atau, bahkan, mendirikan komunitas sendiri dengan anggota hanya dirinya sendiri.

Dari yang Khusus hingga Gado-Gado
Sebagian besar komunitas sastra memang beranggota para pekerja sastra atau orang yang selama ini dikenal sebagai sastrawan, meski punya pekerjaan lain di luar aktivitas sastra. Tapi, ada juga komunitas sastra yang anggotanya tak hanya pekerja sastra, tapi juga pelbagai pekerja seni nonsastra. Komunitas sastra yang memiliki anggota bak gado-gado pun ada. Siapa saja‘”apa pun profesi dan latar belakang pendidikannya‘”yang menyenangi sastra dan ingin terlibat dalam aktivitas sastra boleh ikut.

Sejumlah kecil komunitas sastra membatasi anggotanya dengan “persyaratan” yang lebih khusus, sehingga hanya orang tertentu yang dapat menjadi anggotanya. Ada yang membatasinya dengan semangat gender. Misalnya, Forum Sastra Wanita Merah Hitam Kuning (Tamening) di Padang, Sumatra Barat dan Komunitas Sastra Dewi Sartika di Bandung, Jawa Barat. Ada pula yang hanya menerima buruh sebagai anggotanya, seperti Budaya Buruh Tangerang di Banten. Ada pula komunitas yang anggotanya berlatar “profesi” yang sama, yakni pengamen jalanan, karena komunitas sastra itu memang komunitas pengamen jalanan. Institut Pramoedya di Bandung, Jawa Barat, dihuni para pembaca setia karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer.

Komunitas-komunitas sastra yang berbasis di kampus, sekolah, atau pesantren tentu punya anggota yang spesifik, yakni mahasiswa, siswa, atau santri. Komunitas-komunitas sastra itu ada yang menjadi bagian dari struktur organisasi unit kesenian yang resmi dibentuk perguruan tinggi, sekolah, atau pesantren masing-masing dan ada pula yang didirikan secara independen oleh sejumlah mahasiswa, siswa, atau santri di masing-masing lembaga pendidikan itu. Unit kesenian di kampus, sekolah, atau pesantren tentu dihadirkan setiap institusi pendidikan untuk menyalurkan minat dan bakat setiap mahasiswa, siswa, atau santri di masing-masing lembaga itu sendiri sekaligus memberi perimbangan dan atau pengayaan terhadap pelbagai pengetahuan ilmu yang mereka terima dalam proses pembelajaran dan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum di masing-masing lembaga itu. Andaikan mata ajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah merupakan persentuhan pertama mereka dengan kesusastraan secara formal sebagai suatu kewajiban yang disorongkan negara atau sekurangnya pihak di luar mereka sendiri, boleh jadi, komunitas sastra yang berbasis di kampus, sekolah, atau pesantren merupakan medan persentuhan mereka yang pertama dengan kesusastraan secara informal sebagai suatu kesadaran dan keinginan diri sendiri.

Yang terbanyak tentulah komunitas sastra yang berbasis di kampus lantaran sekurangnya sejak Orde Baru hampir setiap kampus atau perguruan tinggi memiliki organisasi unit kesenian mahasiswa (UKM). Pemicu utama lainnya tentulah keberadaan fakultas sastra atau fakultas ilmu budaya di suatu kampus. Dan, hampir semua perguruan tinggi berbentuk universitas di negeri ini memiliki fakultas sastra atau fakultas ilmu budaya. Peran sastrawan yang tak menjadi bagian dari komunitas kampus juga tak dapat ditepiskan. Lihat saja, misalnya, apa yang dilakukan sastrawan Hery Lamongan dan sejumlah mahasiswa di Universitas Darul Ulum, Lamongan, Jawa Timur.

Komunitas-komunitas sastra yang berbasis di kampus mampu memberikan kontribusi yang lumayan besar bagi perkembangan kesusastraan Indonesia sekurangnya selama sekitar 30 puluh tahun terakhir. Tak sedikit pekerja sastra yang memulai “karier” kesastrawanan mereka dari komunitas sastra di kampus tetap eksis dan diperhitungkan dalam peta kesusastraan Indonesia yang mutakhir. Sekurangnya, mereka sebelumnya bergaul dengan sesama pecinta sastra, meski tanpa terlibat dalam komunitas sastra yang berbasis di kampus, baik komunitas sastra yang secara struktural berada di bawah UKM yang dibentuk perguruan tinggi masing-masing maupun komunitas sastra yang dibentuk mereka, teman sesama mahasiswa, pendahulu atau senior, ataupun dosen mereka sendiri.

Perkembangan komunitas sastra yang berbasis di kampus, sekolah, atau pesantren tapi tak menjadi bagian lembaga pendidikan masing-masing secara struktural berlangsung pasang surut. Apalagi, masa kuliah, bersekolah, atau nyantri berlangsung relatif pendek. Ukuran normal yang paling lama pada masa terakhir ini adalah tujuh tahun. Pasang surut itu bergantung pada tingkat bakat, minat, dan keinginan berkelompok mahasiswa, siswa, atau santri yang keluar masuk ke masing-masing lembaga pendidikan tersebut.

Khusus komunitas sastra yang berbasis di kampus, meski suatu kampus memiliki fakultas sastra atau fakultas ilmu budaya, kepemilikan tersebut bukan jaminan bahwa kehadiran komunitas sastra di kampus tersebut akan tetap semarak selama tingkat bakat, minat, dan keinginan berkelompok itu rendah. Faktor penentu utama kesemarakan komunitas sastra di pesantren, apa pun jenis pesantrennya, tetap kiai. Kehadiran komunitas sastra yang berbasis di sekolah biasanya hasil sentuhan guru yang juga sastrawan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegairahan melakukan kegiatan sastra dan membentuk komunitas sastra di sekolah menengah pada sejak 1990-an tak lepas dari sumbangsih upaya Majalah Sastra Horison yang membentuk Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) di pelbagai wilayah di Indonesia sejak 2002.

Talent Cooter, Dewa Pemelihara Benih
Komunitas sastra sering diibaratkan sebagai habitat yang demokratis. Tak ada anggota yang berposisi lebih tinggi ketimbang anggota yang lain di luar konteks struktur organisasi. Tapi, walau tak banyak, ada saja anggota komunitas sastra yang menjadi titik as atau pusat dari komunitasnya. Anggota seperti itu biasanya punya pengaruh atau hegemoni yang lebih besar ketimbang anggota-anggota yang lain. Pada titik tertentu, hegemoni yang besar tampak dari sungkan atau “tak beraninya” para anggota yang lain membantah pendapatnya, misalnya. Pengaruh itu muncul bisa karena faktor pengetahuan atau karya sastra (otoritas kesastrawanan)-nya yang dinilai lebih unggul, hubungan yang luas, kepemilikan otoritas di rubrik sastra dan atau budaya media massa, kemampuan ekonomis yang besar, atau sekadar usia yang lebih tua atau senioritas.

Dalam kaitan itu, tak heran jika Komunitas Utan Kayu (KUK) selalu diidentikkan dengan Goenawan Mohamad, Wowok Hesti Prabowo dengan KSI, Helvy Tiana Rosa dengan FLP, dan Gola Gong dengan Rumah Dunia. Sebelumnya, pada 1980-an, Putu Arya Tirtawirya selalu dikaitkan dengan HP3N dan Umbu Landu Paranggi selalu diidentikkan dengan Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta pada 1970-an. Begitu pula dengan W.S. Rendra yang diidentikkan dengan Bengkel Teater, baik ketika masih di Yogyakarta maupun setelah Bengkel Teater pindah ke Depok, Jawa Barat, hingga sekarang.
Khusus untuk faktor pengetahuan, sejumlah nama dapat disebut karena kemampuan mereka dalam melatih atau mendidik. Misalnya, selain Umbu Landu Paranggi, ada Diah Hadaning, Korrie Layun Rampan, Piek Ardijanto Soeprijadi, dan Widjati yang laksana dewi atau dewa pemelihara benih kesastrawanan atau kesastrawatian.

Tulisan ini dikutip dari Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 2 Desember 2007.

Purhendi

Guru Bahasa Indonesia dan Pembina Sanggar Sastra Siswa/Remaja Indonesia

Suatu malam, saya pernah kedatangan rekan penulis Koko P Bhairawa (Prakoso Bhairawa Putra, Palembang) di bedeng kon trakan saya di Sekojo. Biasa, rekan-rekan (penulis) kadang sanjo. Disamping melepas kangen kalau sudah agak lama tidak bertemu, juga diskusi kecil-kecilan tentang sastra. Materi pembicaraan, meskipun tidak formal, seringnya tentang cerpen atau puisi.

Malam itu, dia agak sedikit lebih “semangat”. Terutama karena, katanya, ada teman seprofesi yang menegurnya untuk tidak “kumpul-kumpul”. Saya sih, tertawa saja. Sebab, justru dengan seringnya bertemu dan berkumpul, atau sampai membentuk komunitas, menurut saya akan lebih baik. Sebab akan lebih banyak sharing, dialog, atau katakanlah semacam tukar ilmu dan informasi. Jadi, bukan karena unsur “domplengisme”.

Dengan cerita dari rekan Koko Bhairawa tersebut, saya jadi teringat pada cerita yang pernah disampaikan oleh rekan Helvy Tiana Rosa (Jakarta) yang kemudian hari menjadi ikon bagi FLP (Forum Lingkar Pena). Dia pun pernah “disindir” dalam tulisan milis pada sebuah situs tentang “komunitas” yang dibentuknya. Kurang lebih isi milis-nya seperti ini; “Penulis yang mendirikan komunitas (penulisan) adalah mereka yang tidak percaya diri dan takut untuk tampil sendirian, atau hendak mencari nama belaka dengan komunitasnya tersebut.”

Saya tidak begitu paham terhadap pola pikir sebenarnya terhadap mereka yang “melarang atau mencurigai” komunitas (sastra). Sebab bagi saya, justru munculnya kelompok-kelompok kepenulisan seperti itu sangat baik sebagai ajang tukar pikiran, tukar informasi, tukar pengalaman, atau hal-hal lain yang bersifat humanisme kesastraan. Jadi, di sini bukan masalah numpang beken, tidak pede, atau mengekor terhadap sebuah popularitas sastra. Sebab kenyataannya, layak-tidaknya sebuah karya bukan pada komunitas atau semacamnya melainkan pada karya itu di mata masyarakat. Bahkan tidak sedikit, di kemudian hari, para penulis yang kini “naik daun” pun dulunya adalah orang-orang komunitas, dan bahkan mungkin melahirkan komunitas-komunitas baru yang kian membiak dan membaik.

Komunitas Sebagai Episentrum

Dalam pandangan saya, munculnya komunitas sastra yang kian membiak di negeri ini, merupakan suatu gejala yang sangat baik. Hal ini menandakan bahwa dunia sastra kian dimengerti dan dipahami oleh masyarakat. Kalaupun nanti lantas melahirkan “sastra komunitas”, itu lain masalah. Sebab, bisa jadi hal itu merupakan hasil “primordial” dari upaya pembelajaran.

Menjamurnya komunitas sastra dewasa ini tidak lepas dari perkembangan teknologi, terutama dunia cyber. Apalagi, tidak sedikit jalur internet yang menyediakan fasilitas “gratisan” untuk sekadar “numpang nampang” sampai pada tingkat “serius”. Coba kita buka internet, akan kita temukan telah berapa ratus komunitas sastra yang kini tersebar di berbagai pelosok negeri.

Ini baru bidang sastra. Belum berpuluh atau beratus bidang lainnya. Sehingga, tak heran jika kemudian “agen-agen” ini pun lebih dijadikan andalan untuk informasi dan komunikasi, tidak lagi jalur cetak-kirim, semisal surat atau poster. Karena itu, justru pada

masa kini, mereka yang tidak terlibat dalam komunitas akan tergilas informasi dan kian “kuper”.

Kantung-kantung sastra yang banyak ini, ibarat sebuah gempa, ia sebenarnya hanya merupakan episentrum. Sedangkan hiposentrumnya, tetap pada diri para pelaku sastra (sastrawan). Sebab, hukum alam yang bernama “pembaca”, toh lebih mempunyai wewenang untuk mengapresiasi dan mengkritisi.

Seorang anggota komunitas, misalnya, meskipun dia telah “terengah-engah” mengikuti berbagai kelompok dan kegiatan, jika karayanya masih “mandul”, toh tak ada juga yang mengakuinya. Sebaliknya, mereka yang tetap eksis dan memiliki “daya”, tetap saja memiliki sudut pandang tersendiri di mata masyarakat atau pembaca. Jadi, dalam hal ini,

keberadaan berbagai komunitas sebenarnya dapat “menantang” mereka yang telah “senior” dalam berkarya. Tinggal saja, keseniorannya itu karena usianya atau karena mutu karyanya. Jangan sampai, ketika kita menepuk dada sendiri, justru terbatus-batuk dan sesak napas!

Tak Ada Sastra Komunitas

Apakah ada yang dinamakan “sastra komunitas”? Bagi saya, tidak ada, jika hal ini hanya diambil dari sudut padang “kelompok”. Kalaupun “sastra komunitas” itu muncul tidak lebih karena “media” yang memfasilitasinya.

Misalnya, majalah Annida. Dengan tidak membaca majalahnya pun, kebanyakan orang akan menduga seperti apa isinya (cerpen dan puisinya). Dan (mungkin) kebetulan jika mereka yang dimuat di majalah ini pun, konon, banyak dari anggota FLP. Namun, tidak berarti kemampuan mereka hanya sebatas itu. Pada akhirnya, atau kenyataannya, di luar itu mereka adalah para penulis yang telah muncul di Kompas, Republika, dan majalah sastra Horison (maaf, kalaupun hal ini dijadikan tolok ukur standar).

Atau mungkin, kita akan lebih kaget lagi ketika melihat latar belakang mereka yang umurnya baru belasan tahun tetapi sangat produktif dan mampu melahirkan novel-novel bagus, meskipun dalam pandangan penerbit. Namun bukankah penerbit pun “mampu” mewakili sebagian besar sudut pandang pembaca?

Demikian halnya dengan majalah sastra Horison, termasuk halaman Kakilangitnya, karya-karya yang lahir/dimuat bukanlah karya-karya “sastra komunitas” kelas “sastrawan” melainkan lebih pada “siapa” masyarakat pembacanya. Ekstremnya, barangkali, karya-karya yang “bergaya” Annida atau Aneka Yes tentu tidak akan dimuat di Horison atau Kompas. Demikian sebaliknya. Pendek kata, kalau kita masih mengganggap karya orang lain sebagai karya “sastra komunitas” atau masih “mencurigai” keberadaan “komunitas sastra”, barangkali kita pun cukup dengan menjawabnya; kasian deh lo!

“Tsunami” Komunitas Sastra

Dalam sebuah milis, saya membaca tulisan yang berbunyi begini; Komunitas sastra ibarat sampan yang berlayar di lautan kaca, berisi makhluk-makhluk maya, mengarungi luasnya samudera kata-kata, hingga ada yang menggumpal menjadi puisi, cerpen ataupun esai, bagaikan pulau-pulau tempat sampah-sampah berlabuh. Pernah terbentuk

suatu komunitas sastra yang penuh gelora dan kebebasan, bebas berekspresi, berkarya sastra, mengeluarkan pendapat, dan berbeda nilai karsa akan sebuah karya sekali pun. Tapi apa lacur, kebebasan itu tak semulus yang dibayangkan, manakala perbedaan pendapat adalah bencana. Kebebasan menjadi obituari dan rasa jengah yang berujung keinginan hengkang pun tak terelakkan lagi.

Barangkali, tulisan di atas cocok untuk “kaum sastra” yang pesimistis. Atau, paling tidak, masih memandang dan membutuhkan “nama” dan “pengkultusan kesastrawanan”. Namun, bagi mereka yang memandang komunitas sebagai sebuah “taman indah”, tentu akan beda. Pun bagi mereka yang melihatnya dari sudut pandang pembelajaran dan “laboratorium”, tentu akan berbeda pula. Namun yang pasti, komunitas-komunitas sastra yang demikian banyak itu kini sudah lebih “humanisme universal”.

Tengoklah mereka, yang telah melakukan kerja besar untuk komunitas/sastrawan lain. Misalnya, Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Laboratorium Sastra Medan (Medan), Komunitas Sastra Indonesia (Tegal), Rumah Dunia (Banten), Forum Lingkar Pena (Jakarta), dan beberapa daerah lainnya seperti di Surabaya, Madura, Bali, Padang, Bandung, dan sebagainya.

Mereka tidak hanya beriak, bahkan kemudian bergelombang. Mereka tidak hanya menjadi episentrum, tetapi dengan kekuatan hiposentrumnya telah mampu menjadi “badai tsunami”. Mereka mampu merambah dan menerjang komunitas lain di berbagai wilayah. Namun, badai tsunami sastra ini tidak menghancurkan, tidak memporakporandakan, tetapi justru menyatukan, berkumpul, penuh keramahtamahan, dan penuh persahabatan. Sebagai contoh kecil, lahirnya buku Sajak dari Negeri Poci, Ode Kampung, 142 Penyair Menuju Bulan, dan Medan Puisi, yang merupakan kerja keras dan penuh perhatian dari para komunitas sastra dan dampak dari “tsunami” itu.

Demikian halnya dengan para sastrawan yang terangkum di dalamnya, merupakan orang-

orang yang dengan sukarela mau “bersilaturahmi”. Berkaitan dengan masalah komunitas ini, mengulang yang pernah disampaikan Helvy (FLP), tidak lain merupakan upaya “pelapisan” atau regenerasi sastra. Syukur-syukur jika kemudian benar-benar mampu mencerdaskan masyarakat, terutama dalam budaya membaca dan menulis. Harapan sederhana ini, dengan tidak disangka-sangka, bahkan kemudian FLP benarbenar mampu menjadi “tsunami” pergerakan sastra Indonesia.

Bahkan, sastrawan Taufiq Ismail mengatakannya sebagai “anugrah bagi bangsa Indonesia”. Kini, FLP tidak hanya memiliki cabang (komunitas) di berbagai pelosok di Indonesia, tetapi juga memiliki cabang di beberapa negara.

Demikian halnya dengan yang diungkapkan Firman Venayaksa (Rumah Dunia) dalam rangka Ode Kampung 2 pada Juli 2007 nanti. Ia menuturkan, “Tujuan kami membuat pertemuan komunitas sastra pada jilid 2 ini karena kami berasumsi bahwa komunitas memberikan pengaruh yang cukup besar bagi regenerasi kesusastraaan di Indonesia. Selain segi positif itu, tentu saja ada persoalan-persoalan yang mengemuka, misalnya perihal estetika, ideologi, maupun individu sastrawan sebagai penggerak komunitas sekaligus peracik karya.”

Jadi, kembali ke masalah awal, mereka yang masih menganggap bahwa “kumpulkumpul”

dalam komunitas itu merupakan suatu budaya “domplengan”, segeralah mereformasi diri. Atau, barangkali, segera menyadari bahwa kita ada pada tataran paling kuper (kurang pergaulan). Atau, meminjam istilah yang sering dilontarkan sastrawan Maman S Mahayana dalam berbagai forum, “Kembalilah ke jalan yang benar!”

Tulisan ini dikutip dari Harian Sriwijaya Post (Palembang), 10 Juni 2007.

Cecep Syamsul Hari

Penyair dan Esais

Dalam tulisan-tulisan yang membahas tradisi sastra, telah saya ungkapkan bahwa kecenderungan fenomenal kehidupan sastra Indonesia pada tahun 1990-an atau dekade terakhir abad ke-20 adalah munculnya “kegairahan berpuisi” yang dalam spektrum lebih luas dapat pula dipandang sebagai “kegairahan bersastra”. Ini dapat ditandai antara lain dnegan derasnya penciptaan puisi seperti tampak pada banyaknya buku puisi yang diterbitkan dan bermunculannya komunitas-komunitas sastra nonakademik di berbagai-bagai daerah.[1]

Dalam tulisan-tulisan itu itu juga saya kemukakan bahwa diskursus intelektual atau pemikiran yang terjadi di lingkungan-lingkungan komunitas sastra akademik dan nonakademik adalah satu dari tiga unsur yang saling menopang satu sama lain dalam membangun tradisi sastra Indonesia yang kuat. Dua unsur lainnya adalah tradisi kritik dan tradisi karya.

Tulisan ini lebih jauh akan membahas karakteristik, peran, dan fungsi komunitas sastra, khususnya komunitas sastra nonakademik (komunitas sastra yang berada di luar lingkungan fakultas-fakultas sastra di perguruan tinggi) dalam ikut menumbuhkan tradisi sastra Indonesia yang kuat.

**

Secara sosiologis, komunitas (community), berarti “masyarakat setempat”, yaitu anggota atau warga sebuah desa, kota, suku atau bangsa. Kriteria utama suatu komunitas adalah terdapatnya hubungan atau interaksi sosial yang lebih besar di antara sesama anggotanya dibandingkan dengan interaksi mereka dengan anggota-anggota komunitas lain yang bukan bagian dari komunitasnya. Robert M. Mac Iver dan Charles H. Page (1961:251) mendefinisikan komunitas sebagai wilayah kehidupan sosial dengan derajat hubungan sosial tertentu. Derajat hubungan sosial itu biasanya ditandai dengan interaksi yang intens di dalam suatu dinamika internal dalam jangka waktu tertentu. Menurut  mereka berdua, dasar-dasar suatu komunitas adalah lokalitas dan perasaan sekomunitas.

Dalam komunitas sastra, interaksi sosial itu dibentuk melalui kepentingan yang dapat bersumber dari tujuan-tujuan yang sama yang hendak dicapai anggota-anggota komunitas yang bersangkutan dalam kehidupan kesusastraan. Lokalitas dan perasaan sekomunitas menjadi daya lekat komunitas itu dalam mencapai tujuan bersama mereka.

Tujuan yang hendak dicapai suatu komunitas sastra bergantung pada kesepakatan bersama anggota-anggotanya, baik dirumuskan secara formal (dalam bentuk anggaran dasar, misalnya) maupun kesepakatan yang diputuskan secara informal.

Di dalam lingkungan komunitas-komunitas sastra non akademik  yang bersifat institusional, misalnya dewan-dewan kesenian atau lembaga-lembaga kebudayaan, tujuan bersama itu dirumuskan dan ditentukan sebelumnya melalui kesepakatan organisasional yang bersifat formal. Sebaliknya komunitas-komunitas sastra nonakademik yang bersifat noninstitusional merumuskan tujuan bersama itu secara informal di antara anggota-anggotanya.

Tinggi atau rendahnya peran komunitas sastra dalam menumbuhkan tradisi sastra yang kuat tidak terletak pada bentuk formal atau informalnya melainkan pada intensitas diskursus pemikiran yang berlangsung di dalamnya. Lokalitas dan perasaan sekomunitas menggerakkan aktivitas dan dinamika internal komunitas sastra dalam berbagai-bagai bentuk, seperti pemublikasian buku, buletin, majalah, jurnal kebudayaan, dan sebagainya. Diskursus yang berlangsung di dalam suatu  komunitas sastra pada gilirannya akan membawa komunitas yang bersangkutan pada upaya “mencari dan menemukan”.  Upaya itu, seperti banyak terjadi pada komunitas-komunitas sastra di negara-negara Eropa, sangat mungkin memunculkan dialektika kultural dalam bentuk gerakan-gerakan pemikiran kesusastraan yang dari sudut pandang sejarah sastra terbukti telah ikut membangun tradisi sastra di negara masing-masing.

**

Pada permulaan abad ke-20, antara tahun 1906-1907, di Perancis terdapat komunitas yang menyebut dirinya kelompok Abbaye. Nama komunitas itu diambil dari nama sebuah rumah di daerah pinggiran kota Paris, L’Abbaye, tempat sejumlah penulis dan seniman Perancis biasa berkumpul, berdiskusi, dan menerbitkan karya-karya baru mereka. Para penulis seperti Charles Vildrac dan Georges Duhamel menjadikan rumah itu sebagai pusat aktivitas kesenian.

Penulis dan seniman lainnya, seperti Jules Romain, bergabung dengan komunitas Abbaye meskipun bukan penghuni rumah itu. Para seniman Abbaye menghidupi diri mereka dan aktivitas kesenian mereka dengan menjual buku-buku yang dicetak dengan mesin cetak milik mereka sendiri. Komunitas itu diabadikan Georges Duhamel dalam novelnya, Le Désert de Bièvres (1937).

Salah satu karya berpengaruh yang dipublikasikan komunitas Abbaye adalah La Vie unanime (1908), kumpulan puisi karya Romains. Karya itu mencerminkan seluruh pandangan filsafat Romains dan di kemudian hari menjadi akar sebuah gerakan kesusastraan di Perancis, unanimisme, dan menempatkan dirinya sebagai pelopor gerakan itu.

Unanimisme adalah gerakan kesusastraan yang mendasarkan pandangan-pandangannya di atas konsep-konsep psikologi tentang kesadaran kelompok dan emosi kolektif yang diperlukan penyair untuk menggabungkan kesadaran transendensinya. Selain dalam karya Romains yang disebut terdahulu, pengaruh gerakan ini antara lain terlihat dalam karya Romains dan Georges Chennevière, Petit Traite dé versifications (1923) dan karya Georges Duhamel dan Charles Vildrac, Notes sur la technique poétique (1910). Karya yang disebut terakhir menguraikan secara garis besar teroi-teori ilmu persajakan (prosody), yang seperti halnya Walt Whitman, menganjurkan penggunaan irama (rhytm) dengan aksen yang kuat dan mengganti simbol-simbol dan alegori dengan diksi yang sederhana dan tanpa hiasan (simple and unadorned diction).

Pada waktu yang bersamaan di Inggris terdapat komunitas serupa yang disebut Bloomsbury. Nama itu diberikan kepada sekelompok penulis, seniman dan filosof Inggris yang secara tetap bertemu dan berdiskusi antara tahun 1907-1930, antara lain di rumah Clive dan Venessa Bell, dan di rumah Virginia Setephen, yang di kemudian hari dikenal sebagai Virginia Woolf, di distrik Bloomsbury, London.

Secara intens mereka mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan estetis dan filosofis dengan semangat agnotisisme dan dipengaruhi dengan cukup kuat oleh karya     G.E. Moore (Principia Ethica) dan karya bersama A. N. Whitehead dan Bertrand Russel (Principia Mathematica). Dalam cahaya pemikiran tiga filosof itu mereka mencari dan menemukan definisi-defisini kebaikan (the good), kebenaran (the true), dan keindahan (the beautiful), dan mempertanyakan segala bentuk pemikiran yang diterima dengan suatu “comprehensive irreverence” berikut semua bentuk kepura-puraannya.

Ke dalam komunitas Bloomsbury bergabung novelis E.M. Forster, penulis biografi Lyton Strachey, kritikus seni Clive Bell, pelukis Venessa Bell dan Duncan Grant, ahli ekonomi John Maynard Keynes, penulis Leonard Woolf, dan kritikus serta novelis Virginia Woolf.  Kekhasan komunitas ini adalah keragaman latar belakang anggotanya yang tidak semata-mata berasal dari lingkungan kesusastraan. Namun, peran komunitas ini dalam ikut memperkuat tradisi sastra Inggris, setidaknya dengan mempertimbangkan karakter dan pencapaian estetik karya-karya Virginia Woolf, tak dapat dipungkiri.

Dari perspektif sejarah sastra, komunitas Abbaye di Perancis dan Bloomsbury di Inggris dapat dipandang sebagai contoh monumental bagaimana suatu komunitas sastra dapat memperkuat tradisi sastra negerinya masing-masing. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah di dalam kedua komunitas itu terdapat diskursus yang intens, meskipun usia komunitas yang disebut pertama jauh lebih pendek dibandingkan dengan usia komunitas yang disebut terakhir.

**

Hingga tulisan ini dibuat validitas data komunitas-komunitas sastra di Indonesia yang saya miliki, khususnya yang banyak sekali muncul pada taun 1990-an, belum memadai untuk membantu saya  menyimpulkan pola-pola umum diskursus pemikiran yang terjadi di dalam komunitas-komunitas yang bersangkutan dan untuk memperkirakan hingga sejauh mana peran dan sumbangan mereka pada tradisi sastra Indonesia.

Dari sejumlah surat pribadi, buletin sederhana, hingga jurnal kebudayaan yang dikirimkan kepada saya oleh sejumlah komunitas sastra di beberapa daerah di Indonesia, sebenarnya saya melihat terdapatnya gerak dinamis di dalam komunitas-komunitas sastra tertentu, setidaknya di Bali dan beberapa kota di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Kita dapat berharap dari komunitas-komunitas sastra ini suatu ketika muncul komunitas seperti Abbaye dan Bloombury dan ikut memperkuat tradisi sastra Indonesia lewat publikasi karya dan diskurus pemikiran mereka. *

[1] Tak begitu banyak penelitian dilakukan terhadap komunitas-komuntas sastra yang bermunculan di berbagai tempat di Indonesia sepanjang tahun 1990-an. Salah satu dokumen yang penting dicatat adalah penelitian yang dilakukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang melakukan penelitian di Jakarta dan sebagian daerah Jawa Barat. Lihat: Melani Budianta dan Iwan Gunadi (ed.), Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, Komunitas Sastra Indonesia, 1998. Penelitian ini diberi pengantar oleh kepala Litbang Kompas, Daniel Dhakidae. Sebuah perkembangan baru muncul tiga tahun setelah tulisan saya tentang komunitas sastra ini pertama kali dipublikasikan, yaitu komunitas-komunitas sastra yang dibentuk atas kerja sama majalah sastra Horison dengan para sastrawan Indonesia di berbagai daerah di Indonesia dan sekolah-sekolah menengah atas dalam bentuk Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI). Dari sanggar-sanggar sastra ini telah bermunculan penulis-penuis muda berbakat.

Tulisan ini dikutip dari Harian Media Indonesia (Jakarta), 24 Agustus 1997.

FLP, PENULIS DARI 100 KOTA


Helvy Tiana Rosa

Pendiri FLP

Dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya, jumlah penulis di Indonesia—sebagaimana jumlah pertumbuhan penduduknya–sangat besar. Pada dekade terakhir Indonesia diramaikan oleh munculnya penulis muda berusia di bawah 30 tahun serta maraknya pertumbuhan kantong-kantong sastra di Jakarta dan di banyak kota besar lainnya.

Salah satu yang dianggap fenomenal adalah munculnya Forum Lingkar Pena (FLP), tahun 1997. Dalam waktu yang relatif singkat, organisasi yang memiliki cabang di hampir 30 propinsi dan di mancanegara ini telah beranggotakan sekitar 5000 orang, hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 diantaranya menulis secara aktif di berbagai media. 500 orang ini berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula.

Selama hampir delapan tahun keberadaannya, organisasi penulis ini telah menerbitkan lebih dari 400 buku yang sebagian besar terdiri dari karya sastra serius, fiksi remaja dan cerita anak. Tidak ada orang atau lembaga yang mensponsori FLP. Kemandirian ini memungkinkan FLP menulis sesuai kata hati. Koran Tempo, salah satu media paling berwibawa di Indonesia, menyebut FLP sebagai sebuah ‘Pabrik Penulis Cerita’!

Sejarah Berdirinya FLP
Tahun 1997 saya, Asma Nadia, Muthmainnah serta beberapa teman dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia bertemu di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Pertemuan berlanjut dengan diskusi tentang minat membaca dan menulis di kalangan para remaja Indonesia. Percakapan tersebut sampai pada kenyataan semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan bacaan yang bermutu. Di sisi lain sebenarnya cukup banyak anak muda yang mau berkiprah di bidang penulisan, tetapi potensi mereka kerap tak tersalurkan atau intensitas menulis masih rendah, di antaranya karena tiadanya pembinaan untuk peningkatan kualitas tulisan. Lebih dari itu, semua yang hadir menyadari betapa efektifnya menyampaikan gagasan melalui tulisan.
Akhirnya yang hadir sepakat untuk membentuk organisasi penulis. Maka pada tanggal 22 Februari 1997 berdirilah Forum Lingkar Pena, sebagai badan otonom Yayasan Prima , dan saya terpilih sebagai Ketua Umum. Saat itu anggotanya tak lebih dari 30 orang saja. Kami pun mengadakan acara rutin pekanan dan bulanan berkaitan tentang penulisan untuk anggota, dengan mengundang pakar di bidang tersebut. Kami mengadakan bengkel penulisan secara kecil-kecilan dan merekrut anggota baru.

Tahun 1998, seorang penulis muda dari Kalimantan Timur: Muthi Masfufah, mendirikan FLP Wilayah Kalimantan Timur yang berpusat di Bontang serta cabangnya di Samarinda, Balik Papan, Tenggarong dan kemudian Sangata. Inilah kepengurusan wilayah pertama dalam sejarah FLP. Pada tahun 1999, mulai banyak permintaan dari daerah, untuk membentuk kepengurusan FLP di tiap propinsi.

Majalah Annida—sebuah majalah fiksi Islami bertiras hampir seratus ribu eksemplar perbulan—yang saya pimpin, menjadi salah satu sarana bagi munculnya karya-karya anggota FLP. Majalah tersebut juga membuat rubrik khusus berisi info FLP dan menjadi sarana merekrut anggota baru. Yang mengejutkan, lebih dari 2000 orang mendaftar menjadi anggota melalui Annida. Ditambah lagi, sampai tahun 2003, berdasarkan masukan dari tiap wilayah, tak kurang dari 3000 orang telah mendaftarkan diri pula melalui berbagai acara yang digelar oleh perwakilan-perwakilan FLP di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Dari jumlah itu, sekitar 500 adalah penulis aktif. Mereka tinggal di lebih dari 100 kota di Indonesia. Banyak di antara mereka meraih penghargaan dalam berbagai lomba penulisan tingkat propinsi, nasional bahkan internasional. Sekitar 75% penulis majalah Annida, bergabung dalam FLP. Lalu ada pula sekitar 200 pengelola dan penulis buletin atau media kampus. Kebanyakan anggota FLP adalah pelajar dan mahasiswa. Ada juga pegawai negeri, karyawan swasta, buruh, ibu rumah tangga, guru, petani, dan lain-lain.

FLP adalah organisasi inklusif. Keanggotaannya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang ras maupun agama. Mayoritas anggota FLP memang muslim, namun tingkat pemahaman keislaman mereka tidak seragam. Banyak pula non muslim yang bergabung. Meski demikian para anggota FLP memiliki niat yang sama: membagi seberkas cahaya bagi para pembaca dan menganggap kegiatan menulis adalah bagian dari ibadah.

Anggota FLP termuda saat ini berusia 4 tahun dan tertua 69 tahun. “Muda” dalam FLP lebih ditekankan pada aspek semangat, bukan usia, meski kebanyakan anggota FLP memang berusia sekitar 15-25 tahun. Namun sejak awal tahun 2004, beberapa FLP wilayah, sebut saja DKI, Jawa Barat dan Kaltim membuka khusus “FLP Kids” untuk anak berusia 6-12 tahun.

Banyak penulis muda dan calon penulis yang kemudian menjadi pengurus FLP di tingkat propinsi pada masa awal Sementara di daerah-daerah yang belum ada kepengurusan, selalu terdapat koresponden FLP.

Hampir berbarengan dengan itu teman-teman yang tengah melanjutkan pendidikan atau tinggal di luar negeri banyak pula yang bersedia untuk membuka kepengurusan FLP atau paling tidak menjadi koresponden FLP di negara tersebut seperti Muthmainnah (Inggris), A Rifanti (Amerika Serikat), Hadi Susanto (Belanda), Ikhwan Arifin (Sudan), Ummu Itqon (Canada), Ali Ghozali (Sudan), Femina Sagita (Jepang), Sera Revalina (Singapura), Ahmad Muhajir (Korea), Lulu Naning (Pakistan), dan banyak lagi yang lainnya (masih dalam tahap konsolidasi). Habiburahman Saerozy dan Fera Andriani Jakfar (Mesir) bahkan membentuk kepengurusan FLP Mesir dan sering bekerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Organisasi Satuan (istilah lain untuk cabang –penulis) Mesir. Yang lebih mengharukan, para TKW Indonesia di Hongkong, mendirikan pula FLP Hongkong, 16 Februari 2004 lalu. Hampir semua anggotanya adalah pembantu rumah tangga, kecuali beberapa orang saja. Kini mereka tengah mempersiapkan antologi cerpen bersama yang mengangkat persoalan buruh migran perempuan.

Visi, Misi dan Program Kerja
Visi FLP adalah membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia. FLP sepakat untuk menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan ummat.

Misi FLP di antaranya:
1. Menjadi wadah bagi penulis dan calon penulis
2. Meningkatkan mutu dan produktivitas (tulisan) para anggotanya sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat
3. Turut meningkatkan budaya membaca dan menulis, terutama bagi kaum muda Indonesia
4. Menjadi organisasi yang selalu memunculkan penulis baru dari daerah di seluruh Indonesia.

Program Kerja FLP:
1. Mengadakan pertemuan rutin (bulanan) bagi para anggotanya dengan mengundang pembicara tamu dari kalangan sastrawan, jurnalis atau cendekiawan
2. Pelatihan penulisan mingguan
3. Mengadakan diskusi/seminar tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan kepenulisan atau situasi kontemporer
4. Mengadakan bengkel-bengkel penulisan
5. Aktif mengirimkan tulisan ke berbagai media massa
6. Menerbitkan buletin dan majalah
7. Membuat skenario teater, sinetron, film, dan lain sebagainya
8. Kampanye Gemar Membaca dan Menulis ke SD, SMP, SMU, pesantren dan universitas di Indonesia secara berkala
9. Mengadakan berbagai sayembara penulisan untuk pelajar, mahasiswa dan kalangan umum
10. Pemberian Anugerah Pena
11. Pelaksanaan program Rumah Cahaya (Rumah baCA dan HAsilkan karYA) di
berbagai tempat di Indonesia
12. Kampanye “Sastra untuk Kemanusiaan”
13. Menerbitkan minimal 10 buku karya para anggota perbulannya, dan lain-lain.

Pesat Meski Minim Dana

Meski minim dana , kegiatan-kegiatan FLP tak pernah berhenti. Hampir setiap minggu ada saja acara kepenulisan yang diadakan oleh FLP, baik pada kepengurusan pusat, wilayah (propinsi), cabang (kota, kabupaten) atau ranting (ranting FLP adalah sebutan untuk kepengurusan FLP di sekolah, pesantren atau universitas). Saya sendiri dua minggu sekali harus ke luar propinsi untuk menghadiri acara-acara yang diadakan FLP disana.

Untuk program penerbitan buku sampai saat ini FLP bekerja sama dengan para penerbit seperti Syaamil (Bandung), Mizan (Bandung), Era Intermedia (Solo), D & D Publishing House (Solo), Pustaka Annida (Jakarta), FBA Press (Depok), Gunung Agung (Jakarta), Pustaka Ummat (Bandung), Zikrul Hakim (Jakarta), Ghalia (Jakarta), Gramedia (Jakarta), Senayan Abadi (Jakarta), Cakrawala (Jakarta), Fastabiq Media (Semarang), Darussalam (Yogyakarta), dan masih banyak lagi. Tahun 2003 bersamaan dengan terbentuknya Yayasan Lingkar Pena yang menjadi badan hukum FLP , FLP membuat penerbitan sendiri yang diberi nama: Lingkar Pena Publishing House.

Selama delapan tahun keberadaan FLP, lebih dari 400 buku karya rekan FLP terbit dan pemasarannya tergolong bagus. Karena itu kini semakin banyak penerbit dari berbagai kalangan yang mengajak FLP bekerjasama dalam usaha penerbitan buku.

Uniknya, rekan-rekan muda FLP di beberapa propinsi juga mengumpulkan naskah dan menerbitkan buku karya para penulis daerah mereka. Misalnya buku Doa Untuk Sebuah Negeri karya FLP Aceh (Syaamil, 2001), Atas Nama Cinta, karya FLP Bandung (Syaamil, 2000) atau Salsa Tersayang (Syaamil, 2000) dan Tarian Sang Hudoq (Syaamil 2002), karya FLP Kalimantan Timur, Kucing Tiga Warna karya FLP Sumatera Selatan (Syaamil, 2002), Jatuh Cinta Pada Bunga karya FLP Surakarta (Era Intermedia, 2002), Karma Sang Srigala karya FLP Semarang (Era Intermedia, 2002), Lihatkan Bintang Untukku karya FLP Yogyakarta (Mizan, 2003), Surga yang Membisu karya FLP Depok (Zikrul Hakim, 2003), Kutemukan Warna karya FLP Mesir (Mizan, 2003), Bintang di Langit Baiturrahman (FLP Aceh), dan masih banyak lagi.

Cermin dan Malam Ganjil (FBA Press, 2002) adalah antologi cerpen bersama FLP yang didedikasikan bagi sastrawan senior Yusakh Ananda. Seluruh honor pengarang diserahkan langsung saat milad (ulang tahun –penulis) FLP tahun 2002 lalu, kepada Ibnu HS (Ketua FLP Kalimantan Barat), mewakili Sastrawan Yusakh Ananda (68 th).

Sebelumnya FLP juga membuat kumpulan cerpen bersama: Ketika Duka Tersenyum (FBA Press, 2002) yang seluruh penjualannya didedikasikan bagi Pipiet Senja, pengarang prolifik pengidap thalassemia. Buku lainnya: Doa untuk Sebuah Negeri (Syaamil, 2000) adalah karya para perempuan pengarang FLP Aceh yang berusia 18-28 tahun. Buku tersebut didedikasikan bagi para anak, janda dan pengungsi Aceh. Buku Merah di Jenin (FBA Press, 2002) yang merupakan ‘keroyokan’ para pengarang FLP nusantara juga FLP Mesir didedikasikan bagi anak-anak Palestina. Meski bukunya baru diluncurkan, FLP menyumbangkan seluruh royalti buku untuk anak-anak Palestina tersebut, melalui MER-C (organisasi bantuan medis sukarela –penulis).

Baru-baru ini, bekerjasama dengan 5 penerbit, FLP memprakarsai gerakan “menyumbang dengan cerpen”, yaitu penggalangan dana bagi korban gempa-tsunami di Aceh dengan cara menyumbang cerpen. Alhamdulillah langsung terkumpul dana 40 juta dimuka, untuk 5 buku yang akan diterbitkan. Penerbitan buku-buku seperti itu menjadi salah satu bagian dari program kampanye “satra untuk kemanusiaan” yang akan terus dilakukan FLP melalui “antologi kasih”.

FLP juga telah memberikan Anugerah Pena untuk anggota dengan karya berkualitas. Mereka yang menerima Anugerah Pena tahun 2005 adalah Habiburrahman el Shirazi (Ayat-Ayat Cinta, Republika 2004), Asma Nadia (Cinta Tak Pernah Menari, Gramedia), Novia Syahidah (Di Selubung Malam, Mizan 2003), Dijemput Malaikat (Palris Jaya, Mizan 2003), Pagi Ini Aku Cantik Sekali (Azimah Rahayu) serta Abdurahman Faiz (Untuk Bunda dan Dunia, Mizan 2004). Tahun ini Kuntowijoyo menerima Anugerah Pena untuk Pengabdian di Bidang Sastra dan uang 10 juta rupiah. Sementara FLP Hongkong terpilih sebagai FLP Wilayah Terpuji.

Di luar hal tersebut, kini di setiap kota yang memiliki cabang FLP, secara bertahap mulai didirikan Rumah-rumah Cahaya (rumah baCA dan HAsilkan karYA). Tempat tersebut bukan sekadar dijadikan sebagai taman bacaan, melainkan juga tempat latihan menulis—gratis– bagi kalangan dhuafa.

FLP yang Fenomenal
Berbagai pendapat muncul tentang FLP dalam kaitannya dengan kesastraan Indonesia kontemporer. Dari segi pembinaan banyak pihak yang menyatakan salut terhadap upaya yang dilakukan FLP. Namun dari segi kualitas karya sebagian besar rekan FLP memang masih dianggap para kritikus sastra sebagai ‘pemula’ yang akan terus bermetamorfosis.

Kehadiran FLP yang juga banyak menampilkan corak religius dianggap menjadi pesaing bagi eksistensi ‘sastra sekuler’ selama ini, juga menjadi penyeimbang yang menyegarkan.

Koran Republika menulis bahwa bagaimana pun FLP membawa fenomena baru dalam penulisan sastra religius kontemporer di Indonesia. Karya-karya FLP juga mendapat perhatian dan penghargaan dari para peminat sastra. Majalah Amanah menyatakan FLP dan para anggotanya telah membawa genre baru dalam sejarah sastra dan penulisan di Indonesia. Sementara Harian The Straits Times yang terbit di Singapura meyebut FLP sebagai kelompok fenomenal yang terus menerus melakukan training, workshop dan aneka kegiatan lainnya tanpa henti untuk mendukung lahirnya penulis baru. Koran Tempo bahkan menjuluki Ketua Umum FLP sebagai ‘Lokomotif Penulis Muda Indonesia’. Berbagai kalangan di Indonesia sepakat bahwa Forum Lingkar Pena telah memberikan sumbangsih dan kontribusi berarti dalam dunia kesusastraan Indonesia.

Meski demikian dalam perdebatan di mailing list penyair@yahoogroups.com, beberapa penyair mengatakan bahwa penulis yang mendirikan komunitas (penulisan) adalah mereka yang tidak percaya diri dan takut untuk tampil sendirian. Benarkah demikian? Saya rasa itu terlalu naif. FLP membuktikan keberadaannya adalah untuk saling memajukan serta membantu membidani kelahiran para penulis pelapis.

Maka tiba-tiba saya kembali teringat Galang Lufityanto, pemuda Yogya, kelahiran 1981 yang menulis karya fiksi sama baiknya dengan karya ilmiah, yang berkali-kali menjadi juara I dalam berbagai lomba penulisan tingkat nasional dan telah menerbitkan bukunya: Bisikan dari Langit ( Mizan, 2001) dan Tidak Hilang Sebuah Nama (Era Intermedia, 2002).

Saya teringat Meldy Muzada Elfa dari Barabai, yang dalam usia 14 tahun (kelas 2 SMP) telah menerbitkan dua buku fiksi dan berkali-kali menjadi pelajar teladan se-Kalimantan Selatan. Lalu Syamsa Hawa, si juara kelas, yang dalam usia 13 tahun telah menulis puluhan cerpen dan pada usianya yang ke 14 tahun menerbitkan bukunya Di Balik Cahaya Rembulan (Era Intermedia, 2001). Lalu Adzimattin Nur yang menulis buku pertamanya dalam usia 13 tahun dan hanya dalam waktu dua tahun kemudian ia sudah menghasilkan 7 buku! Abdurahman Faiz yang menerbitkan dua buku puisinya dalam usia 8 tahun serta Caca yang buku kumpulan cerpen pertamanya terbit saat ia belum berusia 8 tahun.

Saya terkenang Asma Nadia yang dua bukunya: Rembulan di Mata Ibu (Mizan, 2000) dan Dialog Dua Layar (Mizan 2001) menjadi buku terbaik tingkat Nasional versi Adikarya Ikatan Penerbit Indonesia 2001-2002 yang membawanya sebagai pengarang terbaik tingkat nasional IKAPI. Ia juga Pengarang terbaik versi Penerbit Mizan, 2003. Asma menulis 10 buku dalam satu tahun! Bukunya Cinta Tak pernah Menari (Gramedia, 2003) langsung mengalami cetak ulang saat baru satu bulan terbit. Baru-baru ini Asma juga mendapat penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara.

Saya pun terbayang Izzatul Jannah, ibu muda dengan tiga anak yang dalam setahun menulis empat novel. Saya ingat Ninik Handrini yang dalam usia 25 tahun telah menulis lebih dari 30 buku cerita anak. Saya terkenang Muthmainnah, kandidat doktor dalam kajian tentang Palestina yang kini tinggal di Inggris. Karyanya: Pingkan Sehangat Mentari Musim Semi (Syaamil, 1998) terus mengalami cetak ulang. Lalu Sakti Wibowo, mantan buruh pabrik roti yang cerdas dan telah menulis belasan buku, di antaranya Tanah Retak (Syaamil, 2003), novel sejarah menjelang perang Jawa 1825-1830. Saya terbayang Agustrijanto yang karyanya Tonil Nyai di Ujung Senapan (Syaamil, 2001) dan Wiracarita Adi Cenik (Syaamil, 2002) dibuat dengan perpaduan riset luar biasa dan jalinan cerita yang indah.

“Tentu saja kita ingin banyak penulis di negeri ini. Dengan adanya FLP ini akan menjadi kerja yang sinergis,” kurang lebih kata-kata itulah yang terucap dari bibir penulis-penulis muda itu, saat pertama kali bergabung dengan FLP.

Dan setelah tahun demi tahun berlalu, nyatalah apa yang dikerjakan penulis dan anggota FLP. Muhali Hisyam, mantan Koordinator Forum Pers Nasional Pesantren menulis: Akhirnya kita pantas berkaca pada lahirnya Forum Lingkar Pena (FLP) serta fenomena dominan sastrawan muda “santri kota” yang akhir-akhir ini mulai tumbuh bermekaran. Terbentuknya FLP sebagai wahana pengembangan sastra dan pembinaan penulis andal dari kalangan muda yang kini sudah sedemikian menggurita ke seluruh Nusantara bahkan hingga mancanegara itu bukan hanya menjadi penegasan dari simtom “musim semi” sastra islami, lebih dari itu ia telah menjadi contoh yang baik bagi lahirnya komunitas sastra yang mampu mewadahi semesta potensi sastra santri dan kepesantrenan dengan baik dan enerjik. Bagaimana Helvy Tiana Rosa telah mampu membuktikan perannya sebagai ibu sekaligus “nyai” yang berhasil mengelola ribuan “santri”-nya dalam “pesantren” FLP dengan baik.

Allahu a’lam.

Tulisan ini dikutip dari forumlingkarpena.multiply.com.

MEMASUKI tahun 1980-an kehidupan sastra di Bandung, khususnya dalam bidang penulisan puisi digerakan oleh komunitas-komunitas sastra, yang para aktivisnya rela mengeluarkan uang untuk kegiatan tersebut. Sebelum Kerabat Pengarang Bandung (KPB) berdiri yang dimotori oleh penyair Yessi Anwar dan Diro Aritonang, Anton de Sumartana terlebih dahulu mendirikan komunitas Swawedar 67 yang aktif menyelenggarakan kegiatan baca dan diskusi puisi di GK Rumentang Siang Bandung. Selain itu, malah kelompok ini aktif pula menerbitkan antologi puisi.

”Pada saat itu Anton de Sumartana cukup aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan kesenian di Bandung. Malah yang digarapnya bukan hanya sastra, tetapi juga pertunjukan teater. Kegiatan tersebut di luar kegiatan sastra yang diselenggarakan oleh para penyair kampus,” kenang Juniarso Ridwan, yang pada saat mahasiswa pernah aktif di Grup Apresiasi Sastra (GAS) ITB. Grup ini melahirkan Gerakan Puisi Bebas yang mengutamakan kekuatan rupa sebagai andalan senjata daya komunikasinya.

Kegiatan serupa dilakukan pula oleh Diro Aritonang dan Yessi Anwar dengan mendirikan Kerabat Pengarang Bandung (KPB). Acara-acara yang digelar oleh kelompok ini, selain menggelar acara tahunan seperti Festival Desember yang dipusatkan di GK Rumentang Siang, juga menyelenggarakan acara bulanan, yakni mengundang para penyair Bandung untuk membacakan puisi-puisinya di GK Rumentang Siang.

Seusai acara baca puisi, para penyair yang diundang itu diuji kemampuan daya intelektualnya dengan cara diberondong dengan berbagai pertanyaan yang cukup menyakitkan. Pertanyaan-pertanyaan yang galak itu, ada kalanya membuat si penyair atau calon penyair itu mati kutu di depan forum.

”Kegiatan semacam ini untuk proses pendewasaan. Penyair jangan hanya bisa menulis puisi, tetapi harus bisa pula mempertahankan konsep-konsep estetik yang ditulis dalam puisinya,” begitu kata Yessi Anwar saat membuka acara baca puisi Niniet Rajab di tahun 1980-an. Niniet, termasuk salah seorang penyair Bandung yang cukup produktif, di samping Wahyu Goemilar, Iwan Soekri Moenaf, Acep Zamzam Noor, Beni Setia, Giyarno Emha, dan sejumlah penyair lainnya.

Kerabat Pengarang Bandung hidup hanya beberapa tahun. Sebagian besar anggotanya kemudian mendirikan Kelompok Sepuluh di bawah pimpinan Moh. Ridlo E’isy dan Herry Dim. Kelompok ini selain menyelenggarakan acara baca puisi dan menerbitkan kumpulan puisi, yang paling utama adalah menyelenggarakan acara diskusi, baik mengenai politik, sastra, ekonomi, agama, maupun filsafat.

Dalam kelompok inilah Nirwan Dewanto mulai tampil, begitu juga Kurnia Effendi, Miranda Risang Ayu, Hikmat Goemilar, Fajroel Rachman, Arya Gunawan, dan beberapa kawan lainnya.

Hampir sebagian besar acara-acara sastra yang berskala lokal maupun nasional yang diselenggarakan oleh Kelompok Sepuluh pada waktu itu mendapat dukungan dari HU Pikiran Rakyat. Bahkan artikel-artikel yang akan didiskusikan terlebih dahulu dimuat di HU Pikiran Rakyat.

Salah satu acara sastra yang pernah diselenggarakan oleh Kelompok Sepuluh adalah acara diskusi ”Sastra Kontekstual” dengan pembicara antara lain Abdul Hadi W.M., Afrizal Malna, Ariel Heryanto, dan beberapa pembicara dari Bandung.

Kelompok ini pun berhenti dengan sendirinya, seiring dengan kepindahan beberapa aktivisnya ke Jakarta karena tuntutan nasib. Dalam kekosongan semacam itu, memasuki pertengahan tahun 1990-an, penyair Juniarso Ridwan dan Agus R. Sardjono dengan dukungan Herry Dim, penyair Sanento Juliman, Jeihan Sukmantoro, dan Mamannoor mendirikan Forum Sastra Bandung (FSB). Kelompok ini sempat memberikan penghargaan sastra kepada penyair Saini K.M. yang dinilai berhasil ”melahirkan” banyak penyair baru di Bandung khususnya, dan di Indonesia pada umumnya.

Sama seperti kelompok sebelumnya, acara yang diselenggarakan oleh FSB selain menerbitkan buku puisi, juga mengundang para penyair dari luar Kota Bandung untuk membaca puisi di Bandung. Forum ini boleh dibilang cukup hidup dengan pusat kegiatan antara lain di GK Rumentang Siang.

Tentu saja di luar komunitas tersebut di atas, masih ada komunitas-komunitas lainnya yang hingga kini masih menghidupkan sastra di Bandung, baik sastra Sunda maupun sastra Indonesia. Semua ini menunjukkan bahwa Kota Bandung pada satu sisi cukup memberikan kemungkinan kepada para penulisnya untuk berkarya seni. Dan FSB seperti juga kelompok lainnya, saat ini dalam keadaan hidup tidak mati pun tidak. Namun demikian, para aktivisnya masih terus menulis karya sastra. (Soni Farid Maulana)

Tulisan ini dikutip dari Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 30 Oktober 2007.

Tulisan Sebelumnya »