Feeds:
Tulisan
Komentar


Suyadi San

Staf Teknis Balai Bahasa Medan

Pulau Sumatera tidak hanya penghasil rempah. Tak sebatas kawah candradimuka politik nasional. Sejarah membuktikan, swarnadwipa ini merupakan sokoguru budaya. Melayu, Minangkabau, Batak, Gayo-Alas-Singkil, Aceh, merupakan puak terbesar di samping kaum pendatang dari Jawa.

Dua kerajaan besar pra Indonesia bermukim di sini: Samudera Pasai dan Sriwijaya. Gugusan pegunungan membentang dan menjulang dari utara hingga selatan: Bukit Barisan. Toba, Singkarak, dan Maninjau adalah danau yang menjadi ikon semenanjung Sumatera.

Banyak lagi patut dibanggakan di wilayah ini. Tak ayal, pengarang-pengarang Indonesia kerap memotret Sumatera dalam figura budayanya. Ini terlihat jelas pada masa Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Deretan pengarang besar Indonesia lahir di sini dan membesarkan Indonesia Raya.

Persemaian wilayah sastra ini menjadi satu bagian penting dalam geosastra dan geopolitik kebudayaan Indonesia. Di arena Temu Sastrawan Sumatera dan Temu Sastrawan Sumatera Utara 2007, yang digelar Dewan Kesenian Sumatera Utara 28-30 Desember barusan, menggambarkan pemetaan semangat bersastra di kalangan sastrawan antarprovinsi di Pulau Andalas.

Pengembaraan kreativitas bersastra para sastrawan itu tertuang dalam satu medan, yakni sastra. Pertemuan antarsastrawan di Pulau Sumatera itulah yang melahirkan diterbitkannya buku Medan Sastra. Buku kumpulan karya sastra ini dimaksudkan sebagai satu penanda bahwa pulau ini tidak pernah kering melahirkan generasi sastra.

Tak heran, sebelum acara temu sastrawan ini berlangsung, sebelum buku tersebut diterbitkan, saya selaku editor dibantu rekan S. Ratman Suras, M. Raudah Jambak, dan Hasan Al Banna menerima ratusan karya. Karena keterbatasan waktu – juga dana – pula, kami hanya bisa meloloskan 85 judul karya sastra dari 57 orang penulis, terdiri atas 55 judul puisi dari 33 penulis, 20 cerita pendek (20 penulis), 2 naskah drama (2 penulis), dan 8 esai (8 penulis).

Nama-nama pengarang yang karyanya termuat di dalam buku ini, merupakan keterwakilan dari bejibunnya jumlah penulis karya sastra pada masing-masing provinsi dan daerah. Tak hayal, buku ini juga diisi sejumlah nama baru. Karya-karya mereka – untuk sementara ini – disandingkan dengan sastrawan generasi sebelumnya. Alam dan waktu yang akan menguji mereka: apakah mereka pantas menyandang ‘gelar’ sastrawan di kemudian hari.

Para penulis baru yang muncul pada buku ini, di antaranya Agus Mulia, Ahmad Badren Siregar, Antonius Silalahi, Djamal, Elidawani Lubis, Herni Fauziah, Januari Sihotang, Lia Anggia Nasution, Pria Ismar, Pusriza, Embar T Nugroho, Indra Dinata SC.

Ada pula nama Indra YT, Irwan Effendi, Richad Yanato, Rina Mahfuzah Nasution, Sumiaty KSM, Variati Husni, dan Yunita Sari. Itu semua dari Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Barat mengutus sastrawan mudanya, seperti Anda S, Chairan Hafzan Yurma, Edo Virama Putra, Esha Tegar Putra, Pinto Anugrah, Yetti A.KA .

Yang jelas, generasi baru sastrawan Sumatera nyatanya terus berdenyut. Ia menjadi satu fenomena bahwa Sumatera tidak akan kehabisan penerus cita-cita sastrawan terdahulu. Buku ini barangkali akan jadi saksi sejarah tentang perjalanan sastra Sumatera.

Sumatera Utara selaku tuan rumah, tentu saja jadi penyumbang terbanyak pengisi buku. Selain sastrawan pemula di atas, sastrawan terkemuka daerah ini yang tampil meramaikan buku Medan Sastra ini, di antaranya, Afrion, Amin Setiamin, Damiri Mahmud, D. Ilyas Rawi, Harta Pinem, Herman KS, Idris Siregar, M. Yunus Rangkuti.

Lalu, Shafwan Hadi Umry, S. Ratman Suras, Zainal Arifin AKA, A. Yusran, Dini Usman, Hasan Al Banna, Hidayat Banjar, Malubi, M. Raudah Jambak, Nasib TS, Saripuddin Lubis, Sulaiman Sambas, Teja Purnama, Tengku Agus Khaidir, Yulhasni, Suyadi San, dan Syaiful Hidayat.

Selain melalui karya, peta sastrawan Sumatera secara jelas dapat dibaca melalui esai-esai yang terdapat di dalam Medan Sastra. Perkembangan dan jejaring sastra masing-masing provinsi diungkap Syaiful Hidayat (Sumatera Utara),. D. Kemalawati (Nanggroe Aceh Darussalam), Ira Esmiralda (Bangka Belitung), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Muhammad Husyairi (Jambi) dan Tarmizi (Kepulauan Riau).

Lalu, sastrawan Damiri Mahmud dan akademisi Dr. Ikhwanuddin Nasution M.Si menyoroti serta mengkritisi karya-karya dan perjalanan sastra Sumatera tersebut. Syaiful Hidayat pada esai yang terdapat di dalam buku ini menyatakan, sastra Indonesia menempatkan sastra dan sastrawan dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebagai pelopor sastra modern Indonesia.
Konstelasi sastra itu menumbuhkan Kota Medan dan Kota Padang sebagai pusat sastra Indonesia yang utama di luar Pulau Jawa. Sastrawan dari kedua wilayah ini kemudian saling memberi warna sehingga muncullah Chairil Anwar dan Hamka sebagai orang Minang yang secara bersamaan melekat sebagai orang Medan.

Sebaliknya, Sutan Takdir Alisjahbana dan Mochtar Lubis sebagai orang Medan yang merasakan atmosfer sastra Minang. Mereka merupakan bagian dari kelas menengah Hindia Belanda yang memperoleh pendidikan, sehingga terampil dalam mengekspresikan gagasannya, pandangan hidup sebagai subjek kolektif.

Menurut penilaian Damiri Mahmud, saat ini geliat kepengarangan Sumatera makin ramai, terutama puisi dan Cerpen. Para penulis Sumatera ini tampak berusaha melepaskan diri dari “cengkeraman” Jakarta yang selama ini dianggap sebagai sentralisasi sastra. Kata Damiri lagi, kantong-kantong sastra di beberapa tempat di Sumatera diusahakan seintensif mungkin. Kegiatan-kegiatan pertemuan, diskusi, sayembara, penerbitan buku begitu marak dilakukan.

Damiri memperkirakan, Riau paling depan dalam geliat bersastra. Pada dekade 60-an dan 70-an daerah ini masih terasa sepi dari kegiatan dan para sastrawan. Tapi sekarang begitu banyak kegiatan dan muncul tokoh-tokoh kenamaan. Mereka pun sangat giat menggali akar tradisi sastranya. Karya-karya Raja Ali Haji misalnya, kembali ditransliterasi dan diterbitkan.

Sedangkan Sumatera Utara, sebagaimana halnya Riau, tampaknya punya kedekatan sejarah dengan Semenanjung Malaysia. Karya-karya para sastrawan banyak yang terbit di sana. Setidaknya 12 novel telah dibukukan dan beberapa antologi puisi dan Cerpen.

Ada pula even “Dialog Utara” yang dilaksanakan sejak awal 1980-an yang pada mulanya diisi oleh para sastrawan dari Medan dan Pulau Pinang yang dianggap sebagai kota kembar karena kemiripannya yang sama-sama memiliki tradisi sebagai kota pantai.
Tampaknya di antara genre sastra yang banyak ditulis adalah puisi dan kemudian cerita pendek. Kurang diimbangi oleh penulisan novel. Barangkali penulisan novel memerlukan waktu yang lama dan dukungan dana yang besar sementara para penulis sekarang pada umumnya punya kegiatan rangkap.

Tradisi sebagai “pujangga istana” di zaman kerajaan dulu telah hilang. Sebagaimana diketahui Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji, sedikit banyaknya merupakan “pujangga istana” sehingga di samping dukungan dana, misi yang mereka tulis bisa dengan cepat dapat terlaksana.

Deknong Kemalawati dalam esai nya memaparkan sejumlah generasi sastra Aceh. Generasi sastra Aceh ini dimulai dari Angkatan Sufi. didominasi oleh tema agama terutama mengenai tasawuf (mazhab; aliran), hal ini menandakan perkembangan (pengkajian) masalah agama di Aceh berada dalam priode emas.

Salah satu faktor penyebabnya adalah Sultan (raja) memberikan akses yang seluas-luasnya kepada penyair untuk berkarya. Di samping itu, penyair (dinominasi kaum ulama) sangat dihargai kerajaan, sehingga mereka menjadi mufti. Pada zaman itu, politik telah memainkan peranan yang besar dalam perkembangan kesusastraan di Aceh. Terutama, persengketaan mazhab Hamzah Fansuri dengan Nuruddin ar-Raniri—mengenai faham wujudiyah. Dalam catatan sejarah banyak karya Hamzah Fansuri dan ikutannya dimusnahkan oleh kerajaan atas saran dari Nuruddin ar-Raniri.

Angkatan Pujangga Baru didominasi tema ketuhanan dan keindahan alam. Selain itu, bentuk karya masih dipengaruhi terutama oleh bentuk pantun dan syair Melayu. Selanjutnya angkatan pertengahan corak (bentuk) dan tema karya sudah mulai kaya—tidak terpaku dalam bentuk syair dan pantun Melayu.

Selain masih didomonasi tema-tema di atas, tema pada angkatan ini sudah diperkaya dengan tema-tema heroik kepahlawanan. Seiring perkembangan politik yang terjadi khususnya di Aceh maka karya sastra pun mengalami corak dan temanya sesuai dengan kondisi zaman tersebut.

Tema-tema kepahlawanan pasca Pujangga Baru, menurut Kemalawati, bermula dari “pemberontakan” DI/TI dipimpin Daud Beureueh pada 1953. Kemudian dilanjutkan dengan “perlawanan” GAM sejak 1976 dipimpin Hasan Tiro. Sejak saat itu Aceh terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah, apa lagi setelah diterapkannya DOM (Daerah Operasi Militer) pada 1989 oleh pemerintah Orde Baru. Setelah kejatuhan Soeharto 1998 dilanjutkan dengan Darurat Militer, yang berakhir pascatsunami dengan perjanjian damai (MOU) antara RI dengan GAM.

Kondisi ini telah memunculkan sastrawan (penyair) angkatan konflik. Tema-tema yang mendominasi angkatan ini adalah tentang perlawanan (mencari keadilan) dan tragedi kemanusiaan. Bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 membawa banyak perubahan dalam segala bidang kehidupan masyarakat Aceh. Bermunculanlah karya-karya sastra, baik yang ditulis oleh penyair-penyair yang sudah konsisten maupun muka-muka baru. Orang-orang “berlomba-lomba” menulis, menerbitkan, pelatihan-pelatihan serta menampilkan karya sastra menjadi seni pertunjukan.

Dalam catatan Kemalawati, ada beberapa perkumpulan (swasta) yang eksis sampai sekarang terutama dalam hal pelatihan dan penerbitan karya sastra, di antaranya, Bangkit Aceh, Lapena, ASA, Do Karim, Tikar Pandan, AMuK Community, Aneuk Muling Publishing, Aceh Culture Institute dan lain-lain. Bagaimana dengan Bangka Belitung? Bangka Belitung merupakan provinsi baru. Kelahirannya tak berjauhan dengan kelahiran Provinsi Banten, Gorontalo dan Kepulauan Riau. Konstelasi sastra provinsi ini dikupas dalam esai Ira Esmiralda (hal. 262-265).

Dari esai Ira ini, kita mengetahui peta perjalanan sastra di Bangka Belitung. Menurut Ira, kaum terpelajar menggeluti sastra lebih memilih keluar Bangka Belitung (Jawa) dan berkarya di sana. Pada tahun 1930-an muncul nama Fatimah Hasan Delais dengan karyanya Kehilangan Mustika.

Setelah itu dunia sastra (tulis) di Bangka Belitung mengalami stagnasi panjang. Hingga tahun 1980-an, muncul nama Ian Sanchin (Belitung) dan Willi Siswanto (Bangka) yang memublikasikan Cerpen remajanya di beberapa majalah remaja dan keluarga. Drama sangat diminati oleh remaja atau pelajar Bangka. Pada masa ini, kelompok-kelompok teater remaja dan pelajar bermunculan dan pementasan teater cukup sering diadakan. Namun pada pertengahan 1990-an, seiring keluarnya remaja-remaja tersebut ke kota lain untuk melanjutkan studi, kehidupan teater di Bangka meredup lalu vakum.

Pada 1990-an akhir, muncul koran daerah pertama di Bangka, Bangka Pos (group Kompas). Lembar budaya minggu pada koran tersebut telah meletakkan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra di Bangkabelitung. Willi Siswanto, Nurhayat Arif Permana sebagai redaktur budaya Bangka Pos mengajak penyumbang tulisan sastra di lembar budaya Bangka Pos untuk membentuk sebuah komunitas sastra. Hingga terbentuklah Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB) pada 2000.

Ira juga menyebutkan, kantong-kantong sastra di Bangka Belitung terpusat di Pangkal Pinang (ibukota Bangka Belitung) dan Sungailiat (ibukota Kabupaten Bangka). Pegiat sastra di Pangkal Pinang terdiri dari latarbelakang profesi. Mulai pensiunan guru, pegawai KUA, sampai yang betul-betul hanya mengandalkan tulisannya sebagai jalan hidup. Di Sungailiat, para pegiat sastranya umumnya memiliki latarbelakang profesi yang lebih homogen. Semuanya rata-rata pegawai negeri sipil. Dari guru, pejabat Pemda, sampai reporter.

Lampung menyumbang Isbedy Stiawan ZS. Di dalam esainya (hal. 266-272),, Isbedy gambling menyebut peta sastra Indonesia tidak lengkap tanpa Lampung. Itu, dimulai dari kiprah Assaroeddin Malik Zulqornain Ch alias Amzuch. Perkembangan berikut, “pulangnya” para perantau: Iwan Nurdaya-Djafar, Sugandhi Putra, Hendra Z., Djuhardi Basri, dan Naim Emel Prahana. Bersamaan itu, dinamika sastra di Lampung kian bergolak dengan munculnya Syaiful Irba Tanpaka, Achmad Rich, serta yang berkiprah kemudian yaitu Panji Utama, A.J. Erwin, Iswadi Pratama, Ivan Sumantri Bonang, D.Pramudia Muchtar, Eddy Samudra Kertagama dan lain-lain—untuk sekadar menyebut beberapa nama.

Isbedy tidak menafikan peran kampus yang cukup besar. Sumbangsih terbesar adalah Universitas Lampung. Muncullah nama Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, Diah Indra Mertawirana (kini Diah Merta), Lupita Lukman dan Elya Harda. Jambi melalui esai Muhammad Husyairi (hal. 273-276) membuat peta sastrawan Jambi dalam tiga generasi. Sebagian besar dari tiga generasi tersebut didominasi oleh para penyair. Generasi pertama Ghazali Burhan Riodja (Alm) dan Yusuf Asni.

Di lapis kedua ada Dimas Arika Mihardja, Acef Syahril (sekarang berdomisili di Indramayu), Iif Ranupane, Dimas Agus Pelaz, Iriani R. Tandi, Budi Veteranto, Ari Setya Ardhi, EM. Yogiswara, Nanang Sunarya, Suardiman Malay, Firdaus, Asro Al-Murthawy, Amri Suwarta dan Indriatno. Secara kekaryaan, generasi lapis kedua ini muncul pada paruh tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan.

Sedangkan generasi ketiga yang muncul setelah tahun sembilan puluhan, sebut saja Muhammad Husyairi (Ary MHS Ce’gu), Yupnical Saketi, Ide Bagus Putra, Ramayani, Oton Marton, Alpakihi, Putra Edison, Emen Sling, Muhammad Muslih, Berry Hermawati, Yohana, Titas, Gita Romadhona, Chori Marbawy, Pendra Darmawan, Anshori Bharata, Monas Junior dan Fahrizal Eka. Begitulah. Konstelasi sastra pulau Sumatera tersingkap di dalam buku Medansastra. Kita berharap, buku tersebut menjadi sumbangan bagi sejarah sastra di Sumatera, kelak! Amiin.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Waspada (Medan) dan sastraminangkabau.blogspot.com, 10 Agustus 2008.

SASTRA UNTUK SEMUA

Di alun-alun Sidoarjo, Komunitas Esok menggelar tikar,menyelenggarakan perpustakaan terbuka. Menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan sastra pada warga kota.

PERKEMBANGAN sastra di Indonesia mengalami dinamika signifikan. Itu terlihat dari antusiasme generasi muda dalam menjaga keberlangsungan sastra dengan ataupun tanpa berkomunitas. Mereka mewujudkan ekspresi dalam penampilan konkret, berasal dari inspirasi-inspirasi yang mereka tangkap dari kondisi dan sudut pandang berbeda. Sastra di Indonesia pun mempunyai keberagaman bentuk dalam proses kreativitas dan pemaknaan terhadap sebuah karya.

Keberagaman pandangan dan pemahaman sastra dalam literasi merupakan upaya pelaku sastra mengembangkan budaya masa dalam masyarakat. Dengan demikian, proses peleburan sastra mengalir sejalan perkembangan wacana. Tidak hanya didominasi kesenian borjuis yang hanya mengandalkan nilai jualnya.Saat ini sastra tak hanya jadi wacana tekstual, tetapi kontekstual, mengakar pada budaya masa. Ini adalah kesempatan pelaku sastra memberikan pendekatan kepada masyarakat tentang sastra dan kebudayaan murni. Lebih sederhana dan nyata agar mampu diterima masyarakat awam sekalipun.

Dapat kita bayangkan, ketika sastra dan kebudayaan murni kembali pada masyarakat secara luas. Sastra mampu dinikmati dan masyarakat diilhami dalam tataran sederhana sampai yang kompleks. Masyarakat mempunyai dimensi sastra dan budaya yang mampu menjadi benteng dari penjajahan budaya-budaya luar. Terus menggerus dan mengubah pola pikir masyarakat, yang tanpa sadar terkondisikan.Sastra bukan lagi milik sastrawan, melainkan milik kita, milik masyarakat. Lahirlah sastra dan kebudayaan murni. Sastra tidak hanya dibicarakan dalam diskusi, seminar formal ataupun per-tunjukan-perrunjukan eksklusif. Sastra telah menjelma menjadi masyarakat itu sendiri. Maka wacana sastra akan terbangun di perkampungan, warung kopi sampai masyarakat emperan.

Dalam setiap perkembangan sastra ada rantai kerja sama simbiosis mu-tualisme yang harus terbangun antara Pemerintah, media massa, LSM, komunitas-komunitasseni dan sastra serta masyarakat. Di sinilah peranan setiap komponen untuk saling menjaga dan mendukung, melestarikan sastra dan kebudayaan Indonesia.Negara yang kaya akan kebudayaan dan suku. Kaya berbagai sudut pandang tapi satu tujuan. Pastinya kita sebagai arek Indonesia tidak ingin kecolongan.Upaya untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi penerus harus terus dilakukan. Mengembalikan muatan lokal. Namun, sebagian daerah di Indonesia menghapus muatan lokal dari kurikulum.Komunitas Esok adalah salah satu komunitas yang menangkap dinamika dan gairah sastra di masyarakat. Komunitas Esok ikut serta dalam perkembangan sastra Indonesia dengan memfasilitasi masyarakat untuk mengenal, mencintai, dan menikmati sastra secara utuh.Esok mempunyai cara sendiri yang menjadikan masyarakat merasa lebih dekat. Membicarakan sastra sampai pada performing art hasil dari kreativitas. Memberi hiburan tapi juga pengetahuan.

Melalui metode interaktif, kami melibatkan mereka secara langsung. Interaksi seperti itu dimaksudkan agar mereka juga merasakan geliat dinamika sastra dan budaya. Sama seperti yang kami rasakan, juga menjadi salah satu titik tolak ukur seberapa peduli masyarakat terhadap sastra dan budayanya sendiri. Kami meluruskan pandangan sebagian masyarakat yang menganggap sastra hanya sebatas muara kata-kata indah dan penggalan teori yang tetap menjadi kata. Padahal dalam kehidupan mereka sehari-hari, secara tidak sadar telah ter-ilhami oleh karya sastra kuno. Sastra Jawa bagi orang Jawa, dan pembelaan-pembelaan para sastrawan, dan seniman pada nasib masyarakat bawah. Karya-karya itu mampu menembus cela Istana Negara, cara yang lebih bijak daripada demonstrasi.

Komunitas Esok memang masih baru, dengan semangat kami juga” mengelola perpustakaan emperan sebagai taman baca bagi siapa saja, termasuk anak-anak di Alun-Alun Kota. Kami memberi pemahaman bagaimana membaca dan menulis yang baik, agar budaya literasi terbangun dengan baik di bawah. Maka, donasi buku yang kami dapat dari anggota lebih daripada cukup untuk memberi fasilitas taman baca, walaupun kolek-sinya masih sangat terbatas. Ini adalah jalan untuk merealisasikan upaya mencerdaskan bangsa dengan harapan kesadaran budaya massa dalam masyarakat akan terbentuk. Sayangi buku, cintai sastra! (M-4)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Media Indonesia (Jakarta), 7 Februari 2010.

KOMUNITAS DAN BUKU SASTRA

Adakah Malsasa bisa digelar tahun ini?

Aming Aminoedhin

Komunitas Sastra
Di Jawa Timur memang cukup banyak berdiri komunitas sastra, baik di kota Surabaya maupun di kota-kota kecil, semacam: Ngawi, Lamongan, Tulungagung, Bojonegoro, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Lumajang, Batu, Jombang, Sidoarjo, dan Gresik.
Untuk menyebutkan beberapa nama yang pernah ada, misalnya: Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS, PPIA Surabaya), Surabaya Poetry Community (Surabaya), Komunitas Sastra Luar Pagar (Unair, Surabaya), Sanggar Sastra Kalimas-nya Tengsoe Tjahjono (Surabaya), Sanggar Sastra Ketintang (IKIP Surabaya), Bengkel Muda Surabaya (BMS), Paguyuban Pengarang sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), Komunitas Sastra Teater Persada dan Komunitas Sastra Lingkar Tanah Kapur (Ngawi), Komunitas Sastra Teater Lamongan (Kostela, Lamongan), Sanggar Dian (Lumajang), Sanggar Triwida (Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar), Pamarsudi Basa Jawi Bojonegoro (PSJB), ARS (Alam Ruang Sastra Sidoarjo), Komunitas Lingkar Sastra Junok (Bangkalan), Sanggar Sastra SD Jombatan (Jombang), dan banyak lagi.
Dari sekian banyak komunitas sastra yang ada, memang tidak banyak mau menerbitkan buku sastra. Jika mau mencatat, mungkin ada: FASS, Komunitas Sastra Teater Persada, Sastra Lingkar Tanah Kapur, Kostela, Kalimas, Ketintang, PPSJS, Triwida, PSJB, dan beberapa komunitas yang lain. Itu pun tidak banyak jumlah penerbitannya. Biasanya, menerbitkan sekali kumpulan puisi, lantas komunitas itu mati. Menyedihkan memang, tapi tidaklah kita lantas surut menulis sastra, dan surut membuat komunitasnya.
Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS) yang berpangkalan di PPIA, Jalan Dr. Soetomo, yang lantas pindah di Dharmahusada Indah Barat, Surabaya; di mana saya pernah jadi motivatornya itu, juga tidak banyak menerbitkan buku. Jika mau mencatat hanya: Nuansa Biru, Reportase Sunyi, Gelombang, dan kumpulan puisi Festival Puisi XIII.
Sementara itu komunitas Tanah Persada, menerbitkan: Tanah Persada, Tanah Kapur, dan Tanah Rengkah. Komunitas Sastra Lingkar Tanah Kapur menerbitkan: Surat dari Ngawi, Secangkir Kopi Buat Kota Ngawi, Suluk Hitam Perjalanan Hitam. Surabaya Poetry Community menerbitkan: Mataku Mata Ikan, Cerita Buat Putri Rajab, Pengantin Lumpur. Sanggar Sastra Kalimas menerbitkan Dialog Warung Kaki Lima; dan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan), yang dimotori Herry Lamongan ini, cukup banyak menerbitkan buku-buku sastra (data saya tidak lengkap), baik kumpulan puisi maupun cerpen. Begitu pula komunitas BMS (Bengkel Muda Surabaya). Lantas PPSJS menerbitkan kumpulan guritan Kabar saka Bendulmrisi, dan mungkin sederet lagi yang bisa kita tuliskan dalam tulisan lain.
Semua yang saya sebutkan di atas, hanyalah beberapa contoh komunitas sastra dan penerbitannya. Datanya memang tidak lengkap, tapi dari data di atas membuktikan bahwa komunitas sastra di Jawa Timur, cukup banyak jumlahnya, serta mereka mau menerbitkan buku-buku sastra. Meski masih ada juga yang sangat sederhana (stensilan/fotokopian), ada juga yang sudah dicetak baik, dan ber-ISBN sebagai buku yang berstandar nasional.

Bagaimana FSBS
Komunitas yang berawakkan dari komunitas sastrawan Jawa Timur, yang terdiri dari sastrawan yang menulis dengan menggunakan media bahasa Indonesia, dan media bahasa Jawa. Berdiri sejak 2 Desember 2005 lalu, ketika akan menerbitkan kumpulan sajak bertajuk ‘Malsasa’.
Beberapa nama yang ikut memotori ini, sebut saja Aming Aminoedhin, Sugeng Adipitoyo, Anang Santosa, dan W. Haryanto. Nama lain yang lebih yunior, ada: AF Tuasikal, dan Fahmi Faqih.
Awalnya berangkat dari pertemuan warungkopian yang biasa mangkal di Warung Delima, alias Delapan Lima, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Dari hasil kongkow-kongkow itulah, yang kemudian melahirkan beberapa ide membentuk komunitas ini, yang akan menerbitkan antologi puisi dan geguritan.Terbentuklah kemudian komunitas bernama Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), yang terdiri sastrawan Indonesia dan Jawa tersebut. Dari hasil pertemuan nonformal inilah yang kemudian benar-benar melahirkan sebuah antologi puisi dan geguritan ‘Malsasa 2005’ yang dibacakan para penyair dan pengguritnya di Galeri Seni, Dewan Kesenian Surabaya, Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya.
Secara formal pertemuan rekan-rekan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) tidak pernah rutin, tapi secara nonformal bertemu dan berembug pada acara-acara pentas seni yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur di Gentengkali. Bahkan terkadang, secara spontanitas, tapi ternyata dapat terealitaskan kegiatannya. Tidak hanya berupa pentas sastra dan bedah buku; tapi juga penerbitan buku, utamanya buku sastra.
Secara hitungan, penerbitannya sudah lumayan banyak buku yang telah dan akan diterbitkan oleh Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), antara lain: Malsasa (antologi puisi dan geguritan, 2005), Tanpa Mripat, karya Aming Aminoedhin (kumpulan geguritan gagrag anyar, 2006), Mampir Ngombe karya Indri S. Diarwanti (kumpulan geguritan gagrag anyar, 2006), Timbil karya Trinil (kumpulan wacan bocah, 2006), Surabaya 714 (antologi malam sastra surabaya, 2007), Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu karya Aming Aminoedhin (kumpulan sajak anak-anak, 2008), Senyum Rel Kian Jauh karya AF Tuasikal (kumpulan puisi, 2008), dan Memutih Putih Begitu Jernih karya Aming Aminoedhin (kumpulan puisi, 2008).
Buku-buku di atas semuanya telah beredar di masyarakat, dan cukup mendapatkan respons positif masyarakat sastra Jawa Timur. Sedangkan ketiga buku yang disebut terakhir adalah tinggal launching-nya saja di awal tahun ini.
Secara hitungan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) telah dua kali menerbitkan kumpulan puisi dan geguritan (tergabung dalam satu buku), dalam rangka memeriahkan acara Malam Sastra Surabaya atau lebih dikenal dengan Malsasa. Terbit pertama pada tahun 2005 dan disusul tahun 2007. Tahun 2005 melibatkan sejumlah 25 penyair dan 7 penggurit, ikut bergabung dalam kumpulan “Malsasa 2005,” sedangkan pada tahun 2007 ada 34 penyair dan 14 penggurit karya-karyanya masuk di antologi ‘Surabaya 714’.

Malsasa 2009, Adakah?

Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) yang telah dua kali menerbitkan kumpulan puisi dan geguritan Malam Sastra Surabaya (Malsasa) 2005 dan 2007, maka pada tahun 2009, dituntut kembali untuk menerbitkan dan menggelarpentaskan Masasa ini. Secara historis Malsasa memang selalu mebukukan kumpulan puisi dan geguritan sastrawan, dan sekaligus mengacarakan pentasnya. Apabila bicara Malsasa, memang seharusnya dua tahunan acara ini kembali digelar. Tapi persoalannya, komunitas Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) ini, jarang sekali mengadakan pertemuan. Ini yang menjadikan kendala, adakah Malsasa tahun ini bisa digelarpentaskan kembali?
Beberapa rekan penyair memang menanyakan hal ini, tapi saya sebagai ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) belum bisa menjawab dengan pasti.
Selama ini kegiatan ini memang selalu didanai secara patungan, adakah tahun ini masih patungan? Atau mungkin ada pihak sponsor yang mau mendanai?
Mari kita bicarakan bersama, mumpung masih di awal tahun. Kapan? Terserah rekan-rekan sastrawan?

Desaku Canggu, 17 Januari 2009

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Surabaya Post (Surabaya), 15 Februari 2009.

MENGGAIRAHKAN SASTRA

Halim Mubary

Peminat Sastra dan Dosen STAI Al-Azizyah Samalanga, Bireuen

SATU teks dapat “bicara” bila menawarkan sesuatu, sehingga tumbuhnya nilai estetika resepsi menaburi bilik-bilik hati pembacanya. Estitika resepsi yang dimulai akhir tahun 1960-an, sebenarnya secara metodologis berusaha memulai arah baru dalam studi sastra, mengingat adanya pandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari, terutama dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Sebab teks sastra yang sudah diterbitkan, sudah menjadi hak pembaca menentukan baik atau buruknya.

Estetika resepsi dapat dikatakan sebagai penyelidikan teks sastra dengan dasar reaksi pembaca yang riil. Memperhatikan watak sastrawi sebuah teks, sebuah hipotesis kerja diambil berdasarkan sejauh manakah pembaca memutuskan apakah suatu teks sastra dianggap bermutu sastra atau tidak (Stierle: 1975). Dulu, pada pertengahan hingga akhir tahun 1990-an, semangat untuk mengadili teks sastra semacam ini pernah menggeliat di Aceh. Sejumlah organisasi sastra seperti Dewan Kesenian Aceh, dan Dewan Kesenian Banda Aceh, pernah menggelar Pengadilan Seni”, baik terhadap puisi maupun prosa. Tim dewan penguji, di hadapan penonton, karya sastra ‘dikuliti’. Plus minus, dan cita rasa dibahas secara detail untuk menangkap makna instrinsik empiris penulisnya.

“Pengadilan Seni Sastra” menjadi daya pikat tersendiri. Ini telah membuat jagad sastra kita bergairah dalam mencari momentum keterpinggirannya. Para penggiat dan pekerja sastra di Aceh, juga giat meningkatkan potensi dirinya, dan taman budaya menjadi resort paling favorit bagi seniman dan sastraan ketika itu. Aktivitas seni, seperti baca puisi, baca cerpen, pementasan teater, pameran lukisan, seni tari dan lainhnya begitu bergairah di taman seniman itu. Inilah yang sekarang sudah meredup dan seperti dilupakansastrawan di Aceh.

Setidak tiga sebab membuat gairah sastra Aceh mati. Pertama, meninggalnya sejumlah sastrawan senior Aceh, beberapa di antaranyanya memilih hijrah ke luar Aceh. Kedua, hilangnya diskusi public tentang sastra ini, bisa jadi juga lantaran di Banda Aceh sejak awal 2000-an, sudah berdiri sejumlah komunitas sastra seperti Lapena, Tikar Pandan, Aliansi Sastrawan Aceh, Forum Lingkar Pena, dan beberapa lainnya. Sehingga komunitas sastra ini lebih menekankan pengkajian dan bedah sastra di komunitasnya masing-masing. Ketiga, dengan hadirnya BRR NAD-Nias pasca-smong akhir 2004 lalu, di mana lembaga ini secara periodic turut mendanai penerbitan buku-buku sastra di Aceh, baik prosa maupun puisi. Sehingga sejumlah komunitas sastra di Aceh, banyak yang menjalin kerjasama dengan lembaga itu untuk menerbitkan buku-buku sastra.

Fenomena itu yang sekarang perlu dipikirkan oleh peminat sastra di Aceh. Menggeliat sastra di Aceh, termasuk menyiasati penerbitan buku-buku sastra yang dihasilkan oleh penulis-penulis Aceh nantinya. Untuk menggairahkan jagad sastra kita, perlu memperbanyak pegelaran even-even sastra, pertemuan dan diskusi sastra.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh), 5 April 2009.

Bambang Set adalah seorang seniman kelahiran Purwokerto, Banyumas dan saat ini ia menjadi ketua Dewan Kesenian Banyumas untuk periode 2003-2008. Sebagai seorang seniman ia adalah sosok penuh vitalitas dan panjang napas. Aktivitas keseniannya terentang sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Sementara bidang seni yang digelutinya pun sangat bervariasi, mulai dari teater, seni rupa, sastra, dan sastra radio. Terakhir, ia bereksperimentasi melalui kesenian tradisional.

Salah satu hasil dari eksperimentasinya dalam seni tradisi adalah Cagenjring. kesenian ini merupakan paduan dari tiga kesenian tradisional yaitu kentungan, rebana, dan calung. Bersama kelompok ini ia melanglang jauh hingga ke Malaysia dan pada tahun 2007 kemarin diundang dalam World Drum Festival di Cekoslovakia.

Saat ini ia pun tengah sibuk mempersiapkan pertunjukkan Cagenjring yang akan dipentaskan pada hari ulang tahun Banyumas April nanti. Tidak seperti pentas sebelumnya, pentas yang tengah ia siapkan kali ini melibatkan dua ratus lima puluh orang. Sebuah pertunjukkan yang kolosal.

Di tengah kesibukannya mempersiapkan pementasan dan aktivitasnya sebagai ketua Dewan Kesenian Banyumas, Bambang Set menyempatkan waktu untuk berbicang-bincang dengan Badruddin Emce dan Irfan Zaki ibrahim dari Cangkir.

Sejak kapan anda aktif dalam kegiatan kesenian di Banyumas?

Sejak tahun 1970-an sampai sekarang. Awalnya saya mendirikan sanggar, namanya sanggar 911 untuk aktivitas anak-anak gedongan, anak-anak elit, anak-anak jetset, tapi jetsetnya Purwokerto. Mereka kumpul-kumpul bikin sanggar seni, ada lukis, sandiwara radio, teater. Pada tahun 1971, sanggar 911 pentas untuk pertama kali dan membawakan naskah berjudul Prabu Salya dengan sutradara Ismail dari teater Muslim Jogja..

Anak-anak elit yang seperti apa?

Anaknya Danrem, Polwil, Residen, dan lain-lain. Pokoknya anak-anak jetset lah

Apa yang membuat mereka tertarik?

Ya seperti itu. Seni itu kan bukan hanya milik orang miskin.

Jangan-jangan bapak juga dari kalangan elit?

Ha-ha-ha bukan, saya justru bukan dari kalangan elit. Saya dari kalangan biasa-biasa saja. Rumah saya dulu di Jalan Gatot Subroto Purwokerto. Kemudian tahun 1973 saya mengembangkan sastra radio di radio Rosana.

Itu bersama anak-anak sanggar 911?

O bukan. Waktu itu mereka sudah bubar. Tahun 1973-1976 saya di radio Rosana dan mendirikan sanggar Rosana. Kemudian pada tahun yang sama saya dirikan juga sanggar pelukis muda Purwokerto. Salah satu anggotanya Edi Nur yang sekarang terkenal sebagai pelukis kaca, Didi Waluyo, Agus Untung, pelukis-pelukis yang sekarang tinggal di Jakarta.

Dari sastra radio ke seni lukis apa latar belakang Anda?

Waktu itu, tahun 1973 kan seni rupa Purwokerto itu masih sepi, kalah dengan Sokaraja yang memang basik tradisionalnya lebih kuat. Nah ini sebenarnya ada persaingan. Kita ingin menyaingi Sokaraja. Masa sih seperti itu seperti itu saja. Berangkat dari itu dan karena usia muda, kita belum berpikir tentang apa-apa. Karena itulah pelukis muda Purwokerto ingin mendirikan sanggar. Kami sempat pameran di Cilacap, Jogja, Purwokerto. Kemudian pada kurun waktu itu juga saya bersama Didi Wahyu, sekarang wartawan Suara Merdeka Wahyu Wendoko, pokoknya para wartawan senior, dan Niken Pratiwi, novelis nama aslinya Muji Manto, mendirikan Sanggar Mira.

Kali ini sanggar apa lagi pak?

Teater. Di situ saya bertemu Saeran, Saeran Samsudi. Yang sekarang juga masih aktif.

Kabarnya Anda juga menulis puisi?

Ya itu perjalanan yang lain. Tahun 1974 saya menulis puisi pertama dimuat di Sinar Harapan. Karena di situ (di teater itu) waktu itu juga ada bermacam-macam aktivitas. Saya mendirikan komunitas penulis muda Purwokerto. Aktivitasnya kebanyakan menulis puisi. Mereka banyak yang menulis puisi dan saya ikut-ikutan menulis dan berhasil di muat di Sinar Harapan. Itu tahun 1974. Setelah itu, tahun 1977 saya masuk IKJ. Dulu LPKJ. Saya ambil akademi teater. Saya bolak-balik Jakarta – Purwokerto untuk mengelola teater 77. Itu mulai 1977 sampai 1982. Dari tahun 1977-1982 saya mulai menggarap naskah-naskah serius seperti Wot Atawa Jembatan, Mega-mega, karya Asrul Sani, Kemul juga karya Asrul Sani. Ada sekitar 13 produksi.

Dipentaskan di mana saja?

Saya keliling Jawa Tengah. Waktu itu saya bawakan topeng. Nah, setelah itu saya kembali lagi ke radio untuk mengembangkan sastra radio. Kemudian tahun 1995 saya mengadakan pemecahan rekor baca puisi terlama sekitar 50 jam. Bersama sekitar sembilan pembaca puisi termasuk di antaranya Sudi Romadlon, Bambang Wadoro, Surya Esa, dan teman-teman lain.

Itu di mana?

Di gedung Suteja. Purwokerto

Dari cerita Anda, kelihatannya tahun-tahun dulu lebih marak dari tahun-tahun sekarang.

Ya. Ya betul. Waktu itu saya pentas tiga belas kali hampir penuh terus.

Itu kenapa?

Sebenarnya dari segi kuantitas mungkin lebih banyak masa-masa sekarang. Tapi kalau waktu dulu kami memakai pola lama. Sekarang barangkali lebih banyak yang instan, teater instan. Ya artinya bahwa untuk menjadi pemain kita harus banyak belajar. Olah vokal, akting, dan sebagainya.

Dari perjalanan yang panjang itu apa yang membuat Anda begitu yakin terhadap dunia kesenian?

Banyumas ini saya pikir potensi keseniannya luar biasa ini harus diangkat. Kita harus memberi motivasi pada mereka.

Potensi Banyumas yang luar biasa itu mencangkup apa saja?

Saya kira sudah banyak kita buktikan. Kesenian rakyat itu dihargai di negeri orang. cagenjring itu dapat standing ovation berkali-kali bahkan menjadi penampil terbaik. Ini coba kalo yang garap beberapa teman yang memang punya skill ke arah itu. Ini kan bicara tentang sebuah forum bersama. Kita hanya membuat satu produk, selanjutnya silakan digarap. Ternyata sekarang pemerintah Banyumas sudah mulai bagus, dalam artian memberikan aspresiasi terhadap cagenjring. Melalui dinas pariwisata dan kebudayaan, kesenian ini dijadikan ikon seni kolosal yang nanti akan dipentaskan setelah upacara hari jadi Banyumas tanggal 6 April. Nah, kemudian teman-teman ini juga menciptakan lagu-lagu baru dan teman-teman SMKI juga mulai serius menggarap ini. Ya artinya kan seni ini masih bisa dikembangkan, barangkali oleh orang-orang yang mungkin punya wawasan lebih luas dari pada para penciptanya. Rencananya nanti saya sendiri juga akan membuat jalan dulu hingga akhirnya itu bisa menjadi satu genre baru dalam wilayah kesenian. Kalo masyarakat belum memainkannya kan artinya belum. Jadi kita terus menerus mengenalkannya, kita tidak akan patah semangat. Karena mungkin seratus tahun lagi cagenjring akan bisa menjadi satu kesenian rakyat. Kalau sekarang kita bicara kentongan itu nanti diklaim oleh Purbalingga dan Jawa Barat. Kemudian calung juga diperdebatkan oleh Cilacap, tetapi kalau cagenjring ini kan memang karya orang Banyumas, seni yang dibuat oleh orang-orang Banyutmas. Dan itu sudah dihargai oleh masyarakat dunia.

Biasanya dalam seni tradisional ada semacam pakem?

Gini jadi kalau lihat pakem, seratus tahun yang akan datang anak cucu kita barangkali akan menganggap bahwa apa yang kita lakukan sekarang ini dijalankan sesuai dengan pakem. Kita jangan bicara ini tradisional, ini bukan. Jangan pedulikan itu. Tapi seratus tahun yang akan datang akan menjadi sebuah kesenian yang memang mungkin harus dilestarikan atau dibagaimanakan kan gitu….kita kan harus berbuat sesuatu. Setiap satu abad tercipta apa, tercipta apa. Seratus tahun yang akan datang kita akan sangat kaya dengan khasanah senii. Sekarang proses-proses kreatif yang dilakukan oleh teman-teman SMKI, termasuk siswanya, hanya untuk ujian akhir. Setelah itu selesai. Tidak dibuat sedemikian rupa sehingga masyarakat Banyumas itu mengerti ini tari apa..ini tari apa. Inikan nantinya akan menjadi aset kesenian. Tentu saja prosesnya berbeda dengan zaman dahulu yang harus bertapa dan sebagainya. Jauh berbeda.

Jadi semacam penciptaan baru?.

Ya. Jangan takut untuk mencipta dan menyebarluaskan. Jangan takut untuk keluar dari pakem. Sudahlah, kalau ini terus menerus kita tularkan kepada masyarakat dan masyarakat paham betul dengan apa yang kita ciptakan, itu sah menjadi kesenian rakyat. Tapi kalau hanya dimainkan sekali dan oleh teman-teman sendiri serta tidak disebarluaskan, ya hanya menjadi milik desa saja. Tapi kalau hanya sendiri ya bukan kesenian rakyat. Kesenian rakyat ya kesenian yang diketahui rakyat. Dasarnya kesenian rakyat ya rakyat harus tahu. Nah sekarang kan kita mulai memainkan cagenjring dengan keliling ke mana-mana. Ke kampus ke mana, bahkan ke luar negeri, kemudian di Jakarta juga kita mainkan. Itu pun belum sah kalau rakyat Banyumas belum tahu. Yang penting nanti kita festivalkan. Tahun 2008 kita rencanakan festival cagenjring dengan terlebih dahulu diawali cagenjring masal. Otomatis teman-teman yang terlibat ini kan jadi tahu musiknya seperti apa, lagunya seperti apa.

Bagaimana kalau kesenian Banyumas secara keseluruhan?

Kesenian itu kan banyak. Tapi, saya berharap tumbuh kesadaran dari masyarakat Banyumas besar, ingat wilayah Banyumas besar, bahwa Banyumas merupakan sentra kebudayaan di Indonesia. kita memiliki kekhasan, kita punya bahasa sendiri, memiliki adat istiadat sendiri, punya kesenian sendiri, ya kita harus bangga terhadap semua itu dan harus kita angkat beramai-ramai. Jangan sampai kita justru bangga terhadap kesenian lain. Kita harus bangga karena dikarunia gusti Allah sebuah sentra budaya tersendiri. Seperti di Bali kan kita bisa melihat bagaimana masyarakatnya begitu mencintai kebudayaan. Kita tidak perlu memperdebatkan apakah ini produk pariwisata atau bukan. Tidak perlu yang seperti itu. Yang penting adalah bagaimana kesenian ini bisa berjalan dengan baik, berkembang terus.

Dukungan dari Pemerintah daerah?

Hubungan dengan pemda baik. Kita saling mengkritisi. Kita juga dapat support finansial dari pemda. Pada masa lalu kita mungkin hanya mendapat anggaran sebesar 9 juta dan kemudian pada masa saya naik menjadi 100 juta, terus naik lagi menjadi 150 juta dan turun lagi menjadi 100 juta lagi. Kita bukan melihat jumlahnya, tapi itu kan untuk rakyat. Idealnya itu masing-masing kecamatan mendapat anggaran sebanyak 5 juta agar mereka bisa lebih fokus. Sekarang per kecamatan masih hanya 2 juta. Sebetulnya kalau bicara anggaran DKKB itu sedikit. Justru yang banyak itu disparbud. Ya kita tahu disparbud itu anggarannya untuk apa saja kan kelihatan. Itu mungkin di atas satu milyar, DKKB paling hanya seratus juta.

Tentang infrastruktur?

Sekarang kita lagi ramai-ramai membahas DED (Detail Engineering Desaign) untuk gedung kesenian Suteja. Nanti kita akan melakukan studi banding agar gedung Suteja ini menjadi lebih representatif. Itu khusus untuk gedung kesenian karena di sini belum ada gedung kesenian yang representatif, kalau pun ada barangkali agak mahal. Nanti gedung Suteja bisa dibuat dua lantai atau tiga lantai. Ada ruang untuk pameran, tempat pertunjukan teater sendiri, barangkali juga bisa dibuat ruang untuk barang kerajinan. Sekarang kita sudah masuk DED-nya, barangkali tahun ini sudah ada anggaran untuk DED. Dan mungkin tahun depan baru dimulai pembangunannya. Tapi, itu tergantung bupatinya. Ya tergantung pemda. Tapi sekarang sudah ada DED, kalau tidak dilanjutkan kan sayang.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://buletincangkir.wordpress.com, 18 September 2008.

Hawe Setiawan

Pemimpin Redaksi Majalah Cupumanik, Kritikus Sastra Sunda

PERTAMA-TAMA, saya ingin menanggapi makalah Soni Farid Maulana untuk forum ini, “Bandung dan Puisi Indonesia” [Pikiran Rakyat, 24 Januari 2009]. Pada hemat saya, makalah tersebut merupakan upaya tersendiri untuk memenuhi undangan panitia forum ini untuk “menggali tradisi sastra di Jawa Barat”. Dalam makalah tersebut, Soni berupaya menggambarkan sejarah perkembangan kreativitas menulis puisi di Bandung, terutama sejak dasawarsa 1970-an hingga akhir dasawarsa 1990-an. Sehubungan dengan pemaparannya, ada beberapa masalah penting yang perlu dicatat: [1] Masalah lokasi penulis. Saya kira, kegiatan bersastra di Jawa Barat tidak hanya berlangsung di Bandung, melainkan juga di kota-kota lain. [2] Masalah genre. Genre sastra yang penting diamati bukan hanya puisi, melainkan juga prosa. [3] Masalah bahasa. Karya sastra yang dihasilkan oleh para penulis dari Jawa Barat tidak hanya tertuang dalam bahasa nasional, melainkan juga dalam bahasa daerah. [4] Masalah tradisi itu sendiri. Saya pikir, apa yang kita sebut tradisi dalam hal ini pada dasarnya tidak tunggal, melainkan beragam.

***

TRADISI sastra di Jawa Barat dapat dibagi ke dalam dua jalur berdasarkan perbedaan bahasa yang digunakan oleh sastrawan di daerah tersebut, yakni bahasa nasional dan bahasa daerah/etnis. Nenden Lilis A. [Bandung], misalnya, menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia, sementara Godi Suwarna [Ciamis] menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Sunda, sebagaimana halnya ada anggota komunitas Mekar Parahyangan, Bandung, yang menulis dalam bahasa Mandarin. Pada kasus tertentu, ada juga penulis yang berkarya dalam dua bahasa, misalnya Acep Zamzam Noor [Tasikmalaya] yang menulis puisi baik dalam bahasa Indonesia [Jalan Menuju Rumahmu dll.] maupun dalam bahasa Sunda [Dayeuh Matapoé 'Kota Matahari'] sebagaimana Nunu Nazaruddin Azhar [Tasikmalaya] yang antara lain menulis naskah drama, puisi dan cerpen dalam bahasa Sunda selain menulis puisi dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia, yang berakar pada bahasa Melayu dan komitmen pemakaiannya ditegaskan oleh kaum pergerakan pada dasawarsa 1920-an, sesungguhnya merupakan invensi baru. Prinsip-prinsip gramatikalnya baru dikodifikasikan pada permulaan dasawarsa 1940-an, teristimewa oleh Sutan Takdir Alisjahbana, mengiringi berakhirnya kolonialisme politik Belanda atas kepulauan Hindia. Kaum terpelajar yang sebelumnya dikondisikan untuk menuangkan pikiran dalam bahasa Belanda pada gilirannya kian terdorong untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai penegasan identitas kebangsaannya. Dengan kata lain, bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional buat orang Indonesia. Sementara bahasa Sunda yang umurnya barangkali setua bahasa Melayu dan leksikografi serta gramatikanya mulai disusun oleh orang Eropa pada abad ke-19, hanya digunakan oleh para penulis yang bahasa ibunya memang bahasa Sunda sebagaimana bahasa Jawa hanya digunakan oleh para penulis Jawa, dst. Dengan kata lain, bahasa Sunda, Jawa, Madura, Bali, dll. hanya menjadi bahasa daerah.

Pada zaman Jepang, yakni zaman ketika Takdir menyusun Tata Bahasa Indonesia, penggunaan bahasa daerah dalam media massa sebetulnya sempat dilarang oleh pemerintahan fasis. Waktu itu, koran-koran berbahasa daerah, misalnya Sipatahoenan di Jawa Barat, dipaksa meninggalkan bahasa ibu para pengelolanya dan beralih ke koran Matahari yang berbahasa Indonesia. Untung, fasisme seperti itu cuma berlangsung “seumur jagung” sehingga hak hidup bahasa daerah pada prinsipnya kembali diakui. Dengan kata lain, menulis dan mengumumkan puisi dalam bahasa daerah tidak perlu dihantui dengan semacam rasa bersalah. Betapapun, barangkali sebagai konsekuensi logis dari politik bahasa yang membelah medium ekspresi orang Indonesia berdasarkan bahasa nasional [yang cenderung diutamakan] dan bahasa daerah [yang cenderung dinomorduakan], penggunaan bahasa daerah oleh penulis Indonesia pada masa-masa kemudian tampak tidak segencar penggunaan bahasa Indonesia.

Apakah tiap-tiap jalur bahasa memiliki sumber tradisi sendiri? Hingga batas tertentu, memang demikian. Penulis yang berkarya dalam bahasa Indonesia memiliki sumber tradisi yang dapat dirunut hingga ke masa lalu sastra Melayu. Penulis yang berkarya dalam bahasa Sunda memiliki sumber tradisi seperti yang melembaga dalam tradisi lisan, khususnya carita pantun, juga dalam manuskrip-manuskrip Sunda Kuna dari abad ke-15 dan16 yang antara lain menyerap pengaruh dari sastra Jawa dan Sanskerta. Namun, pada gilirannya, perkembangan tradisi sastra seperti itu tampak jauh lebih kompleks, terutama dalam kaitannya dengan perubaha sosial pada masa-masa berikutnya yang antara lain menyerap berbagai pengaruh dari berbagai penjuru angin.

Modernisasi, yang antara lain diangkut ke sini oleh bangsa Eropa, turut mempengaruhi kedua jalur tradisi sastra tersebut. Para penulis yang berkarya dalam bahasa Indonesia pada gilirannya beringsut dari “akar Melayu” dan membangun tradisi sastra tersendiri, antara lain dengan menulis novel-novel modern dan puisi bebas yang tentu berbeda dengan hikayat dan pantun, gurindam, dll. Demikian pula para penulis yang berkarya dalam bahasa daerah beringsut lebih jauh dari bentuk-bentuk geguritan atau dangding dan wawacan, meskipun bentuk-bentuk sastra tradisional itu tidak sepenuhnya ditinggalkan [buktinya ada sejumlah penyair Sunda yang hingga kini, selain menulis puisi bebas, juga masih menulis dangding seperti Wahyu Wibisana atau Dian Hendrayana].

Setidaknya sejak dasawarsa 1930-an timbul pikiran tentang “kebudayaan Indonesia”. Soal-soal yang berkaitan dengan akar tradisi menjadi salah satu pokok polemik. Di satu pihak, ada yang hendak berkiblat ke “Barat”, sementara di pihak lain ada yang ingin menggali sumur di “Timur”. Kata barat cenderung menyempit di Eropa, sementara kata timur cenderung menyempit di daerah-daerah provinsi. Hingga selepas Perang Dunia II, perdebatan yang tak berkesudahan itu turut mempengaruhi proses kreatif para sastrawan, tak terkecuali yang berasal dari Jawa Barat. Namun, sesungguhnya, di antara kedua jalur itu tidak ada garis batas yang tegas. Ramadhan K.H., misalnya, memang pergi ke Spanyol dan menyerap puisi-puisi Federico Garcia Lorca tapi pada gilirannya ia kembali ke Indonesia dan menggubah Priangan Si Jelita. Jika komentar Wing Kardjo benar, pada Priangan Si Jelita terkandung pengaruh dangding, khususnya pupuh kinanti.

Hingga dasawarsa 1970-an dan 1980-an kreativitas sastra di Indonesia seakan memusat di Jakarta, teristimewa di seputar Taman Ismail Mazuki [TIM] yang dibangun di atas lahan bekas taman hewan alias kebun binatang milik pelukis Raden Saleh. Kritikus sastra H.B. Jassin seakan jadi salah satu simbol legitimasi kesusastraan di Indonesia waktu itu, selain Prof. A. Teeuw yang mengajar nun di Leiden. Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, sebagai penulis yang mewarisi tradisi Melayu, sempat belajar di Unpad dan menulis puisi di Bandung, lalu sajak-sajaknya dibahas oleh kritikus Popo Iskandar dalam majalah Budaya Jaya terbitan Jakarta, dan pada gilirannya ia diundang membacakan sajak-sajaknya di TIM. Namanya kemudian terkenal di lingkungan nasional, dan hingga kini ia bermukim di Jakarta.

Namun, sejak dasawarsa 1990-an timbul pikiran-pikiran yang mempersoalkan keabsahan sentrum kesusastraan dan kesenian seperti itu. Perhatian kemudian dititikberatkan pada komunitas-komunitas sastra di berbagai kota, tak terkecuali di Bandung dan kota-kota lain di Jawa Barat, termasuk yang bercokol di kampus-kampus. Proses kreatif banyak dipupuk di situ dan tak jarang mampu memberikan kontribusi yang signifikan pada lingkungan yang lebih luas. Sebagai contoh, di sekitar kampus ITB dan Unpad pada paruh kedua dasawarsa 1980-an ada Kelompok Sepuluh yang menghimpun kreativitas sepuluh penulis seperti Nirwan Dewanto, Beni Setia, Soni Farid Maulana, Miranda Risang Ayu, Moh. Fadjroel Rahman, Hikmat Gumelar, dll.

Hingga memasuki gerbang abad ke-21, keberadaan komunitas-komunitas seperti itu kian menunjukkan signifikansinya. Tesis Ian Campbell dari Australia, yang kemudian dibukukan dengan judul “Contemporary Indonesian Language Poetry from West Java: National Literature, Regional Manifestations” turut mengidentifikasi potensi-potensi sastra yang diperlihatkan oleh komunitas-komunitas seperti itu, tidak hanya di Bandung melainkan juga di kota-kota lain di Jawa Barat. Terlebih-lebih ketika kreativitas mereka tampak kian mengandalkan hasil-hasil kemajuan teknologi informatika, khususnya internet, kontribusi mereka pada jagat sastra Indonesia kian besar. Keberhasilan Komunitas Lingkar Pena adalah salah satu contohnya yang menonjol. Kemunculan novel Ayat-ayat Cinta atau Laskar Pelangi, saya kira, tidak dapat dilepaskan dari latar belakang komunitas-komunitas seperti itu.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di www.beritaseni.com, 2 Februari 2009.

Ryan Rachman

Penyair. Bergiat di Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Purwokerto

Sastra adalah suatu disiplin sosial budaya yang selalu dinamis. Dia tidak pernah stagnant pada suatu masa tertentu. Dia selalu mengikuti perubahan keadaan masyarakat kapanpun dan dimanapun. Dalam perkembangannya, dia selalu mencari bentuk-bentuk baru yang berbeda dengan yang sudah ada. Perubahan itu bisa berupa apapun, entah itu dari segi tema, bentuk, kata, gaya, sistem, dan sebagainya.

Salah satu unsur faktor yang mempengaruhi perubahan sastra di suatu daerah adalah para pelaku sastra atau sering disebut sebagai sastrawan di daerah tersebut.  Suatu generasi pastilah memiliki corak yang berbeda dengan corak sebelumnya. Setiap generasi yang muncul membuat suatu pembaharuan terhadap sastra terdahulu.

Sebagai mana kita ketahui, ada periodesasi sastra berdasarkan corak dan gaya yang berbeda pada setiap generasinya. Di eropa kita mengenal adanya periodesasi sejak dari masa Romawi, abad pertengahan, abad keenam, abad keduabelas, zaman gelap, Renaissance, Shakespearian, Spenserian, Restorasi, Romantis, Realis, Modern, Feminis, dan Posmodern.

Di negeri kita, kita mengenal angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ’66, Angkatan ’70, Angkatan ’80, dan angkatan 2000. Dari Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Chairil Anwar, Idrus, Iwan Simatupang, Rendra, Sutardji Calzoum Bachrie, hingga Afrizal Malna dan Joko Pinurbo.

Generasi Baru

Pun halnya di Banyumas. Sastra mengalami perkembangan sesuai perguliran waktu. Pergantian pelaku sastra dari generasi tua oleh generasi muda yang lebih terbuka pikiran dan wawasannya terhadap perkembangan dunia sastra di berbagai tempat beserta seluk beluknya. Munculnya nama-nama baru yang kini lebih mendominasi kegiatan berkesusastraan di Banyumas merupakan angin segar yang membongkar dominasi generasi tua yang stagnan dalam berkarya.

Diawali oleh Teguh Trianton, Heru Kurniawan, dan Faisal Kamandobat, menyusul nama-nama baru seperti Aliv V Essessi, Dwiana Jati Setiaji, Isno Wardoyo, Yosi M Giri, M Aziz, Shinta A. Utami, Dita Zoraetha, Restu Kurniawan, Arif Hidayat, dan A. H. Antassalam. Karya-karya mereka sering kali muncul di media masa cetak baik lokal maupun nasional.

Dari tangan mereka juga lahir karya-karya sastra yang berkualitas. Tak jaarang juga, dari mereka menghasilkan dokumentasi karya mereka dalam bentuk buku baik itu berupa indie maupun melalui jalur penerbitan. Mereka tidak pernah berhenti untuk mengeksplor kemampuan mereka dalam berkarya. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, telah beberapa kali diadakan peluncuran buku karya mereka, baik itu berupa kumpulan puisi, cerpen , maupun novel.

Dari apresiasi sastra, kini Banyumas tidak pernah sepi dari kegiatan apresiasi sastra. Adannya diskusi dan dialog sastra di berbagai tempat, peluncuran buku, berbagai macam acara pembacaan puisi di mana-mana, hingga pengkolaborasian dengan cabang seni lainnya, seperti teater misalnya. Pengfregmentasian karya-karya sastra ke atas panggung teater.

Hal ini juga disebabkan oleh munculnya berbagai komunitas sastra di Banyumas yang juga menjadi tren baru di jagat kesusastraan tanah air dewasa ini. Komunitas-komunitas itu antara lain Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP), Sastra Alam (SALAM), Bunga Pustaka, Wedang Kendhi (SSWK), Purwokerto Literary Community, Tjilatjapan Poetry Forum, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cab. Purwokerto, dsb. Setiap komunitas memilki kegiatan berkesusastraan yang kontinyu sekecil apapun itu, sehingga aroma bersastra sangatlah segar dan marak.

Pembibitan

Dalam tulisannya di Suara Merdeka edisi Senin, 9 Februari 2009 tentang pembibitan pelaku sastra di Banyumas, Teguh Trianton menyatakan bahwa komunitas sastra yang ada, memiliki peran dalam hal mencetak bibit-bibit baru. Komunitas harus mencari penerus yang mau menjalankan komunitas dan melakukan kegiatan berkesusastraan.

Saya rasa bukan hanya komunitas sastra yang memilki tugas tersebut. Masih ada yang lain yang seharusnya lebih bergiat. Seperti misal dewan kesenian, dalam hal ini adalah kesenian yang ada di Banyumas besar, entah itu Dewan Kesenian Banyumas, Dewan Kesenian Purbalingga, Dewan Kesenian Cilacap, maupun Dewan Kesenian Banjarnegara.

Bahwa dewan kesenian memilki divisi sastra adalah keharusan. Disinilah tugas dari mereka. Mereka harus menjadi bagian terpenting dalam pembibitan sastra. Mereka seharusnya menjadi wadah dan mengayomi para pegiat sastra yang masih pemula. Selama ini, dewan kesenian seolah tidak pernah mendukung dan tidak pernah peduli adanya kegiatan berkesusastraan  yang dilakukan oleh generasi muda.

Sekolah

Sekolah juga merupakan unsur yang tidak bisa kita lupakan dalam pencarian bibit-bibit baru pelaku sastra. Kita tahu, Taufiq Ismail dan Horisonnya mati-matian mengadakan program Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab. Berkeliling tanah air, masuk ke sekolah-sekolah (SMA) di berbagai pelosok demi satu tujuan, yaitu memperkenalkan sastra kepada para siswa agar nantinya muncul bibit-bibit baru yang bermutu dalam percaturan sastra di tanah air.

Peran serta sekolah sangat diharapkan di sini. Sekolah diharuskan aktif dalam membentuk peserta didiknya menjadi pribadi-pribadi yang menyukai sastra. Demikian juga dengan tenaga pendidiknya, guru juga harus mengikuti perkembangan dunia sastra, sehingga nantinya akan lahir bibit-bibit baru yang tidak kalah hebat dengan para pendahulunya.

Ya mbok? Klilan.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009

Parni Hadi
Dirut RRI, Pengamat Sastra

Kongres pertama Komunitas Sastra Indonesia (KSI), yang diadakan di Kudus 19-22 Januari 2008, tentu sangat penting artinya bagi perjalanan sastra Indonesia. Tema kongres –Meningkatkan Peran Komunitas Sastra sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia — saya pikir sangat tepat.

Dari observasi dan bacaan saya atas liputan beberapa koran menjelang kongres, saya mencatat bahwa sastra Indonesia masih diidentikkan dengan sastra yang diterbitkan atau ditampilkan di kota-kota besar terutama Jakarta, kurangnya publikasi tentang sastra Indonesia, perlunya pendidikan sastra di sekolah-sekolah, dan kurangnya anggaran untuk pengembangan kebudayaan dengan sastra sebagai rohnya. Dan, yang tak kalah penting, nasib sastrawan perlu mendapat perhatian.

Memang, hampir semua cabang kehidupan bangsa ini masih berkiblat ke Jakarta dan kota besar. Jakarta dan kota besar masih dianggap barometer sukses seseorang, perusahaan atau organisasi, termasuk lembaga kebudayaan dengan para seniman dan budayawannya. Sebelum tampil di panggung Jakarta dan disiarkan oleh media massa nasional yang ada di Jakarta seseorang dianggap belum mencapai puncak prestasinya.

Komunitas sastra tentu tidak hanya ada di Jakarta dan kota-kota besar saja, tapi juga di daerah-daerah. Bagus sekali Kongres KSI ini bisa diadakan di Kudus, tidak di Jakarta atau kota besar lainnya.

Jika ada istilah ‘komunitas sastra’, saya ingin menambahkan istilah ’sastra komunitas’. Anggota KSI umumnya adalah sastrawan yang telah mengenyam pendidikan, bahkan sampai jenjang tertinggi. Karya-karya anggota KSI juga sering diukur peringkatnya dengan standar yang berbasis ukuran orang-orang yang berpendidikan formal.

Bagaimana dengan sastra lokal, sastra komunitas, yang didukung dan dilestarikan oleh orang-orang desa yang sederhana, yang mungkin tidak tahu dan tidak mau menyebut dirinya sastrawan, melainkan sebagai hanya pelestari ritual, tradisi warisan leluhur? Untuk yang terakhir ini, terutama saya berbicara tentang sastra lisan.

Menurut saya, tidak kalah pentingnya KSI juga memperhatikan perkembangan sastra lisan. Jika sekarang kita berbicara tentang musikalisasi puisi, seniman-seniman tradisional di desa-desa Jawa sudah lama melakukannya dalam bentuk mocopat, seni kentrung, yang melantunkan syair dengan iringan kendang.

Bentuk-bentuk musikalisasi sastra juga ada di desa-desa di seluruh Nusantara. Bahkan, petani sering melantunkan syair, parikan dalam bentuk uro-uro tatkala bekerja di sawah/ladang seperti waktu membajak sawah dan memanen padi, jagung dan kedelai.

Yang aktif melestarikan sastra lisan di desa-desa sekarang, justru bukan sekolah, melainkan pesantren tradisional dan majelis-majelis pengajian atau kelompok-kelompok yang mengadakan pertemuan/sarasehan pada hari-hari tertentu seperti Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon.

Sastra di desa-desa pada waktu saya kecil dulu mendapat tempat yang tinggi. Salah satu buktinya, orang laki-laki yang bisa membaca dan menulis dianggap mengerti sastra dan pantas memakai nama tua (setelah menikah) ’sastro’ seperti Nitisastro, dan Sastrodiningrat. Orang yang buta huruf dianggap tidak mengerti sastra dan kalau pun ingin memakai nama sastra, diplesetkan menjadi ’setro’.

Sengaja saya berbicara tentang sastra lisan dalam kedudukan saya sebagai Direktur Utama RRI, yang bisnis utamanya memang audio, oral atau lisan, sekalipun kini RRI sudah mengembangkan program siarannya secara three in one (audio, video dan teks). Seluruh 58 stasiun RRI yang tersebar dari Banda Aceh sampai Merauke telah menggalakkan gelar seni budaya sejak dua tahun terakhir.

Beberapa bentuk seni tradisional kami tampilkan dalam rangka melestarikan dan mengembangkannya. Di antara acara tersebut, yang erat dengan KSI adalah acara berbalas pantun daerah antara stasiun RRI. Juga ada acara berbalas pantun antara RRI dengan RTM (Malaysia) dan RTB (Brunei Darussalam). Dan, sekarang KSI sudah mempunyai jadwal tampil di RRI. Saya undang anggota KSI di manapun Anda berada untuk tampil di stasiun RRI terdekat Anda.

Tentu, undangan ini juga berlaku untuk sastrawan, seniman dan budayawan, yang tidak tergabung dalam KSI, karena RRI sekarang adalah radio milik publik. Sesuai dengan perintah undang-undang dan peraturan yang membidani kelahiran Lembaga Penyiaran Publik (LPP), salah satu tugas RRI adalah sebagai pelestari budaya bangsa.

Lima pilar
Saya perlu mengulang tesis saya tentang pelestarian budaya, termasuk seni sastra, yang relevan dengan tema kongres KSI. Pelestarian budaya tidak identik dengan pengawetan, tetapi menjaga dan mengembangkan nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman perilaku, cara berpikir dan cara hidup manusia yang telah disepakati oleh sebuah komunitas di suatu wilayah dan atau negara. Untuk itu, perlu ada regenerasi (seniman, budayawan), kreasi dan kompetisi.

Agar pelestarian budaya dengan pengertian tersebut berhasil, maka lima pemangku (pilar) kepentingan budaya perlu terlibat atau dilibatkan dalam sebuah upaya yang terpadu. Pertama, negara/pemerintah yang memfasilitasi. Kedua, seniman dan budayawan yang berdedikasi dalam berkreasi. Ketiga, publik yang mengapresiasi. Keempat, dunia usaha yang memberi donasi dan membangun industri (seni budaya). Dan, kelima, media massa, termasuk RRI, yang melakukan publikasi.

Dari ke lima pemangku itu, saya ingin lebih menyoroti peranan negara/pemerintah dan dunia usaha sebagai fasilitator dan penyandang dana.

Keluhan kekurangan biaya untuk pengembangan kebudayaan, mestinya bisa diatasi dengan memanfaatkan anggaran untuk pendidikan yang sekarang dipercayakan kepada Depdiknas, yang jumlahnya, sesuai perintah konstitusi, harus mencapai minimal 20 persen dari APBN.

Jika kita sepakat bahwa tugas utama pendidikan itu tidak hanya membuat orang pintar, tetapi harus berwatak (berkarakter), dan watak itu cerminan dari kebudayaan kita, maka pengembangan kebudayaan, termasuk seni sastra, harus mendapat porsi yang besar dari anggaran yang kini dikelola oleh Depdiknas itu.

Singkat kata, perlu revisi atau relokasi anggaran Depdiknas dengan memberi porsi besar untuk pendidikan budi pekerti melalui pendekatan seni budaya. Pendidikan, menurut saya, adalah upaya pembudayaan. Hal serupa juga perlu dilakukan dengan anggaran Departemen Agama karena departemen ini juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan.

Dunia usaha memang pantas diimbau untuk mendukung upaya pelestarian seni-budaya, termasuk sastra. Dana untuk itu bisa diambil dari anggaran Corporate Social Responsibility (CSR). Tapi, saya ingin ingatkan bahwa masih ada kecenderungan dana CSR itu lebih diarahkan untuk promosi daripada donasi murni.

Tentu, saya gembira kongres KSI bisa terselenggara berkat sponsor PT Djarum, pabrik rokok, yang terkenal aktif sebagai pendukung utama berbagai kegiatan, termasuk olah raga dan seni-budaya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika (Jakarta), 17 Februari 2008.

Gejolak komunitas anak muda di sebuah kota menjadi bagian penting catatan kebudayaan. Sebab, aktivitasnya melahirkan pemikiran-pemikiran baru untuk berekspresi. Komunitas mempertemukan para individu-individu berdiskusi, mencari ide dan berkolaborasi dalam merancang aktivitas itu.
Namun di kota ini, seni termasuk wadahnya merupakan patahan dari wadah berkesenian sebelumnya. Ia tak memiliki kesinambungan dan hanya perkumpulan yang dinaungi untuk sesaat.

Hal itu dipresentasikan Adin (komunitas sastra Hysteria), Diah Widhi dan Damar Adi (komunitas video Importal) dalam diskusi hasil “Magang Nusantara” Yayasan Kelola di Ruang 103 Fakultas Ilmu Budaya Undip. Peluang magang para pegiat seni Semarang dari Yayasan Kelola berlangsung Oktober-Desember 2009 ditangkap oleh ketiga seniman muda itu untuk mempertahankan komunitasnya.

Jumat (29/1) malam itu, Adin mengungkap kepedulian pemuda Bandung akan sejarah kota. Upaya pemetaan komunitas di Bandung telah diarsipkan secara massif oleh Commonroom, baik melalui teks maupun verbal dengan membuat kelompok belajar sejarah yang diikuti berbagai komunitas anak muda, yaitu Bandung Oral History. Ada pula Nu Substance, sebuah kegiatan mendukung perkembangan seni elektronik dan kultur media melalui serangkaian kegiatan berupa pameran, workshop, dan konser musik.

Commonroom merupakan komunitas yang peduli terhadap perkembangan budaya kotanya. Ia menjadi ruang alternatif yang mencari benang merah berbagai komunitas seni rupa, musik, kesenian tradisional, video, dan lainnya untuk mempertemukan beragam komunitas dan terlahir lah karya-karya kolaboratif.

Ya, komunitas ini mulai menjadikan pemetaan itu sebagai rekan strategic sejak 2008. Menyadari hal itu, Adin bercita-cita tercipta kondisi sama di Kota ATLAS ini. Sebab fakta menunjukkan selama ini komunitas yang tampak di Semarang seakan timbul dan tenggelam tiba-tiba.

Damar semula merasakan tak enaknya makan gaji buta selama magang di Jiffest Jakarta. Sebab sebagai asisten manajer, dia hanya disibukkan beberapa hari menjelang even. Namun dari situ, dia merasakan gejolak perjuangan berhadapan dengan LSF ketika ingin mempublikasikan sebuah film pada khalayak. Kesediaan Dewan Kesenian Jakarta dalam menyokong kegiatan Jifest saat workshop ingin dirasakan pula di sini.  (Garna R, Rima M-56)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka (Semarang), 1 Februari 2010.

Satmoko Budi Santoso

Cerpenis

Wacana desentralisasi komunitas sastra kembali menggemuruh awal tahun ini. Marwanto, Ketua Komunitas Lumbung Aksara Kulonprogo membebernya dalam esei berjudul ‘Temu Sastra Tiga Kota’ (KR, 13/1). Sayang, cuatan pikiran Marwanto hanya sebatas paparan pemetaan sastrawan yang ada di tiga kota, yakni Yogya, Kulonprogo dan Purworejo. Selebihnya, hanya menyinggung sedikit tentang kemungkinan potensi yang bisa dikembangkan dari kegairahan bersastra yang ada di kota-kota tersebut. Dalam khazanah dinamika sastra Indonesia, wacana desentralisasi sudah terlalu sering muncul. Sekadar kilas-balik, fenomenal perbincangan revitalisasi sastra pedalaman yang berhasil menembus pasar isu nasional era pertengahan 1990-an. Polemik berkembang pada masa itu, sejumlah sastrawan dan karya-karyanya bernilai ‘lokal’ menjadi terdongkrak dan ikut mendominasi sirkulasi khazanah sastra nasional. Dalam konteks ini, bagaimana seandainya dalam poros sastra tiga kota yang dibentuk mempertimbangkan kemungkinan kematangan komitmen untuk lebih menggali kekayaan khazanah estetika lokal, terutama yang bercorak Kulonprogo atau Purworejo. Terus terang, upaya penggalian estetika warna lokal khas Kulonprogo atau Purworejo dalam karya berdomisili di Kulonprogo atau Purworejo. Sedikit perbandingan orientasi gerakan, sudah sejak lama ada Komunitas Penulis Sastra Kudus. Tapi, apakah karya yang dihasilkan ada komitmen khas eksplorasi warna lokal Kudus? Bukankah karya yang dihasilkan sama seperti halnya karya sastra ‘umum’ lainnya? Bukankah kata Kudus hanya sebagai rujukan geografis tempat si penulis tinggal? Saya memang mengidealisasikan, wacana desentralisasi sastra yang kapan pun selalu aktual dicuatkan kembali tersebut diiringi dengan komitmen kuat untuk memperkaya karya khas warna lokal setempat. Hal ini, tentu saja, karena juga merupakan bagian dari peran yang bisa disumbangkan karya sastra dalam memotret zeitgeist (jiwa zaman) pada kurun waktu tertentu. Sebagaimana serat-serat Jawa yang ditulis pada masa-masa tertentu, akan menjadi tengokan literatur yang sangat berharga bagi pembaca atau peneliti ratusan tahun setelah serat itu ditulis. Dengan kata lain, ada dokumen otentik perihal situasi sosiologis dan antropologis tertentu karena karya sastra mengabadikannya. Di ranah DIY sendiri, hanya Bantul yang pernah membikin gebrakan dengan Lomba Fiksi Sosial warna lokal Bantul berskala nasional pada 2005 lalu dan akhirnya mempopulerkan novel ‘Menuju Bantul’ karya Sunardian Wirodono yang betul-betul sahih memotret situasi sosiologis dan antropologis Kabupaten Bantul, baik dari sisi kesejarahan atau apapun. Bayangkan saja, pada setiap bab dalam novel itu berisi nama-nama kecamatan yang ada di Bantul. Bagaimana jika spirit penciptaan karya berbasis kekuatan warna lokal ini diikuti oleh Kabupaten Sleman, Gunungkidul dan Kulonprogo, misalnya? Bukankah akan semakin kaya dokumentasi sosiologis dan antropologis warna lokal setempat dalam bentuk literatur karya sastra? Desentralisasi gerakan kesusastraan di Indonesia, secara umum, selain kurang matang pada aspek orientasi dan komitmen estetika lokalnya, juga pada basis apresiator. Soal kemungkinan keberjamakan apresiator ini, bisa dibangun dengan adanya komunitas pembaca sastra yang ada di sekolah-sekolah setempat. Mungkin saja sosialisasi programnya bisa bekerja sama dengan perpustakaan daerah setempat atau langsung menembus ke sekolah-sekolah. Bayangkan, jika dari tingkat SD, SMP, sampai SMA dibentuk komunitas pembaca sastra di sekolah-sekolah, bukankah sosialisasi karya sastra warna lokal setempat juga mendapatkan komunitas pembaca yang signifikan? Tidak hanya berhenti sampai di sini, komunitas pembaca sastra ini juga bisa diarahkan menjadi segmen yang permanen dalam upaya distribusi karya sastra bercorak warna lokal menjadi lebih luas lagi. Gerakan yang kuat di daerah-daerah, sebetulnya juga akan ‘mengganggu’ kemapanan ‘pusat-pusat sastra’, katakanlah dominasi dan hegemoni Jakarta. Buktinya, puisi-puisi khas warna lokal Bali mendapatkan tempat tersendiri dalam hitungan kualitatif dan malah dicari serta dijadikan rujukan oleh ‘pusat-pusat sastra’ misalnya saja yang ada di Jakarta atau kota legitimasi eksistensi dan kualitas karya sastra lainnya. Dengan kata lain, ‘gerakan separatis’ dalam bersastra memang perlu lebih digairahkan lagi, sebagaimana gerakan komunitas petani atau nelayan di daerah tertentu yang karena peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tertentu jadi bisa menguat sebagai gerakan alternatif dan mampu menggeser mainstream atau standardisasi kelayakan yang diberlakukan oleh legitimator yang ada di atasnya. Sampai di sini, saya sendiri merasa gagal menciptakan idealisasi semacam itu. Sebagai penulis yang dilahirkan dan besar di Kecamatan Wates saya sempat alpa memotret realitas faktual dan fiksional yang ada dalam ranah sosiologis dan antropologis Kabupaten Kulonprogo. Dengan adanya poros gerakan sastra yang digagas Marwanto, pastilah bernilai membangunkan dari ‘tidur panjang’ dalam kecenderungan menggumuli eksplorasi estetika yang non-Kulonprogo. Ah, andaikan setiap pengarang merasa terpanggil dan bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang sudah disumbangkan dalam pengayaan estetika warna lokal daerahnya? Adakah yang sudah berarti yang ia sumbangkan dalam memperkuat gerakan separatis bersastra yang sangat luhur itu? Memang, membangun paradigma pengarang yang berbasis warna lokal estetika daerah setempat adalah juga persoalan tersendiri. Betapa pengaruh globalisasi atau apapun di luar diri pengarang cukup rentan, dan bisa saja membentuk selera estetik yang susah diarahkan ke dalam orientasi khas warna lokal daerah tertentu. Tetapi, bukankah setiap perjuangan harus selalu dicoba, seperti perjuangan menggeser paradigma estetik yang kini saya lakukan sebagai upaya penebusan dosa kultural yang telanjur mengerak. Aih, aih….

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), 20 Januari 2008.

Tulisan Sebelumnya »